16/03/2025
Harga saham, fundamental dan efisiensi pasar
Pardi Sudradjat, Asta Partner
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di pengujung Februari 2025 turun hingga menyentuh level 6.300, terendah sejak empat tahun terakhir. IHSG sudah anjlok hampir 5 persen dibandingkan akhir perdagangan pekan lalu yang masih berada di angka 6.800. Salah satu biang kerok nya adalah dana asing yang keluar dari pasar saham Indonesia. Namun, kondisi ini justru dianggap sebagai peluang besar bagi Investor kawakan Lo Kheng Hong untuk menampung saham blue-chips dengan kinerja baik (CNBC 28 Feb 25).
Perusahaan dengan kinerja fundamental yang baik harusnya harga saham nya juga meningkat, tapi saat ini saham perbankan besar seperti BBCA, BBRI, MRI dan BBNI dengan fundamental baik kinerja meningkat bagus justru harga nya melorot tajam. Sepertinya teori fundamental hanya berlaku pada pasar saham yang efisien, Artinya harga saham mencerminkan nilai sebenarnya, dimana jumlah pemain cukup banyak dan merata, tidak ada yang dominan. Pada kondisi ini, saham yang undervalue dapat terus turun, Sebaliknya saham yang overvalue dapat terus naik, semua tergantung dari selera bandar yang mengendalikan. Nah setelah saham bluchip turun drastis, pada tgl 3 Maret 25 tiba2 mereka bangkit kembali, bahkan saham BBRI sampai naik diatas 9% dan IHSG naik sampai diatas 3%. Langsung para ahli menganalisa apa yang terjadi, ada yang Menjelaskan melalui analisa teknikal, sebagian mencari alasan lain seperti MSCI meningkatkan bobot saham perbankan Indonesia dsb. Tapi bisa saja ini karena sudah banyak yang cut-loss dan bandar masuk lagi.
Pasar modal dapat menjadi tidak efisien kalau terdapat informasi yang tidak sama antara para pemain di pasar yang umumnya tidak cukup besar untuk meredam pihak yang mampu mengendalikan harga pasar. BEJ seperti nya mencerminkan pasar yang tidak efisien, dimana para pemain besar, khususnya investor asing dan para bandar mempunyai kemampuan mempengaruhi harga pasar dengan melakukan penjualan atau pembelian, apalagi kepemilikan mereka pada pasar saham Indonesia relative besar. Kalau mereka ingin menurunkan harga saham, mereka tinggal menjual saja saham yang sudah ada dalam portfolio mereka, dengan harapan ada yang beli di pasar. Kalau pemain ritel membeli saham tersebut karena menganggap saham tersebut sudah undervalue, maka harga saham akan turun terus, dan pada level saham tertentu, ketika pemain ritel sudah banyak yang cut-loss, barulah pemain besar turun lagi memborong saham tersebut.
Salah satu cara agar pasar modal dapat meningkatkan efisiensi nya, adalah dengan membuat pasar modal lebih dalam (deep) dan lebih lebar (wide). Untuk itu otoritas perlu meningkatkan likuiditas, variasi instrumen investasi, jumlah investor, dan aksesibilitas pasar.
Untuk meningkatkan kedalaman pasar, perlu menaikan likuiditas saham dan obligasi, antara lain dengan mendorong perusahaan (yang baik) untuk go public, atau tertarik menerbitkan obligasi korporasi, kalau perlu dengan menawarkan berbagai insentif. Untuk pasar obligasi, memperbanyak market maker, investor institusi atau liquidity provider agar Jarak bid-ask spread dapat dipersempit sehingga investor lebih bergairah untuk bertransaksi. Otoritas dapat mendukung dengan mempercepat proses listing dan meningkatkan transparansi keuangan, sehingga investor dapat dengan mudah mengakses data yang diperlukan sebagai dasar untuk membuat keputusan investasi.
Untuk memperlebar pasar, perlu meningkatkan jumlah investor ritel dan institusi, sehingga dapat mengurangi kemampuan bandar mengendalikan harga. Peran dari reksadana, dana pensiun dan asuransi sebagai pemain dengan peran signifikan di pasar modal perlu dikembangkan. Otoritas perlu meningkatkan pengawasan secara profesional agar issuer nakal dengan niat kurang baik, yang dapat mengecewakan dan membuat kapok investor dapat diredam sejauh mungkin. Yang lain adalah mendorong inklusi keuangan dengan investasi berbasis syariah atau produk dengan pecahan lebih kecil sehingga lebih terjangkau oleh investor kecil.
Kalau semua itu belum ada, dan pasar masih jauh dari efisien, langkah paling aman sepertinya mengikuti saja langkah para bandar, dan sementara lupakan dulu memutuskan investasi dengan dasar fundamental, karena ini akan menjadi sasaran empuk bagi si bandar.