Win Management

Win Management Win Management adalah perusahaan konsultan pelatihan softskill, people development, & design.

Pelayanan in-house training kami meliputi area: Leadership, Selling Skills, Excellent Service, Personal Development, Communication, Purna Bhakti Program, Design

31/12/2015
Ketika kita bekerja sama secara tim,  kemenangan yang diperoleh adalah kemenangan bersama,  bukan kemenangan individu.  ...
26/11/2015

Ketika kita bekerja sama secara tim, kemenangan yang diperoleh adalah kemenangan bersama, bukan kemenangan individu. Training outbond, Kementerian Agama, 26-27 november 2016

Seorang Presiden Direktur sedang berbicara di hadapan seluruh manajer perusahaannya. Di depan ruangan tersedia sebuah ke...
15/09/2015

Seorang Presiden Direktur sedang berbicara di hadapan seluruh manajer perusahaannya. Di depan ruangan tersedia sebuah kertas putih besar, lalu dia menggambar sebuah lingkaran kecil dengan spidol warna hitam.

Lalu ia menanyakan kepada seorang peserta “Apa yang anda lihat?”. Orang itu menjawab,”Sebuah lingkaran hitam”. Lalu ia bertanya lagi kepada manajer yang lain. Jawabannya sama”Sebuah lingkaran hitam”. Hampir setiap manajer yang ditanya memberi jawaban serupa yaitu lingkaran hitam.
Presiden direktur ini lalu menerangkan dengan kalem, “Ya, memang terlihat sebuah lingkaran hitam yang kecil. Tapi tidak ada seorang pun yang menjawab ‘saya melihat sebuah kertas putih besar’. Saya kira disinilah kita semua mempunyai masalah”.

Pelajaran Manajemen:
Manajer sebagai atasan seringkali melihat lingkaran hitam kecil (baca: kesalahan) dalam diri stafnya, tanpa menyadari bahwa masih ada “kertas putih besar” alias potensi atau kompetensi yang masih terpendam dan belum digali keluar.
Mengapa belum tergali? Beberapa penyebab:

1. Staf itu sendiri tidak menyadari potensi yang dimilikinya. Perlu seseorang memberitahukannya. Disinilah peran sang atasan untuk mengamati, memberitahu staf dan menyediakan jalan agar staf dapat mengeluarkan potensinya. Caranya? dengan merancang penugasan-penugasan tertentu yang membuat sang staf bisa “meluncurkan” potensi tsb. Saya pribadi senang melakukan hal ini dengan para staf saya. Tidak ada hal yang lebih menyenangkan melihat staf kita mampu mengeluarkan potensi yang dimilikinya. Organisasi juga memperoleh manfaat yang besar dari hal ini.

2. Staf itu sudah tahu dia memiliki potensi namun tidak ada kesempatan untuk mengeluarkannya. Kesibukan sehari – hari di kantor saja sudah menyita waktu, perhatian dan energinya. Sudah tidak terpikir untuk mengasah potensi. Dan sang atasan tidak menyadari ataupun tidak mau tahu yang penting staf menyelesaikan uraian pekerjaannya.

3. Baik staf maupun atasan sama sama tidak menyadari potensi apapun. Datang ke kantor – selesaikan pekerjaan – pulang. Demikian hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun tanpa perkembangan diri.

Purnama Setiawan

Pembaca tentu sudah sering mendengar ungkapan "seperti menebar garam di laut" bukan? Biasanya pepatah ini diucapkan untu...
14/09/2015

Pembaca tentu sudah sering mendengar ungkapan "seperti menebar garam di laut" bukan? Biasanya pepatah ini diucapkan untuk menggambarkan sebuah tindakan yang sia-sia dilakukan; tidak berarti dan tidak membawa dampak apa-apa.

