10/09/2026
MERTUA YANG (NAMPAK) BERAGAMA DENGAN TAAT PUN, TERNYATA MEMAKAI DUKUN…
Seorang ibu muda, sebutlah namanya Elsa (supaya aku gampang nyari gambar sebagai pengganti wajahnya) datang di ruang konsultasi Garuda Amerta
Dia mengeluhkan sikap suaminya yang tidak konsisten, selalu berubah-ubah.
Beberapa contohnya:
1️⃣. Suatu hari sudah sepakat untuk mencicil rumah setelah menikah… tapi tahu-tahu berubah. Suaminya malah memaksa mereka tinggal dengan ortunya.
2️⃣. Suatu hari sudah setuju untuk mencicil mobil, karena sudah punya bayi. Pertimbangannya: agar tidak kehujanan jika hendak ke dokter dan jalan-jalan… tapi suami membatalkan sepihak, dengan alasan ‘orang satu rumah belum ada yang punya mobil. Jadi tak enak kalau ada kesenjangan sosial’ (mereka masih tinggal di rumah ortunya suami, bersama ipar-ipar dan keponakan).
3️⃣. Sudah sepakat untuk mengajak anak liburan ke pantai di kabupaten sebelah. Tetapi mendadak batal karena suami musti mengantar ayahnya cek kesehatan, padahal adik dan kakak suami ada di rumah. Mengapa bukan mereka saja yang mengantar…?
Keadaan lumayan membaik ketika suami ditugaskan bekerja ke kota lain. Keluarga kecil ini pindah, dan menikmati suasana rumah tangga layaknya keluarga kecil lainnya: bisa mengatur menu sehari-hari, bisa berlibur di saat weekend, menikmati suasana rumah yang teratur dan hening.
Namun suasana menjadi rusak ketika ayah mertua memerintahkan suami agar mengirimkan anaknya, untuk tinggal bersama kakek-neneknya. Alasan si Kakek: pendidikan dan lingkungan pergaulan di kota kecil (tempat mertua tinggal) jauh lebih baik dari pada di kota besar.
Kali ini, Elsa meradang dan tidak terima.
Bagaimana bisa, sekolah di kota besar dianggap lebih jelek mutunya dibandingkan sekolah di kota kecil…?
Lalu, apakah kakek-nenek itu belum merasa puas? Kan semua cucunya tinggal di rumah mereka?
Apakah belum cukup, sehingga anaknya Elsa pun hendak ‘diminta’?
********
Kartu tarot kami sama-sama memperlihatkan jawaban: ibu mertuamu main dukun. Semua dia ‘dukuni’ agar patuh dan nurut padanya: suami, anak-anak, menantu-menantu…
Elsa, tentu saja kaget, karena bapak dan ibu mertuanya adalah orang yang sangat terpandang di desa mereka. Dan mereka sangat religius, sehari-hari selalu tampil dengan kostum dan atribut keagamaan.
Ya gimana. Tarotnya ngomongnya begitu.
“Tapi, ibu mertua saya orangnya halus kok. Yang galak malah bapak mertua saya…”
“Lha ya, bapak mertuamu ini dijadikan centeng oleh ibu mertuamu. Karena di daerahmu, secara adat, lelaki yang harus tampil sebagai pemimpin kan?”
“Betul…”
“Nah coba diingat-ingat, meskipun galak, apakah bapak mertuamu menyetujui semua keputusan ibu mertuamu?”
“Wah iya…” sahut Elsa sambil mengingat-ingat…
“Nah itu. Karena sebetulnya, yang berkuasa adalah ibu mertuamu. Perhatikan deh bagaimana cara dia berkomunikasi ke suamimu, lalu bagaimana cara bapak mertuamu bicara ke suamimu…” ujarku.
Aku bilang begitu karena aku melihat kartu dominasi, ada di pribadi si ibu mertua.
“Ibu mertua saya bicaranya lembut. Bapak mertua saya bicaranya mengintimidasi. Tapi gagasannya memang selalu gagasan ibu.…” rupanya Elsa sudah mulai ‘nangkep’ fenomenanya.
“Tapi kok bisa ya? Mereka itu sangat religius lho…” Elsa masih ragu.
Ade dan aku tersenyum.
Kami sudah bertemu dengan ribuan klien, dan sebagian diantaranya BERPENAMPILAN religius tetapi pernah (PERNAH ya, tapi sudah tidak lagi) main dukun, nyantet orang, berzinah, korupsi… bahkan ada seorang aktivis gereja yang memasang susuk di bibirnya agar anak-anaknya nurut padanya… 😅
Mereka konsultasi ke kami, karena ingin melepaskan pengaruh itu. Sebagian mengaku insaf. Sebagian beralasan ‘takut susah matinya, kalau masih pakai beginian’.
Aku lalu berkata:
“Ya silakan mencari second opinion, mbak. Ke tarot reader lain. Atau bahkan ke pemuka agamamu sendiri, yang memiliki sixth-sense dan bisa menyembuhkan atau menghilangkan ‘pengaruh buatan’ seperti ini.”
“Wah kalau saya cari-cari, nanti gosip menyebar dan sampai ke ibu mertua saya…”
“Ya kalau gitu, mau dibantu bersihkan oleh coach Awie Suwandi? Beliau pakar untuk urusan bersih-bersih energi. Jangankan cuma pelet. Korban tumbal pesugihan saja bisa diselamatkan.” Tanya Ade Sikado
Ini Indonesia. Meskipun, jujur ya, praktek perdukunan itu nggak masuk akal… tapi FAKTANYA: profesi dukun itu ada. Dan orang-orang yang mencari dukun itu banyak.
Efektifitasnya?
Beragam. Ada yang ‘manjur’, ada yang nggak.
Na Padmo OFC
08.15, Kamis Kliwon
17 Karo 2937 Jawa
10 September 2026 Masehi
———
Catatan :
1. Klien bernama Elsa ini, sebetulnya membahas banyak hal lain dan topik lain. Tapi di postingan ini saya hanya membahas soal ‘orang yang NAMPAK religius, bisa saja bersekutu dengan kekuatan lain untuk tujuan manipulasi dan kekuasaan.’
Agar kita nggak serta-merta menilai orang dari penampilannya.
2. Detail cerita telah diubah, ditambah dan dikurangi untuk menyamarkan identitas.