11/08/2016
Konflik antara warga masyarakat dan perusahaan perkebunan, sejauh yg saya ketahui diantaranya disebabkan kurang transparansinya sosialisasi management ke warga (Humas) disaat pembukaan lahan atau bisa juga disebabkan nilai tanah semakin mahal. Terlepas dari nilai tanah, saya akan ulas disini adalah humas.
Humas adalah barisan terdepan dlm sebuah managemet perkebunan sawit disaat pengembangan/pembukaan lahan dalam berhadapan dengan masyarakat. Untuk itu diperlukan sosok humas yg bisa berbaur dan segala ucapannya mudah dimengerti oleh masyarakat setempat. Tidak ada gunanya seorang humas yg bergelar S2 atau berbadan besar atau pandai bicara (istilahnya ngecap/obral janji).., namun ucapannya kurang dipahami oleh masyarakat setempat dan biasanya humas yg lihai dlm ngecap biasanya disenangi warga utk sementara waktu dan bisa menjadi bumerang bagi management di kemudian hari.
Seorang Humas tidak boleh capek dlm menyampaikan ke masyarakat secara berulang-ulang dengan topik yg sama, karena keberagaman tingkat pendidikan masyarakat.
Seorang humas tidak boleh hanya menyampaikan visi dan misi management ke perangkat desa saja tanpa sosialisasi langsung ke semua warga disekitar perusahaan. Tujuan sosialisasi tsb tentunya agar warga mengerti maksud dan tujuan dlm pembukaan perkebunan kelapa sawit.
Ending dengan adanya humas adalah semua masyarakat (mayoritas) bisa memahami maksud dan tujuan perusahaan, tentunya yg win-win solution.
Saya pribadi berharap, semoga konflik antara perusahaan dan warga sekitar yg saat ini mungkin masih terjadi bisa mendapatkan titik temu diantara management dan warga sekitar sehingga tercipta sinergitas.