31/10/2014
RIBA’ secara Syariat, “Penyerahan pergantian sesuatu dengan sesuatu yang lain yang tidak dapat terlihat wujud kesetaraannya menurut timbangan Syara’ ketika Aqad, atau disertai kelebihan pada akhir proses tukar menukar, atau hanya salah satunya”.
Secara garis besar RIBA’ dikelompokkan menjadi dua. Yaitu RIBA’ hutang-piutang dan RIBA’ jual-beli. RIBA’ hutang-piutang terbagi lagi menjadi RIBA’ Qardh dan RIBA’ Jahiliyyah. Sedangkan RIBA’ jual-beli terbagi atas RIBA’ Fadhl dan RIBA’ Nasi’ah.
•RIBA’ Qardh: Suatu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang disyaratkan terhadap yang berhutang (muqtaridh). Contoh RIBA’ Qardh, jika si A mengajukan utang sebesar Rp 50.000.000,- kepada si B dengan batas waktu satu tahun. Sejak awal dari kedua belah pihak sudah menyepakati bahwa si A wajib mengembalikan utang ditambah bunga 15%, maka tambahan 15% tersebut merupakan RIBA’ yang dilaknat.
•RIBA’ Jahiliyyah: Utang dibayar lebih dari pokoknya, karena si peminjam tidak mampu membayar utangnya pada waktu yang ditetapkan. Hal ini juga disebut RIBA’ Duyun (utang). Contoh, jika kedua belah pihak menyepakati ketentuan apabila pihak yang berutang mengembalikan utangnya tepat waktu, maka yang berutang tidak dikenai tambahan, namun jika dia tidak mampu mengembalikan utangnya tepat waktu, maka batas waktunya diperpanjang dan dikenakan tambahan atau denda atas utangnya tersebut. Inilah yang secara khusus disebut RIBA’ Jahiliyyah, meski asalnya merupakan transaksi Qardh (utang-piutang).
•RIBA’ Fadhl: Pertukaran antarbarang sejenis dengan kadar atau takaran yang berbeda, sedangkan barang yang dipertukarkan itu termasuk dalam jenis barang RIBAWI. Yang disebut barang RIBAWI sudah ditetapkan dalam syari’at, seperti emas, perak, gandum, sya’ir (sejenis gandum), kurma dan garam.
Setiap pertukaran sejenis dari ke-enam barang RIBAWI tersebut, maka terdapat dua ketentuan yang harus dipenuhi, pertama takaran atau timbangan keduanya harus sama. Misal, tidak boleh menukar perhiasan kalung emas seberat 20 gram dengan perhiasan delang emas seberat 10 gram, sekalipun nilai seni dari perhiasan tersebut dua kali lipat lebih tinggi dari nilai kalungnya. Begitu juga tidak boleh menukar 20 kg kurma kualitas jelek dengan 10 kg kurma kualitas bagus, karena pertukaran kurma dengan kurma harus sama takarannya atau setimbang. Jika tidak, maka telah terjadi praktik RIBA’, yang merupakan RIBA’ Fadhl. Selain harus sama, pertukaran sejenis dari barang-barang RIBAWI harus dilaksanakan dengan kontan. Jika salah satu pihak tidak menyerahkan barang secara kontan, walaupun timbangan dan takarannya sama, maka hukumnya HARAM, dan praktek ini tergolong RIBA’ Nasi’ah.
•RIBA’ Nasi’ah: Penangguhan penyerahan atau penerimaan jenis barang RIBAWI yang dipertukarkan dengan jenis barang RIBAWI lainnya. RIBA’ dalam Nasi’ah muncul karena adanya perbedaan, perubahan, atau tambahan antara yang diserahkan saat ini dengan yang diserahkan kemudian.