pupuk organik & makanan kesehatan

pupuk organik & makanan kesehatan Toko Pertanian MULYO TANI
Menyediakan sarana prasarana kebutuhan pertanian anda. Dyna Pharm Group

02/08/2017

Jadikanlah setengah dari hidupmu untuk menikmati jerih payahmu dengan menyenangkan.

Jadikanlah setengah dari hidupmu untuk menikmati jerih payahmu dengan menyenangkan.
13/06/2017

Jadikanlah setengah dari hidupmu untuk menikmati jerih payahmu dengan menyenangkan.

04/06/2017

Kuda semakin lincah setelah dikasih minum dan pakan menggunakan DI.Grow

DI.Grow....
OK...

26/04/2016
03/08/2014

Aplikasi Pestisida - Daftar Bahan Aktif Pestisida
Aplikasi Pestisida - Daftar Bahan Aktif Pestisida

Aplikasi Pestisida

Klik disini untuk melihat DAFTAR BAHAN AKTIF PESTISIDA
CARA KERJA PESTISIDA

Racun Kontak
Pestisida jenis ini akan bekerja dengan baik jika terkena atau kontak langsung dengan OPT sasaran. Untuk jenis insektisida, penggunaan racun kontak sangat efektif untuk mengendalikan serangga yang menetap, seperti ulat, kutu daun, dan semut. Racun ini kurang bekerja baik terhadap serangga-serangga yang mempunyai mobilitas tinggi, seperti lalat, kutu kebul, dan belalang.

Racun Pernapasan
Cara kerja racun pernapasan hanya ada pada insektisida dan akan bekerja jika terhisap melalui organ pernafasan. Waktu penyemprotan yang paling efektif adalah ketika hama sasaran sedang berada pada puncak aktifitasnya, sehingga dengan pernapasan yang semakin cepat maka semakin banyak p**a racun yang dihisap.

Racun Perut atau Racun Lambung
Racun dalam pestisida jenis ini akan bekerja jika bagian tanaman yang sudah disemprot termakan oleh hama/serangga sasaran. Beberapa rodentisida dan insektisida bekerja dengan cara ini.

Racun Sistemik
Pestisida jenis ini akan bekerja jika racun yang disemprotkan ke bagian tanaman sudah terserap masuk ke dalam jaringan tanaman baik melalui akar maupun daun sehingga dapat membunuh OPT yang berada di dalam jaringan tanaman, seperti bakteri/fungi. Pada insektisida sistemik, serangga akan mati kalau sudah memakan atau menghisap cairan tanaman yang sudah menyerap racun. Cairan atau bagian tanaman yang dimakan akan menjadi racun lambung bagi serangga. Racun sistemik sangat cocok untuk mengendalikan serangga penghisap atau serangga yang sulit dikendalikan menggunakan racun kontak.

Herbisida Purna Tumbuh dan Pra Tumbuh
Pada herbisida purna tumbuh hanya akan bekerja pada bagian tanaman yang sudah memiliki organ sempurna, seperti akar, batang, dan daun. Sedangkan herbisida pra tumbuh akan mematikan biji gulma yang belum berkecambah.

FORMULASI PESTISIDA

Water Dispersable Granule (WDG)
Bentuk butiran halus, merupakan formulasi kering yang mudah dilarutkan dalam air. Tetapi formulasi ini dalam air agak kurang stabil sehingga mudah mengendap.

Emulsifiable Concentrate (EC)
Dibentuk dengan mencampurkan bahan aktif pestisida yang hanya larut dalam minyak dengan penambahan emulsi. Dengan demikian bahan aktif yang hanya larut dalam minyak dapat larut dalam air dan membentuk cairan seperti susu. Formulasi ini sangat stabil sehingga tidak dibutuhkan pengadukan berulang-ulang.

Salt Concentrate (SC)
Dibentuk dengan menggabungkan bahan aktif dari turunan (derifatif) garam dengan air. Bersifat cepat larut dan menyebar merata dalam air.

Wettable Powder (WP)
Dibentuk dari bahan aktif dengan daya larut rendah dan mengandung bahan tambahan (filler). Bahan aktif direkatkan pada bahan tambahan dengan bahan perekat.

