Mutiara Cahaya Muslimah

Mutiara Cahaya Muslimah Merenungi HIKMAH dibalik setiap hembusan nafas kita. Tidak ada kejadian apapun dalam kehidupan kita kecuali semua atas kehendakNYA dan sarat dengan HIKMAH.

Mengapa Islam Itu Membawa Kebaikan

ISLAM itu membawa kebaikan. Islam itu membawa keteduhan. Islam itu membawa perdamaian. Bukan hanya untuk orang yang memeluknya saja, tetapi kebaikannya juga untuk kafirnya. Bukan hanya untuk manusia, tetapi juga membawa kebaikan untuk hewan, tumbuhan, dan lingkungan sekitar

Islam itu pembawa rahmat bagi seluruh isi dunia, bahkan kesejahteraan hingga akhirat bag

i yang mengikutinya, kawan

Islam bukan hanya membawa kebaikan untuk yang beriman, tetapi juga untuk yang kufur. Ya, Islam memberi kebaikan dengan mengajaknya untuk kembali kepada fitrah. Islam memang tidak memaksa, tetapi Islam takkan mendiamkan dirimu jauh dari kefitrahan. Islam akan selalu mengingatkanmu bahwa fitrah itu indah, kawan. Namun jika kamu tetap seperti itu, Islam takkan meninggalkanmu. Islam tetap menebar keadilan dan kejujurannya padamu, kawan. Islam bukan hanya membawa kebaikan untuk yang taat, tetapi juga untuk yang bermaksiat. Ya, Islam memberi kebaikan dengan segera ‘menarik’-nya untuk segera bertaubat. Islam sayang padamu, kawan. Islam tak ingin kamu selalu berlumuran keburukan, karena itu Islam tak segan untuk membawamu mengingatkan manfaat dari kebaikan dan memperlihatkanmu senyum orang di sekitarmu yang merindukan kebajikanmu. Islam bukan hanya membawa kebaikan kepada yang adil, tetapi juga kepada yang zalim. Ya, Islam memberi kebaikan dengan ‘menegur’-nya supaya berhenti dari kekeliruan menaruh tidak pada tempatnya. Islam menegur supaya kamu menjadi ‘gagah’ dengan keadilanmu, kawan. Islam bukan hanya membawa kebaikan kepada yang s**a membangun, tetapi juga kepada pembuat onar. Ya, Islam memberi kebaikan dengan menghukumnya supaya menyadari bahwa keonaran itu tidak benar. Ingatlah, Islam tak membencimu. Islam hanya ingin kamu juga merasakan kebaikan dan kedamaian yang meresap hingga hatimu, kawan. Itulah kebaikan Islam kawan. Islam yang menyejukkan. Islam yang menebar kebaikan untuk semuanya, tak memandang lembut atau keras, tinggi atau pendek, jauh atau dekat.

Rahim Ibu Mengembang 500 Kali Lipat dari Normal, dan Setiap Rasa Sakit itu PahalaMelahirkan adalah ujung dari proses pen...
10/08/2015

Rahim Ibu Mengembang 500 Kali Lipat dari Normal, dan Setiap Rasa Sakit itu Pahala

Melahirkan adalah ujung dari proses penantian yang panjang selama kehamilan. Pada manusia usia kehamilan hingga melahirkan rata-rata 280 hari.

Ada perbedaan penyebutan untuk menggambarkan usia kehamilan, dokter kandungan menyebut 40 minggu dihitung dari hari pertama mens terakhir dan berpedoman bahwa 1 bulan adalah 28 hari.

Orang awam sering menyebut 9 bulan 10 hari dengan anggapan 1 bulan 30 hari. Semuanya tepat, tergantung dari mana pedoman atau patokan yang dianut.

Persalinan adalah proses keluarnya janin dari dalam rahim ke dunia luar.

Proses Persalinan dapat dilakukan melalui jalan lahir/vagina (persalinan pervaginam) atau persalinan melalui sayatan pada dinding perut dan dinding rahim (persalinan perabdominam) atau dikenal dengan bedah sesar (seksio sesarea).

Pada manusia 90 % persalinan dapat dilakukan melalui jalan lahir, hanya sebagian kecil yang membutuhkan persalinan melalui operasi/ bedah sesar.

rahim-ibu-melahirkanRahim ibu yang sedang mengandung akan mengembang 500 kali lipat dari ukuran normal untuk menampung kandungannya.

Darah yang hilang melalui proses kelahiran normal adalah 500ml. Ini sama dengan setengah liter.Badan manusia hanya mampu menanggung rasa sakit hingga 45 Del.

Tetapi selama bersalin ibu akan mengalami hingga 57 Del, sama dengan rasa sakit akibat 20 tulang yang patah bersamaan.

Ibu bersalin akan mendapat pahala yang sama besarnya dengana 70 tahun shalat dan puasa. Setiap kesakitan pada satu uratnya, Allahhadiahkan bagi Ibu yang melahirkan pahala menunaikan haji.

Apabila seseorang perempuan merasakan sakit karena akan melahirkan, maka Allah s.w.t. mencatat baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah s.w.t.

Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dosa-dosa dari dirinya seperti keadaan ibunya melahirkannya.

Silahkan share artikel singkat ini kepada semua kaum wanita yang ada di dunia ini. Karena ‘tugas’ mereka sebagai wanita sangatlah besar, mempertaruhkan nyawa saat melahirkan.

