PT Lestari Jaya Raya

PT Lestari Jaya Raya PT.

LESTARI JAYA RAYA berdiri dan mulai beroperasi sejak tahun 1995 berkedudukan di Ujung Pandang dengan membuka pelayanan jurusan timur INDONESIA yang mencakup daerah Papua, Maluku, Sulawesi dan Kalimantan.

01/01/2020
SCI: Menjamurnya Bisnis Rintisan Logistik Bisa Bikin Cost TurunBisnis.com, JAKARTA – Supply Chain Indonesia (SCI) menila...
27/06/2019

SCI: Menjamurnya Bisnis Rintisan Logistik Bisa Bikin Cost Turun

Bisnis.com, JAKARTA – Supply Chain Indonesia (SCI) menilai perkembangan e-commerce membuat pendanaan investor terhadap bisnis rintisan atau startup di bidang logistik semakin menjamur. Persaingan usaha pun tidak dapat dihindarkan dan akan menurunkan biaya logistik.

Berdasarkan data Google & Temasek dalam laporannya berjudul E-conomy SEA 2018 yang menyebutkan bahwa dagang-el menyumbang US$12,2 miliar dari US$27 miliar nilai ekonomi digital Indonesia pada 2018, atau berkontribusi 45% dari total nilai ekonomi digital secara nasional.

Ketua Umum SCI, Setijadi menuturkan, seiring perkembangannya e-commerce membutuhkan layanan logistik khusus yang menuntut kecepatan pengiriman pesanan.

“Selain itu, berbeda dengan layanan logistik konvensional yang business to business [B2B], layanan logistik e-commerce bersifat business to customer [B2C] atau customer to customer [C2C]. Pengiriman produk dalam volume kecil dan tersebar,” jelasnya saat Bisnis hubungi, Selasa (25/6/2019).

Dia melanjutkan, keberadaan perusahaan startup logistik mendorong kinerja sistem logistik karena memanfaatkan teknologi informasi yang mengefisienkan proses bisnis dan operasionalnya.

“Keberadaannya akan meningkatkan persaingan. Peningkatan persaingan itu akan mendorong penurunan biaya logistik,” ungkapnya.

Sumber dan berita selengkapnya:
https://ekonomi.bisnis.com/read/20190626/98/938014/sci-menjamurnya-bisnis-rintisan-logistik-bisa-bikin-cost-turun #.XRQQtALFii4.whatsapp

Salam,
Divisi Informasi

Supply Chain Indonesia (SCI) menilai perkembangan e-commerce membuat pendanaan investor terhadap bisnis rintisan atau startup di bidang logistik semakin menjamur.

27/02/2019
06/02/2019

Pengusaha Logistik Minta Tarif Tol Trans Jawa Turun 50%

Rabu, 6 Februari 2019 12:38 WIB
Jakarta - Pengusaha logistik meminta tarif tol Trans Jawa diturunkan karena dianggap kemahalan. Salah satunya Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) meminta tarif turun hingga 50%.

"Biaya tol, kalau kita suruh bayar nggak bisa segitu, setengahnya, (tarif turun) kalau bisa setengahnya," kata Wakil Ketua Umum ALI Mahendra Rianto usai melakukan pertemuan dengan Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution, Jakarta, Rabu (6/2/2019).

Dia juga meminta agar tol yang sudah lama beroperasi dapat menyesuaikan penurunan tarif.

"Kedua ada sesi-sesi yang memang sebetulnya memang sudah lama dipakai (tarifnya) dikurangi d**g, contohnya (ruas tol) Jakarta-Cikampek, sudah berapa tahun itu mestinya diturunin. Kemudian (tol) Jagorawi sudah dari tahun 78/80 ya, turunin gitu lho," sebutnya.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Nofrisel juga meminta ada penurunan tarif tol. Paling tidak ada penurunan sekitar 20%.

"Nanti kita cari angkanya lah sama sama (usulan penurunan tarif). Tapi saya sudah bilang kalau bisa sih di bawah 20%," sebutnya dalam kesempatan terpisah.

Pihaknya sedang melakukan kajian lebih dalam. Nantinya usulan tersebut akan disampaikan ke badan usaha jalan tol (BUJT).

"Ini kan baru kita kaji lebih mendalam, kita juga ingin matangkan dulu lah sama sama," tambahnya.

Sumber : https://m.detik.com/finance/berita-ekonomi-bisnis/d-4415843/pengusaha-logistik-minta-tarif-tol-trans-jawa-turun-hingga-50

Standardisasi Sistem Distribusi Mendesak untuk DilakukanOleh: Zaroni | Senior Consultant Supply Chain IndonesiaPenerapan...
21/01/2019

Standardisasi Sistem Distribusi Mendesak untuk Dilakukan

Oleh: Zaroni | Senior Consultant Supply Chain Indonesia

Penerapan standardisasi distribusi penting untuk segera dilakukan di Indonesia. Standardisasi distribusi akan menjadi jalan untuk mencapai efektivitas dan efisiensi sistem distribusi. Sistem distribusi berkontribusi penting dalam daya saing perusahaan dan negara.

Distribusi menentukan ketersediaan dan kecepatan produk atau barang menjangkau ke pasar dan pelanggan. Distribusi yang efektif akan mampu mengatasi persoalan kelangkaan barang dan fluktuasi harga, yang berkontribusi terhadap inflasi.

