17/12/2025
Saudaraku yang pernah berjalan dekat denganku,
sebelum Natal 25 Desember 2025 tiba
dan sebelum tahun ini benar-benar berlalu,
aku ingin datang dengan hati yang jujur dan tenang.
Aku ingin meminta maaf.
Untuk setiap kata yang mungkin terlalu tajam,
untuk sikap yang mungkin terasa dingin,
untuk kesalahan yang mungkin kulakukan
baik yang sengaja maupun yang tidak kusadari,
namun telah menggores perasaanmu.
Aku memohon maaf bukan karena ingin dibenarkan,
melainkan karena aku rindu
menjalani Natal tahun ini
dengan hati yang bersih,
hati yang siap menerima kembali
hadirat Tuhan Yesus yang lahir membawa damai.
Di akhir tahun ini, aku juga belajar satu hal penting:
aku akan memperjuangkan apa yang layak diperjuangkan,
hubungan yang saling menjaga,
kasih yang saling menguatkan,
dan kehadiran yang sungguh-sungguh nyata.
Namun aku juga memilih untuk meninggalkan
hal-hal yang hanya sebatas melihat,
namun tidak pernah benar-benar hadir,
yang seolah tidak terjadi apa-apa
saat hatiku berjuang sendirian.
Keputusan ini bukan karena aku membenci.
Tidak.
Aku tidak menyimpan kebencian sedikit pun.
Aku hanya belajar bahwa
kepedulian pun perlu batas,
agar hati tidak terus terluka
dan agar kasih tetap sehat.
Saudaraku,
saudara yang sesungguhnya
bukan hanya tentang ikatan darah,
tetapi tentang kehadiran dalam luka,
tentang saling menjaga dalam diam,
tentang tidak meninggalkan
saat keadaan menjadi sulit.
Jika selama ini aku pernah gagal menjadi saudara
seperti yang seharusnya,
sekali lagi,
dengan rendah hati aku berkata:
aku minta maaf.
Biarlah Natal ini menjadi titik baru,
entah untuk kembali berjalan bersama,
atau berjalan dengan damai di jalan masing-masing,
tanpa dendam, tanpa benci,
hanya dengan hati yang sudah dimerdekakan.
Refleksi🙏
Natal mengajarkan kita bahwa kasih sejati
datang dalam kerendahan hati,
mengampuni tanpa banyak kata,
dan berani melepaskan tanpa membenci.
Hati yang bersih adalah palungan terbaik
bagi Kristus untuk tinggal.