12/02/2015
MAKROEKONOMI
Konsumsi masyarakat baru normal April
Oleh Margareta Engge Kharismawati - Senin, 09 Februari 2015 | 20:34 WIB
JAKARTA. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi pada bulan November 2014 masih akan memberkan dampak pada tahun ini. Kepala Ekonom BII Juniman berpendapat, dampak kenaikan harga BBM yang terjadi pada bulan November terhadap penjualan ritel akan terjadi selama tiga bulan hingga bulan Januari.
Daya beli masyarakat akan menurun selama kurun waktu tiga bulan tersebut. Nanti, pada bulan Februari dan Maret sudah mengalami kenaikan sendikit namun belum normal. "Setelah Maret yaitu April konsumsi masyarakat baru kembali normal," terang Juniman ketika dihubungi KONTAN, Senin (9/2).
Maka dari itu, ia melihat pertumbuhan ekonomi triwulan I 2015 masih belum akan mengalami peningkatan yang signifikan. Dirinya memperkirakan ekonomi triwulan I hanya tumbuh 5,18%, sedikit lebih baik dari triwulan IV 2014 yang tumbuh 5,01%.
Dalam hal ini yang bisa diharapkan adalah serapan belanja pemerintah. Pemerintah harus bisa merealisasikan proyek-proyek infrastrukturnya sehingga setidaknya pada triwulan II 2015 ekonomi Indonesia bisa tumbuh lebih baik dan daya beli konsumsi masyarakat melonjak.
Di sisi lain Ekonom Samuel Asset Manajemen Lana Soelistianingsih menilai, peluang penjualan eceran dengan konsumsi masyarakat yang lebih baik berpeluang besar tahun ini. Deflasi sebesar 0,24% yang terjadi pada bulan Januari dan penurunan harga BBM sebanyak dua kali pada bulan Januari menjadi pemicu konsumsi masyarakat bisa lebih baik.
Apalagi ada periode hari raya Idul Fitri yang jatuh pada bulan Juli akan menyebabkan konsumsi masyarakat melonjak. Maka dari itu, ia melihat ada peluang pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai dari triwulan II bisa menanjak. Selanjutnya pada triwulan III dan IV ekonomi Indonesia ditopang dari pengeluaran konsumsi pemerintah.
Lana melihat ekonomi Indonesia pada tahun ini bisa tumbuh paling optimis 5,6%. "Untuk triwulan I sendiri bisa naik ke 5,2%," papar Lana.
Sebagai informasi, Hasil Survei Penjualan Eceran terbaru yang dirilis Bank Indonesia (BI) pada bulan Desember 2014 mencatat penjualan eceran tumbuh melambat secara tahunan. Indeks Penjualan Riil (IPR) pada bulan Desember sebesar 178,0 atau tumbuh 4,3% bila dibanding Desember tahun lalu. Nilai ini lebih rendah dibanding pertumbuhan pada bulan November 2014 yang berhasil tumbuh 11,4%.
Perlambatan pertumbuhan penjualan terjadi pada mayoritas kelompok barang dengan perlambatan tertinggi terjadi pada kelompok suku cadang dan aksesori yang turun sebesar 2,7%. Secara tahunan, penjualan eceran diperkirakan akan kembali turun pada bulan Januari 2015. BI melihat, nilai indeks penjualan riil pada bulan Januari 2015 diperkirakan sebesar 175,1 atau turun 1,6% dibanding bulan Desember 2014.
Responden memperkirakan tekanan harga barang dan jasa baru mulai menurun pada Maret kelak. Indeks Ekspektasi Harga (IEH) tiga bulan mendatang tercatat sebesar 141,7 atau menurun 22,1 poin dari bulan sebelumnya yang sebesar 163,8. Menurunnya ekspektasi tekanan harga ini didorong oleh meredanya kekhawatiran responden terhadap dampak kenaikan harga BBM.
Editor: Sanny Cicilia
Sumber: Kontak.Co.Id
http://nasional.kontan.co.id/…/konsumsi-masyarakat-baru-nor…