20/04/2013
Raden Adjeng Kartini adalah
pahlawan nasional Indonesia, seorang
pelopor kebangkitan perempuan
pribumi.
Jika saja masih anak-anak ketika
kata-kata "Emansipasi" belum ada
bunyinya, belum berarti lagi bagi
pendengaran saya, karangan dan
kitab-kitab tentang kebangunan
kaum putri masih jauh dari angan-
angan saja, tetapi dikala itu telah
hidup didalam hati sanubarai saya
satu keinginan yang kian lama kian
kuat, ialah keinginan akan bebas,
merdeka, berdiri sendiri. (Suratnya
kepada Nona Zeehandelaar, 25 Mei
1899)
Bagi saja ada dua macam
bangsawan, ialah bangsawan
fikiran dan bangsawan budi.
Tidaklah yang lebih gila dan bodoh
menurut pendapat saya dari pada
melihat orang yang
membanggakan asal
keturunannya. (Suratnya kepada
Nona Zeehander, 18 Agustus 1899)
Kami beriktiar supaya kami teguh
sungguh, sehingga kami sanggup
diri sendiri. Menolong diri sendiri.
Menolong diri sendiri itu kerap kali
lebih s**a dari pada menolong
orang lain. Dan siapa yang dapat
menolong dirinya sendiri, akan
dapat menolong orang lain dengan
lebih sempurna p**a. (Suratnya
kepada Nyonya Abendanon, 12
Desember 1902)
"Vegetarisme itu doa tanpa kata
kepada Yang Maha
Tinggi." (Suratnya kepada Nyonya
Abendanon, 27 Oktober 1902)
Alangkah besar bedanya bagi
masyarakat Indonesia bila kaum
perempuan dididik baik-baik. Dan
untuk keperluan perempuan itu
sendiri, berharaplah kami dengan
harapan yang sangat supaya
disediakan pelajaran dan
pendidikan, karena inilah yang
akan membawa behagia baginya
(Suratnya kepada Nyonya Van Kool,
Agustus 1901)
Sesungguhnya adat sopan-santun
kami orang Jawa amatlah rumit.
Adikku harus merangkak bila
hendak lalu di hadapanku. Kalau
adikku duduk di kursi, saat aku lalu,
haruslah segera ia turun duduk di
tanah, dengan menundukkan
kepala, sampai aku tidak kelihatan
lagi. Adik-adikku tidak boleh
berkamu dan berengkau kepadaku.
Mereka hanya boleh menegur aku
dalam bahasa kromo inggil (bahasa
Jawa tingkat tinggi). Tiap kalimat
yang diucapkan haruslah diakhiri
dengan sembah. Berdiri bulu kuduk
bila kita berada dalam lingkungan
keluarga bumiputera yang ningrat.
Bercakap-cakap dengan orang yang
lebih tinggi derajatnya, harus
perlahan-lahan, sehingga orang
yang di dekatnya sajalah yang
dapat mendengar. Seorang gadis
harus perlahan-lahan jalannya,
langkahnya pendek-pendek,
gerakannya lambat seperti siput,
bila berjalan agak cepat, dicaci
orang, disebut "kuda liar". (Surat
Kartini kepada Stella, 18 Agustus
1899)
Bagi saya hanya ada dua macam
keningratan : keningratan pikiran
dan keningratan budi. Tidak ada
yang lebih gila dan bodoh menurut
persepsi saya daripada melihat
orang, yang membanggakan asal
keturunannya. Apakah berarti
sudah beramal soleh, orang yang
bergelar Graaf atau Baron? Tidak
dapat mengerti oleh pikiranku yang
picik ini. (Surat Kartini kepada
Stella, 18 Agustus 1899)
Peduli apa aku dengan segala tata
cara itu ... Segala peraturan, semua
itu bikinan manusia, dan menyiksa
diriku saja. Kau tidak dapat
membayangkan bagaimana
rumitnya etiket di dunia
keningratan Jawa itu ... Tapi
sekarang mulai dengan aku, antara
kami (Kartini, Roekmini, dan
Kardinah) tidak ada tata cara lagi.
Perasaan kami sendiri yang akan
menentukan sampai batas-batas
mana cara liberal itu boleh
dijalankan. (Surat Kartini kepada
Stella, 18 Agustus 1899)
Orang kebanyakan meniru
kebiasaan orang baik-baik; orang
baik-baik itu meniru perbuatan
orang yang lebih tinggi lagi, dan
mereka itu meniru yang tertinggi
p**a ialah orang Eropa. (Surat
Kartini kepada Stella, 25 Mei 1899)
Bolehlah, negeri Belanda merasa
berbahagia, memiliki tenaga-
tenaga ahli, yang amat bersungguh
mencurahkan seluruh akal dan
pikiran dalam bidang pendidikan
dan pengajaran remaja-remaja
Belanda. Dalam hal ini anak-anak
Belanda lebih beruntung dari pada
anak-anak Jawa, yang telah
memilki buku selain buku pelajaran
sekolah. (Surat Kartini kepada Ny.
Van Kol, 20 Agustus 1902)
Aku mau meneruskan
pendidikanku ke Holland, karena
Holland akan menyiapkan aku lebih
baik untuk tugas besar yang telah
kupilih. (Surat Kartini kepada Ny.
Ovink Soer, 1900)
Sepanjang hemat kami, agama
yang paling indah dan paling suci
ialah Kasih Sayang. Dan untuk
dapat hidup menurut perintah
luhur ini, haruskah seorang mutlak
menjadi Kristen? Orang Buddha,
Brahma, Yahudi, Islam, bahkan
orang kafir pun dapat hidup dengan
kasih sayang yang murni.” (Surat
kepada Ny Abendanon dari Kartini,
14 Desember 1902)
Duh, Tuhan, kadang aku ingin,
hendaknya tiada satu agama di pun
di atas dunia ini. Karena agama-
agama ini, yang justru harus
persatukan semua orang,
sepanjang abad-abad telah lewat
menjadi biang-keladi peparangan
dan perpecahan, dari drama-drama
pembunuhan yang paling kejam.
(Kartini, 6 Nopember 1899