𝐊𝐈𝐦 𝐊𝐫𝐝𝐚𝐬𝐡𝐢𝐚𝐧 𝐋𝐢𝐯𝐞

𝐊𝐈𝐦 𝐊𝐫𝐝𝐚𝐬𝐡𝐢𝐚𝐧 𝐋𝐢𝐯𝐞 Kreator video

03/10/2020

HUKUM MEMINTA TOLONG KEPADA SELAIN ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA
Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ
*_… Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan hanya kepada Allah…. (diringkas) [HR. Tirmidzi, ia telah berkata: Hadits ini hasan, pada lafazh lain hasan shahih]_
Hal ini serupa dengan bacaan dalam al-Fatihah yang selalu diulang oleh setiap orang yang sholat pada setiap rokaatnya:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
*_"Hanya kepadaMu kami menyembah, dan hanya kepadaMu kami meminta pertolongan."(Q.S al-Fatihah:5)_
*Sebagaimana kita menyembah hanya kepada Allah, maka meminta pertolongan juga hanya kepada Allah.
Apakah kita tidak boleh meminta pertolongan kepada selain Allah? Ya, untuk permintaan pertolongan yang hanya Allah saja yang bisa memenuhinya, maka wajib bagi seseorang untuk meminta pertolongan itu hanya kepada Allah, tidak kepada yang lain.
Seperti : permohonan ampunan, meminta dikaruniai anak, panjang umur, kesembuhan dari penyakit, jodoh, ketentraman hati, keselamatan dunia dan akhirat, hidayah (taufiq), dan semisalnya. Hal-hal semacam ini hanya Allah saja yang bisa memenuhi. Meminta hal-hal semacam itu kepada selain Allah adalah kesyirikan, sebagaimana dijelaskan oleh para Ulama’ dalam kitab-kitab tentang aqidah.
Sedangkan meminta pertolongan untuk sesuatu yang bisa dipenuhi oleh makhluk, karena Allah taqdirkan mereka memiliki kemampuan itu, yang demikian adalah diperbolehkan.
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
*_Dan saling tolong menolonglah dalam kebajikan dan taqwa, jangan saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan (Q.S al-Maaidah:2)_
Meski kita meminta pertolongan kepada seseorang yang mampu mengerjakannya, namun kepasrahan dan ketawakkalan hati hanya kepada Allah, karena hanya Dia-lah saja yang Maha Berkuasa di atas segala sesuatu. Jika tidak Allah kehendaki, maka upaya makhluk apapun, sebesar apapun, tak akan bisa membantu kita mendapatkan yang kita harapkan.
Allahumma ajriminanar.....
Barrakallahu fiikum....
Semoga bermanfaat...

27/09/2020

SALAFY TAPI MASIH DOYAN NONTON TV⁉
[ Televisi Merupakan Sarana Yang Membahayakan Salafiyyin dan Ahli Keluarganya Karena Seringnya Ia Disalahgunakan, Apakah Dengan Kemauannya atau Tidak. Fakta Nyatanya, Media Inilah Yang Banyak Menjerumuskan Mayotitas Kaum Muslimin Kepada Berbagai Kerusakan dan Perbuatan Dosa ]
❱ Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah
[ Pertanyaan ]
Syaikh yang mulia yang semoga Allah menjaganya, anda mengetahui bahwasanya telah terjadi fitnah yang besar dalam menyaksikan siaran televisi. Dan sebagian manusia, wal’iyaadzu billah- terkadang memasukkan saluran televisi ke dalam rumahnya diantara anak-anaknya. Maka apa komentar anda semoga Allah menjaga anda.
▪ Jawaban ▪
Mengomentari hal ini, hendaknya seorang itu bertakwa kepada Allah menjaga diri dan keluarganya. Hendaknya jangan memasukkan televisi ini di rumahnya. Karena terkadang pada awalnya seorang itu memasukkan siaran televisi ke dalam rumahnya cuma untuk menyaksikan berita saja, atau yang disiarkan di sana berupa ilmu-ilmu agama. Akan tetapi televisi tersebut terus ada di rumahnya sampai akhirnya ia terjerumus -wal’iyaadzu billah- ke dalam kerusakannya.
Sungguh saya pernah mendengar tentang sebagian orang yang dulunya komitmen (dalam agamanya) dalam tingkatan ilmu yang tinggi. Mulanya mereka memasukkan siaran televisi (ke dalam rumahnya) dengan maksud untuk menyaksikan berita. Lalu muncul beberapa informasi (yang penuh fitnah, -pent), tiba-tiba keadaan mereka sudah terbalik -wal’iyaadzubillah-. Maka bahayanya itu sangat besar.
Adapun orang yang memasukkan siaran ini di rumahnya, dalam keadaan ia menyaksikan istrinya sedang menyaksikan kemungkaran yang besar ini. Maka saya bertanya: “Apakah orang ini tergolong tulus terhadap keluarganya ataukah termasuk menipu keluarganya?”
Dia telah menipu keluarganya tidak ragu lagi. Karena dia mampu untuk mencegah mereka darinya untuk mengeluarkan (siaran televisi) dan menghancurkannya. Kalau dia telah menipu, maka apakah dia termasuk dalam
👉 Sabda Nabi -ﷺ :
“Tidaklah ada seorang hamba yang diamanahi oleh Allah untuk memimpin rakyat, kemudian dia mati, pada hari kematiannya dalam keadaan dia menipu rakyatnya, kecuali Allah akan mengharamkan sorga atasnya?”
Perkaranya sangat berbahaya wahai saudaraku. Oleh karena itu aku berpendapat, haram hukumnya bagi seorang suami untuk memasukkan siaran televisi ini ke dalam ( rumah), kalau sudah makruf keluarganya akan menyaksikan acara-acara yang tidak boleh untuk dilihat.
📚 (Sumber Silsilah al-Liqa Asy-Syahri 72)

*﷽**SIFAT MALU NABI ﷺ BAG 1**( di pelajaran kitab Shohih Muslim )* 🎙️ *Al Ustadz Abu Turob Saif bin hadhor Aljawiy حَفِظ...
25/09/2020

*﷽*

*SIFAT MALU NABI ﷺ BAG 1*

*( di pelajaran kitab Shohih Muslim )*

🎙️ *Al Ustadz Abu Turob Saif bin hadhor Aljawiy حَفِظَهُ اللّٰه*

*Di Markiz Ahlissunnah*
*Arga mulya - Bengkulu Utara*

Sumber Audio dari Al Akh
Abu Qotadah Sahl Bengkulu حَفِظَهُ اللّٰه

Join Channel :
https://t.me/dars_ustadz_abu_turob

Download Audio :
https://t.me/dars_ustadz_abu_turob/1626

دار العلوم السّنّۃ RUMAH/SARANG ILMU AS SUNNAH Markiz Ahlussunnah Bengkulu Utara

25/09/2020

SAFAR TANPA MAHROM (LAKI-LAKI).
Bismillah
Kalau safar bersama wanita apa diperbolehkan
Misal serombongan wanita menghadiri majelis ilmu dengan menggunakan mobil apa boleh yang temani adalah bibinya❓
jazaakumullohu khoiro
➖➖➖➖➖
Jawaban
Ustadz Abu 'Ubaid Fadhli:
أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ تُسَافِرَ مَسِيرَةَ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ لَيْسَ مَعَهَا حُرْمَةٌ
"Tidak halal seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk mengadakan perjalanan selama satu hari satu tanpa didampingi mahramnya". Hadits ini diikuti p**a oleh Yahya bin Abu Katsir, Suhail dan Malik dari Al Maqburiy dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.
وَلَا تُسَافِرَنَّ امْرَأَةٌ إِلَّا وَمَعَهَا مَحْرَمٌ فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ اكْتُتِبْتُ فِي غَزْوَةِ كَذَا وَكَذَا وَخَرَجَتْ امْرَأَتِي حَاجَّةً قَالَ اذْهَبْ فَحُجَّ مَعَ امْرَأَتِكَ
janganlah sekali-kali seorang wanita bepergian kecuali bersama mahramnya". Lalu ada seorang laki-laki yang bangkit seraya berkata: "Wahai Rasulullah, aku telah mendaftarkan diriku untuk mengikuti suatu peperangan sedangkan istriku pergi menunaikan hajji". Maka Beliau bersabda: "Tunaikanlah hajji bersama istrimu".
📝 Faidah Tanya Jawab Oleh Al-Ustadz Abu 'Ubaid Fadhli Hafidzhohullooh

25/09/2020
23/09/2020

"Sesungguhnya mereka menganggap amalan2 mereka amalan kebaikan"

20/09/2020

بسم الله الرحمن الرحيم

MENOLAK PEREMEHAN SEPUTAR KASUS GAMBAR BERNYAWA
BANTAHAN ATAS AHMAD BA NAJAH

الحمد لله والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين، أما بعد:

Telah muncul sebagian orang yang berusaha meremehkan perkara gambar bernyawa, di antara ucapan bathil mereka, yaitu mereka mengklaim bahwa permasalahan ini adalah permasalahan furu’ bukan dari ushulush sunnah, DAN INI TIDAK BENAR; berikut penjelasannya dengan hanya memohon pertolongan, taufiq dan sadad hanya dari sisi Allah semata:

FASAL PERTAMA;
SEBAGIAN ULAMA MENGGANGAP BAHWA MEMBAGI AGAMA MENJADI USHUL DAN FURU’ ADALAH BID’AH TERUTAMA APABILA MENGANTARKAN SESEORANG KEPADA PEREMEHAN TERHADAP SEBAGIAN DARI PERKARA AGAMA YANG MEREKA ANGGAP SEBAGAI PERKARA FURU’

Syaikhul islam ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

فَأَمَّا التَّفْرِيقُ بَيْنَ نَوْعٍ وَتَسْمِيَتِهِ مَسَائِلَ الْأُصُولِ وَبَيْنَ نَوْعٍ آخَرَ وَتَسْمِيَتِهِ مَسَائِلَ الْفُرُوعِ فَهَذَا الْفَرْقُ لَيْسَ لَهُ أَصْلٌ لَا عَنْ الصَّحَابَةِ وَلَا عَنْ التَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانِ وَلَا أَئِمَّةِ الْإِسْلَامِ وَإِنَّمَا هُوَ مَأْخُوذٌ عَنْ الْمُعْتَزِلَةِ وَأَمْثَالِهِمْ مِنْ أَهْلِ الْبِدَعِ

“Adapun membedakan antara suatu macam dan menamakannya sebagai masail Ushul dan antara macam yang lain dan menamainya sebagai masail furu’ maka pembedaan ini tidak ada asalnya tidak dari sahabat tidak p**a dari tabi’in yang mengikuti mereka dengan kebaikan tidak p**a dari para imam islam DIA HANYALAH DI AMBIL DARI MU’TAZILAH DAN SEMISAL MEREKA DARI AHLI BID’AH.” [Majmu’ Fatawa 23/346].

