30/05/2016
"My Sister"
Chap 7
Elkafla Eagle's story 2016♪
***
Iqbaal menghela nafasnya kesal, tangannya sudah sangat pegal menenteng berbagai kertas belanja berwarna pelangi milik (Namakamu), ia juga lelah karena seharian ini terus mengikuti kakaknya. Ditambah cuaca panas juga (Namakamu) dan Bastian yang bermesraan tepat didepannya membuat pemuda itu semakin merasa penat.
Eh Bastian? Ya, Iqbaal saat ini sedang menemani kakaknya berkencan —atau lebih tepat jadi pembantu mungkin?— setelah dipaksa selama satu jam penuh oleh (Namakamu).
"Iqbaal? Lo bisa pulang duluan, gue mau makan siang bareng sama Bastian," (Namakamu) berbalik dan mengambil kertas belanja dari tangan adiknya.
Dengan wajah cengo —oke ini hanya kebohongan semata— ekhemm maksudku wajah datar seperti biasanya, Iqbaal segera mengangguk dan melangkah pergi meninggalkan kakaknya dan calon coretkakakiparcoret nya.
"Tau gini tadi gue gak ikut," Iqbaal menggerutu pelan dengan wajah kesal yang membuat semua perhatian gadis-gadis beraksesoris norak yang sedang berbelanja disalah satu departement store itu teralih padanya.
"Yo Iqbaal!"
Suara teriakkan seseorang yang memanggil namanya membuat Iqbaal sontak membalikkan tubuhnya. Kedua mata tajam Iqbaal menatap bosan kearah sosok pemuda berwajah cool yang berjalan menghampirinya dengan tangan yang dimasukkan kedalam saku hoddie-nya, El.
"Akhirnya, gue ketemu lo disini! Handphone lo mati?" El menepuk bahu Iqbaal pelan setelah ia berhenti tepat didepan pemuda itu.
"Yeah, lowbatt," Iqbaal menjawab dengan nada malas yang entah kenapa membuat El terkikik lucu.
"Yaudahlah, come on waktunya pergi baal!" Iqbaal segera menepis tangan El yang menarik tangan kanannya.
Berdecak pelan, Iqbaal sedikit mengerutkan alisnya tak s**a menatap El yang tanpa permisi menarik tangannya, "mau kemana El."
"Aldi, biasa pesta penolakkan!" El tertawa pelan sambil menutupi mulutnya.
Hembusan nafas meluncur dari bibir kissable Iqbaal, pemuda itu mengangguk singkat sebelum melangkah pergi mendahului El.
El mengangkat sebelah alisnya dan memajukan bibirnya mengejek, "lucu, gue yang ngajak gue yang ditinggalin."
Tangan kirinya yang sedari tadi menganggur kini ia masukkan kedalam saku celananya. Setelah membenarkan poninya yang sedikit berantakkan, El melangkahkan kakinya berjalan mengikuti Iqbaal.
"Bocah," El mendengus pelan dan kembali tertawa yang sontak membuat perhatian seluruh gadis kini teralih padanya. Banyak diantara gadis-gadis —yang sialannya— norak itu menatapnya dengan tatapan kagum dan mendambakan.
Drrtt.. Drrtt..
Getaran disakunya yang berasal dari handphone bercasing hitam miliknya segera mendapat respon baik dari El yang langsung mengambil benda itu. Dengan satu sentuhan lembut, El membuka pesan masuk tersebut.
From: Margareth
Subject: Pulang
Isi:
Pulang sayang, ini sudah sore. Kamu tidak mau membuat ibumu ini cemas kan?
6 second ago
Decihan pelan terdengar dari bibir El, ia kemudian memainkan jari-jarinya mengetik pesan balasan untuk ibunya.
To: Margareth
Subject: -
Isi:
Kau tidak perlu mencemaskanku, lagipula ini hidupku. Tidak ada urusannya denganmu, lebih baik kau urus anak sialanmu itu.
Ps. Jangan biarkan anakmu menyentuh pintu kamarku.
3 second ago
Baru saja El akan memasukkan handphone-nya kedalam saku celana, sebuah pesan baru kembali membuat handphone-nya bergetar yang dibalas dengusan kesal El.
From: Margareth
Subject: -
Isi:
Sopanlah! Aku ini ibumu!
3 second ago
El memutar matanya bosan dan memasukkan handphone-nya kedalam saku celana jeansnya. Tak ada niatan sedikitpun untuk membalas pesan dari ibu tirinya itu.
***
"Yo Bang, Di, maaf gue telat."
Iqbaal yang saat itu baru saja datang bersama El mendudukkan dirinya disamping Aldi sedangkan pemuda satunya lagi duduk disamping Kiki.
