08/04/2026
Ada satu fase dimana aku sadar…
memahami orang saja, itu belum cukup.
Aku bisa membaca pola, melihat kecenderungan,
dan mapping personality lewat tulisan tangan.
Tapi rasanya… masih ada yang kurang.
Karena insight, tanpa cara yang tepat untuk mengolahnya,
seringkali hanya berhenti sebagai insight,
not yet a transformation.
Di titik itu, aku ambil keputusan yang nggak mudah.
I chose to step into coaching.
Aku ambil sertifikasi di
a program that was intense.
Full of role plays, real conversations,
where you have to show up, fully present.
Dan di situ, aku mulai melihat sesuatu yang berbeda.
Learning coaching is learning to create a new perspective.
It’s not about me, or even the client,
but how the client sees what truly matters to them.
Dan itu nggak berhenti di sesi coaching saja,
tapi terbawa ke banyak aspek lainnya.
Aku juga ikut berubah.
Lebih tenang saat mendengarkan.
Lebih intentional saat bertanya.
Nggak lagi buru-buru mengartikan,
tapi memberi ruang untuk clarity muncul dari mereka sendiri.
Perjalanan ini nggak mudah, especially the investment.
Ada ragu juga untuk mulai.
But once I stepped in, it felt worth it.
Sekarang, rasanya aku punya dua lensa:
tulisan tangan, dan coaching.
And somewhere in between…
insight truly lands.
July 2025—
I said yes.
And now, quietly but fully:
I’m a coach.
A step deeper, a layer clearer.