Tabung Gas Murah

Tabung Gas Murah Tempatnya Jual Beli Tabung Gas Elpiji
> Tabung LPG 3 Kg
Hp 08999840499 Tempatnya Jual Beli Tabung Gas Second Termurah di JAKARTA

Bright gas promo Hp/wa 08999840499
20/08/2017

Bright gas promo
Hp/wa 08999840499

Warga Rusunawa: Gas 3 Kg Sering KosongMetrotvnews.com, Jakarta: Warga Rusunawa Muara Baru, Ati, sehari-harinya berjualan...
10/01/2015

Warga Rusunawa: Gas 3 Kg Sering Kosong

Metrotvnews.com, Jakarta: Warga Rusunawa Muara Baru, Ati, sehari-harinya berjualan gas elpiji 3 kilogram (kg). Dia mengaku beberapa waktu belakangan ini sering sekali kesulitan mendapatkan tabung gas berwarna hijau tersebut di agen langganannya.

Menurut dia, kesulitan tersebut tidak lain dampak dari melonjaknya harga elpiji 12 kg, yang membuat sebagian orang memilih membeli gas tabung yang kerap disebut "tabung melon" ini.

"Sekarang sering kosong terus (elpiji 3 kg). Kadang-kadang mau beli di agen s**a kehabisan, kadang juga belum datang (elpiji 3 kg). Kadang kasih duit dulu baru ambil (elpiji 3 Kg) nanti," kata Ati, ditemui Metrotvnews.com, di Rusunawa Muara Baru, Pluit, Jakarta Utara, Kamis (8/1/2015).

Meski kesulitan mendapatkan elpiji 3 kg. Namun, ia enggan beralih berjualan elpiji 12 kg di Rusunawa Muara Baru. Pasalnya, pembelinya yang merupakan warga rusunawa lebih tertarik menggunakan elpiji 3 kg. Oleh karena itu, ia tetap terus berusaha agar bisa mendapatkan elpiji 3 kg.

"Kebanyakan menggunakan elpiji 3 kilo (gram), yang besar (elpiji 12 Kg) enggak ada," ujar dia.

Bahkan, dirinya pun mengaku selama ini tidak pernah lagi menggunakan elpiji 12 kg. Sebab, ia menilai gas tabung jumbo tersebut semakin lama harganya terus semakin melonjak tinggi.

"Iya (pakai) gas 3 kilo (gram) saja, benar (karena mahal). Ini saja ada tabung 12 kg tapi enggak pernah dipakai lagi, mahal," pungkas dia.
AHL

08/01/2015

Sudah Satu Minggu Elpiji 3 Kg Susah Didapat di Wonosari

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-Kesulitan mendapatkan elpiji tiga kilogram dirasakan warga di Desa Kepek, Kecamatan Wonosari Gunungkidul.

Salah satu penjual gorengan di Dusun Tegalmulyo, Kepek, Kecamatan Wonosari, Nina mengatakan, sudah satu minggu ini dia kesulitas mendapatkan elpiji tiga kilogram. Menurutnya, kelangkaan itu membuatnya susah jika ingin masak atau melayani pembeli.

“Agen elpiji di dekat rumah saya sudah satu minggu ini tidak dapat kiriman stok. Padahal, biasanya setiap hari selalu stok,” ucap dia ketika ditemui di Kepek I, Kepek, Wonosari, Selasa (6/1/2015).

Ia pun memutuskan untuk membeli di toko yang agak jauh dari rumahnya. Namun, tidak seperti biasanya, toko tersebut juga cepat kehabisan stok. Ia mengaku, beruntung karena masih mendapatkan satu tabung.

“Setelah itu, teman saya juga mau beli tapi sudah kehabisan. Bahkan, di toko besar di dekat sini juga sering kehabisan,” imbuh dia.

Nina menyayangkan, adanya kelangkaan ini. Ia berharap, stok elpiji tiga kilogram kembali mudah didapatkan. Harga tidak menjadi masalah baginya asalkan barang selalu ada. Saat ini, Nina mengaku bisa mendapatkan elpiji tiga kilogram dengan harga Rp17.000 hingga Rp18.000.