"MERINDING MEMBACA KISAH INI"Seorang lelaki sholeh melewati seorang yang sedang memanggang daging, lalu ia menangis..Ora...
09/08/2015

"MERINDING MEMBACA KISAH INI"

Seorang lelaki sholeh melewati seorang yang sedang memanggang daging, lalu ia menangis..

Orang itu bertanya : kenapa engkau menangis..??

Apakah engkau butuh daging..??

Orang sholeh itu menjawab: Tidak tetapi aku menangisi anak Adam..

Binatang memasuki api dalam keadaan mati, sementara anak Adam memasuki api (neraka) dalam keadaan hidup..

Wahai RABB..
Jasad kami tidak kuat menahan api neraka..

Yaa ALLAH..
Haramkanlah api neraka atas jasad kami dan jasad setiap orang yang berkomentar Aamiin..

Aamiin Yaa Rabbal'aalamiin..

08/08/2015

YANG SEDANG ONLINE MOHON AAMIINKAN.

Ya Allah jika rizkiku masih diatas
langit, turunkanlah..

Ya Allah jika ada didalam bumi
keluarkanlah..

Ya Allah jika masih jauh,
dekatkanlah..
jika s**ar, mudahkanlah..
jika haram, sucikanlah..
jika sedikit, perbanyak dan
berkahilah..

berkat waktu dhuha,
limpahkanlah kepada kami segala
yang telah Engkau limpahkan
kepada hamba-hambaMu yang
sholeh.

Aamiin ya Rabbal'alamin.

07/08/2015

YANG SEDANG ONLINE MOHON AAMIINKAN.

Ya Allah berkahilah rezeki kami , Dekatkanlah rezeki kami , ampunilah dosa kami , saudara kami , orang tua kami dan dosa kaum muslimin dan muslimat yg hadir di sini... Aamiin...

SELAMAT JALAN ISTRIKU.KISAH NYATA YANG BANYAK MEMBUAT ORANG MENANGISTiba-tiba HP ku berdering, setelah menjawab salam su...
06/08/2015

SELAMAT JALAN ISTRIKU.KISAH NYATA YANG BANYAK MEMBUAT ORANG MENANGIS

Tiba-tiba HP ku berdering, setelah menjawab salam suara diseberang telepon tampak panik “Ayah.. bunda mimisan nich.” Hmm.. kumaklumi kepanikan istriku saat itu karena belum pernah dia mengalami mimisan seperti ini.

Memang cuaca di bulan Agustus 2007 siang itu begitu teriknya. Aku pikir ini akibat cuaca yang terik itu. Kemudian aku sarankan dia untuk segera ke dokter.

Beberapa hari kemudian istriku sakit pilek. Seperti biasanya kalau sakit ia hanya minum obat warung dan jarang sekali mau periksa ke dokter. “ oalah bunda…. ke dokter ajah kok takut,” ledekku, ku sorong p**i kenyalnya dengan ujung jari, ia merajuk bibirnya maju 2 centi, lucu melihatnya seperti itu.

Dua minggu berselang tapi pileknya belum juga hilang. Malah katanya ada yang terasa menyumbat di saluran hidungnya, rasanya tak nyaman dan susah bernafas. “Bun… besok kita ke Rumah Sakit ya! biar ayah ijin masuk siang,” rayuku agar ia mau ke Rumah sakit.

Keesokan harinya saya ajak ia ke RS. Bhakti Yudha Depok. Saat itu dokter THT bilang istriku alergi pada debu dan juga bulu-bulu binatang. Tapi sampai obatnya habis pileknya belum juga ada tanda-tanda kesembuhan.

Anehnya yang sering keluar lendir hanya hidung sebelah kiri saja. Bahkan istriku mulai susah bernafas melalui hidung, ia hanya bisa bernafas melalui mulut. Dan ketika saya membawanya periksa untuk kedua kalinya dokter menyarankan untuk rontgen. Namun dari hasil rontgen tidak terlihat adanya kelainan apapun di hidung istriku.

Tanggal 3 Nov 2007

Aku mengajaknya periksa ke RS Proklamasi Jakarta, karena menurut informasi di sini peralatanya lebih lengkap. Ternyata benar, dengan alat penyedot dokter mengeluarkan lendir dari dalam hidung istriku. Senang rasanya melihat ia dapat bernafas dengan lega. “Alhamdulillah…..”

Beberapa hari kemudian sumbatan itu kembali muncul. “Duh..bunda!” Kontrol kedua ke RS. Proklamasi masih saja dokter belum bisa menyampaikan penyakit apa yang dialami istriku ini.

Dokter memasukkan kapas basah ke hidung istriku (ternyata itu adalah bius lokal), beberapa saat kemudian sebuah gunting kecil dimasukkan kedalam hidung dan.. “krek” potongan daging kecil diambil. Belakangan baru aku tau tindakan inilah yang dinamakan biopsi. Tak ada yang disampaikan kepada kami. Dokter menyarankan dilakukan CT Scan. Kemudian kami menuju ke RSCM untuk CT Scan.

Keesokan harinya hasil CT Scan aku bawa kembali ke Dokter RS Proklamasi. Setelah melihat hasil Scan, Dokterpun menyampaikan hasilnya dan juga hasil biopsi dari laboratorium.

