08/03/2014
Cara Mendekati Allah Azza wa Jalla
Anda suatu ketika diuji oleh Allah Swt dengan penyakit yang sulit ditolong oleh dokter sekalipun. Anehnya, penyakit anda sembuh ketika ditolong oleh seseorang yang sangat dekat dengan Allah Swt. Sebut saja, dia adalah kiai kharismatis dari suatu pondok pesantren. Padahal, pak kiai bukan seorang dokter. Dalam penanganan pengobatan penyakit, dia tidak menggunakan seperti halnya dokter. Cukup dengan dibacakan ayat-ayat Al-Qur’an lalu ditiupkan ke dalam air di sebuah gelas atau air mineral dalam botol. Anda bingung. Mengapa do’a dari pak kiai dapat menyembuhkan penyakit. Sementara dokter tidak dapat. Keadaan anda pun menjadi bertambah baik. Ada apa dengan do’a pak kiai?
Do’a adalah sebuah permohonan seorang hamba kepada Allah Yang Maha Menyembuhkan. Maka, jika pak kiai dengan penuh keyakinan bahwa Allah Azza wa Jalla pasti dapat menyembuhkan penyakit, sudah pasti Allah Swt akan menyembuhkannya. Saya yakin anda dapat menerima pernyataan saya ini. Lebih baik berprasangka baik kepada Allah SWT daripada sebaliknya, yaitu berburuk sangka. Dalam hal menyembuhkan penyakit, Allah Azza wa Jalla akan mengabulkan do’a bergantung dari prasangka hamba-Nya tentang kekuasaan Allah.
Saya pernah mengobati penyakit yang tidak dapat ditolong oleh dokter. Hanya dengan perantaraan transfer cahaya dari dalam hati, lalu dibedah secara goib, dan diberi obat herbal, penyakit yang terdiri dari tumor, ginjal, jantung, diabetes, masya Allah sembuh dalam waktu sepuluh hari. Saya, insya Allah, tidak bermaksud mempromosikan diri. Sama sekali tidak. Bahkan, saya pun tidak sama sekali bermaksud riya kepada anda. Anda sebenarnya dapat melakukan seperti saya bila anda mau mendekatkan diri kepada Allah Swt. Ini yang saya tekankan, bukan ‘kebisaan’ saya. Sekali lagi, saya tidak dapat apa-apa tanpa pertolongan Allah Azza wa Jalla. Allah Azza wa Jalla berfirman,
وإذا مرضت فهو يشفين
“dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku” (QS. Asy-Syu’ara’ : 80).
Perhatikan bagaimana Rasulullah Saaw menyatakan bahwa ketika beliau sakit, maka Allah lah yang menyembuhkannya. Jadi, bukan manusia yang menyembuhkan penyakit.
Manusia hanya sebatas menjalankan petunjuk Allah. Bila anda sudah sangat dekat dengan Allah, pasti anda akan mudah memahami bagaimana Allah memberi petunjuk. Suara yang ada di dalam hati (suara hati) menjadi petunjuk bagi anda dalam hal apa pun, termasuk penyembuhan penyakit. Allah Azza wa Jalla menunjuki bagi siapa saja yang dikehendaki. Anda boleh jadi bertanya, bagaimana saya mengetahui petunjuk? Saya baru saja mengatakan bahwa ada suara hati yang merupakan petunjuk Allah. Dengan berlatih secara terus menerus mendengarkan suara hati, maka insya Allah anda pasti mengerti adanya petunjuk Allah Azza wa Jalla.
Allah Swt akan memberikan karunia kepada hamba-Nya yang mau berada di hadirat-Nya. Apa maknanya? Allah Swt bersifat Wujud, artinya ada. Maka, dengan keberadaan-Nya pasti Dia bagaikan ada di suatu tempat. Namun, ada-Nya Dia di suatu tempat tidak berarti dibatasi layaknya makhluk oleh ruang dan arah. Tidak. Akan tetapi, sebagai perumpamaan saja. Dengan menyebut tempat, Dia seolah ada di suatu yang menunjukkan keberadaan-Nya. Inilah makna hadirat.
Di manakah Allah Swt berada? Dia ada di mana-mana sebagaimana kehendak-Nya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan Allah tidak menyerupai sesuatu. Maha suci Allah dari yang menyerupakan-Nya. Jadi, dengan memahami makna hadirat, anda akan lebih mudah ke mana anda akan menuju kepada-Nya. Saya mengatakan keberadaan Allah karena memang Allah itu ada. Allah Swt mempunyai sifat-sifat-Nya agar diketahui apa maksudnya. Jangan sekedar tahu sifat Allah, tetapi tidak tahu maknanya.