Namun, dengan kemajuan teknologi, pepatah ini tidak lagi tepat. Hal ini terjadi tatkala pak Jokowi – gubernur DKI Jakarta melakukan apa yang disebut sebagai operasi teknologi modifikasi cuaca, sebuah kerja sama antara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Operasi ini dilakukan dengan menebarkan 4 ton garam di laut (tepatnya: di atas laut selat Sunda) pada tanggal 26 Januari 2013. Operasi ini berhasil menurunkan hujan di laut selat Sunda, sehingga hujan tidak sempat mencapai kota Jakarta, dan menghindarkan Jakarta dari banjir.

Ternyata saat ini, menebar garam di laut ditambah dengan kemajuan teknologi bukan lagi sebuah tindakan yang sia-sia.

Pelajaran Manajemen:
Sebuah usaha yang tidak berhasil dilakukan pada masa lalu, belum tentu gagal bila dilakukan lagi sekarang. Faktor teknologi bisa saja menjadi faktor penentu. Pada saat kita melakukan sebuah usaha di masa lalu, mungkin faktor teknologi belum memungkinkan sehingga gagal. Namun dengan perkembangan teknologi yang pesat sekali, kemungkinan usaha itu dapat dilakukan lagi dengan proses yang berbeda, sehingga memberikan hasil.

Beberapa orang yang “ahli” di bidangnya pun bisa salah pada saat memperkirakan kemajuan teknologi ini. Berikut beberapa komentar yang mereka berikan:

- “Saya rasa pasar komputer di dunia ini hanya mencapai kira-kira 5 unit saja” – Thomas Watson, pimpinan puncak IBM, pada tahun 1943.
- “Tidak ada alasan bagi individu di mana pun untuk mempunyai komputer di rumahnya” – Ken Olsen presiden Digital Equipment Corporation (DEC) pada tahun 1977.
- “Adalah impian sia-sia, membayangkan mobil akan menggantikan kereta api dalam perjalanan jarak jauh” – American Road Congress pada tahun 1913.
- “Segala yang bisa ditemukan, sudah ditemukan” – Charles Duell, pimpinan Kantor Paten Amerika pada tahun 1899.

Menggelikan? Mungkin. Orang orang pada saat itu mungkin mempercayai komentar mereka karena melihat kondisi saat itu. Tapi bila kita melihat dari perspektif kemajuan teknologi dan kondisi saat ini maka komentar itu akan terdengar menggelikan.
Nah, mari kita melihat lagi usaha kita yang “gagal” pada masa lalu, dan tambahkan kemajuan teknologi, bagaimana bentuknya sekarang? Maka berlakulah rumus:
Keberhasilan masa kini = kegagalan masa lalu + kemajuan teknologi.

Savvy? Selamat menebar garam di laut anda sendiri dan menggapai sukses.

Purnama Setiawan

Report Writing Bulog, Tgl 25 Agustus 2015
09/09/2015

Report Writing Bulog, Tgl 25 Agustus 2015

20 BatchTraining Manajemen Kecerdasan Mental Dan Spiritual, PT Tiga Raksa, Tbk.
08/09/2015

20 BatchTraining Manajemen Kecerdasan Mental Dan Spiritual, PT Tiga Raksa, Tbk.

Sisifus adalah nama tokoh dalam mitologi Yunani. Dia seorang yang bandel dan s**a membocorkan rahasia para dewa. Suatu k...
31/08/2015

Sisifus adalah nama tokoh dalam mitologi Yunani.

Dia seorang yang bandel dan s**a membocorkan rahasia para dewa. Suatu kali dia bahkan berani membelenggu Thanatos – dewa kematian, sehingga kematian tidak bisa datang ke dunia.
Dia dihukum para dewa: mendorong batu besar ke puncak bukit, lalu membiarkan batu itu menggelinding ke bawah. Sisifus harus mendorong lagi batu itu ke puncak bukit, untuk selanjutnya dibiarkan menggelinding ke bawah lagi. Demikian seterusnya.
Sebuah hukuman yang menjemukan. Apakah anda juga mengalami “hukuman” seperti ini?