06/01/2015

Didistribusi kompor gas dan tabung gas elpiji gratis di beberapa daerah diduga sarat pungutan liar. Kepolisian siap menerima pengaduan warga yang merasa dirugikan.

AROSUKA, HALUAN — Pembagian kompor dan tabung gas elpiji di Nagari Surian, Kecamatan Pantai Cermin, Kabupaten Solok, diduga diwarnai adanya pungutan liar (pungli) di tengah masyarakat. Pasalnya, dalam pembagian kompor gas yang seharusnya gratis itu, masyarakat justru dikenai pungutan oleh para oknum di lapangan.

“Setiap warga yang mendapat bantuan kompor gas malah dikenakan biaya yang katanya untuk iuran wajib oleh petugas yang ditunjuk pihak Pemerintah Nagari,” kata Edison (40), salah seorang warga Nagari Surian kepada Haluan, Minggu (4/1).

Pihaknya menyebutkan, iuran wajib sebesar Rp10.000 per unit (kompor dan tabung) itu kabarnya untuk biaya administrasi dan biaya transportasi petugas yang mendistribusikan kepada masyarakat. Sementara program konversi minyak tanah ke gas yang dilakukan pemerintah pusat ini, seharusnya dengan membagi-bagikan kompor dan tabung epiji kepada masyarakat secara cuma-cuma, tanpa adanya pungutan.

Pihaknya memperkirakan ada sekitar 4.000 orang warga yang menerima pembagian itu, kalau per orang membayar iuran Rp10.000, dana yang terkumpul sekitar Rp40 juta. Lantaran itu, pihaknya berharap kepada aparat penegak hukum dan pemerintah Kabupaten Solok untuk mengusut hal ini hingga tuntas. “Program ini harusnya untuk membantu masyarakat, tapi malah dibebani,” katanya.

Bahkan, tambah Edison, selain adanya pungutan iuran wajib, pembagian kompor dan tabung elpiji ini juga disangkutkan dengan pembayaran iuran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). “Bagi masyarakat yang dapat jatah kompor gas, harus lunas PBB dulu. Sementara bagi yang belum membayar iuran PBB, pembagiannnya akan ditangguhkan dulu,” ungkapnya.

Sementara dari 14 jorong yang ada di Nagari Surian, hanya 1 jorong yang tidak mendapat jatah pembagian kompor gas ini yaitu Jorong Belakang Pasar Surian. “Kami sudah menanyakan hal ini kepada Walinagari, katanya akan dicarikan solusinya, namun hingga kini belum ada realisasinya,” keluhnya.

Terkait adanya laporan ma­sya­rakat ini, Camat Pantai Cermin, Syaiful Anwar, yang di konfirmasi via telephon selulernya mengungkapkan, pihaknya telah menanyakan langsung hal ini kepada Walinagari Surian. “Barusan saya telah konfirmasi dengan Walinagari Surian, pihaknya tidak pernah memerintahkan hal itu. Kalau pun ada pungutan, itu di luar kewenangan Walinagari,” ungkap Saiful Anwar.

Kendati demikian, menindaklanjuti laporan masyarakat ini, pihaknya bersama Pemerintah Nagari setempat akan segera mengusut dan mengumpulkan kepala jorong yang ada di Nagari Surian, untuk mengetahui kebenaran hal ini. “Kita akan usut hal ini, karena pungutan ini secara aturan tidak dibenarkan,” katanya.

Syaiful menambahkan, dalam pendistribusian kompor dan tabung gas ini, pemerintah pusat langsung mendistribusikan kepada Pemerintah Nagari melalui konsultan yang telah ditunjuk oleh pemerintah, tanpa melalui koordinasi dengan pemerintah kecamatan. Kondisi ini menurutnya, menyulitkan pemerintah kecamatan untuk memantau langsung kondisi yang terjadi di lapangan. “Pemerintah pusat langsung mendistribusikan kepada Pemerintah Nagari, kapan datangnya kami tidak pernah diberi tahu oleh konsultan yang ditunjuk itu,” bebernya.