“ini ibu positif,” kata dokter sambil menunjukkan foto CT Scan. Nampak ada sebuah massa diantara belakang hidung dan tenggorokan istriku. Cukup besar seukuran kepalan tangan. Aku masih belum mengerti maksud kata-kata nya dan memang sama sekali tak ada pikiran yang aneh aku coba bertanya, “maksudnya apa dok?”

“ibu positif kanker!”

Dek.. seolah detak jantungku berhenti “KANKER…Dok?” Tiba-tiba mataku jadi gelap, sebuah beban berat serasa menindih badanku. Aku diam dan tak bisa berkata apa-apa, lama aku terdiam.

“Kanker..?” tanyaku, tapi kalimat itu tak mampu terucap hanya bersarang di kepalaku. Sebuah penyakit yang selama ini hanya aku kenal lewat informasi dan berita-berita, kini penyakit itupun menghampiri orang terdekatku orang yang paling aku sayangi. Penyakit yang menakutkan itu menyerang istriku.

Kutatap wajah cantik istriku yang dibalut jilbab favoritnya, tenang.. teduh… tak ada ekspresi apa-apa aku makin bingung.
“duhh…bunda apa yang ada dalam fikiranmu bunda…”
“Sekarang bapak ke RSCM ke bagian Radiologi kita harus bertindak cepat,” tiba-tiba aku tersadar. Segera kuambil surat pengantar dokter dan menuju RSCM.

Sungguh tak pernah terpikirkan sedikitpun sebelumnya, kini kami berada dalam deretan orang-orang penderita kanker di ruang tunggu spesialis Radiologi ini. Aroma kecemasan bahkan keputus asaan tergambar di wajah mereka. Sebenarnya ini juga saya rasakan, tapi saya harus menyembunyikan raut ini di hadapan istriku. Aku harus tetap menyuguhkan energi penyemangat padanya.

Dihadapan dokter Radiologi aku bertanya, “sebenarnya istriku kena kanker apa dok?”

“kanker nasofaring.” jawab dokter singkat.

Ya Allah….kanker apa lagi ini? Istilahnya saja aneh bagiku. Kenapa harus istriku yang mengalaminya?

“Tapi Insya Allah masih bisa disembuhkan dengan pengobatan sinar radiasi dan kemoterapy,” dokter mencoba menangkap kegalauan diwajahku.

“Nanti ibu harus menjalani pengobatan radiasi selama 25 kali.”

Terbayang beratnya derita dan kelelahan yang harus dialami istriku. Belum lagi dengan kombinasi pengobatan kemoterapy yang melemahkan fisik.

Keluar dari ruang radiologi seolah semuanya jadi gelap, rasanya aku tak kuat menahan segala beban ini. Segera aku sms family dan teman-teman dekatku, aku kabarkan keadaan istriku dan kumintakan do’a dari mereka. Tak terasa bulir-bulir bening air mata bermunculan disudut mataku.

“Ayah kenapa? nangis yach..?” dengan polos pertanyaan itu keluar dari bibir istriku.

“iya, ayah sayaaang…. sama bunda,” suaraku gemetar.

Ku usap lembut kepala istriku. Ku tepis perlahan tangannya yang mencoba mengusap air mataku, ku gengggam kuat jari-jari lemahnya. Hatiku berbisik “kenapa tak ada kesedihan diwajahmu bunda? apakah bunda ga tau penyakit ini begitu berbahaya? Atau Allah telah memberitahukan ini semua kepadamu?”

“Bunda biasa ajah koq..” Jawabanya malah makin membuatku tak bisa bernafas, air mataku akhirnya jatuh juga.

Kususuri lorong-lorong RSCM dengan langkah lemas tak bertenaga seolah aku melayang, tulang-tulang terasa tak mampu menyangga badanku yang kecil ini.

Tanggal 5 Desember 2007 ...

Mulai hari itu istriku harus dirawat inap di RS. Proklamasi. Semua persiapanpun dilakukan mulai dari USG, Bond Scan dll. Hasilnya rahim masih bersih dan tulangpun normal artinya kankernya belum mejalar ke bagian lain, Alhamdulillah…sempat kuucap kata syukur itu.

Tanggal 8 Desember 2007

Hari ke empat. Sore itu aku dipanggil ke ruang Dokter Sugiono yang akan melakukan Kemoterapy. Dikatakan bahwa kanker istriku stadium 2A dan Insya Allah masih bisa diobati. Istrikupun siap untuk menjalani pengobatan dengan kemoterapy. Kemudian kami minta ijin ke Dokter untuk diperbolehkan pulang sambil mempersiapkan segala sesuatunya.

Malam hari ketika kami di rumah, kami minta pendapat dari pihak keluarga tentang pengobatan yang akan kami lakukan. Dengan berbagai pertimbangan dan alasan pihak keluarga menyarankan agar kami tidak menempuh jalan kemo dan radiasi. Kami disarankan untuk menjalani pengobatan dengan cara alternatif dan pengobatan herbal.

Akhirnya sejak saat itu kami melakukan ikhtiar pegobatan dengan cara alternatif dan minum obat-obat herbal. Karena saat itu istriku sudah susah untuk menelan maka obat herbal yang diberikan tidak berupa kapsul, melainkan berupa rebusan. Setiap hari istriku harus minum ramuan dan rebusan obat-obat herbal yang baunya sangat menyengat. Tapi aku lihat ia dengan telaten dan sabar rutin minum semua obat-obatan itu.

