21/12/2016
BELUM PUNYA JUDUL
Seumur hidupku barusan tadi saya merasakan sesuatu yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Perasaan kaget, sedih, haru, bangga, sayang, was-was, dan merasa bersalah, bercampur aduk menjadi satu dalam hati yang gaduh.
Ada rasa-rasa mau marah tapi tidak bisa. Mau dibilang rasa nano-nano juga bukan. Pokoknya, sesak rasanya untuk mengungkapkannya. Hhhhh..!!
Selama ini, si buah hati Panji yang baru duduk kelas satu dan baru selesai ulangan semester, selalu diantar-jemput pergi-pulang sekolah dengan sepeda motor, di SDN 1 Poasia, yang jaraknya dari kediaman kami di Anggoeya kurang lebih 2 km.
Kalau Hari Senin-Rabu-Kamis, berangkat pukul 06.45 Wita, pulang 10.00 Wita. Beda dengan Jumat-Sabtu, pulang lebih awal. Kalau saya tidak sempat, biasanya ibunya yang antar jemput.
Rabu pagi tadi, saya mengantarnya agak terlambat, sekitar pukul 07.10 Wita tiba di sekolah. Penyebabnya, si Panji telat pulang dari jalan pagi bersama ibunya.
Oke, langsung saja, kenapa sehingga perasaan yang bercampur aduk tadi muncul..??
Saat saya pergi menjemputnya, sekitar pukul 09.50 Wita atau kurang 10 menit dari jam pulangnya, di tengah perjalanan, dari kejauhan, tepatnya di jembatan/deuker dekat gerbang masuk BTN Batu Marupa Indah, perhatian saya tertuju pada seorang bocah ireng berseragam sekolah; baju kotak-kotak biru dan celana panjang biru, melemparkan senyum kepadaku.
Antara sadar dan mimpi, antara percaya dan tidak, dia ternyata anakku Panji berjalan kaki dari sekolahnya. Sudah setengah perjalanan, Panji yang 14 November kemarin baru genap 6 tahun, menjajal jalan poros padat lalu lintas di bawah terik matahari, menyeret celananya yang kepanjangan sambil memikul tas bukunya.
Keringat bercucuran di wajahnya dengan mimik merasa bersalah saat saya menghampirinya.
Yaa Allah, waompu hatala bhe anabi. Omerabu kanau haee..!! Korokoko-koko eee.. (Bahasa latin, abaikan saja).
Hhhhhā¦!! Sempat muncul rasa kesal, tapi tidak tega mengekspresikannya. Saya tidak ingin membuatnya semakin merasa bersalah. Saya tidak boleh mematahkan semangat juangnya.
āJago saya toh bapa,ā begitu katanya.
āIyo eee, jago pwa.. Iyya tawwa, sudah bisa pulang jalan kaki sendiri. Tapi, lain kali jangan begitu, nah sayang. Kalau Panji cepat pulang, tunggu saja bapa di sekolah, ya..!! Bagusnya mi biasa kita tunggu di perpustakaan,ā jawabku.
Jagoanku yang selama ini harus dituntun kalau menyeberang jalan depan rumah, tiba-tiba nekat jalan sendiri menyusuri jalan yang padat kendaraan dan banyak pertigaannya. Hhhhh,,setengah mati saya tarik nafasku.
Saya hanya membayangkan bagaimana dia melintasi banyaknya pertigaan sepanjang jalan itu. Bagaimana dia melintas di jalur jalan āpantat botolā, jalan sempit depan eks kebun jagung itu. Teriris-iris rasanya hatiku.
Tapi apapun itu, bagaimana pun itu, saya bangga padanya karena keberaniannya dalam mengambil keputusan sendiri, salut atas keberaniannya dalam mencoba sesuatu hal baru meskipun berisiko.
Memang betul, semua pengendara di jalan sana punya mata. Tapi tolong,,jangan ulangi lagi kasian Panjiii..!! Hhhh,,waompu ee..!!