Terpisah, Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kab. Solok Drs. H. Indra Merdi, MM mengungkapkan, dalam pelaksanaan program pembagian ta­bung dan kompor gas kepada ma­syarakat, ada tiga konsultan yang ditunjuk Kementerian ESDM untuk bertugas di daerah penghasil beras itu. Yakni, konsultan sosialisasi dan edukasi, konsultan pendataan, serta konsultan distribusi. “Mulai dari pendataan hingga pendistribusian kami tidak pernah dilibatkan, karena langsung ditangani oleh pemerintah pusat,” katanya.

Oknum Kepala Jorong

Hampir sama yang terjadi di Kabupaten Solok, pendistribusian kompor dan tabung gas elpiji di Kabupaten Sijunjung juga sarat pungutan liar. Seperti halnya yang terjadi di Kenagarian Sungai Betung, Kecamatan Kamang Baru, Minggu (4/1).

Warga mengeluhkan tindakan beberapa oknum kepala jorong yang meminta pungutan liar (pungli) kepada masyarakat penerima bantuan. Untuk pengambilan tabung gas, warga dikenakan biaya Rp10.000/kk, sementara untuk kompor warga juga dikenakan biaya Rp5.000/kk dan jika mengambil keduanya maka dikenakan biaya Rp15.000/kk.

Metri (35), salah seorang warga Kenagarian Sungai Betung mengeluhkan lambannya penanganan serta tindakan dari Pemkab Sijunjung yang sampai saat ini terkesan diam dan membiarkan hal itu terjadi. “Kita sebagai warga sangat menyayangkan lambannya Pemkab Sijunjung dalam menangani masalah pungli oleh oknum jorong yang telah dilaporkan masyarakat ini, karena jika tidak segera ditanggapi, maka seluruh masya­rakat penerima bantaun akan menjadi korban pungli oknum aparat sendiri,” katanya.

Dirinya juga menuturkan bahwa biaya pungutan terhadap warga penerima bantuan kompor dan tabung gas 3 kg yang dilakukan oleh oknum kepala jorong tersebut dipungut dengan alasan administrasi, namun tidak jelas administrasi apa. Padahal dari data yang diterima masyarakat, pemerintah telah mengumumkan bahwa pembagian tersebut gratis alias tidak dipungut biaya.

Sementara itu ketua Komisi II DPRD Sijunjung, Sumanto, menyesalkan terjadinya aksi pungli yang dilakukan oleh oknum kepala jorong tersebut. Pasalnya, dalam sepengetahuannya, bantuan kompor dan gas ini tidak dipungut biaya apapun kepada warga penerima bantuan. Pihaknya juga akan segera menjajaki dokumen proses pengiriman gas elpiji dan kompor ini. “Jika memang nantinya ditemukan ada biaya untuk proses bongkar barang dari pihak penyalur, maka jelas perbuatan oknum kepala jorong jelas telah melanggar aturan dan bisa ditindak tegas,” ucapnya.

Di pihak lain, Kasat Reskrim Polres Sijunjung, Iptu. Andriansyah Rithas Hasibuan mengatakan, Polres Sijunjung siap menerima dan menanggapi laporan dari warga yang merasa dirugikan akibat pungli yang dilakukan oleh oknum jorong dan nagari tersebut. Asalkan disertai dengan bukti dan saksi.

“Kita akan menerima dan menanggapi setiap laporan dari warga penerima bantuan kompor gas ini yang merasakan dirugikan akibat Pungli, dan harus didukung bukti dan saksi yang jelas dan dapat dipertanggung jawabkan,” ungkap Kasat Reskrim, Iptu Adriansyah Rithas Hasibuan. (h/ndi/ogi)

03/01/2015

Harga Elpiji Rp22.000/Tabung

PURWAKARTA - Harga elpiji 3 kg melonjak naik di Kabupaten Purwakarta dalam sepekan terakhir. Tak tanggung-tanggung, di tingkat pengecer harganya mencapai Rp21.000-Rp22.000/tabung.