Semangatnya untuk sembuh begitu besar. Doa pun tiada henti kupanjatkan siang dan malam. Dan malam-malamku selalu ku habiskan dengan tahajud dan hajat.

Aku mulai rajin mencari semua informasi yang berhubungan dengan kanker nasofaring, mulai dari makanan, cara pengobatan, bahkan alamat klinik pengobatan alternatif. Semua informasi aku cari melalui internet, koran dan dari rekan-rekan kerja.

Tiga bulan pengobatan, tapi Allah sepertinya belum memberi jalan kesembuhan dengan cara ini, akhirnya obat herbal aku tinggalkan. Bahkan pengobatan alternatif sudah aku tinggalkan sejak 1 bulan pertama karena aku ragu. Beberapa keluarga istri mulai putus asa. Malah ada yang beranggapan penyakit ini adalah kiriman dari orang. Tapi aku bantah semuanya,sempat ada pertentangan di antara kami. Aku yakinkan istriku bahwa ini adalah memang ujian dari Allah,

“Bun..semuanya atas kehendak Allah, bahkan jauh sebelum kita lahir sudah tertulis takdir ini, usia segini bunda sakit, berobat kesini-sini itu semua sudah ada dalam catatan Allah bun. Yang penting sekarang kita jangan lelah berihtiar dan bunda tetep harus semangat untuk sembuh.” Ia mengangguk perlahan.

Berat badan istriku mulai turun drastis karena tak ada asupan makanan, sebelum sakit beratnya 53 Kg kini tinggal 36 Kg. Kondisinya makin parah dan puncaknya ketika aku lihat mata kirinya sudah tak focus. Cara ia melihat seperti orang juling. Menurut Dokter herbal yang menangani istriku inilah rangkaian perjalanan kanker tersebut yang lama kelamaan akan menyerang otak. Dokter menganjurkan untuk segera dibawa ke rumah sakit.

Tanggal 26 Maret 2008

Akhirnya aku kembali membawanya ke Rumah Sakit. Kali ini aku membawanya ke RS. Husni Thamrin. Istriku ditangani oleh team yang terdiri Dokter THT, Dokter Internis dan Dokter spesialis ahli kemoterapy, Kebetulan Dokter Sugiono ahli kemoterapy yang dulu merawat istriku di RS. Proklamasi juga praktek di sini. Dan kini Dokter sugiyono kembali menangani istriku.

Sore itu Dokter memanggilku ke ruangannya. Dokter menjelaskan stadium kanker istriku sudah menjadi 4C, dan kankernya sudah mulai menggerogoti tulang tengkorak penyangga otak. Melihat hasil CT Scan nya aku merinding, terlihat jelas tulang-tulang tengkorak itu keropos layaknya daun termakan ulat. Aku ingin menjerit, “Ya Allah… begitu berat cobaan ini Kau timpakan pada kami”

“Ma’afkan ayah bun, ayah tak mampu menjaga bunda…!”

Yang lebih mengagetkan ketika dokter mengatakan, “kita hanya bisa memperlambat pertumbuhan kankernya bukan mengobati.” Seolah hitungan mundur kematian itu dimulai. Aku limbung dan hampir taksadarkan diri, sekuat tenaga aku mencoba untuk tetap tegar. Dengan dipapah adik aku keluar dari ruang dokter.

Segera aku menuju Mushola kuambil air wudhu dan kujalankan sholat. Entah sholat apa yang kujalankan ini.

“Aku ingin ketenangan aku butuh pertolonganMu ya Robb. Kutumpahkan segala permohonan ini dihadapanMu yaa Allah. Bisa saja dokter memfonis dengan analisanya, tapi Engkaulah yang maha kuasa atas segala sesuatunya. Engkau maha menggenggam semua takdir, sakit ini dariMu ya Allah dan padaMU juga aku mohon obat dan kesembuhannya.”

Segala ikhtiar dan do’a tiada lelah kulakukan tuk kesembuhan istriku. Malam-malamku kulalui dengan sujud panjang disamping bangsal rumah sakit. Kubenamkan wajahku diatas sajadah lebih dalam lagi, tiba-tiba aku merasa tak mimiliki kekuatan apapun, aku berada dalam kepasrahan dan penghambaan yang lemah.

“Robb…Engkau maha mengetahui, betapa segala ihtiar telah kami lakukan. Tiada menyerah kami melawan penyakit ini, kini aku serahkan segalanya padaMu, tidak ada kekuatan yang sanggup mengalahkan kekuatannMu yaa…Robb, Tunjukkan pertolonganMu, beri kesembuhan pada istriku Ya..Allah.”

Saat itu istriku masih bisa bicara meski dengan suara kurang jelas. Karena tenggorokannya pun sudah menyempit tersumbat kanker, ia sangat kesulitan dalam bernafas. Untuk mengantisipasi agar tidak tersumbat saluran nafasnya, dokter menyarankan agar dipasang ventilator dileher istriku. Akupun menyetujuinya meskipun aku tak tega, tapi ini resiko terkecil yang bisa diambil.