Karunia Allah Swt akan diberikan kepada hamba-Nya bila dia mau mendekati-Nya. Walaupun, sesungguhnya setiap manusia diberi karunia oleh Allah Swt. Akan tetapi, karunia yang diberikan Allah kepada hamba-Nya yang senantiasa mendekati-Nya sangat berbeda. Jika anda berkunjung ke rumah guru untuk terus menerus belajar, maka saya menjamin anda akan diberikan cara atau petunjuk untuk memahami bagaimana menjadi murid yang pandai. Sekalipun awalnya anda adalah murid biasa-biasa saja.
Akan tetapi, sudah awalnya biasa-biasa saja, tidak pernah belajar dan tak pernah mencoba bertanya dengan selalu berkunjung ke rumah guru, maka sudah pasti nilainya berbeda dengan anda yang senantiasa berkunjung ke rumah guru. Bahkan, sekalipun anda pandai, bila anda bersikap sombong kepada guru, lalu anda tidak bersahabat dengannya, saya menjamin anda akan tidak diperhatikan oleh guru. Nilainya belum tentu sama bila anda rajin berkunjung dan mau belajar serta menurut kepada guru anda.
Guru, dalam hal ini, berada dalam penilaian budi pekerti terhadap murid, sangat mempengaruhi pemberian nilai. Boleh jadi anda menyangsikan guru dengan menyatakan, ‘kalau begitu guru subyektif, tidak obyektif?” Siapa pun pasti memiliki alasan untuk memberi penilaian. Guru mengapa memberi nilai yang tak patut kepada muridnya yang pandai tapi bobrok budi pekertinya? Itu hak seorang guru dalam mendidik muridnya. Guru tidak hanya mengajari materi pelajaran, tetapi dia juga mendidik perbuatan muridnya.
Anda seharusnya mendekati kepada Allah Swt sebagaimana layaknya seorang murid yang tak tahu apa-apa dan tidak bisa apa-apa. Sampaikanlah dengan keterusterangan akan posisi anda kepada Allah Swt. “Allah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu, diriku ini hanyalah seorang makhluk yang hina tak berdaya apa-apa. Tetapi, Engkau adalah Tuhan Yang Maha Tahu apapun yang ada. Kepada siapa aku harus mengadu untuk menjadi seorang hamba yang patut diajari. Duhai Allah Yang Maha Bijaksana, sesungguhnya diriku tak berarti apa-apa tanpa diri-Mu. Perutku selalu lapar, sementara Engkau tanpa perut yang melapar. Andaikan aku akan bepergian, kakiku lemah tak berdaya, sementara Engkau sangat perkasa. Diriku sangat kotor, sementara Engkau sangat suci. Demi Allah, aku takkan mampu menanggung beban hidup di dunia tanpa petunjuk-Mu. Ke manapun aku pergi, pasti aku salah arah jika tanpa dipandu oleh Engkau Yang Maha Melihat. Bagaimana mungkin aku akan selamat, bila Engkau tidak memberiku petunjuk. Allah, aku sungguh membutuhkan-Mu, karena hanya dengan menyandarkan kepada-Mu saja aku dapat menjadi seorang hamba yang ta’at. Allah, inilah hamba-Mu yang selalu merindu untuk bertemu di hadirat-Mu.”
Allah Swt sangat menyukai kepada hamba-Nya yang mau merendah di hadapan-Nya dengan merunduk dan penuh mesra seperti layaknya sang perindu dengan adanya Sang Pujaan. Pelita hati akan memancar bagaikan sinar menerangi kegelapan. Jika anda secara terus menerus, istiqamah, menjalankan syari’at dengan cara merendah, merunduk, membutuhkan, merindu, mendambakan, menyatakan kebutuhan akan perjumpaan dengan-Nya, maka Allah pun akan membalasnya dengan kebaikan. Allah Azza wa Jalla sudah pasti memberi petunjuk bila hamba-Nya menjumpainya dengan cara seperti itu.
Mulailah dari hati yang mengingat nama-Nya. Allah Swt memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk berdzikir. Dengan berdzikir, Allah pasti mengingatnya. Allah berfirman, “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (p**a) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat) –Ku” (QS. Al-Baqarah : 152).
Sekiranya sudah menjalankan syari’at, segeralah berdzikir di dalam hati, mengagungkan nama-Nya. Ucapkan La ilaha illa Allah sebanyak-banyaknya. Jangan takut ada sesuatu yang menghalangi anda. Allah pasti akan bersama anda menolong apa pun keadaannya. Bila anda membutuhkan seorang pembimbing, maka carilah dia di mana pun untuk membantu menunjukkan jalan menuju Allah Yang Maha Kuasa. Anda, insya Allah, dipandu sampai anda benar-benar merasakan kehadiran-Nya di waktu solat. Bahkan ketika di luar solat sekalipun.
Sumber :http://agamahatidanilahi.blogspot.com/2010/09/cara-mendekati-allah-azza-wa-jalla.html
Subhanallah....artikel ini semoga bermanfaat untuk kita semua. "Ya Allah hamba mohon petunjukMU agar hamba tidak tergelincir ke lembah kesesatan..." Amin.