Kenaikan gas melon ini banyak dikeluhkan warga dan pengecer. Pasalnya, harga eceran tertinggi (HET) gas yang di peruntukkan masyarakat ekonomi menengah ke bawah adalah Rp16. 000/ tabung untuk di tingkat pangkalan. Sementara di tingkat agen Rp14.500/tabung. Salah seorang pemilik warung di Jalan Raya Palinggihan, Kecamatan Plered mengaku, terpaksa menaikkan harga gas ukuran 3 kg karena di tingkat pangkalan harganya naik.

Bahkan, kenaikan di tingkat pangkalan melebihi HET hasil penetapan pemerintah. “Kami membeli gas melon ini Rp18.000/tabung dari pangkalan. Kalau saya sendiri menjualnya Rp20.000/tabung. Harga itu kami sesuaikan karena BBM naik. Tapi warungwarung di sini menjualnya tidak merata, ada yang Rp20.000 - Rp21.000, bahkan hingga Rp22.000/ tabung,”kata ibu satu anak yang meminta identitasnya dirahasiakan ini.

Sebelum ada kenaikan, dirinya membeli gas melon dari pang kalan langganannya Rp16.500/tabung. Padahal saat itu HET-nya masih Rp14.500/tabung. “Sebelum naik, pekan lalu saya menjual gas di warung Rp 18.000/tabung. Karena beli dari pangkalan hanya Rp1 6.500. Saya harap pihak terkait mengendalikan harga gas, kasihan masyarakat kecil,”tambah dia.

Dari informasi yang didapat KORAN SINDO, selain di Kecamatan Plered, mahalnya gas juga dirasakan warga Kecamatan Darangdan, Sukatani, Tegalwaru dan Maniis. Bahkan di beberapa desa di kecamatan tersebut dikabarkan gas dijual Rp25.000/tabung. Terutama di desa-desa terpencil.

Dihubungi terpisah Kepala Bidang Perdagangan Disperindag Kabupaten Purwakaerta Fata mengaku terkejut jika di lapangan harga gas menembus Rp22.000/tabung. Pihaknya akan menggelar operasi pasar untuk menelusuri kebenaran kabar tersebut.

Jika ternyata kedapatan ada pangkalan atau agen gas yang nakal, maka pemerintah tidak segan-segan menindak tegas, seperti mencabut izin usaha.

Didin Jalaludin

17/12/2014

Berikut HET LPG Tabung 3 Kg di Kabupaten Rohul

Berdasarkan SK Bupati Rohul, HET elpiji 3 kg dinaikkan sesuai jarak tempuh. Namun kenaikannya tak tembus ke angka Rp21.000. Sementara kenyataannya, ada agen yang menjual sampai Rp33 ribu/tabung.

Riauterkini-PASIRPANGARAIAN- Harga Eceran Tertinggi (HET) Liquified Petroleum Gas (LPG) tabung 3 kilogram (kg) di Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) Rp20.200. Demikian sesuai Surat Keputusan Bupati Rohul Nomor 341 Tahun 2011, tanggal 19 Juli 2011.

Berdasarkan Surat Keputusan Bupati Rohul, penetapan HET LPG tabung 3 kg disesuaikan jarak atau biaya ongkos, untuk jarak antara 61 kilometer (km)-120 km naik 2.500 per tabung, jarak 121 km - 180 km 3.750 per tabung, jarak 181 - 240 km 5.000 per tabung, dan jarak 241 km - 300 km 6.250 per tabung.

Sesuai SK Bupati Rohul, diungkapkan Kabid Perdangan dari Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Rohul Ismed Harahap, bahwa HET LPG dibulatkan bervariasi. Harga disesuaikan jarak tempuhnya.

Seperti di Kecamatan Kabun harga LPG tabung 3 kg Rp16.500. Harga LPG 3 kg di Kecamatan Tandun, Ujungbatu, Kuntodarussalam, Pagarantapah Darussalam, dan Rokan IV Koto sekitar Rp17.700 per tabung.

Kemudian untuk harga LPG 3 kg di tujuh kecamatan sekitar Rp19 ribu, terdiri di Kecamatan Rambahsamo, Rambah, Pendalian IV Koto, Tambusai, Rambah Hilir, Kepenuhan Hulu, dan Kecamatan Kepenuhan.