Granule (G)
Berbentuk butiran padat dengan ukuran bervariasi sehingga formulasi ini mudah ditebarkan. Merupakan campuran antara bahan aktif dengan butiran yang mampu mengikat ion, seperti butiran liat atau vermikulit, atau dengan cara melapisi bahan aktif dengan polimer seperti kapsul.

Ultra Low Volume (ULV)
Formulasi ini berbentuk cair dengan kandungan bahan aktif sangat tinggi. Dirancang untuk disemprotkan dengan alat khusus, yaitu ULV.

KARAKTERISTIK PESTISIDA

Efektifitas
Merupakan daya bunuh pestisida terhadap OPT. Pestisida yang baik memiliki daya bunuh yang cukup untuk mengendalikan OPT dengan dosis yang rendah sehingga memperkecil dampat buruk terhadap lingkungan.

Selektifitas
Merupakan kemampuan pestisida membunuh beberapa jenis organisme. Disarankan untuk menggunakan pestisida yang bersifat selektif atau berspektrum sempit. Dimana pestisida tersebut hanya membunuh OPT sasaran tanpa membahayakan organisme lain termasuk musuh alami OPT.

Fototoksisitas
Merupakan suatu efek samping aplikasi pestisida yang dapat menimbulkan keracunan bagi tanaman yang ditandai dengan pertumbuhan abnormal setelah aplikasi pestisida. Oleh karena itu tidak boleh menggunakan pestisida secara tidak terukur atau berlebihan.

Residu
Adalah kemampuan pestisida bertahan dalam bentuk racun setelah penyemprotan. Residu yang terlalu lama akan berbahaya bagi manusia dan lingkungan, sedangkan residu yang terlalu pendek akan mengurangi efektifitas pestisida dalam pengendalian OPT.

Persistensi
Kemampuan pestisida bertahan dalam bentuk racun di dalam tanah. Pestisida yang memiliki persistensi tinggi akan sangat berbahaya bagi lingkungan.

Resistensi
Merupakan kekebalan OPT terhadap pestisida. Pestisida yang memiliki potensi resistensi tinggi sebaiknya tidak digunakan. Untuk mencegah resistensi pada hama/penyakit terhadap salah satu jenis pestisida, sebaiknya dilakukan penggantian bahan aktif setiap kali aplikasi pestisida.

LD 50 atau Lethal Dosage 50%
Besarnya dosis yang dapat mematikan 50% dari jumlah mamalia percobaan. Pestisida yang memiliki LD 50 tinggi berarti hanya dengan dosis yang sangat tinggi pestisida tersebut dapat mematikan mamalia. Dalam penerapan PHT disarankan untuk memilih pestisida dengan LD 50 yang tinggi.

Kompatibilitas
Adalah kesesusaian antara satu jenis pestisida untuk dicampur dengan pestisida lain tanpa menimbulkan dampak negatif dari pencampuran itu.

PERJALANAN PESTISIDA SETELAH PENYEMPROTAN

Setelah melakukan penyemprotan, maka pestisida akan terkena pengaruh lingkungan. Dengan mengetahui pengaruh yang akan terjadi setelah pestisida disemprotkan, maka akan sangat membantu untuk membuat program penyemprotan sehingga pemakaian pestisida bisa mengikuti prinsip 4 tepat.

Setelah penyemprotan, kemungkinan pertama yang akan terjadi adalah tiupan angin terhadap kabut semprot, sehingga pestisida akan jatuh di tempat yang tidak diharapkan. Walaupun kabut semprot dapat mengenai sasaran, tetapi sebarannya sudah tidak merata, atau terlalu banyak kabut semprot yang terbuang, sehingga terjadi pemborosan pestisida. Kalau hal ini terjadi pada herbisida, maka tanaman utama akan beresiko terkena kabut semprot. Oleh karena itu disarankan penyemprotan tidak dilakukan saat angin bertiup kencang. Kemungkinan lain yang akan terjadi adalah :