Istriku pasrah, dia minta aku menemaninya ke ruang operasi. Aku sangat mengerti ia sangat takut dengan peralatan medis di ruang operasi. Kemudian aku mendampinginya kedalam ruang operasi untuk pemasangan Ventilator. Aku melihat dengan jelas leher istriku disayat kemudian dimasukkan alat bantu pernafasan itu. “Sebenarnya aku tak tega melihatmu seperti ini bunda, tapi inilah yang terbaik untukmu saat ini.”

Selesai pemasangan ventilator bicaranya sudah tak bersuara lagi. Sejak saat itu praktis komunikasi kami hanya dengan isyarat atau terkadang istriku menulisnya pada lembar-lembar catatan kecil yang sengaja aku siapkan. Tentu saja hal ini terasa capek baginya. Namun sekali lagi ia terlihat tegar tak pernah aku mendengar ia mengeluh.

Akhirnya dengan berbagai pertimbangan akupun menyetujui untuk dilakukan kemoterapy terhadap istriku

Tanggal 6 April 2008

Kira-kira jam 12 siang kemo tahap pertama dilakukan. Dengan perasaan tak menentu aku melihat dokter meracik obat dengan perlengkapan pengaman yang lengkap. Karena menurut dokter obat ini memang keras.

“Ya Allah beri kekuatan pada istriku…!” Beri kesembuhan melalui ihtiar obat ini ya Allah..!”

Sepanjang proses pengobatan tak hentinya kupanjatkan do’a dan dzikir dibantu dengan beberapa anggota keluarga.

Menurut Dokter kemo ini dilakukan dalam 3 sampai 5 tahap. Satu tahapan kemo memakan waktu 5 hari kemudian jeda 3 minggu untuk dilanjutkan ke tahap berikutnya.

Hari kedua setelah kemo kurang lebih jam 9 malam, istriku mulai merasa mual dan muntah. Hari ketiga jam 12 malam mulai keluar mimisan dengan darah hitam mengental. Hari ke empat jam 8 pagi ketika saya memandikan dan membersihkan mulutnya yang terus menerus mengeluarkan lendir, terdapat lendir bercampur darah hitam pekat dan mengental.

Menurut dokter ini adalah tanda kankernya sudah mulai hancur. Malam harinya istriku tidur sangat nyenyak dan tidak banyak batuk berdahak seperti hari-hari sebelumnya.

Alhamdulillah kemo tahap pertama selesai. Dokter bilang jika kondisi istriku membaik maka tiga hari lagi boleh pulang. Terlihat wajah cerah istriku ketika mendengar kabar ini. “nanti kalo pulang mau kemana bun.. ke Sawangan apa ke Kebayoran (rumah ibunya)?”

“ke Sawangan aja rumah kita sendiri,” jawabnya melalui secarik kertas. Namun ternyata dua hari kemudian ia mengalami diare yang hebat ini adalah efek samping dari obat kemo, sehingga kondisinya kembali lemas. Rencana pulangpun harus ditunda menunggu kondisinya membaik. Tetapi makin hari kondisi istriku makin drop. Hingga menjelang kemo tahap kedua malah albumin dalam darahnya menurun.

Selama dirawat istriku meminta agar saya sendiri yang memandikannya, bahkan aku juga yang membersihkan kotorannya. Semuanya saya kerjakan dengan telaten karena aku merasa sekarang saatnya untuk membalas semua kebaikan yang telah dilakukannya kepadaku selama ini. Ketika istriku sehat dialah yang selalu merawatku, menemaniku dan selalu menyiapkan semua kebutuhanku.

Selama hampir satu bulan di Rumah Sakit kami merasa menemukan keluarga baru. Keakraban terjalin antara kami dengan team dokter, dengan para suster bahkan juga dengan cleaning service yang tiap hari membersihkan kamar istriku. Saya merasa senang ketika suatu hari istriku dapat tertawa riang bercanda dengan para suster meski tawanya tanpa suara.

Minggu, 4 Mei 2008

Kemo tahap ke 2 dilakukan. Sepertinya Allah benar-benar menguji kesabaranku. Ketika hendak dilakukan kemo, tabung infus 1000cc yang digunakan untuk campuran obat kemo ternyata tidak ada. Rumah sakit kehabisan stock, dan ini adalah sebuah kecorobohan yang mestinya tidak terjadi.

Karena tentunya pihak rumah sakit telah mengetahui jadwal pelaksaan kemo ini. Dokterpun marah. Kemudian Dokter menyarankan saya untuk segera membeli sendiri tabung infus di tempat lain. Tujuan saya adalah RSCM sebagai Rumah sakit terdekat, namun jika menuju RSCM menggunakan kendaraan akan memakan waktu lama karena jalannya memutar. Sayapun berlari ditengah terik matahari pukul 12 siang menuju RSCM. Namun disanapun tidak tersedia, kemudian saya berlari lagi menuju RS Sant Carolus, di sinipun nihil.

Begitu juga ketika saya ke Apotik melawai tak bisa mendapatkannya. Akhirnya saya mendapatkan tabung infus tersebut di Apotik Titimurni RS. Kramat. Akhirnya kemo tahap ke 2 pun dapat dilakukan.

Senin, 5 Mei 2008

Hari ini Dinda anak kami yang kecil ulang tahun ke 4. Perhatian dan kecintaan istriku pada anaknya tak pernah berkurang. Dibatas ketidak berdayaannya dia menuliskan sesuatu, “Ayah jangan lupa beliin hadiah buat Dinda, ayah beliin jaket nanti bunda titip mukena, kasihan mukena dede sudah jelek. Bilang ke dede ini mukena dari bunda.”