WAWASAN MANAJEMEN:

Apakah anda mengalami situasi yang menjemukan seperti Sisifus? Tidak ada gairah tatkala berangkat kerja, berlambat-lambat memulai pekerjaan karena kurang motivasi dan ingin cepat-cepat pulang. Herannya, saat jam kantor usai, anda merasa lebih segar karena terbebas dari “hukuman”. Tapi celakanya, anda harus mengalami kondisi ini lagi esok hari.
Bila anda mengalami “hukuman” Sisifus ini, mungkin anda berada di kantor atau di pekerjaan yang salah, karena tidak sesuai dengan watak anda.

Seorang antropolog dan psikolog bernama Michael Maccoby, menguraikan 5 jenis watak orang beserta masing-masing motivatornya untuk melakukan pekerjaan (Donna Deeprose, Smart Motivation) yaitu:

1. Pengembang diri. Orang ini selalu ingin belajar dan berani mengambil resiko. Tidak menyukai birokrasi, lebih terkesan akan kompetensi ketimbang status. Motivasinya digerakan oleh kesempatan belajar agar tetap dibutuhkan oleh pasar.

2. Inovator. Orang seperti ini ingin mengubah dunia, mewujudkan visi mereka. mampu membuat inovasi terobosan atau organisasi yang baru. Motivasinya dibangkitkan oleh kesempatan untuk mencipta.

3. Ahli. Keinginannya yang kuat adalah mendemonstrasikan pengetahuan, menguasai tantangan dan mendapat pengakuan. Ingin dihormati dan berkuasa di manajemen puncak. Motivatornya adalah tantangan akan pengakuan.

4. Pembantu. Memperhatikan dan mengasuh orang. Ingin dibutuhkan, didengar dan dihormati. Seorang insan sosial. Seringkali berada di profesi yang membantu sektor pelayanan. Motivasinya digerakkan oleh kesempatan untuk menolong.

5. Penjaga. Ingin menegakkan keadilan, melindungi orang dari perbuatan jahat. Motivatornya adalah tantangan untuk memperbaiki yang salah.

Nah, termasuk golongan yang manakah anda? Cocokkah watak anda dengan pekerjaan anda sekarang? Bila tidak cocok, maka tidak heran kalau anda sering menjalani “hukuman” Sisifus.
Savvy?

Purnama Setiawan

Training Service Excellent...
25/08/2015

Training Service Excellent...

Waktu Perang Dunia II, pernah terjadi peristiwa dimana kematian tentara terjun payung pihak negara sekutu mencapai  juml...
18/08/2015

Waktu Perang Dunia II, pernah terjadi peristiwa dimana kematian tentara terjun payung pihak negara sekutu mencapai jumlah yang besar - karena parasut yang dipakai tidak mengembang sempurna.

Hasil penelitian menunjukkan parasut tidak berkembang sempurna karena dilipat secara sembrono oleh para pelipat parasut. Pelipatan parasut dikerjakan secara massal dan manual oleh pekerja di sebuah pabrik parasut.
Para pelipat parasut di pabrik telah dihimbau berkali - kali agar mereka meningkatkan kualitas kerja mereka. Namun, kualitas tetap buruk.

Pada suatu pagi, datanglah seorang jenderal komando pas**an udara ke pabrik. Ia memerintahkan setiap pelipat parasut mengambil satu parasut hasil lipatannya, lalu menyuruh mereka semua naik ke pesawat udara. Para pelipat parasut itu lalu diterjunkan menggunakan parasut hasil lipatan mereka sendiri.
Hasil kejadian ini sungguh luar biasa. Sejak itu, tidak ada lagi kasus prajurit yang tewas karena parasut tidak mengembang.

