Co. Habits

Co. Habits Quotes | Nasehat | Qoul Ulama Consultan, dakwah, inspirasi Islam untuk memberikan nasehat kepada kaula muda tentang pentingnya menggunakan waktu.

Jadi manusia itu yg haus validasi Allah bukan validasi manusia.
07/05/2026

Jadi manusia itu yg haus validasi Allah bukan validasi manusia.

Eid Mubarok.. 🙏
23/03/2026

Eid Mubarok.. 🙏

Tanpa terasa Ramadhan hampir pamit.Malam-malam yang penuh doa, siang yang dihiasi sabar, dan hati yang lebih dekat kepad...
15/03/2026

Tanpa terasa Ramadhan hampir pamit.
Malam-malam yang penuh doa, siang yang dihiasi sabar, dan hati yang lebih dekat kepada Allah…
Semoga bukan hanya Ramadhan yang berubah, tapi juga diri kita.

Alhamdulillah, Ya Allah, pertemukan kami dengan Ramadhan…dalam keadaan hati yang lebih bersih, iman yang lebih kuat, dan...
14/02/2026

Alhamdulillah, Ya Allah, pertemukan kami dengan Ramadhan…

dalam keadaan hati yang lebih bersih, iman yang lebih kuat, dan dosa yang Engkau ampuni.
Karena yang kita takutkan bukan Ramadhan tak datang… tapi kita yang tak siap menyambutnya.

[Dok] RSIA SamMarie Jakarta Timur.

Agama dijadikan stempel,bukan pedoman.Yang menguntungkan diberi label halal,yang mengganggu kekuasaan dicap haram.Bukan ...
26/12/2025

Agama dijadikan stempel,
bukan pedoman.
Yang menguntungkan diberi label halal,
yang mengganggu kekuasaan dicap haram.
Bukan syariat yang ditegakkan,
tapi kepentingan yang disucikan.

Di negeri ini,
halal dan haram bukan soal benar atau salah,
tapi soal siapa yang diuntungkan.
Agama dipakai saat perlu legitimasi,
dilipat rapi saat mulai mengganggu kekuasaan.
Bukan Tuhan yang ditakuti,
tapi angka dan kursi.

All eyes to Global Sumud Flotilla..
02/10/2025

All eyes to Global Sumud Flotilla..

Kisah Sang Aktivis InstanSuatu hari, muncullah seorang pemuda yang baru saja membaca satu utas Twitter tentang ketidakad...
24/09/2025

Kisah Sang Aktivis Instan

Suatu hari, muncullah seorang pemuda yang baru saja membaca satu utas Twitter tentang ketidakadilan sosial. Seketika, ia merasa terpanggil: “Aku harus jadi aktivis!”

Besoknya, ia cetak kaos bertuliskan “LAWAN!” dengan huruf tebal. Ia juga membeli totebag bergambar ikon revolusi, biar makin meyakinkan. Lalu, ia mengumumkan di Instagram: “Aku bersama rakyat tertindas. ”

Ketika aksi dimulai, ia datang paling awal bukan untuk mengatur massa, tapi mencari spot foto dengan pencahayaan terbaik. Di tengah teriakan “Hidup rakyat!”, ia sibuk mengatur angle kamera sambil berpose garang. Hasilnya segera diunggah: “Aku di garis depan ✊🔥”

Namun, ketika gas air mata mulai ditembakkan, ia lari paling dulu. Bukan takut, katanya, tapi menjaga kesehatan paru-paru demi perjuangan jangka panjang.

Beberapa minggu kemudian, ia diundang jadi pembicara webinar “Peran Pemuda dalam Perubahan Dunia.” Materinya sederhana: copy paste dari Google. Tapi penampilannya keren, dengan latar belakang poster Che Guevara.

Akhir cerita? Ia berhasil. Bukan berhasil mengubah keadaan, tapi berhasil menambah followers ribuan. Dan bukankah, di zaman sekarang, itu ukuran perjuangan yang sebenarnya?

Innalillahi..Hasbunallah wa ni'mal wakil.
28/06/2025

Innalillahi..
Hasbunallah wa ni'mal wakil.

Ada yang sama perasaannya dengan saya?Cung tulis dikomentar!
06/05/2025

Ada yang sama perasaannya dengan saya?
Cung tulis dikomentar!

Hari Pendidikan: Tangisan di Balik Papan TulisOleh : Hilman NawawiHari Pendidikan seharusnya menjadi momen perayaan hari...
02/05/2025

Hari Pendidikan: Tangisan di Balik Papan Tulis

Oleh : Hilman Nawawi

Hari Pendidikan seharusnya menjadi momen perayaan hari ketika kita mengenang jasa para guru, membanggakan prestasi siswa, dan meneguhkan komitmen kita terhadap masa depan bangsa. Namun, mari kita jujur. Mengapa kita harus berpura-pura bangga, ketika yang kita rasakan justru adalah luka?

Lihatlah negeri ini. Di balik gedung-gedung megah ibu kota, ada ribuan sekolah yang berdinding bambu, beratapkan seng berkarat. Ada guru-guru yang mengajar dengan sepenuh hati, tapi digaji tak layak. Ada anak-anak yang berjalan berkilo-kilo meter setiap hari, melewati sungai dan bukit hanya demi bisa membaca satu halaman buku yang sudah usang. Sementara di layar televisi, para pejabat berpidato manis tentang "revolusi pendidikan".

Kita semakin tertinggal dari negara-negara Asia lain. Negara yang dulu kita pandang setara kini telah melesat jauh. Apa yang salah dengan kita? Apakah karena korupsi yang menggerogoti anggaran pendidikan? Atau karena kebijakan yang berubah-ubah tanpa arah? Atau mungkin, karena kita sendiri sudah lelah berharap?

Pendidikan bukan sekadar angka-angka ujian nasional atau ranking PISA. Ia adalah soal kemanusiaan. Soal harapan seorang ibu bahwa anaknya bisa hidup lebih baik. Soal mimpi seorang anak kecil di desa terpencil yang ingin menjadi dokter, meski belum pernah melihat rumah sakit.

Maka di Hari Pendidikan ini, biarlah kita menundukkan kepala bukan karena bangga, tapi karena malu. Karena negeri ini belum mampu memperjuangkan hak belajar untuk semua. Tapi biarlah rasa malu ini menjadi awal untuk bangkit, berjuang, dan membuktikan bahwa anak bangsa ini masih layak bermimpi.

"Maka di Hari Pendidikan ini, biarlah kita menundukkan kepala bukan karena bangga, tapi karena malu."

Address

Jakarta
12550

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Co. Habits posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Co. Habits:

Share