Imam Al Albani rahimahullah berkata:

إن تقسيم [الدين] الإسلامي إلى فروع وأصول؛ هذا تقسيم مبتدع لا يرضاه الإسلام،

“Sesungguhnya pembagian agama islami menjadi Furu’ (cabang) dan ushul (pokok), ini adalah pembagian mubtada’ (bid’ah yang di ada-adakan) yang tidak diridhoi oleh Islam,…” [Mausu’ah Al Albani fi Al ‘Aqidah 1/205].

Imam Muqbil bin Hadi Al Wadi’i rahimahullah ditanya: “Apakah ada disana Ushul dan Furu’ dalam agama?” maka beliau menjawab:

لا ، ديننا كله أصول ، وقد تكلم على هذه المسألة الحافظ ابن القيم كما في < مختصر الصواعق المرسلة > وقال : إن الذي سن هذه السنة السئية هو : الأصم وابن علية ، أي إبراهيم بن علية وليس بالمحدث.
والأمر كما يقول ، وقد نقلنا هذا في < رياض الجنة > الطبعة الرابعة أو الخامسة ، وهكذا أيضاً نقلناه في < المخرج من الفتنة > وفي غيرما كتاب من كتبنا لنفاسة ذلكم البحث .

“Tidak, AGAMA KITA SEMUANYA USHUL, dan telah berbicara tentang permasalahan ini Al Hafidz ibnu Qoyyim sebagaimana pada < Mukhtashor Ash Shawaiq Al Mursalah > dan beliau mengatakan: Sesungguhnya yang pertama kali mendatangkan SUNNAH YANG BURUK ini adalah; Al ‘Ashom dan ibnu ‘Ulayyah, yaitu Ibrahim bin ‘Ulayyah dan bukan ahli hadits.
Dan perkaranya seperti yang beliau katakan, dan kami telah nukilkan pembahasan ini pada < Riyadhul Jannah > cetakan ke empat atau ke lima, demikian juga kami menukilkannya di “ Al Makhraj min AlFitnah > dan pada selainnya dari kitab-kitab kami lantaran bagusnya pembahasan tersebut.” [http://muqbel.net/files/fatwa/muqbel-fatwa2342.mp3].

Beliau juga berkata bahwa pembagian agama kepada ushul dan furu’ mengantarkan kepada peremehan terhadap bagian dari agama;

لأنك تجد كثيرا من الناس، يقولون أصول و فروع ثم بعد ذلك يتهاونون بالفروع، والخلاف في الفروع جهل وهكذا، ورب العزة يقول في كتابه الكريم: {فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ } [النور: 63] ويقول: {يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ } [النساء: 59] فأنت تجد آيتين مطلقتين ويقول: { فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا } [النساء: 65]....-إلى قوله-...: وهذه كما سمعتم أدت إلى ألتهاون في كثير من السنة وبكثير من العبادات والمعاملات، والله المستعان.

https://t.me/MARKIZTORAUT/1660

“Sebab engkau dapati kebanyakan dari kalangan manusia, mengatakan Ushul dan Furu’ KEMUDIAN SETELAH ITU MEREMEHKAN PERKARA FURU’, dan PENYELISIHAN DALAM PERKARA FURU’ ADALAH KEBODOHAN dan demikian, sementara Rabb Al ‘Izzah mengatakan dalam Kitab-Nya yang mulia: “Hendaknya takut orang-orang YANG MENYALAHI PERINTAHNYA kalau mereka akan ditimpa fitnah atau ditimpa dengan siksaan yang pedih” [An Nur: 63]. Dan mengatakan: “Wahai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul dan ulil amri diantara kalian.” [An Nisa’: 59]. Dan engkau dapati dua ayat ini muthlaq (tanpa pembatas yang ushul saja tanpa furu’ bahkan seluruh perkara baik yang mereka anggap ushul dan yang furu’ –pent) dan Allah berkata; “Sekali-kali tidak demi Rabb-mu mereka tidaklah beriman hingga mereka menjadikanmu sebagai hakim pemberi putusan terhadap perkara yang mereka perselisihkan antar mereka, kemudian mereka tidak mendapati pada diri-diri mereka keberatan terhadap putusanmu dan mereka menerimanya dengan sepenuh hati.” [An Nisa: 65].
[hingga ucapan beliau] dan ini sebagaimana kalian dengar, MENGANTARKAN KEPADA SIKAP PEREMEHAN TERHADAP KEBANYAKAN DARI PERKARA SUNNAH DAN KEBANYAKAN DARI IBADAH DAN MUAMALAH, wallahul musta’an.” [http://muqbel.net/files/fatwa/muqbel-fatwa4004.mp3].

Kemudian beliau juga mengatakan:

والمهم، ما تجد في كتاب الله ولا في سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم، تقسيم الدين إلى أصول وفروع ، ولا تجد في أقوال الصحابة رضي الله تعالى عنهم تقسيم الدين إلى أصول وفروع، المسألة يا إخواننا حادثة وبدعة من البدع والله المستعان

“Yang jelas, engkau tidak dapati di Kitabullah dan tidak p**a di Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, pembagian agama menjadi ushul dan furu’, dan tidak p**a engkau dapati pada ucapan-ucapan Sahabat rhadiyallahu ta’ala ‘anhum pembagian agama kepada Ushul dan furu’, permasalahannya wahai ikhwan adalah PERKARA MUHDATS DAN BID’AH DIANTARA KEBID’AHAN-KEBID’AHAN, wallahul musta’an.” [http://muqbel.net/files/fatwa/muqbel-fatwa4004.mp3].
Syaikh kami ‘Abdul Hamid Al Hajury hafidzahullah berkata:

إذا حصل هذا التقسيم ضعف باب تعظيم الدين في نفوس أصحابه على أن هذا قشر وهذا فرع لا تأثير له.
فتترك السنن.
ومن ترك شيئاً من الحق يدخل عليه مثله من الباطل.
وهكــذا.
فيصبح أحدهم يتخبط لعدم انتظام الأصول لديه من الفروع.
بل الواجب على المسلم الإنقياد والعمل بأمر الله ورسوله صلى الله عليه وسلم بحسب دلالة الدليل عليه.
🖊وأما تقسيم الدين إلى هذا التقسيم فهو تقسيم مبتدع.

“Apabila terdapat pembagian ini (pembagian agama kepada ushul dan furu’) akan MELEMAH BAB PENGAGUNGAN TERHADAP AGAMA pada jiwa-jiwa pemiliknya bahwasanya ini hanya kulit dan ini hanya furu’ tidak ada pengaruhnya, hingga Sunnah-sunnah ditinggalkan,
Dan barangsiapa yang meninggalkan sesuatu dari kebenaran akan masuk pada dirinya semisalnya berupa kebathilan, dan demikian,
Sehingga salah seorang dari mereka terus terpuruk disebabkan tidak teraturnya perkara ushul daripada furu’ di sisinya.
Bahkan yang wajib bagi seorang muslim, tunduk dan beramal terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alahi wa sallam sesuai dengan penunjukan dalil atasnya.
Adapun pembagian agama kepada pembagian ini maka dia termasuk dari PEMBAGIAN YANG DI ADA-ADAKAN (BID’AH). [At Tamyi’ fitnatul ‘Ashr 2/263].

Dan demi Allah inilah yang kami dapati dari rekaman suara Ahmad ba Najah hadahullah yang sampai kepada kami terdapat bentuk peremehan terhadap perkara gambar bernyawa wallahul musta’an,
BAHKAN BERDASARKAN DEFINISI SEBAGIAN ULAMA TENTANG USHULUD DIN PERKARA GAMBAR BERNYAWA TERMASUK DARI PERKARA USHUL, yang melanggarnya bisa sampai dihukumi keluar dari lingkup ahlis sunnah,

FASAL KEDUA:
SESEORANG DIHUKUMI SEBAGAI MUBTADI’ DAN KELUAR DARI LINGKUP AHLIS SUNNAH KETIKA MENYELISIHI PERKARA USHUL ATAU BANYAK DARI PERKARA FURU’

Imam Asy Syathibi rahimahyullah berkata:

أنَّ هَذِهِ الْفِرَقَ إنَّما تَصِيرُ فِرَقًا بِخِلَافِهَا لِلْفِرْقَةِ النَّاجِيَةِ فِي مَعْنًى كُلِّي فِي الدِّينِ وَقَاعِدَةٍ مِنْ قَوَاعِدِ الشَّرِيعَةِ، لَا فِي جُزْئِيٍّ مِنَ الجزئيَّات،-إلى قوله- وَيَجْرِي مَجْرَى الْقَاعِدَةِ الْكُلِّيَّةِ كَثْرَةُ الْجُزْئِيَّاتِ، فَإِنَّ الْمُبْتَدِعَ إِذَا أَكْثَرَ مِنْ إِنْشَاءِ الْفُرُوعِ المخترَعة عَادَ ذَلِكَ عَلَى كثيرٍ مِنَ الشَّرِيعَةِ بِالْمُعَارَضَةِ، كَمَا تَصِيرُ الْقَاعِدَةُ الْكُلِّيَّةُ مُعَارَضَةً أَيْضًا،

“Sesungguhnya golongan-golongan ini menjadi golongan (yang tercela dan terancam dengan siksaan di neraka) DISEBABKAN TERHADAP PENYELISIHANNYA FIRQOH AN NAJIYYAH PADA SUATU MAKNA YANG BERSIFAT UMUM DALAM PERKARA AGAMA, DAN KAIDAH DIANTARA KAIDAH-KAIDAH SYARI’AT, bukan pada perkara yang bersifat parsial –hingga ucapan beliau- DAN BERLAKU P**A SEBAGAIMANA KAIDAH UMUM, BANYAKNYA PERKARA-PERKARA PARSIAL , sebab seorang mubtadi’ APABILA BANYAK MENDATANGKAN PERKARA FURU’ YANG DIADA-ADAKAN MAKA HAL TERSEBUT AKAN KEMBALI KEPADA BENTUK PENENTANGAN TERHADAP SYARI’AT, sebagaimana penentangan qoidah umum juga,” [Al ‘Itishom 2/712].

Syaikh kami Yahya Al Hajury hafidzahullah berkata:

من خالف الأصول وعاند الحق يقال عنه مبتدع.