Wawasan Manajemen:
1. Perusahaan yang ingin meningkatkan kinerja stafnya dapat mengatur perubahan posisi sesekali. Misalnya staf departemen support bekerja di departemen lain yang dia harus dukung. Maka ia akan lebih memahami kesulitan di departemen tsb. Misalnya: staf bagian keuangan berbagian produksi. Staf itu dapat lebih memahami kondisi di bagian produksi setelah ia bertugas di sana.

2. Beberapa tahun lalu, pada saat terjadi beberapa ledakan tabung gas 3 kg yang ditengarai karena mutu tabung yang masih kurang baik, saya ingin mengusulkan agar Pertamina mewajibkan seluruh jajarannya (termasuk direksi dan komisaris) menggunakan tabung gas 3 kg di rumah masing - masing untuk beberapa waktu saja. Saya yakin perbaikan mutu tabung itu akan sangat cepat diselesaikan. Mengapa? Karena ada sindrom Pelipat Parasut. savvy?

Purnama Setiawan

Train The Trainer PT Nesitor...
17/08/2015

Train The Trainer PT Nesitor...

Managing Task & Team PT CSF...
11/08/2015

Managing Task & Team PT CSF...

Seorang pemilik penggergajian kayu mempekerjakan 4 orang tukang gergaji. Pagi hari, mereka datang untuk bekerja, berkata...
10/08/2015

Seorang pemilik penggergajian kayu mempekerjakan 4 orang tukang gergaji. Pagi hari, mereka datang untuk bekerja, berkatalah tukang pertama, “Wah, saya harus menajamkan gergaji saya dulu” lalu ia pergi.

Tukang yang kedua berkata,”Saya harus menyusun rencana lebih dulu kayu yang akan digergaji”. Lalu ia pergi.
Tukang yang ketiga berkata, “Saya belum sarapan, saya harus sarapan dulu agar bertenaga”. Lalu ia pergi sarapan.
Tukang yang keempat tetap diam di tempat. Dia sudah menajamkan gergajinya di rumah, sudah merencanakan kayu mana yang akan digergaji dan sudah sarapan. Jadi dia langsung bekerja tanpa menunda - nunda.

Setelah sekian lama, ketiga tukang lainnya masih belum kembali juga, sedangkan tukang keempat ini sudah hampir menyelesaikan pekerjaannya. Lalu datanglah pemilik penggergajian dan menambah jumlah kayu yang harus digergajinya (!).

Pelajaran manajemen:
Cerita di atas banyak terjadi di mana mana. Mungkin pembaca pernah atau sedang mengalaminya. Seringkali atasan di kantor seperti pemilik penggergajian di atas: malas mengkonfrontasi perilaku buruk dari stafnya yang tidak menyelesaikan tanggung jawab. Lalu memilih jalan keluar yang mudah: mengalihkan pekerjaan dan tanggung jawab kepada staf yang lebih rajin, lebih penurut, lebih tepat waktu, lebih mudah diatur, lebih mampu menyelesaikan pekerjaan.

Tak heran lama kelamaan semua staf menjadi malas. Staf yang lebih rajin atau yang berkinerja baik itu akan berkata,”Buat apa saya rajin-rajin kerja? Saya hanya menerima lebih banyak pekerjaan”. Staf ini mendapat ganjaran negatif atas kinerjanya dan bukan ganjaran positif. Ganjaran yang diterima dari atasan atas hasil kerjanya adalah lebih banyak lagi pekerjaan!

Moral si tukang kayu keempat akan menjadi lebih buruk lagi bila ketiga tukang kayu lainnya mendapat gaji yang sama dengan dirinya atau lebih besar. Istilah kerennya PGPS : Pintar Goblok Pendapatan Sama. Bila atasan memberlakukan PGPS, maka karyawan yang pintar akan segera menjadi “goblok”.
Savvy?
Purnama Setiawan

Address

Jakarta
14240

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Win Management posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Win Management:

Share