· Run off, sebagian kabut semprot yang membasahi daun akan mengalir dan jatuh ke tanah, tetesan pestisida yang jatuh ke tanah ini berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan.
· Penguapan, sebaiknya penyemprotan tidak dilakukan saat matahari terik.
· Fotodekomposisi, penguraian pestisida menjadi bentuk yang tidak aktif karena pengaruh cahaya, sehingga efektifitas pestisida berkurang.
· Penyerapan oleh partikel tanah, menyebabkan tertimbunnya sisa pestisida di dalam tanah sehingga menyebabkan pencemaran tanah. Selain itu penyerapan oleh tanah juga akan menurunkan efektifitas pestisida yang memang ditujukan untuk mengendalikan OPT yang terdapat di dalam tanah.
· Pencucian pestisida oleh air hujan dan terbawa ke dalam lapisan tanah bagian bawah sehingga mencemari sumber air tanah.
· Reaksi kimia, yaitu perubahan molekul pestisida menjadi bentuk yang tidak aktif atau tidak beracun.
· Perombakan oleh mikroorganisme, bahan pembentuk pestisida setelah jatuh ke tanah akan menjadi bagian tubuh mikroorganisme.

PETUNJUK PENCAMPURAN PESTISIDA
· Jangan mencampur pestisida di tempat tertutup, lakukan pencampuran di tempat terbuka.
· Jangan menyimpan campuran pestisida, pencampuran pestisida dengan air hanya dilakukan saat penyemprotan.
· Gunakan air bersih dan tidak mengandung kotoran yang dapat menyumbat nozel.
· Masukkan air terlebih dahulu ke dalam tangki, baru pestisida dimasukkan dan diaduk.
· Jangan menggunakan pestisida yang terlalu lama disimpan dan sudah mengalami perubahan fisik, seperti terbentuknya garam di sekitar tutup botol atau terjadi perubahan warna.
· Jangan melakukan pencampuran pestisida yang satu dengan yang lain jika belum yakin bahwa kedua jenis pestisida tersebut dapat dicampur. Lakukan pengetesan, jika setelah pencampuran dua jenis pestisida terbentuk endapan, atau terbentuk lapisan yang tidak menyatu, seperti minyak dengan air, atau seperti santan pecah, maka kedua jenis pestisida tersebut tidak kompatible untuk dicampur.
· Jangan mencampur 2 pestisida atau lebih yang mempunyai cara kerja sama, sebagai contoh: Racun pernafasan dengan racun pernafasan, kontak dengan kontak atau sistemik dengan sistemik.
· Jangan mencampur 2 pestisida atau lebih dalam satu golongan, sebagai contoh: piretroid dengan piretroid atau karbamat dengan karbamat.
· Buatlah campuran pestisida sesuai perhitungan luas areal yang akan disemprot.
· Jangan meningkatkan dosis atau konsentrasi lebih tinggi dari kisaran yang tertera pada label. Jika pada dosis atau konsentrasi tertinggi sesuai yang tercantum pada kemasan suatu pestisida tidak lagi efektif mengendalikan OPT sasaran, maka disarankan untuk mengganti dengan bahan aktif yang berbeda.

PENGGUNAAN SURFAKTAN ATAU LEM

Penggunaan surfaktan sangat diperlukan dalam aplikasi pestisida. Permukaan daun yang memiliki lapisan lilin atau bulu-bulu halus menyebabkan kabut semprot tidak dapat melapisi secara sempurna. Oleh karena itu pemakaian surfaktan sangat disarankan pada budidaya yang berorientasi keuntungan. Surfaktan berfungsi untuk menurunkan tegangan permukaan air, sehingga kabut semprot yang jatuh di atas permukaan daun tidak membentuk butiran, tetapi menyebar ke seluruh permukaan daun. Selain itu surfaktan juga berfungsi sebagai perekat.
Sumber : Fb Pengusaha Jeruk dan Hasil Bumi

DI.Grow OKE....!!!!
30/06/2014

DI.Grow OKE....!!!!