Penerapan standardisasi distribusi dimulai dengan penetapan sasaran akhir atau service level dan biaya distribusi. Pemerintah, asosiasi, perusahaan, dan akademisi perlu membangun sistem informasi untuk mendapatkan data pencapaian service level dan biaya distribusi dari setiap sektor industri, produk atau komoditas, moda transportasi, dan lead time transportasi origin dan destination, dari titik lokasi produsen sampai ke lokasi konsumen. Selanjutnya, berdasar standardisasi service level dan biaya distribusi, standardisasi input dan proses disusun.

Pada tataran mikro, perbaikan sistem distribusi di perusahaan dilakukan dengan menerapkan manajemen logistik, khususnya operasional transportasi dan pergudangan. Dari perspektif makro atau nasional, distribusi penting untuk menjamin ketersediaan barang dan stabilitas harga. Dua hal ini berkontribusi signifikan terhadap inflasi. Kelangkaan barang dan disparitas harga untuk barang pokok dan penting, harga satu untuk produk tertentu seperti BBM dan semen, menjadi isu penting dalam distribusi nasional.

Sistem distribusi di Indonesia dihadapkan pada cakupan pasar atau geografi yang luas dengan densitas pasar di setiap daerah berbeda. Selain itu infrastruktur logistik seperti jalan raya, kereta api, pelabuhan, bandara, dan depo kontainer yang masih memerlukan pembangunan dan perbaikan pelayanan. Persoalan utilisasi kendaraan juga menjadi isu penting dalam efisiensi distribusi.

Perbaikan distribusi perlu dilakukan dengan menggunakan pendekatan sistem secara komprehensif, yang mencakup “input – proses – output”. Input dalam sistem distribusi utamanya adalah people dan resources. People utamanya adalah masalah kompetensi SDM pengelola distribusi, mulai dari manajer, supervisor, sampai operator. Untuk people di pemerintahan, mulai dari pembuat kebijakan, pengawas pelaksanaan kebijakan, dan operator layanan publik sistem distribusi. Sementara resources, mencakup teknologi, peralatan, dan infrastruktur logistik, baik di tingkat perusahaan maupun infrastruktur logistik secara nasional.

Standardisasi input dalam sistem distribusi mencakup standardisasi kompetensi SDM baik SDM di sektor bisnis maupun pemerintahan yang menjalankan distribusi dan standardisasi sumber daya. Standardisasi kompetensi SDM ini dilakukan melalui perumusan SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia) untuk sektor logistik. SKKNI perlu terus dikembangkan, diperbaharui, dan diperluas untuk setiap jenis okupansi di sektor logistik.

Standardisasi sumber daya yang digunakan dalam sistem distribusi mencakup transportasi, pergudangan, peralatan, kontainer, dan infrastruktur logistik. Standardisasi transportasi meliputi kapasitas, dimensi, muatan, green transportation, batas minimal dan maksimal kecepatan, akses jalan, load factor kendaraan, lead time untuk transportasi dari origin dan destination setiap saluran distribusi, dan lain-lain. Penerapan kebijakan penertiban ODOL (over dimension, over load) merupakan contoh yang baik dalam standardisasi transportasi untuk menjamin keamanan dan keselamatan transportasi barang.

Penggunaan kontainer dalam muatan barang perlu diterapkan lebih luas di setiap moda transportasi. Kontainer memberikan banyak manfaat, antara lain kemudahan dalam penanganan di setiap proses transportasi, kecepatan handling antarmoda transportasi, dan keamanan barang.

Selain itu, standardisasi load factor kendaraan penting untuk efisiensi distribusi. Penerapan konsolidasi dan sharing kapasitas truk merupakan contoh cara perusahaan-perusahaan transportasi untuk menaikkan load factor.

Ref :

Penelitian, Pengkajian, Pengembangan, Konsultasi, Pelatihan, Logistik, Logistics, Supply Chain, Supply Chain Indonesia, Logistik Indonesia, Rantai Pasok, Transportasi, Distribusi, Pergudangan, Catatan, Catatan Logistik, Lembaga Penelitian Logistik, Lembaga Konsultasi Logistik, Lembaga Pelatihan Logi...

29/11/2018

Biaya Logistik Nasional Masih Tinggi

Jakarta – Kinerja industri logistik nasional saat ini terkendala sejumlah permasalah mulai dari infrastruktur hingga kompetensi sumber daya manusia (SDM). Permasalahan tersebut menyebabkan tingginya biaya logistik di dalam negeri.

Diperkirakan, biaya logistik di dalam negeri saat ini mencapai 23,5 persen dari produk domestik bruto (PDB). Bahkan, biaya logistik di Indonesia disebut termahal di dunia.

“Kita ingin kurangi biaya itu. Salah satu caranya melalui penguatan SDM,” ungkap Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Haris Munandar, dalam saat mewisuda 500 lulusan APP Politeknik Jakarta, di Jakarta, Rabu (28/11).

Sebagai bentuk keseriusannya, Kemenperin pada 2019 mengalokasikan anggaran sekitar 1,7 triliun rupiah untuk pendidikan dan pelatihan vokasi. Jumlah tersebut meningkat dua kali lipat dari 2018 sekitar 800 miliar rupiah.

Khusus untuk logistik, Kemenperin memperkuat pendidikan dan pelatihan vokasi bagi industri logistik dengan menetapkan APP Politeknik Jakarta sebagai satu-satunya akademi yang fokus pada pendidikan logistik. Lulusannya akan diarahkan untuk bekerja pada industri logistik nasional.

Sumber dan berita selengkapnya:

Address

Ruko Taman Modern
Jakarta
13930

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when PT Lestari Jaya Raya posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share