09/12/2018
Alat Ini Membuat Saya Mencintainya
Hari ini aku ada janji dengan Kei… seorang mahasiswa magister dari Jerman. Aku cuma
tahu namanya Kei. Udah itu aja. Dia datang ke sini karena akan melakukan penelitian
tentang Islam dalam budaya Melayu di pesisir Kapuas. Aku ditugaskan dari kantor untuk
menjadi tour guidenya. Kami belum pernah bertemu sebelumnya.
Aku datang ke Bandara Supadio untuk menjemputnya. Katanya ia akan tiba pukul 7.30. Tapi
ini udah hampir 2 jam dia belum muncul juga. Apa pesawatnya delay ya?. Di telpon juga gak
aktif nomornya. Di WA.. ya elah.. ni bule Jerman gak punya nomor WA… secara udah 2017
no Hp nya gak ada WA humm…
Lagi asik-asik ngerenungi Kei yang gak kunjung tiba, eh aku dipanggil dari belakang
“Latisya…” Panggil sebuah suara cempreng.. Aku menoleh, seorang cewek dengan wajah
oriental dan gak aku kenal memandang wajah ku
“Latisya? right?” Tanyanya ulang, siapa ya… pikir ku
“Yes, I’m…”
“Masyaallah… I’m looking for you… “ Humm.. ni anak wajah oriental tapi ngomongnya sok
Inggris gitu tapi koq aksennya agak aneh gitu ya… dan… eh tadi dia bilang Masyaallah…
“I’m Kei… Keira Hang” Ucapnya.
Oh.. jadi yang namanya Kei itu gak seperti yang aku pikir. Tadinya ku pikir dia berwajah bule
Jerman. Tapi ternyata tidak. Setelah mengobrol beberapa saat aku baru tahu ternyata Kei
bukan orang Jerman, dia orang Malaysia yang pindah dan kuliah di Jerman. Yah… pantes
aja wajahnya gak bule-bule banget. Terus aku tanya..
“Kamu Melayu Malaysia ya? Tapi koq wajah kamu oriental?” Tentunya dalam bahasa Inggris
yang udah diterjemahkan ya hehe…
“Gak, aku sebenarnya Chines. Aku baru belajar Islam setahun belakangan ini. Nama
Islamku Hafidzah, Mungkin ustadz yang memberiku nama berharap aku jadi penghafal
Qur’an”
Oh.. ternyata dia mualaf toh...
“Eh sebentar ya,, aku mau ambil kamera dulu” Dia membuka tas ranselnya, aku mengintip
sedikit ke dalam tas nya. Kepo. Gak sopan sih.. tapi yah,, gak sengaja udah kelihatan isi
tasnya haha…
“Eh.. itu apaan sih?” Tanya ku kepo melihat benda kotak ukuran sedang, warna putih-merah
(mirip warna bendera Indonesia)
“Oh.. ini.. Speaker Murotal Qur’an. Kayak speaker gitu untuk aku dengar Al Qur’an”
Jawabnya lalu menunjukkan speaker itu kepada ku
“Kan bisa dengar di Hp kalau mau dengar murotal Qur’an” Tanya ku penasaran
“Iya sih… tapi kan kalau di Hp itu gak selengkap di speaker ini. Lagian ini praktis koq. Aku
aja belajar ngafal Qur’an lewat sini” Ujarnya. Wow.. pikir ku. Dia aja yang baru setahun jadi
mualaf udah ngafal Qur’an, nah aku?
“Beli dimana? Jerman?” Tanya ku
“Gak.. itu hadiah dari temanku di Malaysia, katanya dia beli dari reseller di Indonesia…”
Hah? Koq aku gak tahu? Aduh.. kudet banget nih…
“Kamu mau?” Tanya nya…
“Hee…” Aku cuma cengengesan… Lagi belum ada keinginan untuk memiliki di hati ini…
memiliki speaker
Kami pun segera melanjutkan perjalanan ke daerah hulu. Sampai di penginapan malam
harinya, dia izin sama aku mau dengar murotal Qur’an. Aku tipe orang yang gak bisa tidur
kalau dengar suara berisik. Tapi karena gak enak hati sama dia yah udah aku izinin. Tapi
koq dengar suara Qur’an itu malah aku ngerasa adem, gak lama kemudian aku udah tidur.
Padahal aku sering banget insomnia.
Keesokannya aku bilang ke Kei..
“Kei… asik juga ya dengar murotal Qur’annya malam-malam. Tidur jadi anteng gitu”
Tentunya aku ngomong pakai bahasa Inggris yah ke dia hehe..
“Makanya aku s**a bawa ini kemana-mana” Ucapnya
Ah ntar kalau udah selesai penelitian aku mau beli pikir ku
Dan seminggu setelah penelitian Kei p**ang ke Jerman,
“Latisya.. ini untuk kamu”
“Apa ini?” Tanyaku penasaran sambil menerima bungkusan yang dia beri. Waah… Speaker
Murotal Qur’an..
“Semoga jadi penghafal Qur’an ya Latisya..” Ucapnya. Dan aku terharu sekali… Aku yang
tinggal di negara yang mayoritas beragama Islam dan merupakan negara Islam terbesar di
dunia justru tidak fasih baca Qur’an. Justru aku dapat “sentilan” dari Kei, seorang mualaf
yang hidup di negara yang mana muslim di sana minoritas.
Ini kisah aku 1 tahun lalu ketika bertemu Kei.. sekarang Kei sudah hafal 30 Juz dan dia juga
menjadi salah satu aktivis muslim yang cukup terkenal di Hamburg. Minggu lalu ia chatting
padaku kalau ia sedang buka sekolah Hafiz Al Qur’an dan salah satu sarana belajarnya yah
melalui speaker murotal Qur’an.