Sedangkan harga LPG tabung 3 kg di Kecamatan Tambusai Utara dan Bonaidarussalam mencapai Rp20.200 per tabung.

"Pangkalan yang menyalahi aturan tentu akan ada sanksi. Semua akan kami panggil dalam waktu dekat," jelas Ismed Harahap kepada riauterkinicom, Senin (15/14/14).***(zal/mad)

06/11/2014

Tabung Bright Gas Warna Pink dan Ungu Paling Diburu di Manado

TRIBUNNEWS.COM., MANADO - Tabung Bright Gas warna merah muda dan ungu sampai saat ini banyak dibeli oleh ibu-ibu rumah tangga. Namun ada juga yang memilih hijau, karena melihat warnanya yang teduh.

"Sampai saat ini yang paling banyak dibeli masyarakat, yang kebanyakan ibu-ibu adalah merah muda dan ungu, namun ada juga yang pilih hijau karena katanya teduh," ujar Sales LPG Industri dan Gas Product Pertamina Region VII Sulawesi Agung S Pranata.

Untuk warna tabung Bright Gas 12 kilogram masyarakat bisa memilih dengan warna yang menarik, seperti Biru Metalik (Bluish Green Metallic), Hijau Metalik (Astroid Green Metallic), Ungu Metalik (Blue Purple Metallic), Ungu Kemerahan Metalik (Red Purple Metallic).

Untuk Manado pihaknya menyuplai 10.000 tabung, Kendari 5.000 tabung sedangkan untuk total untuk area Sulawesi 35.000 tabung. "Untuk Makassar sedang diluncurkan April 2014 sampai dengan saat ini telah terjual 8.500 tabung," katanya.

Perlu tabung gas LPG 3 Kg call aja 08999840499
12/10/2014

Perlu tabung gas LPG 3 Kg call aja 08999840499

Ini Usulan Kenaikan Gas LPG 3 Kg Dari Hiswana Migas SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Himpunan Pengusaha Minyak dan Gas (Hiswana ...
25/09/2014

Ini Usulan Kenaikan Gas LPG 3 Kg Dari Hiswana Migas

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Himpunan Pengusaha Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Sumsel, mengusulkan kenaikan gas LPG tabung 3 kilogram pada rapat pembahasan dengan Pemprov Sumsel, Senin (22/9/2014), di Palembang.

Sekretaris Hiswana Migas, Nina mengatakan, Harga Eceran Tertinggi (HET) gas LPG 3 kilogram di Sumsel belum mengalami perubahan pada 2012 lalu. Mereka pun mengusulkan HET LPG 3 kilogram sebesar Rp13.800.

Ia menjelaskan, dalam hampir dua tahun ini telah terjadi kenaikan TDL, BBM sampai harga suku cadang kendaraan. Sementara belum ada perubahan HET gas LPG 3 kilogram di Sumsel hampir dua tahun.

Berikut usulan kenaikan harga Hiswana Migas:

Kepgub Sumsel Nomor 568/kpts/IV/2012
- Harga ex-SPBE+PPn = Rp11.584
- Keuntungan Agen = Rp1.165
- Harga Agen ke Pangkalan/ Sub Payer = Rp12.750
- Margin Pangkalan = Rp1.050
- HET Jarak 60 km = Rp13.800

Usulan Kenaikan
- Harga ex-SPBE+PPn = Rp11.584
- Keuntungan Agen = Rp1.915
- Harga Agen ke Pangkalan/ Sub Payer = Rp13.500
- Margin Pangkalan = Rp1.300
- HET Jarak 60 km = Rp14.800

HET gas LPG 3 Kilogram di Provinsi Tetangga
- Lampung = Rp14.960
- Jambi = Rp15.000
- Bengkulu = Rp14.500

23/09/2014

Di Sumedang Harganya Tembus Rp 22.000

Gas 3 kg Semakin Langka

SUMEDANG,(GM).-

Dalam sebulan terakhir, harga elpiji 3 kilogram atau biasa disebut gas melon, makin sulit didapat. Bahkan di beberapa pengecer di wilayah Sumedang Kota, harganya sudah tembus Rp 22.000 per tabung. Kelangkaan gas 3 kg tersebut diduga terjadi kebocoran dalam penyaluran di lapangan. Salah satunya disalurkan ke industri kecil yang sebelumnya menggunakan gas ukuran 12 kg.

