Membangun komunitas yang besar

Membangun komunitas yang besar Kini telah hadir sebu informasi umum tentang Membangun komunitas Vtube sebagai Gerbang Masa Depan

03/07/2023

Ramadhan Public Lecture Masjid Kampus UGM, 7 Mei 2019

09/09/2021
08/11/2017

Tajalli itu manifestasi, perwujudan, ada juga yg mengatakan sebagai bayang bayang ilahiah

http://id.wikishia.net/view/Imam-Imam_Syiah #
26/10/2017

http://id.wikishia.net/view/Imam-Imam_Syiah #

Imam-imam Syiah (Bahasa Arab:أئمة الشيعة) adalah para pemimpin yang terdiri dari dua belas orang dan berasal dari keluarga Rasulullah Saw. Dalam pandangan Syiah, para Imam ini adalah para khalifah setelah Nabi Muhammad Saw dan pemimpin-pemimpin umat Islam. Imam Pertama adalah Imam Ali As dan para Im...

19/10/2017

SEJARAH KETURUNAN ADAM (AS)

Apakah Benar Nabi Adam as mengawinkan *putera2nya* dengan *puteri2nya*?

📚 Diriwayatkan dalam ‘Ilal asy-Syara’i dengan sanad sampai kepada Zurarah, dia berkata bahwa Abu Abdillah as (Imam Ja’far Ash-Shadiq) ditanya :

“Di kalangan kami terdapat sekelompok orang mengatakan bahwasanya Allah SWT mewahyukan Nabi Adam as agar mengawinkan anak2 perempuannya dengan anak2 lelakinya dan bahwasanya umat manusia berasal dari perkawinan antara sesama saudara?”

Imam Jafar shadiq as menjawab :

“Mahasuci Allah dan Mahatinggi Dia dari hal itu dengan ketinggian yang sebesar2nya. Siapakah yang mengatakan Allah SWT telah menjadikan pilihan makhlukNya dan bapak para NabiNya berasal dari yang haram dan apakah Dia tidak mampu untuk menciptakan mereka dari yang halal?

Demi Allah telah dikhabarkan kepadaku bahawa pernah seekor binatang tidak mengetahui saudara perempuannya, ia mengawininya lalu tersingkap bahawa binatang betina yang baru dikawininya itu ternyata adalah saudarinya, maka langsung ia mengeluarkan zakarnya, ia gigit sampai putus, lalu ia tersungkur dan mati seketika.”

Diriwayatkan dari Imam Ja'far Shadiq as :

“Setelah Allah SWT menurunkan Adam dan Hawa ke bumi dan setelah keduanya dipertemukan kembali, Hawa melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama ‘Utaq. Anak perempuan Nabi Adam as ini merupakan orang pertama yang durhaka di muka bumi, maka Allah kirim seekor serigala yang besarnya seperti seekor gajah dan seekor burung elang sebesar keledai untuk membunuh ‘Utaq.

Kemudian Hawa melahirkan seorang anak lelaki yang dinamai Qabil. Ketika ia menginjak dewasa, Allah SWT menampakkan seorang jin perempuan dari anak keturunan jin yang bernama Jihanah dalam rupa seorang manusia. Ketika Qabil melihatnya, dia langsung mencintainya, maka Allah mewahyukan kepada Nabi Adam as agar mengawinkan Jihanah dengan Qabil.

Setelah itu, Hawa melahirkan seorang anak lelaki yang bernama Habil. Ketika ia telah dewasa, Allah SWT menurunkan seorang bidadari yang bernama Nazlah al Hawra. Tatkala Habil melihatnya, dia langsung jatuh hati, lalu Allah mewahyukan Nabi Adam agar mereka berdua dikawinkan.

Kemudian Allah SWT mewahyukan Nabi Adam as untuk meletakkan pusaka kenabian dan ilmu dan menyerahkan kepada Habil. Nabi Adam as melaksanakan hal itu.

Ketika Qabil mengetahuinya, dia sangat marah dan berkata kepada ayahnya :

"Bukankah aku ini lebih tua daripada saudaraku (Habil) dan lebih berhak dengan apa yang telah kamu berikan padanya (yakni penyerahan pusaka kenabian dan ilmu)?"

Nabi Adam as menjawab :

"Wahai anakku, sesungguhnya urusan ini berada di tangan Allah dan Allah telah mengkhususkan dengan apa yang telah aku lakukan. Jika kamu tidak mempercayaiku, persembahkan qurban kepada Allah. Siapa di antara kamu yang diterima qurbannya, berarti dia lebih berhak dengan keutamaan. Pada masa itu, qurban (yang diterima Allah) adalah dengan turunnya api, lalu api melahap qurban yang dipersembahkan itu.