Atas permintaan istriku siang itu sebagai tanda syukur kami memotong 2 buah kue ulang tahun yang salah satunya untuk dibagikan ke suster-suster yang jaga. Kemudian istriku minta dibantu turun dari tempat tidur, katanya ingin duduk bareng deket Dinda. Ia mencoba memberikan senyum bahagia pada Dinda dan menyembunyikan rasa sakitnya. Sementara Dinda nampak bahagia dipangku bundanya, mungkin ia mengira bundanya hanya sakit biasa saja. Lagu “selamat ulang tahun” yang kami nyanyikan terdengar getir di telingaku. Terasa pilu aku menatap mereka.

Selasa, 13 Mei 2008

Biasanya jika istriku menginginkan sesuatu ia akan membangunkan saya dengan mengetuk besi tempat tidurnya. Namun malam itu saya merasa sangat ngantuk dan lelah, saya menulis pesan pada istriku, “bun..nanti kalo perlu apa-apa panggil suster aja ya! Ayah ngatuk dan cape, jangan bangunin ayah ya!” Dengan isyarat lemah ia mengiyakan permintaanku, ia mengusap tanganku kemudian menuliskan sesuatu “ayah tidur aja gapapa kok, bunda juga mau istirahat.”

Rabu, 14 Mei 2008

Entah mengapa pagi ini aku sangat ingin merawatnya. Ketika ia kembali diserang diare berkali-kali yang sangat hebat aku sendiri yang membersihkan semuanya. Kemudian memandikannya dan mengganti pakaiannya. Pagi itu aku minta Lia anak sulung kami yang masih duduk di kelas 5 SD untuk menjaga bundanya, sebelum kemudian aku tinggal berangkat kerja.

Siang pukul 11 Lia menelpon “Ayah, bunda pingsan nafasnya cepet banget.” Aku kaget dan sangat khawatir. Selang 15 menit Lia sms “bunda sekarang ada di ruang ICU”. Astaghfirullah haladziim… apa yang terjadi pada istriku. Segera aku minta izin meninggalkan kantor. Di Rumah Sakit aku dapati Lia menangis sesegukan tak berhenti. “bunda yah… tolongin bunda yahh….!”

Kuhampiri istriku yang tergolek taksadarkan diri. Perawat memasang semua peralatan pada tubuh istriku, entah alat apa saja ini. Kuusap perlahan keningnya, dingin sekali. Tangan dan kakinyapun sangat dingin. Hingga menjelang maghrib aku tak beranjak dari sampingnya. Tak hentinya mulut ini memanjatkan doa. Sementara di luar ruang ICU sudah banyak kerabat berdatangan.

Tekanan darahnya sangat rendah dibawah 70. Dokter memberikan obat penguat tekanan darah dengan dosis tinggi. Tekanan darahnya sempat naik namun masih dikisaran 75-80, sangat rendah. Berkali-kali dokter menyuntikkan obat perangsang namun hasilnya tetap sama tak berubah. Dokter memanggilku, perasaanku gelisah tak menentu, campur aduk antara cemas, bimbang dan ketakutan yang amat sangat. Dugaanku benar Dokterpun menyerah.

Melihat kondisinya yang terus menurun ia menyarankan agar semua alat bantu dilepas saja. “maksudnya dok..?” aku menodong penjelasan. “secara medis kondisi ibu sudah tidak dapat ditolong lagi, lebih baik kita do’akan saja.” Aku benar-benar lemas mendengarnya seluruh badanku gemetar merinding “benarkah tak ada lagi harapan.” Tiba-tiba aku merasakan ketakutan yang luar biasa. Aku tak mau menyerah, aku meminta agar semua alat bantu itu tetap terpasang pada tubuh istriku, sambil menunggu keputusan team dokter besok pagi.

“Aku tak mau kehilanganmu bunda.” Ku pegang kuat jemarinya, “buka matamu bunda sebentar saja, ayah ingin menatap mata bening bunda untuk terakhir kalinya,” kubisikan lembut ditelinganya.

Pukul 22, aku disodori surat pernyataan, tak sempat aku baca, kata suster ini adalah Surat persetujuan untuk melepas semua alat bantu dari tubuh istriku. “Tak sanggup aku melakukan ini bun, aku ingin tetap menatap wajahmu, aku ingin tetap mendampingimu meski dalam ketidakberdayaanmu.”

Akhirnya adikku yang menandatanganinya. Aku tak ingin selalu dihinggapi rasa bersalah jika menandatangani surat itu. Kemudian semua alat bantu dilepas dari tubuh istriku, tinggal tersisa alat pendeteksi detak jantung.

“Bun…..inilah yang terbaik yang diberikan Allah buat kita, maafkan ayah bun ayah tak bisa menjaga bunda. Ayah ikhlas bunda pergi, ayah terima semua dengan ihklas bun.. Jangan khawatir bun, ayah akan menjaga dan merawat anak-anak kita,” kubisikan lirih ditelinga istriku.

Kutemui Lia yang menunggu diluar ruang ICU, kubelai rambutnya penuh sayang. Ia menangis keras sejadi-jadinya, mungkin ia paham apa yang kumaksudkan. “Bundaa….. Lia ga mau kehilangan bunda, jangan tinggalin lia bundaa..!!” Tangisnya memekik, merebut perhatian semua orang diruang tunggu ICU ini. Semua mata menatap kami tapi mereka diam seolah mahfum dengan keadaan kami.