"Kami tidak menutup mata. Kalau hingga saat ini, diduga masih ada kebocoran dalam penyaluran gas 3 kg, kepada pelaku industri kecil, termasuk usaha peternakan," kata Kasubbag Sarana Perekonomian pada Bagian Ekonomi Setda Kab. Sumedang, Komar, S.E., M.E. melalui telepon selulernya, Minggu (21/9).

Sesuai kebijakan pemerintah pusat tentang penyaluran gas 3 kg yang merupakan barang bersubsidi, pemakaiannya hanya diperuntukkan bagi kalangan rumah tangga dan pelaku usaha mikro.

Namun begitu, pihaknya belum bisa memastikan, titik kebocoran tersebut, apakah di tingkat agen, pangkalan atau pengecer. Hanya saja, jika dilihat dari alur pendistribusian yang berjalan selama ini, posisi pangkalan dinilai cukup rawan terjadi penyimpangan.

"Terjadinya kebocoran dalam penyaluran gas 3 kg, itu tentunya tidak lepas dari lemahnya sisi pengawassan dan pengendalian di lapangan," katanya.

Dikatakannya, kebocoran atau penyaluran gas 3 kg yang tidak tepat sasaran akan berdampak pada kelangkaan barang di sejumlah tempat. Kelangkaan sendiri akan memicu lonjakan harga di tingkat pengecer. Di samping itu, kebijakan pemerintah yang menaikkan harga elpiji 12 kg, telah menyebabkan mingrasi pemakaian ke gas melon.

Tingkatkan pengawasan

Menyikapi hal itu, tim monitoring kabupaten, yang terdiri dari bagian ekonomi, bagian hukum, dinas perindustrian, dan satuan polisi pamong praja akan meningkatkan pengawasan di lapangan. Bila ditemukan ada penyimpangan dalam penyaluran gas bersubsidi, maka penanganannya menjadi ranah kepolisian. Sedangkan pemerintah daerah hanya sebatas merekomendasikan kepada pihak agen untuk meninjau MoU atau mencabut kerja sama dengan pemilik pangkalan, jika pelanggaran terjadi di tingkat pangkalan.

"Demikian p**a jika yang melanggar itu pihak agen, maka kami akan merekomendasikan kepada Hiswana Migas (Himpunan Pengusaha Swasta Minyak dan Gas), untuk melayangkan surat kepada Pertamina agar izin keagenan yang bersangkutan agar dicabut. Sementara untuk penanganan tindak pidananya itu menjadi kewenangan aparat kepolisian," terangnya.

Di samping itu, diakuinya, pemberlakukan harga eceran tertinggi (HET) sebagaimana yang diatur dalam Surat Keputusan (SK) Bupati Sumedang, Nomor 510/-KEP.47-HUK/--2014, tentang harga jual eceran tertinggi (HET) liquefied petroleum gas tabung 3 kilogram untuk keperluan rumah tangga dan usaha mikro di Kab. Sumedang belum berjalan efektif.

HET gas tabung 3 kg di tingkat agen atau penyalur sebesar Rp 13.300/tabung. Di tingkat pangkalan atau subpenyalur Rp 14.600 dan di tingkat pengecer atau titik serah pertama Rp 16.000/tabung.

Ketetapan harga yang sudah diatur dalam SK bupati tersebut, berlaku untuk radius 60 kilometer dari stasiun pengisian bulk elpiji (SPBE) atau filling station.

"Kita akui, jika sampai saat ini, pemberlakuan HET, belum efektif. Indikasinya, dibeberapa tempat di Wilayah Kab. Sumedang, terutama dipelosok, harga eceran masih ada yang tembus hingga Rp. 22.000 atau lebih per tabungnya. Kondisi yang terjadi di lapangan seperti itu, sangat dimungkinkan, mengingat kebijakan HET tersebut tidak mengatur mata rantai penjualan dari pengecer ke pengecer," ujarnya.

Address

Jakarta

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Tabung Gas Murah posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share