“Siapa yang MENYELISIHI USHUL dan membangkang terhadap kebenaran maka dikatakan tentangnya bahwa dia itu MUBTADI’. [Al Ajwibah ‘Ala Masail Al Fiqhiyyah wa Al ‘Aqadiyyah, tgl Malam rabu 3 Muharram 1423 Hijriyyah.].

FASAL KETIGA:
PATOKAN PERKARA USHUL DI SISI SEBAGIAN ULAMA

Sebelum kita menentukan apakah perkara tersebut itu termasuk dari ushul sunnah atau ushul ahlis sunnah ataukah bukan berdasarkan ucapan-ucapan tadi, maka perlu kita mengetahui patokan dan dhobith perkara tersebut adalah ushul ataukah furu, berikut di antara yang disebutkan oleh ulama tentang patokan perkara tersebut:
Imam Asy Syathibiy rahimahullah telah menyebutkan definisi dan patokan perkara tersebut dengan perkataan beliau:

وَبِهَذِهِ الطَّرِيقَةِ يَتَمَيَّزُ مَا هُوَ مِنْ أَرْكَانِ الدِّينِ وَأُصُولِهِ، وَمَا هُوَ مِنْ فُرُوعِهِ وَفُصُولِهِ وَيُعْرَفُ مَا هُوَ مِنَ الذُّنُوبِ كَبَائِرُ، وَمَا هُوَ مِنْهَا صَغَائِرُ، فَمَا عَظَّمَهُ الشَّرْعُ فِي الْمَأْمُورَاتِ؛ فَهُوَ مِنْ أُصُولِ الدِّينِ، وَمَا جَعَلَهُ دُونَ ذَلِكَ؛ فَمِنْ فُرُوعِهِ وَتَكْمِيلَاتِهِ، وَمَا عَظُمَ أَمْرُهُ فِي الْمَنْهِيَّاتِ؛ فَهُوَ مِنَ الْكَبَائِرِ, وَمَا كَانَ دُونَ ذَلِكَ؛ فَهُوَ مِنَ الصَّغَائِرِ، وَذَلِكَ على مقدار المصلحة أو المفسدة.

“Dengan metode ini bisalah dibedakan mana yang merupakan rukun-rukun agama dan ushul-ushulnya, dan mana yang merupakan furu’ dan cabang-cabangnya, dan diketahui mana yang merupakan dosa besar dari dosa-dosa dan mana yang kecil,
MAKA APA-APA YANG DIANGGAP SEBAGAI PERKARA BESAR OLEH SYARIAT dalam perkara-perkara yang diperintahkan, maka dia termasuk dari USHUL-USHUL AGAMA, dan apa-apa yang syari’at jadikan selain itu maka termasuk dari cabang-cabang dan pelengkapnya, DAN APA-APA YANG DIANGGAP SEBAGAI PERKARA BESAR OLEH SYARI’AT DALAM PERKARA-PERKARA YANG DILARANG, MAKA DIA ITU TERMASUK DARI DOSA-DOSA BESAR, dan apa-apa yang selain itu maka dia itu termasuk dari dosa-dosa kecil, dan yang demikian itu berdasarkan kadar mashlahat atau mafsadath. [Al Muwafaqot 1/338].

Imam As Sam’ani rahimahullah berkata menyifati perkara ushul agama:

كل ما كان من أصول الدين فالأدلة عليها ظاهرة باهرة والمخالف فيه معاند مكابر والقول بتضليله واجب والبراءة منه شرع.

“Setiap perkara yang termasuk dari ushul-ushul agama MAKA DALIL-DALILNYA ITU JELAS DAN TERANG, dan yang menyelisihi dalam perkara tadi adalah pembangkang yang menentang, dan WAJIB MENGHUKUMINYA DENGAN KESESATAN DAN DISYARIATKAN BERLEPAS DIRI DARINYA. [Qowathi’ Al Adillah 2/308].

https://t.me/MARKIZTORAUT/1663

FASAL KEEMPAT;
PENJELASAN BAHWA PERKARA GAMBAR BERNYAWA TERMASUK DALAM PATOKAN PERKARA USHUL AGAMA YANG DISEBUTKAN SEBELUMNYA

Setelah penjabaran yang telah lalu, jelaslah patokan dan dhobith ushul yang mereka sebutkan, yaitu perkara yang di agungkan dalam syari’at dan di anggap besar pada perkara yang diperintahkan, demikian perkara yang dianggap besar atau dosa besar dari perkara-perkara yang dilarang, demikian yang dalil-dalilnya jelas dan terang!

Maka ketahuilah wahai saudaraku perkara gambar bernyawa termasuk dari perkara ushul yang perkaranya dianggap besar oleh syari’at dan termasuk dari dosa-dosa besar serta dalil-dalilnya amatlah jelas dan terang, silakan merujuk pada risalah-risalah yang ditulis oleh ahlis sunnah pada perkara ini yang dilengkapi dengan penyebutan dalil-dalilnya, dan Alhamdulillah kami juga punya tulisan sederhana seputar hukum gambar bernyawa yang dilengkapi dengan penyebutan dalil-dalilnya, pada link berikut:

https://t.me/MARKIZTORAUT/1531

Di mana gambar bernyawa adalah:
• Wasilah yang mengantarkan KEPADA KESYIRIKAN DAN BERTENTANGAN DENGAN TAUHID.
- Asy Syaikh Sholeh Al Fauzan hafidzahullah berkata ketika menjelaskan Bab: seputar perkara para pelaku gambar bernyawa di kitab At Tauhid;

مناسبة هذا الباب لكتاب التوحيد: لما كان التصوير وسيلة الشرك المضاد للتوحيد، ناسب أن يعقد المؤلف هذا الباب؛ لبيان تحريمه وما ورد فيه من الوعيد الشديد.

“Kesesuaian Bab ini dengan Kitab At Tauhid: Manakala gambar bernyawa merupakan WASILAH KEPADA KESYIRIKAN DAN BERTENTANGAN DENGAN TAUHID, maka sangat pantas penulis mendatangkan Bab ini, dalam rangka menjelaskan KEHARAMANNYA dan apa yang datang pada perkara ini berupa ANCAMAN KERAS.” [Al Mulakhkhosh fii syarh Al Kitab At Tauhid hal. 397]
- Syaikh Kami Yahya Al HAjuri hafidzahullah berkata dalam mabadi’ al mufidah:

- ١٢ ــــــ فإذا قيل لك :
- فما تعلُّق تصوير ذوات الأرواح بالشرك ؟
-
- فقل : إن التصوير خلق يكون به المصور مضاهيا ومشاركا لله عز وجل في ذلك .
-
- والدليل حديث عائشة - رضي الله عنها - أن النبي - صلى الله عليه وعلى آله وسلم- قال:
- " أشد الناس عذابا يوم القيامة الذين يضاهون بخلق الله ".
- متفق عليه.
-
- وحديث أبي هريرة - رضي الله عنه - أن النبي - صلى الله عليه وعلى آله وسلم – قال :
- قال الله تعالى ((ومن أظلم ممن ذهب يخلق كخلقي...)).
- متفق عليه .

12 - Jika dikatakan kepadamu: APA KETERKAITAN ANTARA GAMBAR MAKHLUK BERNYAWA DENGAN KESYIRIKAN?
Maka jAWABLAH : Sesungguhnya menggambar makhluk bernyawa menjadikan orang yang menggambar MENYERUPAI/MENYAINGI DAN BERSEKUTU DENGAN ALLAH AZZA WA JALLA PADA PERBUATAN TERSEBUT.
Dan dalilnya adalah hadits Aisyah rhadiyallahu ‘anha, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : "Orang yang paling berat azabnya pada hari kiamat adalah orang-orang yang menyaingi ciptaan Alloh." [Muttafaqun Alaih]
Dan juga hadits Abu Hurairah rhadhiyallahu anhu, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berkata: Alloh berkata: "Siapakah yang lebih zholim dari pada orang yang mencoba-coba membuat ciptaan seperti ciptaan-Ku..?." [Muttafaqun Alaih]

• Upaya menyerupai ciptaan Allah.
• Termasuk dosa dari DOSA-DOSA BESAR, dimana pelakunya di ancam dengan siksaan yang amat berat, LAKNAT, dan NERAKA SERTA DISIKSA DALAM WAKTU YANG SANGAT LAMA.
Syaikh kami Yahya Al hajury hafidzahullah berkata dalam Al MAbadi’ Al Mufidah no 11:
فإذا قيل لك:
فما حكم تصوير ذوات الأرواح ؟

فقل : تصوير ذوات الأرواح من كبائر الذنوب
والدليل حديث ابن مسعود - رضي الله عنه - أن النبي - صلى الله عليه وعلى آله وسلم - قال:
" إن أشد الناس عذابا يوم القيامة المصورون ". متفق عليه.
وفي حديث أبي جحيفة - رضي الله عنه – قال : نهى رسول الله
-صلى الله عليه وعلى آله وسلم- عن ثمن الكلب ، وثمن الدم... ولعن المصور ". أخرجه البخاري.

Apabila dikatakan kepadamu: “Apa hukum menggambar makhluk bernyawa?
Maka jawablah: Menggambar Makhlul bernyawa TERMASUK DARI DOSA-DOSA BESAR.
Dan dalilnya adalah hadits ibnu Mas’ud Rhadiyallahu ‘anhu, bahwasnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “sesungguhnya manusia yang paling berat siksaannya adalah para penggambar.” [Muttafaqun ‘alaih].
Dan di Hadits Abu Juhaifah Radhiyallahu

‘anhu beliau berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi sallam me;arang dari harga anjing, harga darah…dan MELAKNAT PELAKU GAMBAR.” [riwayat Al Bukhari].
• Hukumnya haram.
• Malaikat tidak mau masuk kedalam rumah atau ruangan yang ada padanya gambar bernyawa.
• Diperintahkan untuk menghapusnya bukan malah membuat atau membiarkan ataupun ridho pembuatannya!
• Pelakunya adalah orang yang PALING ZALIM
• Gambar bernyawa mendatangkan kemurkaan Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam.
• Gambar bernyawa MENYERUPAI ORANG-ORANG KAFIR; dari ‘Aisyah rhadiyallahu ‘anha bahwasanya Ummu Salamah dan Ummu Habibah Radhiyallahu ‘anha menceritakan gereja yang mereka lihat di Habasyah (ethiofia) dan apa yang ada padanya dari gambar-gambar, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam katakana:

«إن أولئك إذا كان فيهم الرجل الصالح فمات، بنوا على قبره مسجدا، وصوروا فيه تلك الصور، فأولئك شرار الخلق عند الله يوم القيامة»

“Sesungguhnya mereka itu apabila ada seorang pira yang sholeh, kemudian meninggal, mereka membangun di atas kuburnya tempat ibadah , dan membuat padanya gambar-gambar tersebut, mereka itulah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah pada hari kiamat.” [Muttafaqun ‘alaihi].

