16/10/2017
Ibadah seharusnya dipahami sebagai bentuk penyerahan, kedhaifan, dan kefakiran manusia di hadapan Allah. Tetapi ketika ibadah membuat pelakunya ujub pada dirinya sendiri dan angkuh terhadap orang lain yang tidak mengamalkannya, maka ibadah ini menjadi tercela sebagai disebutkan oleh Ibnu Athaillah pada hikmah berikut ini.
معصية أورثت ذلاً وافتقاراً خير من طاعة أورثت عزاً واستكباراً
Artinya, “ _Sebuah maksiat yang berbuah kerendahan diri dan kefakiran (di hadapan Allah) lebih baik daripada amal ibadah yang melahirkan bibit kebanggan dan keangkuhan_ .”
Hikmah ini menegaskan bahwa manusia tidak boleh jauh-jauh dari sifat kerendahan dan kefakirannya di hadapan Allah. Manusia tidak boleh memakai kebanggaan dan keangkuhan yang menjadi sifat ketuhanan. Ketaatan seseorang bukan alasan baginya untuk bersikap angkuh dan merasa suci sebagai disebut Syekh Ibnu Abbad berikut ini......
Artinya, “Kerendahan diri dan kefakiran adalah sifat kehambaan. Kebanggan dan keangkuhan bertolak belakang dengan sifat kehambaan karena dua sifat yang disebut terakhir adalah sifat ketuhanan. Tak ada kebaikan apapun pada amal ibadah yang lazim padanya sifat (bangga dan angkuh) yang bertolak belakang dengan sifat kehambaan karena sifat ketuhanan itu dapat mengugurkan dan membatalkan amal itu sendiri. Sebaliknya, (Allah) tidak peduli pada maksiat yang lazim padanya sifat kehambaan (kerendahan diri) karena sifat itu akan menghapus dan menghilangkan kadar kesalahan maksiat tersebut. Syekh Abu Madyan berkata, ‘Kerendahan diri pelaku maksiat lebih baik daripada kewibawaan orang yang beramal saleh,’” (Lihat Syekh Ibnu Abbad, Syarhul Hikam, Semarang, Maktabah Al-Munawwir, tanpa catatan tahun, juz I, halaman 72).
Syekh Ibnu Ajibah mengaitkan masalah ini dengan sabda Rasulullah SAW yang berbunyi, “ _Allah tidak memandang rupa dan amalmu, tetapi hatimu_ .” Ia dengan tegas mengingatkan bahwa jantung dari hubungan manusia dan Allah adalah adab. Manusia dituntut untuk beradab dengan baik di hadapan-Nya (husnul adab). Allah akan murka jika manusia melakukan _su’ul adab_ kepada-Nya...
Artinya, “Buat saya, maksiat yang membuahkan kerendahan diri lebih utama dibanding ketaatan ibadah yang memicu keangkuhan karena *tujuan hakiki atas amal ibadah adalah ketundukan, penyerahan, kepatuhan, ketaklukan, dan kerendahan diri* sebagai terncantum pada hadits qudsi ‘ _Aku bersama mereka yang rendah diri demi Aku_ .’ Kalau sebuah ibadah sunyi dari makna-makna kehambaan, tetapi justru melahirkan benih sifat ketuhanan, maka maksiat yang membuahkan makna kehambaan dan mendatangkan kebaikan-kebaikan lebih utama dibandingkan amal ibadah karena bentuk konkret ibadah (formalitas) atau maksiat tidak menjadi ukuran. Yang jadi patokan adalah hasil atau buah dari keduanya sebagai tercantum pada hadits Rasulullah SAW ‘ _Allah tidak memandang bentuk rupa dan amalmu. Allah hanya melihat hatimu.’_ Buah ibadah harusnya ketaklukan dan kerendahan diri. Sementara efek maksiat adalah kekerasan hati dan keangkuhan. Tetapi jika buah keduanya itu bersalahan, maka hakikat keduanya itu pun berubah di mana amal ibadah lahiriyah itu sejatinya maksiat
dan maksiat lahiriyah itu hakikatnya adalah ibadah... Syekh Abul Abbas Al-Mursi berkata, ‘Setiap su’ul adab(maksiat secara formal) yang berbuah adab tidak bisa disebut sebagai su’ul adab.’ Syekh Abul Abbas Al-Mursi juga kerap mengimbau para hamba Allah yang terperosok di jurang dosa karena kuasa-Nya untuk melihat keluasan rahmat-Nya... Mahaguru kami berkata, ‘Sebuah maksiat kepada Allah lebih baik daripada seribu amal ibadah dengan nafsu,’” (Lihat Syekh Ibnu Ajibah, Iqazhul Himam fi Syarhil Hikam, Beirut, Darul Fikr, tanpa catatan tahun, juz I, halaman 143)...
Ibadah seharusnya dipahami sebagai bentuk penyerahan, kedhaifan, dan kefakiran manusia di hadapan Allah. Tetapi ketika