Dalam setiap rangkaian doaku tak pernah aku mengucapkan kata-kata menyerah “kalo memang hendak Engkau ambil maka mudahkan,” tak pernah aku menyebut kata-kata itu. Aku selalu minta kesembuhan, kesembuhan karena aku memang menginginkan istriku benar-benar sembuh.

Sepertinya kini aku harus menyerah dan pasrah “Ya.. Robb jika memang Engkau menentukan jalan lain aku ikhlas ya Allah…., mudahkan jalan istriku untuk menghadapmu dengan khusnul khootimah.”

Menurut suster dalam kondisi seperti ini pasien masih bisa mendengar. Kubimbing istriku menyebut kalimat “LAAILAHA ILLALLAH MUHAMMADUR ROSULULLAH..” perlahan aku membimbingnya. Rasanya aku mengerti betul setiap helaan nafasnya, raga kami bagai menyatu. Kuulang hingga berkali-kali dengan helaan nafas yang terirama pelan. Dua bulir bening tersembul dari sudut matanya. Aku merasakan ia sanggup mengikuti kalimat ini, terimakasih ya Allah..!

Kamis, 15 Mei 2008

Aku terbangun ketika tiba-tiba seorang suster memanggil “Keluarga ibu Siti Nurhayati..!” Aku bergegas masuk ke ruang ICU, jam menunjuk Pukul 05.05, masih pagi dengan hawa dingin yang menyusup tulang. “Ma’af pak, ibu sudah tidak ada.” ujar suster tadi singkat. Meski aku tau maksudnya tapi aku masih tak percaya. Kutengok layar monitor yang terhubung ketubuh istriku. Tak ada lagi yang bergerak disana.

Bagai tersambar petir, kudekap tubuh lemas istriku. Bibirnya menoreh segaris senyum. “INNA LILLAAHI WAINNA ILAIHI ROOJIUUN.” Aku lunglai terduduk disampingnya tapi tak ada lagi air mata yang keluar. “Bun, Ayah ikhlas melepas bunda, Allah telah memilihkan jalan terbaik buat kita.”

Selamat Jalan Istriku…… jemput aku dan anak-anak nanti di pintu SurgaNya.

Inilah 5 Hal Penghalang Amal Shalih Seseorang.Apa yang bisa kita banggakan kelak di akhirat saat kita berhadapan dengan ...
04/08/2015

Inilah 5 Hal Penghalang Amal Shalih Seseorang.

Apa yang bisa kita banggakan kelak di akhirat saat kita berhadapan dengan Pengadilan Allah selain amal-amal shalih kita selama di dunia? Amal-amal shalih tersebutlah yang akan menjadi penolong kita, yang akan memperberat timbangan kebaikan kita, dan membuat kita mampu mendapatkan kenikmatan hidup abadi di syurga Allah kelak.

Namun apa jadinya jika ternyata apa yang kita lakukan di dunia justru menghalangi gerak kita untuk melakukan amalan-amalan shalih tersebut? Jangankan mengumpulkannya sebagai bekal kelak di akhirat, melakukannya saja kita enggan. Na’udzubillaah, sesungguhnya kehidupan di dunia hanyalah sementara sedangkan kita semua akan kembali ke akhirat kelak, entah dimanakah tempat kita akan kembali, ke syurga atau neraka, pilihannya ada pada amalan apa yang akan kita lakukan sebagai bekal di Pengadilan Allah kelak.

Yuk, sebelum terlambat saat maut menjemput, mari kita waspadai beberapa hal yang mampu menghalangi kita melakukan amalan-amalan shalih, sehingga tak mampu kita kumpulkan sebagai bekal kelak di akhirat. Dan berikut ini adalah lima hal yang perlu kita waspadai tersebut:

1. Puas dengan Kebodohan
Ngeri sekali ya sepertinya? Siapa sih yang ingin menjadi seorang yang bodoh? Tentunya pasti tak ada seorangpun yang mau. Namun, kadang banyak orang tak menyadarinya dan justru senang dengan kondisi kebodohannya tersebut lho. Nah, kalau sudah begini bagaimana?

Puas dengan kebodohan

Ternyata ini adalah kondisi dimana seseorang tersebut malas menuntut ilmu, terutama ilmu Agama secara dalam dan malas memahaminya. Dan juga beberapa orang yang berilmu tinggi namun membiarkan saja ilmunya tanpa dia bagikan kepada orang lain agar ilmu tersebut bisa bermanfaat untuk umat.

Dalam sebuah hadits disebutkan, “Rasulullaah SAW bersabda, Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap Muslim.” (HR. Muslim). Dari hadits tersebut kita bisa memetik pelajaran, bahwa ternyata sudah menjadi sebuah kewajiban bahwa setiap muslim haruslah mau menuntut ilmu, terutama ilmu Agama, dan tentu mengamalkan serta membaginya hingga bermanfaat bagi umat.