Qabil, seorang pemilik tanah pertanian, mempersembahkan gandum yang jelek; sedangkan Habil seorang penternak domba, mempersembahkan seekor domba jantan yang gemuk. Kemudian turun api yang memakan qurban persembahan Habil. Kemudian Iblis mendatangi Qabil lalu memasukkan rasa dengki di dalam hatinya dan menghasutnya untuk membunuh Habil. Lalu Habil dibunuh oleh Qabil, saudaranya sendiri.

Kemudian Nabi Adam as datang ke tempat terbunuhnya Habil dan menangis selama empat puluh hari sambil melaknat tanah yang telah menerima darah anaknya dan tempat tersebut adalah yang terdapat kiblat Masjid Jami’ di Bashrah. Pada hari terbunuhnya Habil, isterinya yaitu Nazlah al Hawra, sedang mengandung. Dia melahirkan seorang anak lelaki yang kemudian dinamakan Habil (seperti nama bapaknya). Setelah kematian Habil, Allah SWT mengkaruniakan Nabi Adam as seorang anak lelaki yang diberi nama Syits.”

Imam Ja'far Shadiq as meneruskan :

“Sesungguhnya Syits adalah Hibatullah (kurnia Allah). Ketika Syits dewasa, Allah SWT menurunkan kepada Nabi Adam as seorang bidadari yang bernama Na’imah dalam rupa manusia. Syits langsung mencintainya ketika dia melihat wajahnya. Kemudian Allah mewahyukan kepada Nabi Adam as agar mengawinkan Na’imah dengan Syits.

Na’imah melahirkan seorang anak perempuan yang dinamakan Huriyyah. Ketika Hurriyyah telah dewasa, Allah mewahyukan kepada Nabi Adam as agar mengawinkannya dengan Habil.
Maka semua manusia yang kamu lihat ini adalah dari keturunannya.

Ketika selesai kenabian Adam as, Allah SWT memerintahkan Nabi Adam as untuk menyerahkan ilmu dan pusaka kenabian kepada Syits, namun kali ini Nabi Adam as memerintahkan Syits untuk menyembunyikan dan bertaqiyyah kepada saudaranya agar saudaranya itu tidak membunuhnya sebagaimana Habil telah dibunuh oleh Qabil.”

(Biharul Anwar 11/226)

Semoga riwayat ini dapat menjelaskan kepada kita tentang kekeliruan yang mengatakan Nabi Adam as menikahkan puteri-puterinya dengan putera-puteranya.

Imam Jafar Ash-Shadiq as menjelaskan kepada Sulaiman bin Khalid yang bertanyakan hal itu dengan menuturkan :

“Tidak taukah engkau bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, ‘Seandainya aku tahu kalau Nabi Adam as telah menikahkan puterinya dengan puteranyanya, sudah pasti aku akan nikahkan Zainab dengan Qasim. Sebab aku tidak membenci agama Adam.’ ”

Alasan Qabil membunuh Habil kerana urusan ‘wishayah’ (kepemimpinan setelah Nabi Adam as) bukan kerena mereka berselisih tentang saudara perempuan mereka sebagaimana yang sering kita dengar.

Sesungguhnya yang benar itu datangnya dari Allah SWT.

Ibadah seharusnya dipahami sebagai bentuk penyerahan, kedhaifan, dan kefakiran manusia di hadapan Allah. Tetapi ketika i...
16/10/2017

Ibadah seharusnya dipahami sebagai bentuk penyerahan, kedhaifan, dan kefakiran manusia di hadapan Allah. Tetapi ketika ibadah membuat pelakunya ujub pada dirinya sendiri dan angkuh terhadap orang lain yang tidak mengamalkannya, maka ibadah ini menjadi tercela sebagai disebutkan oleh Ibnu Athaillah pada hikmah berikut ini.

معصية أورثت ذلاً وافتقاراً خير من طاعة أورثت عزاً واستكباراً

Artinya, “ _Sebuah maksiat yang berbuah kerendahan diri dan kefakiran (di hadapan Allah) lebih baik daripada amal ibadah yang melahirkan bibit kebanggan dan keangkuhan_ .”

Hikmah ini menegaskan bahwa manusia tidak boleh jauh-jauh dari sifat kerendahan dan kefakirannya di hadapan Allah. Manusia tidak boleh memakai kebanggaan dan keangkuhan yang menjadi sifat ketuhanan. Ketaatan seseorang bukan alasan baginya untuk bersikap angkuh dan merasa suci sebagai disebut Syekh Ibnu Abbad berikut ini......
Artinya, “Kerendahan diri dan kefakiran adalah sifat kehambaan. Kebanggan dan keangkuhan bertolak belakang dengan sifat kehambaan karena dua sifat yang disebut terakhir adalah sifat ketuhanan. Tak ada kebaikan apapun pada amal ibadah yang lazim padanya sifat (bangga dan angkuh) yang bertolak belakang dengan sifat kehambaan karena sifat ketuhanan itu dapat mengugurkan dan membatalkan amal itu sendiri. Sebaliknya, (Allah) tidak peduli pada maksiat yang lazim padanya sifat kehambaan (kerendahan diri) karena sifat itu akan menghapus dan menghilangkan kadar kesalahan maksiat tersebut. Syekh Abu Madyan berkata, ‘Kerendahan diri pelaku maksiat lebih baik daripada kewibawaan orang yang beramal saleh,’” (Lihat Syekh Ibnu Abbad, Syarhul Hikam, Semarang, Maktabah Al-Munawwir, tanpa catatan tahun, juz I, halaman 72).