Ini semua menunjukkan bahwa perkara gambar bernyawa adalah perkara yang besar dan dianggap besar oleh syari’at dan tidak boleh diremehkan sama sekali -seperti yang dilakukan oleh Ahmad Ba najah dan siapa yang mengikutinya-, dan berdasarkan definisi yang di sebutkan oleh ulama termasuk dalam perkara ushul yang dalil-dalilnya jelas dan terang, dan tidak didapati nash yang menyelisihinya wabillahit taufiq.

Apalagi apabila hal tersebut dijadikan sebagai wasilah dari wasilah-wasilah ibadah berdakwah yang sifatnya tauqifiyyah, maka tentu itu menghantarkan kepada KEBID’AHAN seperti Yayasan dan TN atau lebih parah!!

FASAL KELIMA;
BERDAKWAH DENGAN GAMBAR BERNYAWA ADALAH KEBID’AHAN

Al Imam Asy Syathibiy rahimahullah menyebutkan definisi bid’ah:

طَرِيقَةٍ فِي الدِّينِ مُخْتَرَعَةٍ، تُضَاهِي الشَّرْعِيَّةَ يُقْصَدُ بِالسُّلُوكِ عَلَيْهَا الْمُبَالَغَةُ فِي التَّعَبُّدِ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ.

“Metode dalam agama yang diada-adakan, menandingi syari’at dimaksudkan dalam menempuhnya bersungguh-sungguh dalam peribadatan kepada Allah subhanahu.” [Al ‘Itishom 1/50].

Tidakkah kita sering mendengar dari para da’i selfi yang tampil dilayar-layar TV dan HP mengatakan itu metode yang membantu penyebaran dakwah hinga kepelosok-pelosok negri dan belahan dunia, dan menganggap yang tidak melakukan seperti perbuatan mereka dakwahnya tidak berkembang dan tersebar atau semakna dengannya?!
Apakah mereka telah menganggap dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para salaf yang tidak menggunakan gambar bernyawa bahkan melarang keras darinya tidak berkembang dan tersebar karena meninggalkan gambar bernyawa?! Apakah dakwah mereka lebih berberkah dan lebih mendapat petunjuk dari dakwah salaf?! Ataukah pada hakikatnya mereka dalam kebid’ahan dan kesesatan serta kemasiatan yang terancam pelakunya?!

Asy Syaikh ‘Ali bin Muhammad bin Nashir Al Faqihi hafidzahullah berkata:

ومن أمثلتها أيضا: اختراع عبادة ما أنزل الله بها من سلطان، كصلاة الظهر مثلا بركوعين في كل ركعة، أو الصلاة بغير طهارة، أو إنكار الاحتجاج بالسنة، أو تقديم العقل على النقل وجعله أصلاً والشرع تابع،

“Dan di antara contohnya juga (yaitu contoh bid’ah hakikiyyah): “Mengadakan metode ibadah yang Allah tidak menurunkan sulthon atasnya, seperti misalkan sholat Dzuhur dengan dua ruku’ pada setiap raka’at, atau sholat tanpa bersuci, atau mengingkari berargumen dengan Sunnah, atau MENGEDEPANKAN AKAL ATAS NAQL (DALIL) dan menjadikannya sebagai asal dan syariat sebagai tabi’ (mengikuti akal),…” [Al Bid’ah Dhawabithuha wa Atsaruha As sayyi’ fil ummah hal. 15].

Bagaimana kiranya apabila perkara tersebut datang larangannya dan ancaman keras bagi pelakunya dalam syari’at, sehingga jelaslah bahwa berdakwah dengan gambar bernyawa adalah kebid’ahan dan kemaksiatan yang menyelisihi salaf;
Syaikh kami ‘Adnan al mishqory hafidzahullah berkata:

وأما الدعوة بالتصوير فهو بدعة ومعصية ومخالفة لهدي رسول الله صلى الله عليه وسلم والسلف الصالح. والله الموفق.

"Adapun berdakwah dengan gambar (bernyawa) maka itu adalah KEBID'AHAN, kemaksiatan serta penyelisihan terhadap petunjuk Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan salafush sholeh, wallahul muwaffiq. [https://t.me/AbulYamman/9637].

FASAL KEENAM:
TERMASUK DARI PERKARA USHUL ADALAH MEMANCANGKAN WALA DAN BARO KARENA ALLAH

Kebanyakan yang kami sebutkan disini diambil dari risalah Syaikh Sa’id Da’as rahimahullah “Al Burhan Al Manqul…”
Allah ta’ala berkata:

{لا تجد قوماً يؤمنون بالله واليوم الآخر يوادون من حاد الله ورسوله..الآية}

“kamu tidak dapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir itu MENCINTAI ORANG-ORANG YANG MENENTANG ALLAH DAN RASUL-NYA….” [Al Mujadilah; 22].
Dan berkata:

{يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا عدوي وعدكم أولياء تلقون إليهم بالمودة وقد كفروا بما جاءكم من الحق}.

“Hai orang-orang yang beriman janganlah kalian mengambil musuhku dan musuh kalian sebagai wali yang kalian berikan kepada mereka kecintaaan sementara mereka telah kafir dengan apa yang datang kepada kalian berupa kebenaran.” [Al Mumtahanah; 1].
Dan ini mencakup pelaku kekafiran, dan pengekor hawa nafsu dan ahlul bid’ah, dan menunjukkan kecintaan dan loyalitas terhadapa orang-orang yang istiqomah taat dan tunduk kepada Allah dan Rasul-Nya.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

ثلاث من كن فيه وجد بهن حلاوة الإيمان, وذكر منهن: .

“Tiga perangai yang barangsiapa ketiganya ada pada dirinya, maka ia akan merasakan manisnya keimanan, dan diantara yang beliau sebutkan; “Dia mencintai seseorang dia tidaklah mencintainya melainkan karena Allah.” [muttafaqun alaihi].

Imam An Nawawi rahimahullah berkata pada syarah hadits ini:
هذا حديث عظيم, أصل من أصول الإسلام.اهـ

“ini adalah hadits yang agung, USHUL DARI USHUL-USHUL ISLAM.”

Syaikh Sholeh Al Fauzan hafidzahullah menyebutkan bahwa:

أن من خالف في الولاء والبراء أو في مسألة واحد في العقيدة, لا يكون من الفرقة الناجية, ويدخل في وعيد: .

“SIAPA YANG MENYELISIHI DALAM PERKARA AL WALA DAN AL BARO atau dalam satu permasalahan dalam perkara aqidah, maka dia tidak termasuk dari Al Firqoh An Najiyyah, dan termasuk dalam ancaman “Semuanya di Neraka”. [Al Ajwibah Al Mufidah hal. 125].

FASAL KETUJUH:
DIANTARA YANG MENGHARUSKAN BARO DAN BERLEPAS DIRI DARINYA ADALAH PENYELISIHAN TERHADAP USHUL DAN PERKARA MUHDATS DAN BID’AH DI ANTARANYA BERDAKWAH DENGAN GAMBAR BERNYAWA

Imam As Sam’ani rahimahullah menyebutkan bahwasanya:

وقد ذكر السمعاني في "القواطع" (5/13), و "الانتصار لأصحاب الحديث", كما في "فصول منه" (ص/45-50) أن الموجب للبراء وانقطاع نظام الأخوة في الدين, وسقوط الألفة, وظهور العداوة والتباين والتفرق هو الاختلاف في الأصول والمحدثات.

“Yang mengharuskan baro/berlepas diri, dan putusnya hubungan persaudaraan dalam agama, runtuhnya persahabatan, serta timbulnya permusuhan, perpisahan dan perpecahan, ADALAH PERSELISIHAN DALAM PERKARA USHUL DAN MUHDATSAT.”
Sementara kita telah mengetahui bersama dari penjabaran di atas bahwa perkara gambar bernyawa dan berdakwah dengannya adalah termasuk dari perkara ushul, muhdats dan kebid’ahan, maka TERMASUK KESALAHAN BESAR DIKATAKAN TIDAK BOLEH MEMANCANGKAN AL WALA WAL BARA PADA PERMASALAHAN BERDAKWAH DENGAN GAMBAR BERNYAWA sebagaimana itu fatwa yang keliru oleh syaikh kami Muhammad bin Hizam waffaqohullah ketika beliau berkata:

فلا تقيموا الولاء والبراء من أجل هذه المسألة وفقكم الله .

“Maka janganlah kalian tegakkan al Wala' wal Baro karna sebab perkara ini Semoga Alloh memberikn taufiq kepada kalian.” [https://t.me/ibnhezam/8005].

Imam As Sam’ani rahimahullah berkata:

كل ما كان من أصول الدين فالأدلة عليها ظاهرة باهرة والمخالف فيه معاند مكابر والقول بتضليله واجب والبراءة منه شرع.

“Setiap perkara yang termasuk dari ushul-ushul agama MAKA DALIL-DALILNYA ITU JELAS DAN TERANG, dan yang menyelisihi dalam perkara tadi adalah pembangkang yang menentang, dan WAJIB MENGHUKUMINYA DENGAN KESESATAN DAN DISYARIATKAN BERLEPAS DIRI DARINYA. [Qowathi’ Al Adillah 2/308].

Ash Shobuniy rahimahullah menyebutkan dalam “‘Aqidah As Salaf” hal. 159:

أن السلف نهوا عما يضاد أصول الدين, ووالوا في اتباعها, وعادوا فيها, وبدعوا, وكفروا من اعتقد غيرها.

“Bahwasanya para salaf melarang dari apa-apa yang bertentangan dengan ushul agama, dan bersikap loyal terhadap yang mengikutinya, DAN MEMUSUHI KARENANYA, dan memvonis dengan kebid’ahan, dan mengkafirkan siapa yang meyakini selainnya.

Oleh karena itulah Ath Thahawi rahimahullah berkata di akhir ‘Aqidah Ath Thahawi;

ونحن نبرأ إلى الله تعالى من كل من خالف الذي ذكرناه وبيناه.

“Dan KAMI BERLEPAS DIRI KEPADA ALLAH TA’ALA dari siapa saja yang menyelishi yang kami sebutkan dan jelaskan.”