"Dia baru aja nemenin kakaknya kencan," El terkekeh pelan.
Iqbaal mendelikkan matanya ke arah El, sungguh ia tak s**a pernyataan jujur El.
"Makanya baal, punya pacar. Biar lo gak cuma nemenin kakak lo!" Kiki tertawa kencang yang ditimpali oleh Aldi.
"Iya baal, lo kan udah 17 tahun, masa iya mau jomblo terus?" Aldi menunjuk-nunjuk Iqbaal sambil tak henti tertawa.
Mendengar ejekan teman-temannya, Iqbaal menggerutu tak s**a. Tunggu, 17 tahun? Oh yeah, aku lupa memberitahukannya. Iqbaal kini sudah berusia 17 tahun, secara rinci ini sudah 3 tahun berlalu dari part sebelumnya. Terlalu cepat? Biarlah, aku kehabisan alur.
"Udahlah, party-nya kapan mulai?" Iqbaal menatap tajam Aldi dan Kiki yang membuat kedua pemuda itu menghentikan tawanya seketika. Imintidasi yang bagus.
"Yah, silahkan memesan!" Aldi tersenyum lebar dan melambaikan tangannya memanggil pelayan.
El tersenyum tipis, "eh Al? Ini keberapa kalinya lo ditolak Kak Sals?"
Aldi yang sedang berbicara dengan pelayan mengalihkan perhatiannya kepada El, "48."
Sebelah alis El naik mendengar jawaban Aldi. Begitu setianya kah sahabatnya ini sehingga bertahan untuk yang ke ekhemm, 48 kalinya?
"Al, lo gak ada niatan lagi buat nembak Kak Sals kan?" El kembali bertanya membuat Aldi yang baru saja akan berbicara kepada pelayan tadi mengurungkan niatnya dan memberi isyarat kepada pelayan untuk menunggu sebentar.
Hembusan nafas lelah meluncur dari bibir Aldi, pemuda manis itu tersenyum tipis dan menatap El, "mungkin, gue bakal berhenti kalau hitungannya udah sampai 50. Ingetin gue ya!"
Iqbaal yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan Aldi dan El mendengus mendengar pernyataan sahabat manisnya itu, sedangkan Kiki lebih memilih memakan camilan yang sudah tersaji daripada mendengarkan pembicaraan yang menurutnya tidak penting itu.
"Oke, maaf sedikit ganggu waktu lo," Aldi mulai berbicara kembali pada pelayan tadi, "kita pesen dua coffe late, dua black coffe, chocho and banana crepes, black licorice, wagashi, terakhir-"
Aldi berdehem pelan dan melanjutkan pesanannya, "tiga botol wine."
Iqbaal mengernyitkan alisnya mendengar pesanan Aldi yang sebenarnya tidak pantas untuk diucapkan oleh pemuda yang baru berusia 16 tahun itu.
"Ah, maaf tuan. Bisa kau tunjukkan kartu identitasmu?" pelayan itu menggaruk belakang kepalanya ragu.
Mendengar ucapan pelayan itu, Aldi segera mengeluarkan jurus pamungkasnya. Kedua bola matanya yang tertutup kacamata membulat dan berkaca-kaca, p**inya sedikit ia kembungkan, bibir bawahnya ia majukan, ditambah dengan hidung yang memerah membuat wajah memelas Aldi terlihat sempurna.
"Aku ingin wine," Aldi mengerjapkan matanya imut sambil memiringkan kepalanya.
Dengan semburat merah dikedua p**inya, pelayan itu menganggukkan kepalanya cepat dan beranjak pergi dari meja keempat pemuda itu.
Aldi menolehkan kepalanya dan tersenyum lebar yang dibalas dengan tatapan malas dari Iqbaal, "padahal lo bisa nunjukkin kartu identitas gue, El, atau Bang Kiki."
El menepuk pelan kepala Aldi yang sepertinya masih sulit mencerna ucapan Iqbaal, sedangkan Kiki kini malah sibuk mengarungi alam mimpinya.
Beberapa saat kemudian, barulah Aldi menyadari kebo— kelemotannya. Pemuda manis itu menepuk pelan dahinya dan menampilkan wajah merengek terbaiknya, "gue lupa, kenapa lo gak langsung kasih sih Baal? Ahh sia-sia deh puppy eyes berharga gue!"
El tertawa pelan mendengar gerutuan Aldi, "haha, tapi tadi lo manis banget sumpah!"
"Apa lo bilang?! Jangan-jangan lo gay¹ El?" Aldi menatap horror El yang dibalas tawa kencang pemuda itu.
