10/08/2021
Buka langsung laris, apa bisa? Bisa ternyata.
Ingat ya, di sini kita bahas ‘buka langsung laris’.
Jangan malah ‘buka langsung lari’. Hehe, ngawur itu!
Akan menyenangkan, kalau sebelum launching kita sudah megang database konsumen dan saluran distribusi terlebih dahulu. Semakin banyak, semakin related, insya Allah semakin baik. Jadi, sudah ada prediksi, tuh barang bakal terserap berapa, ke siapa.
Dan sebaliknya, kalau lusa mau launching, sekarang baru nyari-nyari konsumen dan distributor, ini sih repot. Tingkat kepastian barang bakal terserap akan dipertanyakan. Boleh-boleh aja didorong pake iklan, tapi kan lumayan budget-nya. Sanggup?
Bisa juga pake ‘pain’ misalnya “Beli sekarang, besok harga naik.”
Atau pake ‘pleasure’ misalnya “Beli sekarang, bonus tumbler.”
Serunya, empat hal ini kalau DILAKUKAN, insya Allah bakal LAKU beneran. Adapun istilah ‘buka langsung laris’ ini saya ambil dari judul buku Mas Jaya Setiabudi.
However, laris di awal bukanlah segalanya. Saya lebih senang kalau bisa laris berkelanjutan. Ya, berkelanjutan. So, mau nggak mau, fondasi bisnis harus kuat. Yang jadi fondasi, apa aja? Di antaranya, kredibiltas, kualitas, ekuitas merek, dan kapasitas produksi.
Sekiranya fondasi bisnis ini sudah kuat, sepengalaman saya, produk nggak perlu terlalu didorong. Insya Allah produk akan terjual dengan sendirinya. Laris insya Allah. Sebaliknya, bayangkan kalau fondasinya lemah? Wah bisa bermasalah.
Misal ya, kita sudah blast informasi ke calon konsumen. Terus, kita pake teknik ‘pain and pleasure’ biar konsumen segera take action. Tapi ternyata kapasitas produksi kita nggak kuat. Yah berabe. Bisa berujung pada kekecewaan.
Bisnis, jualan, atau dagang bukan urusan jangka pendek. Kita berharap sesuatu yang long-term. Betul apa betul? Saya berharap teman-teman mengangguk setuju.
Pada akhirnya, saya ingin mengatakan, “Kalau ada sumur di ladang, boleh kita menumpang mandi. Kalau memang mau berdagang, buat apa nunggu-nunggu lagi?”
🤣🤣🤣