Syaikh Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

ﻭﻛﺬﻟﻚ ﻳﺠﺐ ﻋﻠﻰ اﻟﻤﺴﻠﻢ ﺃﻥ ﻳﺘﺒﺮﺃ ﻣﻦ ﻛﻞ ﻋﻤﻞ ﻻ ﻳﺮﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻛﻔﺮا، ﻛﺎﻟﻔﺴﻮﻕ ﻭاﻟﻌﺼﻴﺎﻥ، ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻝ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ: {ﻭﻟﻜﻦ اﻟﻠﻪ ﺣﺒﺐ ﺇﻟﻴﻜﻢ اﻹﻳﻤﺎﻥ ﻭﺯﻳﻨﻪ ﻓﻲ ﻗﻠﻮﺑﻜﻢ ﻭﻛﺮﻩ ﺇﻟﻴﻜﻢ اﻟﻜﻔﺮ ﻭاﻟﻔﺴﻮﻕ ﻭاﻟﻌﺼﻴﺎﻥ ﺃﻭﻟﺌﻚ ﻫﻢ اﻟﺮاﺷﺪﻭﻥ}

“Dan demikian wajib bagi seorang muslim untuk BERLEPAS DIRI dari setiap amalan yang tidak diridhoi oleh Allah dan Rasul-Nya WALAUPUN BUKAN DARI AMALAN KEKUFURAN, SEPERTI KAFASIKAN DAN KEMAKSIATAN, sebagaimana Allah berkata: “Akan tetapi Allah menjadikan kalian mencintai keimanan dan menghiasinya dalam hati-hati kalian DAN MENJADIKAN KALIAN BENCI TERHADAP KEKUFURAN, KEFASIKAN DAN KEMAKSIATAN dan mereka itulah orang-orang yang terbimbing.” [Majmu’ Fatawa wa Rasail Al ‘Utsaimin 3/11].

Para salaf mencerca dengan keras siapa yang disampaikan Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menyelisihinya; ini Abdullah bin ‘umar radhiyallahu anhu berkata:

سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: «لا تمنعوا نساءكم المساجد إذا استأذنكم إليها» قال: فقال بلال بن عبد الله: والله لنمنعهن، قال: فأقبل عليه عبد الله: فسبه سبا سيئا ما سمعته سبه مثله قط وقال: " أخبرك عن رسول الله صلى الله عليه وسلم وتقول: والله لنمنعهن "

“Aku mendengar rasulullah shallalhu ‘alaihi wa sallam berkata; “Janganlah kalian melarang hamba-hamba Allah dari kalangan wanita dari mesjid apabila mereka meminta izin kepada kalian kepadanya.” Maka Bilan bin ‘Abdillah mengatakan: “Demi Allah benar-benar kami akan melarangnya” maka beliau menghadapnya DAN MENCELANYA DENGAN CELAAN YANG SANGAT BURUK AKU BELUM PERNAH MENDENGARNYA MENCELANYA SEPERTI ITU, lalu Abdullah bin ‘Umar berkata: “Kukabarkan kepadamu dari rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian kamu mengatakan: Demi Allah benar-benar kami akan melarang mereka!! [Muttafaqun ‘alaihi].

Sementara kita lihat dihadapan kita yaa ikhwan para pemuja gambar bernyawa ketika di sampaikan kepada mereka dalil larangan namun tetap melakukannya, dan menolak hadits-hadits shahih tersebut dengan akal dan ro’yu para tokoh, kemudian datang orang-orang yang memutar balik fakta justru mencela dan menyalahkan siapa yang menjelaskan keadaan para pemain gambar tersebut, dunia telah terbalik! inna lillahi wa inna lillahi rooji’un.

Inilah ‘Abdullah bin Mughoffal radhiyallahu ‘anhu setelah memberitahukan kepada salah satu dari kerabatnya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari ketapel kemudian dia kembali melakukannya setelah itu, maka beliau berkata:

أحدثك أن رسول الله صلى الله عليه وسلم نهى عنه، ثم تخذف، لا أكلمك أبدا "،

“Kusampaikan kepadamu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang darinya, kemudian kamu kembali melakukannya, AKU TAK AKAN MENGAJAKMU BICARA SELAMA-LAMANYA.” [HR. Muslim].

FASAL KEDELAPAN:
PERBEDAAN DALAM MENYIKAPI ANTARA SESEORANG YANG TERJATUH DALAM KESALAHAN KARENA KEKELIRUAN DAN KETIDAK SENGAJAAN DENGAN YANG SENGAJA DAN MEMBANGKANG

Allah ta’ala berkata:

{ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا } [البقرة: 286]

“Wahai Rabb kami janganlah engkau menghukum kami apabila kami lupa atau tersalah (tanpa sengaja)…” [Al Baqarah 286].

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

وَمَا أَخْشَى عَلَيْكُمُ الْخَطَأَ، وَلَكِنْ أَخْشَى عَلَيْكُمُ الْعَمْدَ

“Aku tidaklah khawatir atas kalian kesalahan tanpa sengaja, akan tetapi yang aku khawatirkan atas kalian adalah kesengajaan.” [HR. Ahmad dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu].

Mungkin ada yang bertanya: “Mengapa Syaikh Al ‘Utsaimin rahimahullah yang berfatwa bolehnya gambar bernyawa tidak di vonis dan ditahdzir, sementara yang mengikuti fatwanya dari kalangan Wahdah, rodja, RII dan semisalnya di ingkari dengan keras dan ditahdzir?”

Maka jawabannya dengan hanya memohon taufiq dari Allah semata:
“Ahlus sunnah membantah dan menjelaskan seluruh kesalahan dan kebid’ahan dari siapapun datangnya, baik dari alim ulama ataukah selain mereka, hanya saja dalam menyikapi pelaku kesalahan mereka membedakan, antara siapa yang terjatuh pada kebid’ahan tanpa sengaja, maksudnya adalah kebenaran namun dia tidak mencocokinya, dan belum tegak atas dirinya hujjah, dan diketahui dari tanda-tandanya apabila tampak baginya kebenaran niscaya diapun akan mengikutinya, diketahui kesalamatan maksudnya, kebaikan niatnya serta senantiasa mencari kebenaran dan diketahui keselamatan manhaj yang ia berjalan di atasnya, maka dikatakan Syaikh fulan keliru dan salah dan tidak boleh mengikuti kesalahannya dengan tetap menjaga kehormatannya.

Berbeda dengan seseorang yang dengan sengaja menerjang kebid’ahan dan dosa besar gambar bernyawa Yayasan, mengemis, dan bid’ah TN, sementara dia telah mengetahui kebenaran namun dia membangkang setelah tegak atasnya hujjah, dan tampak tanda-tanda keburukan maksud dan tujuannya berupa pengikutan terhadap hawa nafsu dan memperturutkan syahawatnya sebagaimana itu kondisi hizbiyyun. Kemudian mereka hanyalah mencari pembenaran dengan fatwa sebagian ulama yang keliru, disampaikan dalil tapi justru mengedepankan ro’yu dan akal atas dalil, mengajak kepada taqlid yang bid’ah dan tidak mengindahkan dalil maka orang semacam ini di vonis dengan kebid’ahan, di tahdzir dan di ingkari dengan keras, wabillahit taufiq.

Imam Al Barbahary rahimahullah berkata:

واعلم أن الخروج من الطريق على وجهين؛ أما أحدهما: فرجل زل عن الطريق، وهو لا يريد إلا الخير، فلا يُقتدى بزلته، فإنه هالك، وآخر عاند الحق وخالف من كان قبله من المتقين، فهو ضال مضل، شيطان مريد في هذه الأمة، حقيق على من يعرفه أن يحذر الناس منه، ويبين لهم قصته؛ لئلا يقع أحد في بدعته فيهلك.

“Dan ketahuilah bahwasanya yang keluar dari jalan (yang benar) dua golongan, salah satunya: seseorang yang tergelincir dari jalan yang lurus, SEMENTARA DIA TIDAKLAH MENGINGINKAN KECUALI KEBAIKAN, maka tidak diikuti ketergelincirannya karena sesungguhnya dia itu binasa
KEDUA: seseorang MENENTANG KEBENARAN dan menyelisihi orang-orang sebelumnya dari orang-orang bertakwa (para salaf), maka dia itu sesat dan menyesatkan, syaithan yang menginginkan (keburukan) terhadap umat ini,
SEPATUTNYA BAGI SIAPA YANG MENGETAHUINYA AGAR MENTAHDZIR MANUSIA DARINYA, dan menjelaskan kisahnya, agar tidak ada yang terperosok kedalam kebid’ahannya hingga diapun binasa. [Syarh As sunnah lil barbahary hal. 39].

Syaikhul Islam ibnu taimiyyah rahimahullah berkata:

إذَا رَأَيْت الْمَقَالَةَ الْمُخْطِئَةَ قَدْ صَدَرَتْ مِنْ إمَامٍ قَدِيمٍ فَاغْتُفِرَتْ؛ لِعَدَمِ بُلُوغِ الْحُجَّةِ لَهُ؛ فَلَا يُغْتَفَرُ لِمَنْ بَلَغَتْهُ الْحُجَّةُ مَا اُغْتُفِرَ لِلْأَوَّلِ فَلِهَذَا يُبَدَّعُ مَنْ بَلَغَتْهُ أَحَادِيثُ عَذَابِ الْقَبْرِ وَنَحْوِهَا إذَا أَنْكَرَ ذَلِكَ وَلَا تُبَدَّعُ عَائِشَةُ وَنَحْوُهَا مِمَّنْ لَمْ يَعْرِفْ بِأَنَّ الْمَوْتَى يَسْمَعُونَ فِي قُبُورِهِمْ؛ فَهَذَا أَصْلٌ عَظِيمٌ فَتَدَبَّرْهُ فَإِنَّهُ نَافِعٌ.

“Apabila engkau melihat ucapan yang keliru telah diucapkan dari seorang Imam yang telah lalu DAN DIMAAPKAN; KARENA BELUM SAMPAI HUJJAH BAGINYA, maka TIDAK DIMAAPKAN BAGI SIAPA YANG TELAH SAMPAI HUJJAH BAGINYA sebagaimana di maapkan untuk yang pertama
Oleh karena itulah DI VONIS SEBAGAI MUBTADI’ SIAPA YANG TELAH SAMPAI KEPADANYA hadits-hadits “siksa kubur” dan semisalnya APABILA IA MENGINGKARINYA, dan tidak di vonis sebagai mubtadi’ Aisyah dan semisal beliau dari siapa yang tidak tahu bahwa orang yang telah meninggal mendengar di kuburan-kuburan mereka, maka ini adalah prinsip yang agung renungilah karena dia itu bermanfaat! [Majmu’ Al Fatawa 6/61].

