30/10/2018
[10/30, 10:03 AM] Hesther Hutomo XL:
*Septi Peni Wulandani
Menulis di facebook 17 oktober 2018*
KEJUTAN
Ketika persiapan hari pertama kegiatan di Facebook Community Leadership Program, kami para peserta diberi kejutan. Tim panitia mengetuk kamar kami satu persatu dan "surprised!" kami dapat hadiah box Facebook yang berisi tote bag, notes, pen, plug adaptor versi US ( ini ternyata jadi kebutuhan utama) , kaos kaki dan welcome note plus ucapan selamat dari facebook.
Selayaknya event-event workshop yang pernah kita ikuti, isi hadiah ini sebenarnya biasa, tools peserta yang biasa diberikan saat menjelang acara workshop/konferensi/seminar, Tapi barang yang sama diberikan dengan cara yang berbeda itu akan memberikan kesan yang sangat berbeda. Kesan pertama memang akan selalu menggoda :)
Urusannya bukan di isi hadiahnya apa, melainkan bagaimana cara kita memberikannya. Itu akan menjadi kejutan bagi yang menerimanya.
Selama ini kita ketahui ada empat hal yang tidak pernah ditolak oleh anak yaitu, dongeng, main, hadiah dan kejutan. Ternyata empat hal tersebut tetap berlaku juga untuk orang dewasa.
Mari kita lihat seberapa sering kita memberikan ke empat hal tersebut ke anak-anak kita dan ke pasangan hidup kita?
Kata ibu saya dulu, kalau dalam mendidik anak dan berumah tangga itu masih gampang tersinggung, tensi tinggi penuh emosi, gampang marah dan hampir menyerah, kata beliau begini,
"Dolanmu kurang adoh " (main barengmu dengan anak dan suami kurang jauh) dan
"Ngobrolmu kurang suwe" (ngobrol bareng anak/suami kurang banyak)
Kalau sekarang saya tambahi dua hal lagi
"Uripmu kurang seru" ( hidupmu kurang seru, karena tidak pernah mengalami kejutan) dan "Kadomu kurang akeh" ( kita jarang saling memberi hadiah antar anggota keluarga).
beliau juga berpesan,
Urip iku ora gampang, tapi yen iso sawang sinawang, saben laku urip iku dadi padhang njingglang.
( *hidup itu tidak mudah, tapi kl kita bisa saling melihat kekuatan masing-masing, tanpa saling membandingkan dg yg lain, setiap langkah hidup itu akan selalu terang benderang*)
*Komentar Abah Rama*
Ibunya bu Septi kayaknya sudah menguasai Talents Mapping sebelum saya temukan ya.... Bahkan mungkin sebelum Gallup yang baru ada bukunya tahun 2001...keren tuh saya jadi ingat satu perusahaan di jakarta yg sudah menerapkan konsep Strength Based sejak tahun 90 an padahal bukunya baru ada tahun 2000 an *jangan jangan konsep ini merupakan kearifan lokal*
*Balasan Septi Peni Wulandani*
... waaa bisa jadi Abah, bahwa strength Based itu sejatinya adalah kearifan lokal.
Kalau membaca model pendidikannya Ki Hajar Dewantara kan juga seperti itu,
*Taman Siswa, adalah sebuah arena yang mengijinkan semua bunga, semua tanaman tumbuh dg indah sesuai "bibit" yang di bawa sejak lahir*
Tugas guru hanya merawatnya sehingga tumbuh dengan sehat sesuai kehendakNya.
[10/30, 10:20 AM] Hermanto Kosasih:
Ide Taman Siswa itu bagus sekali. Di taman dan ada berbagai bunga danbtanaman yg punya keindahan masing2 dan perlu perawatn khusua.
Sekarang umumnya sudah jadi Pabrik Siswa. Diberikan hal yg sama dan harus jadi sama. Kalo engga, nilai ga bagus, atau malah ga lulus...
Dan tentunya setiap individu juga punya tanggungjawab utk bertumbuh dan berbuah sesuai kasih karunia Tuhan atas dirinya.