Syekh Ibnu Ajibah mengaitkan masalah ini dengan sabda Rasulullah SAW yang berbunyi, “ _Allah tidak memandang rupa dan amalmu, tetapi hatimu_ .” Ia dengan tegas mengingatkan bahwa jantung dari hubungan manusia dan Allah adalah adab. Manusia dituntut untuk beradab dengan baik di hadapan-Nya (husnul adab). Allah akan murka jika manusia melakukan _su’ul adab_ kepada-Nya...

Artinya, “Buat saya, maksiat yang membuahkan kerendahan diri lebih utama dibanding ketaatan ibadah yang memicu keangkuhan karena *tujuan hakiki atas amal ibadah adalah ketundukan, penyerahan, kepatuhan, ketaklukan, dan kerendahan diri* sebagai terncantum pada hadits qudsi ‘ _Aku bersama mereka yang rendah diri demi Aku_ .’ Kalau sebuah ibadah sunyi dari makna-makna kehambaan, tetapi justru melahirkan benih sifat ketuhanan, maka maksiat yang membuahkan makna kehambaan dan mendatangkan kebaikan-kebaikan lebih utama dibandingkan amal ibadah karena bentuk konkret ibadah (formalitas) atau maksiat tidak menjadi ukuran. Yang jadi patokan adalah hasil atau buah dari keduanya sebagai tercantum pada hadits Rasulullah SAW ‘ _Allah tidak memandang bentuk rupa dan amalmu. Allah hanya melihat hatimu.’_ Buah ibadah harusnya ketaklukan dan kerendahan diri. Sementara efek maksiat adalah kekerasan hati dan keangkuhan. Tetapi jika buah keduanya itu bersalahan, maka hakikat keduanya itu pun berubah di mana amal ibadah lahiriyah itu sejatinya maksiat
dan maksiat lahiriyah itu hakikatnya adalah ibadah... Syekh Abul Abbas Al-Mursi berkata, ‘Setiap su’ul adab(maksiat secara formal) yang berbuah adab tidak bisa disebut sebagai su’ul adab.’ Syekh Abul Abbas Al-Mursi juga kerap mengimbau para hamba Allah yang terperosok di jurang dosa karena kuasa-Nya untuk melihat keluasan rahmat-Nya... Mahaguru kami berkata, ‘Sebuah maksiat kepada Allah lebih baik daripada seribu amal ibadah dengan nafsu,’” (Lihat Syekh Ibnu Ajibah, Iqazhul Himam fi Syarhil Hikam, Beirut, Darul Fikr, tanpa catatan tahun, juz I, halaman 143)...

Ibadah seharusnya dipahami sebagai bentuk penyerahan, kedhaifan, dan kefakiran manusia di hadapan Allah. Tetapi ketika

14/10/2017



Ayatollah Sayyid Ali Khomenei

Manusia yang paling lalai adalah orang yang tidak mau mengambil pelajaran dari perubahan yang terjadi di alam secara umum dan di antara manusia pada khususnya.

Ini manusia yang lalai. Karena dunia ini penuh dengan pelajaran.

وَ سَکَنتُم فی مَسَاکِنِ الَّذِینَ ظَلَمُوا أَنفُسَهُم

Bagian dari ayat 45 surat Ibrahim ini memperingatkan siapa saja yang menduduki jabatan atau kekuasaan bahwa di sini ketika Anda menjabat, sebelumnya telah ada orang lain yang mengisinya dan kini telah pergi dan Anda yang datang. Ini perubahan kondisi.

Manusia harus mengambil pelajaran dari perubahan dalam perjalanan sejarah manusia, bagaimana ada yang naik dan ada yang turun di dunia ini.

Pelajaran sendiri memiliki model dan macam. Yakni, bukan saja manusia merasa bahwa nikmat ini akan hilang, ini hanya satu bagian dari pelajaran, bila saya dan kalian hari ini memiliki nikmat, mereka yang hidup sebelum kita juga memiliki nikmat ini dan nikmat itu telah diambil dari mereka.

Demikianlah dunia. Nikmat ini mungkin akan diambil dari saya dan kalian.

Jangan membayangkannya abadi. Jangan membayangkannya sudah ditandatangani, dijamin dan pasti.

Nikmat ini harus dijaga dengan mensyukuri Allah dan melaksanakan kewajiban.

Address

Jln. Kadue No. 45 Kel. Sea
Kolaka
93513

Telephone

+6285241533118

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Membangun komunitas yang besar posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share