Beliau juga berkata:

وَيَلْحَقُ الذَّمُّ مَنْ تَبَيَّنَ لَهُ الْحَقُّ؛ فَتَرَكَهُ أَوْ قَصَّرَ فِي طَلَبِهِ فَلَمْ يَتَبَيَّنْ لَهُ أَوْ أَعْرَضَ عَنْ طَلَبِهِ لِهَوَى أَوْ كَسَلٍ وَنَحْوِ ذَلِكَ

“DAN JUGA MENDAPAT CERCAAN SIAPA YANG TAMPAK BAGINYA KEBENARAN KEMUDIAN MENINGGALKAN KEBENARAN, atau kurang berusaha mencari tahu kebenaran hingga tidak tampak baginya, atau berpaling dari mencarinya disebabkan hawa nafsu atau malas dan semisal itu. [Majmu’ Al Fatawa 4/195].

Asy Syaikh ibnu Baz rahimahullah berkata:

وأما من علم الأحاديث الصحيحة الدالة على تحريم نصب الستور التي فيها الصور فلا عذر له في مخالفتها. ومتى خالف العبد الأحاديث الصحيحة الصريحة اتباعا للهوى، أو تقليدا لأحد من الناس استوجب غضب الرب ومقته، وخيف عليه من زيغ القلب وفتنته، كما حذر الله سبحانه من ذلك في قوله تعالى: فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ الآية [النور:63]. وفي قوله تعالى: فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ [الصف:5] وقوله تعالى: فَأَعْقَبَهُمْ نِفَاقًا فِي قُلُوبِهِمْ الآية [التوبة:77].

“Adapun yang mengetahui hadits-hadits shahih yang menunjukkan pengharaman memasang tabir-tabir yang padanya gambar bernyawa, MAKA TIADA UDZUR BAGINYA MENYELISIHINYA, dan KAPAN SEORANG HAMBA MENYELISIHI HADITS-HADITS SHAHIHAH YANG JELAS KARENA MENGIKUTI HAWA, ATAU TAQLID TERHADAP SOSOK TERTENTU DARI KALANGAN MANUSIA MAKA DIA TELAH BERHAK MENDAPAT KEMURKAAN RABB DAN AMARAHNYA, DAN DI TAKUTKAN ATAS DIRINYA BERUPA PENYIMPANGAN HATI DAN FITNAHNYA, sebagaimana Allah subhanahu telah memperingatkan dari hal tersebut pada ucapanNya: “Hendaknya takut orang-orang yang menyalahi perintahnya (Rasul) kalau mereka akan ditimpa fitnah atau siksaaan yang pedih.” [An Nur 63]. Dan pada ucapanNya: “Manakala mereka menyimpang maka Allah menjadikan hatinya menyimpang.” [Ash Shaf: 5]. danUcapan Allah ta’ala: “Maka Allah menimpakan penyakit kenifakan kedalam hati-hati mereka…” [At Taubah: 77].” [Majmu’ Fatawa ibnu Baz 4/218].

Al Imam Muqbil Al Wadi’i rahimahullah berkata:

ويحكم على الشخص بالبدعة إذا استحسن من قبل نفسه استحسانات تخالف كتاب الله أو لم تأت في كتاب الله ولا في سنة رسول الله - صلى الله عليه وعلى آله وسلم - يعتبر مبتدعاً

“Dan seseorang itu divonis dengan kebid’ahan apabila DIA MENGANGGAP BAIK dari dirinya sendiri amalan-amalan yang dia anggap baik YANG MENYELISIHI KITABULLAH atau tidak datang pada Kitabullah dan tidak p**a pada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wa sallam- DIA DIANGGAP SEBAGAI MUBTADI’.[Al Ghorotul Asyrithoh 1/157].

Maka siapa yang bermain gambar bernyawa dan berdakwah dengan metode bid’ah dengan gambar bernyawa dari orang-orang yang mengaku ahlis sunnah maka ditegakkan atasnya hujjah dan disampaikan dalil-dalil dan penjelasan ulama terhadap perkara tersebut apabila dia tunduk kepada dalil dan lebih mengedepankannya dari pada ucapan ulama tokoh atau pembesar dan akal yang bertentangan dengan dalil maka dia ahlis sunnah adapun sebaliknya maka dia bukanlah ahlis sunnah yang sejati, wabillahit taufiq.

BERDASARKAN APA YANG TELAH LEWAT TAMPAKLAH KEBODOHAN ORANG YANG MENUDUH AHLUSSUNNAH BERSTANDAR GANDA DALAM BERSIKAP TERHADAP PENYELISIH DALAM PERKARA GAMBAR BERNYAWA

FASAL KESEMBILAN
PENJELASAN BAHWA KHILAF PADA GAMBAR BERNYAWA BUKANLAH KHILAF MU’TABAR YANG TERPANDANG SEBAGAIMANA YANG DIGEMBAR GEMBORKAN OLEH AHMAD BA NAJAH DAN BUKAN P**A TERMASUK DARI KHILAF IJTIHADIYYAH

Sebagian orang menyangka bahwa setiap ada disana perselisihan pendapat dari sebagian ulama ahlis sunnah pada suatu perkara berarti itu adalah permasalahan khilaf ijtihadiyyah yang tidak boleh dicerca siapa yang menyelisihi kebenaran pada perkara tersebut, dan ini adalah sangkaan yang keliru terutama pada perkara yang telah datang nash dalil-dalil yang terang padanya dan tiada bagi penyelisih dalil yang teranggap, termasuk dalam perkara kita ini yaitu gambar bernyawa,
Telah lalu bahwa dalil-dalil dalam permasalahan gambar bernyawa sangatlah jelas dan terang maka tidak boleh ijtihad bersamaan dengan keberadaan dalil/nash!! Dan khilaf yang ada tidaklah teranggap!

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:

اﻟﻔﺼﻞ اﻟﺜﺎﻧﻲ: ﻓﻲ ﺳﻘﻮﻁ اﻟﺮﺃﻱ ﻭاﻻﺟﺘﻬﺎﺩ ﻭاﻟﻘﻴﺎﺱ، ﻭﺑﻄﻼﻧﻬﺎ ﻣﻊ ﻭﺟﻮﺩ اﻟﻨﺺ.

"Fasal kedua: Tentang gugurnya ro'yu dan ijtihad serta qiyas, dan bathilnya hal-hal tersebut bersamaan dengan keberadaan nash (dalil)." [I'lam Al Muwaqqi'in 1/268].

Al Qodhi 'Iyadh berkata:

ﻓﺈﻥ اﻻﺟﺘﻬﺎﺩ ﻣﻊ اﻟﻘﺪﺭﺓ ﻋﻠﻰ اﻟﻨﺺ ﺧﻄﺄ ﻣﺤﺾ

"Karena sesungguhnya ijtihad bersamaan dengan kemampuan mendapati NASH (DALIL) adalah KESALAHAN MURNI." [lihat Al Bahrul Muhith 7/435].

Imam Asy Syinqithiy rahimahullah berkata:
ﻭاﻻﺟﺘﻬﺎﺩ ﺇﻧﻤﺎ ﻳﻜﻮﻥ ﻓﻲ ﺷﻴﺌﻴﻦ:
ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ: ﻣﺎ ﻻ ﻧﺺ ﻓﻴﻪ ﺃﺻﻼ.
ﻭاﻟﺜﺎﻧﻲ: ﻣﺎ ﻓﻴﻪ ﻧﺼﻮﺹ ﻇﺎﻫﺮﻫﺎ اﻟﺘﻌﺎﺭﺽ، ﻓﻴﺠﺐ اﻻﺟﺘﻬﺎﺩ ﻓﻲ اﻟﺠﻤﻊ ﺑﻴﻨﻬﺎ، ﺃﻭ اﻟﺘﺮﺟﻴﺢ.

“Dan Ijtihad itu hanyalah berlaku pada dua perkara:
Pertama: Sesuatu YANG TIDAK ADA NASH padanya sama sekali.
Kedua: sesuatu yang padanya Nash-nash yang lahiriyahnya kontradiksi, maka mesti ijtihad dalam memadukan antar dalil-dalil tersebut atau merajihkan.” [Mudzakkirah hal. 373].

Dan perselisihan Ulama yang ada yang bertentangan dengan Nash itu tidak terpandang; Imam As Sarkhasiy rahimahullah berkata:

وَمَعَ وُجُودِ النَّصِّ لَا يُعْتَبَرُ اخْتِلَافُ الْعُلَمَاءِ

“Dan BERSAMAAN KEBARADAAN NASH, PERSELISISHAN ULAMA TIDAK TERANGGAP.” [Al Mabsuth 9/117].

Maka tampak jelas di atas bahwasanya tidak ada ijtihad pada perkara yang telah ada nash atau dalil-dalilnya sebagaimana dalam permasalahan kita ini yaitu haramnya gambar bernyawa.

Sehingga tercela siapa saja yang disampaikan dalil kemudian dia menyelisihi dalil dan mengedepankan ro’yu manusia biasa yang bukan wahyu untuk menentangnya.

Al ‘Allamah Hamud At Tuwaiyjiri berkata:

ولا عبرة بالمتساهلين المتسرعين إلى الفتيا بغير ثَبَت. فإنه لم يأت في الشريعة المطهَّرة إباحة التصوير البتة لا لمصلحة ولا لغير مصلحة ، بل فيها تحريمه على الإِطلاق والتشديد فيه ، ولعن فاعليه والوعيد والوعيد عليه بالنار . ولو أن سبعة من العلماء اجتمعوا على قول واحد في مسألة من المسائل التي لا نص فيها وكان قولهم فيها وجيهًا لما كان قولهم إجماعًا يجب المصير إليه ، بل ينظر فيه وفي غيره من أقوال العلماء ويؤخذ بالقول الذي يعضده الدليل من الكتاب أو السنة .
وأما القول المخالف للنصوص الثابتة عن النبي صلى الله عليه وسلم في تحريم التصوير والتشديد فيه فإنه لا ينبغي أن ينظر فيه ويقابل بينه وبين قول النبي صلى الله عليه وسلم، بل يضرب به عرض الحائط لأنه لا قول لأحد مع رسول الله صلى الله عليه وسلم . قال الله تعالى : [ وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْراً أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالاً مُّبِيناً ]اهـ.

