26/06/2025
Tumbuh, masif, lalu runtuh. Itulah pola yang kini mewarnai dunia startup agribisnis di Indonesia. Dari euforia digitalisasi pertanian, ledakan pendanaan, hingga skandal keuangan dan kebangkrutan yang merembet ke lapangan; semuanya menciptakan gelombang besar. Namun bukan gelombang solusi, melainkan gelombang skepticism. Bukan hanya di kalangan investor atau para founder yang kini lebih hati-hati, tapi juga di hati para petani dan peternak yang mulai muak didatangi oleh orang-orang dengan ide besar dan janji manis.
Di sisi lain, petani dan peternak yang selama ini terjebak dalam pusaran cashflow yang tak menentu mulai memandang “kolaborasi” sebagai bantuan instan semata. Bukan ruang tumbuh bersama, tapi tempat menggantungkan harapan jangka pendek. Ketika yang satu bicara inovasi, yang lain hanya berharap bisa makan bulan depan. Kecurigaan dan pikiran curang bukan hanya datang dari satu pihak, mereka lahir dari sistem yang saling tidak memahami. Semua bicara tentang niat baik, tapi masing-masing berjalan ke arah yang berbeda.
Dan mungkin, di sanalah akar masalahnya: kita lupa bahwa dalam agriculture ada kata culture. Ada nilai, ritme, kepekaan, dan struktur yang tak bisa didisrupsi seenaknya. Selama tatanan dan rantai pasok masih terfragmentasi dan timpang, kehadiran ide baru dengan tuntutan baru justru bisa memperpanjang ketimpangan yang sudah lama ada. Alih-alih menyelesaikan persoalan, banyak yang tanpa sadar hanya memperhalus wajah ketidakadilan.
Kalau kita benar ingin membenahi pangan, kita tidak bisa hanya datang membawa teknologi dan model bisnis. Kita harus masuk dengan kerendahan hati, mendengar yang hidup dari tanahnya, dan membangun ulang—bukan sekadar mengubah tampilan.