Hal tersebut juga ditegaskan dalam sebuah hadits, “Rasulullaah SAW bersabda, Allah SWT sangat murka terhadap orang yang memiliki ilmu dunia namun tidak memiliki ilmu tentang akhirat (agama).” (HR. Al-Hakim). Nah, jelas sekali dari sabda Rasulullaah, bahwa ilmu agama itu sangatlah penting sebagai bekal kita di dunia dan akhirat kelak. Maka jika kita ingin bisa lancar melakukan dan mengumpulkan bekal amalan shalih untuk di akhirat kelak, kita harus membebaskan diri dari kebodohan dengan terus belajar.

2. Terlalu Fokus pada Dunia.
Ini adalah contoh orang-orang yang haus akan kepuasan duniawi, sehingga lupa pada apa yang harus dia persiapkan untuk Pengadilan di Akhirat kelak. Hidupnya di dunia disibukkan oleh ambisi dan melenakannya pada kesenangan duniawi, sehingga tak pernah sadar bahwa maut bisa menjemput kapan saja Allah berkehendak. Padahal sudah jelas Allah SWT memperingatkan dalam firmanNya, “Carilah pada apa yang telah Allah anugerahkan kepada kalian (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kalian melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (QS. Al-Qhashas: 77).

Terlalu Fokus pada Dunia

Ayat tersebut jelas menyuruh kita agar jangan sampai kita terlena akan kenikmatan dunia sedang kita lupa mencari bekal untuk kenikmatan di akhirat kelak. Dan terlalu fokus pada duniawi ternyata menjadi penghalang kita untuk bisa mengumpulkan dan melakukan amalan-amalan shalih yang sejatinya adalah bekal kita di akhirat kelak.

3. Gila Harta.
Wah ini juga cukup mengerikan sepertinya. Karena ketika seseorang sudah dikategorikan gila maka artinya kewarasannya sudah terenggut alias tak lagi memakai akal sehat dalam melakukan sesuatu. Apalagi gila harta, maka berarti dia bisa saja melakukan apapun termasuk dengan jalan terharam sekalipun demi mendapatkan harta yang diinginkannya. Na’udzubillaah.

Gila harta

Seperti apa yang pernah dikatakan oleh Ja’far Ash-Shadiq, “Seorang hamba mesti menyadari bahwa apa yang ada padanya bukanlah miliknya, tetapi milik tuannya, yaitu Allah SWT. Segala hal yang ada padanya adalah titipan dari Allah. Jadi tak selayaknya dia bakhil (merasa memiliki) terhadap harta, yang juga sesungguhnya merupakan titipan Allah SWT yang kebetulan dia titipkan padanya.” Dari apa yang dikatakan Imam Ja’far tersebut, kita bisa mengambil pelajaran bahwa sesungguhnya rasa memiliki yang terlalu berlebihan pada harta itu hanyalah sia-sia belaka. Karena akan mematikan hati dan pikiran kita pada orientasi akhirat, padahal maut begitu dekat dan yang bisa menyelamatkan kita kelak hanyalah amalan-amalan shalih kita.

4. Menyombongkan Amalan.
Nah, ini juga patut kita waspadai. Karena walaupun telah melakukan amalan kebaikan, kita masih perlu menjaga niat kita, apakah kita benar meniatkannya murni untuk mencari ridha Allah ataukah demi mendapatkan pengakuan dari masyarakat demi naiknya kedudukan kita di mata mereka. Hmm, agaknya kita perlu evaluasi diri, apakah selama ini kita benar telah melakukan amalan-amalan kebaikan yang murni kita niatkan untuk Allah, atau jangan-jangan kita malah menyombongkannya demi kehormatan duniawi yang justru bisa menghalangi kita dari kebaikan akhirat kelak.

Menyombongkan Amalan

Dalam sebuah hadits disebutkan, “Rasulullaah SAW bersabda, Orang yang paling keras azabnya pada hari kiamat kelak adalah orang yang berlaku riya’ (sombong) di hadapan manusia bahwa dia telah berbuat baik, padahal tak ada kebaikan sedikitpun di dalamnya.” (HR. ad-Dailami).

5. Membanggakan Diri Sendiri.
Manusia, apa sih yang mereka punya? Membanggakan kecantikan atau ketampanan diri, saat tua juga akan mengeriput dan saat mati juga akan menjadi tulang belulang. Membanggakan harta yang dimiliki, saat mati juga tak akan bawa satu harta pun. Bahkan membanggakan jabatan sekalipun, saat tua juga tak akan ada yang menggubrisnya, atau bahkan saat mati juga tak dibawa ke liang kubur.

Membanggakan Diri Sendiri

Manusia tak memiliki apapun, maka apa yang perlu dibanggakan? Karena semua yang ada di alam semesta adalah milik Allah semata. Justru rasa bangga berlebihan kepada diri sendiri akan mematikan hati dan pikiran kita sehingga membuat kita enggan berbuat kebaikan sebagai bekal di akhirat kelak.

Hal ini didukung oleh hadits berikut, “Rasulullaah SAW bersabda, Sesungguhnya Allah SWT mengharamkan syurga atas orang-orang yang berbuat riya’ (sombong).” (HR. Abu Nu’aim). Ngeri sekali bukan?

Nah, itulah kelima hal yang perlu kita waspadai dalam hidup ini. Jangan sampai kita terjangkit salah satu atau bahkan semua hal di atas, karena maut tak kenal ampun, dan bisa mendekat kapanpun Allah mau.

Wallahu a'lam.

Address

Jakarta
12270

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Mutiara Cahaya Muslimah posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share