“DAN TIDAK TERANGGAP ORANG-ORANG YANG BERGAMPANG-GAMPANG DAN TERGESA-GESA BERFATWA (MEMBOLEHKAN GAMBAR BERNYAWA) tanpa landasan yang kuat, karena tidak datang dalam syariat yang suci pembolehan gambar bernyawa sama sekali, tidak ada pembolehan demi suatu maslahat tidak p**a tanpa maslahat, bahkan PADANYA PENGHARAMAN SECARA MUTLAK DAN ANCAMAN KERAS tentangnya, laknat bagi pelakunya dan ancaman baginya dengan neraka, andaikan ada tujuh ulama sepakat atas satu pendapat pada suatu permasalahan yang tiada Nash padanya, sedang ucapan mereka itu adalah ucapan yang terpandang, niscaya ucapan mereka bukanlah ijma’ yang mengharuskan kembali kepadanya, bahkan dilihat padanya dan pada selainnya dari pendapat-pendapat ulama DAN DI AMBIL UCAPAN YANG DIKUATKAN OLEH DALIL DARI AL KITAB DAN AS SUNNAH.

Adapun ucapan yang menyelisihi nash-nash yang tsabit dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang keharaman gambar bernyawa, dan ancaman keras tentangnya, MAKA TIDAK SEPANTASNYA MELIHAT KEPADANYA (PENDAPAT MEMBOLEHKAN GAMBAR BERNYAWA) LALU MEMBENTURKANNYA DENGAN UCAPAN NABI SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM, BAHKAN DILEMPARKAN KE TEMBOK KARENA TIDAK ADA NILAI UCAPAN SESEORANG YANG BERTENTANGAN DENGAN UCAPAN NABI SHALALLAHU ALAIHI WA SALLAM; Allah ta’ala berkata: “Tidak sepatutnya bagi mukmin dan mukminah apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu putusan kemudian mereka masih punya pilihan lain terhadap urusan mereka, dan barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan Rasul-nya sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” [Tahrim At tashwir wa Ar rod ‘Ala man Abahahu].

Syaikh ‘Abdul Hamid Al Hajury hafidzahullah ditanya:

هل مسائل التصوير والانتخابات والجمعيات والاختلاط وغيرها من المسائل خلاف الأفهام ؟

“Apakah permasalahan GAMBAR BERNYAWA, PEMILU, Yayasan serta Ikhthilath dan selainnya termasuk permasalahan khilaf afham?
Maka beliau menjawab:

لا، هذا من مخالفة النصوص الشرعية والأدلة الظاهرة القوية وفيها تشبه بالكفار وفيها غير ذلك.

“Tidak, ini TERMASUK PENYELISIHAN TERHADAP NASH-NASH syari’at dan dalil-dalil yang jelas dan kuat, dan padanya penyerupaan terhadap orang-orang kafir dan padanya selain itu. [https://t.me/A_lzoukory/17937].

Beliau juga berkata:

وأسوأ الحالات أن يأتي لك أحدهم ممن كان سنيا يرى تحريم صور ذوات الأرواح بلأدلتها وقد خطب وحاضر، فإذ انحرف يذهب إلى أن المسألة خلافية وأنه اجتهد، متى اجتهد؟ وليس بعضهم من أهل اجتهاد وإنما هو من أهل العناد، التصوير حرام ولا يجوز والله المستعان.

“Dan keadaan yang paling jelek adalah datang kepadamu seorang yang sebelumnya adalah seorang sunniy yang berpendapat akan haramnya gambar bernyawa dengan dalil-dalilnya dan dia telah berpidato dan muhadharah (tentang haramnya gambar bernyawa)
APABILA DIA TELAH MENYIMPANG DIAPUN MENGATAKAN INI ADALAH MASALAH KHILAFIYYAH DAN BAHWA DIA BERIJTIHAD, KAPAN DIA BERIJTIHAD?! Sebagian mereka bukanlah ahli ijtihad akan tetapi ORANG-ORANG YANG MEMBANGKANG, gambar bernyawa haram dan tidak boleh, wallahul musta’an. [https://t.me/A_lzoukory/31448].

FASAL KESEPULUH:
FATWA ULAMA TENTANG BOLEHNYA GAMBAR BERNYAWA ADALAH KETERGELINCIRAN YANG TIDAK BOLEH DI IKUTI

Setelah pemaparan yang telah lalu tahulah kita bahwa ulama yang berfatwa bolehnya gambar bernyawa dan berdakwah dengan video dan semisalnya adalah zallah/ketergelinciran yang tidak boleh diikiuti karena jelas-jelas bertentangan dengan dalil-dalil yang sangat gamblang.

Syaikh kami ‘Abdul Hamid Al Hajury hafidzahullah berkata:

القول باباحته يعتبر من الزلات، من العلماء الذين صدر منهم الخلاف تعتبر زلات، وزلة من العالم لا تعتبع، الشيخ مقبل حكم على فتوى بعض العلماء في مسألة الانتخابات بأنها زلة، والزلة لا تتبع ولا يقال بأن المسألة يعني خلافية ويبقى أحدهم يناظر في الترجيح، المسألة واضحة، أحاديثها كثيرة في الصحيحين وغيرهما...

“Pendapat pembolehannya (gambar bernyawa) termasuk diantar ketergelinciran, dari yang timbul dari mereka penyelisihan , teranggap dari ketergelinciran, DAN KETERGELINCIRAN ULAMA TIDAK (BOLEH) DIIKUTI, Asy Syaikh muqbil telah menghukumi fatwa sebagian ulama tentang PEMILU ADALAH ZALLAH/KETERGELINCIRAN, dan ketergelinciran tidak diikuti, DAN TUDAK BP**A DIKATAKAN BAHWASANYA INI ADALAH PERMASALAHAN KHILAFIYYAH sehingga seseorang (bisa) melihat mana menurutnya yang rajah, PERKARANYA SANGAT JELAS, hadits-haditsnya banyak di shahihain dan selainnya… [https://t.me/A_lzoukory/31448].

Iman Asy Syafi’i rahimahullah berkata:

ﺃﺟﻤﻊ الناس ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﻣﻦ اﺳﺘﺒﺎنت ﻟﻪ ﺳﻨﺔ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ - ﺻﻠﻰاﻟﻠﻪﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻟﻪ ﺃﻥ ﻳﺪﻋﻬﺎ ﻟﻘﻮﻝ ﺃﺣﺪ ﻣﻦ اﻟﻨﺎﺱ

“Manusia (para Ulama) telah ijma’ bahwasanya siapa yang jelas baginya sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak boleh baginya meninggalkannya dengan sebab ucapan seorangpun dari manusia.” [I’lam Al Muwaqqi’in 2/201].

Ibnu Qoyyim rahimahullah berkata:

فَإِذَا عَرَفَ أَنَّهَا زَلَّةً لَمْ يَجُزْ لَهُ أَنْ يَتْبَعَهُ فِيهَا بِاتِّفَاقِ الْمُسْلِمِينَ، فَإِنَّهُ اتِّبَاعٌ لِلْخَطَأِ عَلَى عَمْدٍ

“Apabila dia tahu bahwa fatwa (seorang ‘Alim) itu adalah KETERGELINCIRAN, TIDAK BOLEH BAGINYA MENGIKUTINYA pada perkara tersebut berdasarkan kesepakatan kaum muslimin, karena itu adalah pengikutan terhadap kesalahan dengan sengaja.” [I’lam Muwaqqi’in 2/441].

FASAL KESEBELAS
NASEHAT UNTUK MENGAMBIL AL QUR’AN DAN SUNNAH DAN MENINGGALKAN YANG MENYELISIHI KEDUANYA DARI UCAPAN PARA TOKOH DAN ULAMA

Merupakan sunnatullah bahwa kita akan diuji dengan perselisihan yang banyak setelah sepeninggalan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terlebih lagi di akhir zaman, namun syari’at yang sempurna ini telah memberikan jalan keluar dan solusi dalam menghadapi dan menyikapi kondisi tersebut, yaitu dengan kembali dan berpegang teguh dengan Sunnah Rasulullah shallalhu ‘alaihi wa sallam dan para salaf sebagaimana yang tertera dalam hadits ‘Irbadh bin Sariyyah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَة.

“Sesungguhnya siapa di antara kalian yang masih hidup setelahku maka ia akan mendapati perselisihan yang banyak, MAKA HENDAKNYA KALIAN BERPEGANG TEGUH DENGAN SUNNAHKU DAN SUNNAH PARA KHULAFA AR ROSYIDIN setelahku, berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah dengan gigi geraham, dan waspadalah oleh kalian perkara-perkara baru, sebab setiap perkara baru itu bid’ah dan setiap bid’ah itu adalah kesesatan.” [HR. Tirmidzi dan Abu Daud dan selainnya].

Dan itu adalah sikap orang yang mendapat hidayah dan berakal yaitu orang-orang yang mengambil pendapat yang paling baik dan benar dari fatwa para ulama,
Allah ta’ala berkata:

{ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ (18) }

“Orang-orang yang mendengarkan ucapan lalu mengikuti yang paling baik, mereka itulah orang-orang yang Allah berikan hidayah, dan mereka itulah orang-orang yang berakal.” [Az Zumar 18]

Dan hal itu bukanlah diukur dengan hawa nafsu dan akal-akalan ataupun ro’yu dan perasaan akan tetapi diukur dengan kecocokannya dengan wahyu yang terjaga dari kesalahan berupa kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; Asy Syaikh Sholeh Al Fauzan hafidzahullah berkata:

ﻓﺘﻌﺮﺽ ﺁﺭاء اﻟﻔﻘﻬﺎء ﻋﻠﻰ اﻟﺪﻟﻴﻞ، ﻓﻤﺎ ﺩﻝ ﻋﻠﻴﻪ اﻟﺪﻟﻴﻞ ﻭﺟﺐ اﻷﺧﺬ ﺑﻪ ﻭﺗﺮﻙ ﻣﺎ ﺧﺎﻟﻔﻪ،

“Jadi Pendapat-pendapat Fuqoha itu ditimbang dengan dalil, apa yang ditunjuki oleh dalil wajib mengambilnya dan meninggalkan yang menyelisinya (menyelisihi dalil).” [Syarah Masail Al Jahiliyyah hal. 43].

Dan tidak mengambil yang ringan-ringan sesuai hawa nafsu tanpa landasan dalil karena itu akan mengantarkan kepada kezindikan yaitu kenifakan, Imam ibnu Baz rahimahullah berkata:

ومن تتبع ما اختلف فيه العلماء وأخذ بالرخص من أقاويلهم تزندق أو كاد

“”Dan barangsiapa yang mencari-cari apa yang para ulama berselisih padanya dan mengambil yang ringan dari ucapan mereka maka dia telah menjadi zindiq atau hamper. [Majmu’ al Fatawa ibnu Baz 3/419].

