28/02/2026
Dulu, meja makan bukan sekadar tempat menyantap hidangan. Ia adalah ruang sakral—tempat tangan saling meraih lauk, mata saling menatap, dan cerita hari itu mengalir tanpa tergesa. Di sanalah keluarga dipersatukan, bukan hanya oleh makanan, tetapi oleh kehadiran yang utuh.
Namun zaman bergerak cepat. Kursi-kursi yang dulu terisi penuh kini sering kosong. Ada yang makan lebih dulu karena pekerjaan, ada yang terlambat karena kesibukan, ada p**a yang duduk bersama tetapi tenggelam dalam layar kecil di genggaman. Percakapan digantikan notifikasi. Tawa diganti suara video yang diputar pelan.
Meja makan perlahan kehilangan kesakralannya. Ia tetap berdiri, tetap memuat piring dan gelas, tetapi tidak lagi selalu memuat kebersamaan. Tradisi berdoa sebelum makan mulai jarang terdengar. Cerita tentang ladang, sekolah, atau pekerjaan kalah oleh kesibukan yang tak ada habisnya.
Zaman tidak salah. Perubahan adalah keniscayaan. Teknologi memberi kemudahan, mobilitas membuka peluang, dan dunia terasa lebih dekat. Namun di balik semua itu, ada yang perlahan menjauh: kehangatan tatap muka yang sederhana, jeda untuk mendengar, waktu untuk benar-benar hadir.
Kesakralan meja makan bukan hilang sepenuhnya—ia hanya terlupakan. Ia menunggu untuk dipanggil kembali. Menunggu satu keputusan sederhana: mematikan gawai sejenak, duduk bersama tanpa tergesa, dan mengingat bahwa kebersamaan adalah rezeki yang tak kalah penting dari makanan itu sendiri.
Sebab pada akhirnya, yang akan dikenang bukan hanya rasa masakan, tetapi momen ketika kita pernah duduk bersama, tertawa tanpa distraksi, dan merasa cukup hanya dengan kehadiran satu sama lain.
Azmi Habibi