Iqbaal mendengus melihat kelakuan kedua sahabatnya, "dia jadi gay gara-gara lo Al, dia juga putus sama Mikey karna lo."
Suara tawa El tiba-tiba berhenti, digantikan oleh kesunyian yang membuat udara disekitar keempat pemuda itu seakan membeku.
"Lo kayaknya salah ngomong Baal," Aldi menatap ngeri El yang kini sedang memainkan hoddienya dengan tatapan kosong yang menakutkan.
Iqbaal melirik El dengan ekor matanya dan mengangkat bahunya acuh, tipe orang yang tidak bisa merasa bersalah.
"Ekhemm.. Ahh pesanannya datang, come on boys kita makan!" Aldi tersenyum lebar dan berbicara dengan nada yang sedikit ragu.
Semua makanan kini tersaji diatas meja, Iqbaal langsung menuangkan wine kedalam gelas dan meminumnya, Kiki yang entah sejak kapan terbangun dari tidurnya memilih untuk meminum coffe late-nya terlebih dahulu, sedangkan Aldi dan El hanya terdiam.
"Baal? Gue mau ngomong berdua bisa?" El berkata dengan nada datar.
"Ahhh! Bisa kok El bisa, ayo Bang anter gue beli permen kapas!" Aldi langsung menarik tangan Kiki yang langsung protes karena hal itu.
Suasana hening sesaat setelah kepergian Aldi dan Kiki. Iqbaal masih sibuk dengan wine-nya sedangkan El mulai memakan black licorice sambil menatap Iqbaal dengan tatapan yang tak dapat diartikan.
"Lo tau kan, gue putus sama Mikey bukan karena Aldi, tapi karena lo!" El mendecih pelan.
Iqbaal mengangkat sebelah alisnya, "gue? Kenapa gue?"
El mendengus kesal dan menatap tajam Iqbaal, pemuda cool itu berdiri dan mencod**gkan tubuhnya kearah Iqbaal dan berbisik tepat ditelinga Iqbaal.
"Karena gue s**a lo. Lo gak peka ya baal?" El tersenyum miring dan meniup telinga Iqbaal di akhir kalimatnya membuat sang empu telinga bergidik geli dibuatnya.
Tatapan horror yang sungguh bukan Iqbaalist terlempar kearah El, segelas wine yang sedari tadi ia pegang segera ia minum habis.
"Maksud lo apa El?! Jangan bilang lo ini gay, dan gue calon uke² buat lo," Iqbaal menunjuk El dengan jari telunjuknya, "Oh My God, mimpi apa gue semalam punya seme³ kayak lo!"
Tawa kencang meluncur dari belahan bibir El, jari telunjuk Iqbaal yang terarah kepadanya ia tangkap dan ia masukkan kedalam mulutnya. Setelah itu ia mulai mengemut dengan gerakkan seduktif.
"Shall we dance, master?⁴" El mengedipkan sebelah matanya yang entah kenapa sangat menjijikkan dimata Iqbaal.
Jari telunjuknya yang berada dimulut El segera Iqbaal tarik dan ia lapkan kecelana jeansnya. Melihat perubahan raut wajah Iqbaal membuat El kembali tertawa kencang dan langsung menjadi perhatian semua pengunjung caffe yang menatapnya dengan tatapan 'Pasangan-Gay-yang-bahagia'.
"Hahaha, lo percaya Baal? Gue kan cuma becanda," El berusaha meredakan tawanya, "lagian gue putus sama Mikey itu karena dianya mau dijodohin."
Iqbaal mendelik tak s**a menatap El, ia membuka mulutnya untuk membalas perkataan El, namun suara gebrakkan meja membuat ia mengurungkan niatnya itu.
"Baal, lo harus pulang! Sekarang!"
Kerutan bingung terlihat kentara didahi Iqbaal saat ia melihat Aldi dan Kiki yang kembali dengan ekspresi yang tidak dapat dijelaskan.
*To Be Continued*
¹Gay→ Pasangan sejenis. BoyXBoy.
²Uke→ Posisi bottom, submissive, atau lebih mudahnya posisi seperti perempuan di percintaan sejenis.
³Seme→ Posisi top, dominan, atau lebih mudahnya posisi laki-laki sebenarnya di percintaan sejenis.
⁴Shall we dance, master?→ Biasanya diucapkan seorang massokis sebagai ajakkan untuk melakukan You-know-that.
Yang gak tau makanan apa aja yang dipesen keempat cowok ganteng itu, sini gue jelasin :v
1. Crepes→ Pada udah tau pan inimah?
2. Black Licorice→ Permen yang rasanya pahit dan pedas (ini kes**aan El^^).
3. Wagashi→ Kue beras.