Dan mengantarkan kepada seluruh keburukan dan kerapuhan agama; Imam Adz Dzahabi rahimahullah berkata:

ومن تتبع رخص المذاهب، وزلات المجتهدين، فقد رق دينه، كما قال الأوزاعي أو غيره: من أخذ بقول المكيين في المتعة، والكوفيين في النبيذ، والمدنيين في الغناء، والشاميين في عصمة الخلفاء، فقد جمع الشر.

“Barangsiapa yang mencari-cari keringanna dari madzhab-madzhab, dan ketergelinciran-ketergelinciran para ahli ijtihad, maka telah rapuh agamanya.
Sebagaimana Al Auza’iy atau selainnya katakan; “Barangsiapa yang mengambil pendapat ahlu makkah tentang Mut’ah, dan ahli kufah tentang Nabidz (yang memabukkan), dan ahli Madinah tentang “nyanyian’, dan ahli Syam tentang keterjagaan para khulafa, MAKA DIA TELAH MENGUMPULKAN KEBURUKAN.” [Siyar a’lam an nubala 8/90].

Imam Al ‘Auza’I rahimahullah juga berkata:

من أخذ بنوادر العلماء، خرج من الإسلام.

“Siapa yang mengambil ucapana-ucapan yang jarang (yang menyelisihi kebenaran-pent) Ulama, ia telah keluar dari Islam.” [Siyar a’lam An Nubala 7/125].

Sulaiman At Taimy rahimahullah berkata:

لَوْ أَخَذْتَ بِرُخْصَةِ كُلِّ عَالِمٍ اجْتَمَعَ فِيكَ الشَّرُّ كُلُّهُ قَالَ أَبُو عُمَرَ: «هَذَا إِجْمَاعٌ لَا أَعْلَمُ فِيهِ خِلَافًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ»

“Andaikan engkau mengambil keringanan setiap Alim maka akan terkumpul pada dirimu seluruh kejelekan.” Kemudian Imam ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah menanggapi ucanpan indah ini dengan ucapan beliau: “Ini adalah ijma’ aku tidak mengetahui ada padanya perselisihan, walhamdulillah [Jami’ bayan Al ‘Ilmi wa Fadhlih 2/927].

FASAL KEDUA BELAS:
WASPADA DARI SIAPA SAJA YANG TAMPAK PADA DIRINYA KEBID’AHAN DAN PENYIMPANGAN DINASEHATI DAN DITEGAKKAN HUJJAH MALAH MEMBANGKANG DAN MENDATANGKAN DALIH DARI DALIL MUTASYABIH

Dali-dalil Mutasyabih adalah Dalil-dalil yang maknanya masih bisa dibawa maknanya kepada makna yang sesuai dengan dalil-dalil yang Muhkam (jelas dan terang) dan bisa juga dibawa kepada makna yang lain (biasanya makna yang bathil) dari arah lafadz dan susunan katanya.
Ahlul ahwa biasanya mencari-cari dan mendatangkan dalil-dalil mutasyabihat tersebut untuk mendukung hawa nafsu dan kebid’ahannya dan memalingkian dari makna yang haq kepada makna yang bathil dengan pemahaman mereka sendiri yang bertentangan dengan pemahaman salaful ummah.

Allah ta’ala berkata:

{هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ } [آل عمران: 7]

“Dia-lah yang menurunkan Al kitab kepadamu. di antara isinya ada ayat-ayat yang muhkamaat (jelas dan terang maksudnya), Itulah pokok-pokok Al qur'an dan yang lain ayat-ayat mutasyaabihaat. ADAPUN ORANG-ORANG YANG DALAM HATINYA KECONDONGAN KEPADA KESESATAN, MAKA MEREKA MENGIKUTI AYAT-AYAT YANG MUTASYAABIH DARINYA UNTUK MENIMBULKAN FITNAH UNTUK MENCARI-CARI PENA'WILANNYA (PEMALINAGAN KEPADA MAKNA YANG BATHIL), Padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya (yang benar) melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya, mereka berkata: "Kami beriman dengannya (ayat-ayat yang mutasyaabih), semuanya itu dari sisi Rabb kami." Dan tidak dapat mengambil pelajaran dan memahaminya melainkan orang-orang yang berakal. [Ali ‘Imran 7].

Imam ibnu Katsir rahimahullah berkata pada tafsir ayat ini:

يُخْبِرُ تَعَالَى أَنَّ فِي الْقُرْآنِ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ، أَيْ: بَيِّنَاتٌ وَاضِحَاتُ الدَّلَالَةِ، لَا الْتِبَاسَ فِيهَا عَلَى أَحَدٍ مِنَ النَّاسِ، وَمِنْهُ آيَاتٌ أُخَرُ فِيهَا اشْتِبَاهٌ فِي الدَّلَالَةِ عَلَى كَثِيرٍ مِنَ النَّاسِ أَوْ بَعْضِهِمْ، فَمَنْ رَدَّ مَا اشْتَبَهَ عَلَيْهِ إِلَى الْوَاضِحِ مِنْهُ، وَحَكَّمَ مُحْكَمَهُ عَلَى مُتَشَابِهِهِ عِنْدَهُ، فَقَدِ اهْتَدَى. وَمَنْ عَكَسَ انْعَكَسَ؛ وَلِهَذَا قَالَ تَعَالَى: {هُوَ الَّذِي أَنزلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ} أَيْ: أصله الَّذِي يَرْجِعُ إِلَيْهِ عِنْدَ الِاشْتِبَاهِ {وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ} أَيْ: تَحْتَمِلُ دَلَالَتُهَا مُوَافَقَةَ الْمُحْكَمِ، وَقَدْ تَحْتَمِلُ شَيْئًا آخَرَ مِنْ حَيْثُ اللَّفْظِ وَالتَّرْكِيبِ، لَا مِنْ حَيْثُ الْمُرَادِ.

“Allah ta’ala mengabarkan bahwasanya di dalam alqur’an ada ayat-ayat muhkamaat dan dia itulah pokok-pokok Al Kitab, YAITU YANG TERANG JELAS PENUNJUKANNYA, TIADA KERANCUAN PADANYA PADA SEORANGPUN DARI MANUSIA, ada ada diantaranya ayat-ayat selainnya yang padanya KESAMARAN DALAM PENUNJUKAN bagi kebanyakan manusia atau sebagian mereka, maka barangsiapa yang mengembalikan yang samar atasnya kepada yang jelas darinya, dan berhukum dengan ayat muhkam ata ayat mutasyabih di sisinya, MAKA SUNGGUH DIA TELAH MENDAPAT HIDAYAH, DAN SIAPA YANG BERSIKAP SEBALIKNYA MAKA DIA TERBALIK (tidak mendapat hidayah alias sesat), oleh karena itulah Allah ta’ala berkata: “Dia-lah Allah yang menurunkan kepadamu Al Kitab di antara isinya adalah ayat-ayat muhkamat dan dia itulah pokok-pokok Al Kitab” yaitu asalnya yang dijadikan rujukan ketika terjadi kesamaran “dan yang lain mutasyabihaat” yaitu yang penunjukannya bisa dibawa kepada makna yang mencocoki ayat muhkam/jelas, dan bisa dibawa kepada makna selainnya dari arah lafadz dan susunan kata, BUKAN DARI SISI MAKSUD (yang Allah inginkan darinya). [tafsir ibnu Katsir 2/6].

Beliau juga berkata pada perkataan Allah:

}فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ{ أي: ضلال وخروج إلى الباطل

“adapun yang pada hatinya “Zaigh” yaitu: “kesesatan dan keluar menuju kebathilan”. [tafsir ibnu Katsir 2/8].

Beliau melanjutkan:

}فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ{ أَيْ: إِنَّمَا يَأْخُذُونَ مِنْهُ بِالْمُتَشَابِهِ الَّذِي يُمْكِنُهُمْ أَنْ يُحَرِّفُوهُ إِلَى مَقَاصِدِهِمُ الْفَاسِدَةِ، وَيُنْزِلُوهُ عَلَيْهَا، لِاحْتِمَالِ لَفْظِهِ لِمَا يَصْرِفُونَهُ فَأَمَّا الْمُحْكَمُ فَلَا نَصِيبَ لَهُمْ فِيهِ؛ لِأَنَّهُ دَامِغٌ لَهُمْ وَحُجَّةٌ عَلَيْهِمْ،

“”Mereka mengikuti ayat-ayat mutasyabih darinya” Yaitu: mereka hanyalah mengambil ayat-ayat mutasyabih darinya YANG MASIH MEMUNGKINKAN BAGI MEREKA UNTUK MENTAHRIF (MEMALINGKAN) AYAT TERSEBUT KEPADA MAKSUD-MAKSUD MEREKA YANG RUSAK, DAN MENURUNKAN AYAT, TERSEBUT ATASNYA, disebabkan lafadznya masih bisa dibawa ke arah makna yang mereka palingkan kepadanya, ADAPUN AYAT-AYAT YANG MUHKAM MAKA TIDAK ADA BAGI MEREKA BAGIAN PADANYA, karena ayat-ayat itu akan menghantam mereka hingga tembus ke otak dan hujatan atas mereka.” [tafsir ibnu Katsir 2/8].

Beliau melanjutkan:

وَلِهَذَا قَالَ: {ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ} أَيِ: الْإِضْلَالِ لِأَتْبَاعِهِمْ، إِيهَامًا لَهُمْ أَنَّهُمْ يَحْتَجُّونَ عَلَى بِدْعَتِهِمْ بِالْقُرْآنِ، وَهَذَا حُجَّةٌ عَلَيْهِمْ لَا لَهُمْ،

“Karena itulah Allah berkata: “mencari-cari fitnah” yaitu: untuk menyesatkan para pengikut mereka, sehingga menyangka bahwasanya mereka PUNYA ARGUMEN ATAS KEBID’AHAN MEREKA dari Al Qur’an, sementara itu hanyalah hujatan atas mereka bukan argumen untuk mereka.” [tafsir ibnu Katsir 2/8].

Beliau melanjutkan:

وقوله تعالى: {وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ} أَيْ: تَحْرِي

Address

Kendari

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when 𝐊𝐈𝐦 𝐊𝐫𝐝𝐚𝐬𝐡𝐢𝐚𝐧 𝐋𝐢𝐯𝐞 posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to 𝐊𝐈𝐦 𝐊𝐫𝐝𝐚𝐬𝐡𝐢𝐚𝐧 𝐋𝐢𝐯𝐞:

Share