28/11/2013

SOSIALISASI BENIH BERSUBSIDI DI JOMBANG
Selasa, 27 Agustus 2013 12:36

Pada wilayah yang memiliki potensi pertanian seperti di Kabupaten Jombang, sarana produksi pertanian menjadi sangat penting untuk dicukupi. Mulai dari Benih, Pupuk, Pengairan, tenaga kerja hingga sarana pengendalian hama penyakit menjadi penting untuk dicukupi baik secara kualitas, kuantitas maupun waktu ketersediaannya. Petani sebagai pengguna tentunya mengharapkan kualitas sarana produksi pertanian yang diperoleh memiliki kualitas yang bagus, tersedia tepat waktu dengan jumlah yang cukup p**a.

Menurut Ir. Much. Rony, MMA selaku Kabid Produksi, Sarana produksi yang sangat penting untuk diperhatikan saat ini adalah benih. Selain memiliki rentang waktu masa berlaku yang relative singkat, ketersediaan dan kualitasnyapun terkadang kurang memenuhi harapan petani. Untuk itu, pemerintah akan mengalihkan bantuan benih yang biasanya diberikan pada petani secara langsung menjadi subsidi benih berkualitas. Ada dua tujuan yang diharapkan dalam subsidi ini antara lain menyediakan benih varietas unggul bersertifikat padi (inbrida dan hibrida), jagung (komposit dan hibrida) serta kedelai dan membantu petani agar dapat membeli benih dengan harga terjangkau.

Pemerintah Kab. Jombang melalui Dinas Pertanian telah melakukan sosialisasi tentang subsidi benih sejak aturan ini diterbitkan hingga diterapkan pemerintah dalam waktu dekat ini. Petani/kelompok tani pembeli benih padi (inbrida dan hibrida), jagung (komposit dan hibrida) dan kedelai bersubsidi yaitu petani/kelompok tani pelaksana SLPTT dan/atau di luar SLPTT yang tidak mendapatkan benih dari sumber pendanaan lainnya dari pemerintah, kecuali bantuan bencana.

Petani/kelompok tani pembeli benih bersubsidi untuk pertanaman di luar SLPTT, untuk benih padi inbrida diutamakan pada daerah yang masih mempunyai potensi dapat ditingkatkan produktivitasnya. Sedangkan untuk benih padi hibrida diutamakan pada daerah yang mempunyai potensi keberhasilan dalam pertanaman padi hibrida. Benih jagung hibrida diutamakan untuk daerah yang belum terbiasa menanam jagung hibrida atau daerah pengembangan baru.

Sedangkan benih jagung komposit diutamakan pada daerah yang mempunyai potensi untuk pengembangan tanaman jagung komposit dan mempunyai potensi yang masih dapat ditingkatkan produktivitasnya. Untuk benih kedelai diutamakan pada daerah yang masih mempunyai potensi untuk ditingkatkan produktivitasnya.

Prosedur Penetapan Petani/Kelompok Tani Pembeli Benih Bersubsidi ditentukan melalui Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dengan melakukan sosialisasi subsidi benih kepada Dinas Pertanian Provinsi dan Produsen Benih pelaksana PSO subsidi benih. Selanjutnya, Dinas Pertanian Provinsi melakukan sosialisasi kepada Dinas Pertanian Kabupaten/Kota dan unsur terkait di wilayahnya dan Dinas Pertanian Kabupaten/ Kota melakukan sosialisasi dengan unit kerja, stake holder dan petugas lapangan terkait di wilayahnya. Proses ini dilanjutkan dengan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten/Kota dapat menugaskan kepada petugas pertanian lapangan, seperti Kepala Cabang Dinas (KCD) Kepala Pertanian Kecamatan (KPK), Mantri Tani atau Petugas Pertanian Lainnya untuk mengetahui dan menandatangani usulan oleh kelompok tani.

Selanjutnya, Kelompok tani menyusun usulan, ditandatangani oleh ketua/pengurus kelompok tani dan diketahui oleh petugas pertanian lapangan. Usulan dalam bentuk DU-PBB yang merupakan turunan dari daftar CPCL (Calon Petani Calon Lokasi) yang telah ditetapkan, baik untuk pelaksanaan SLPTT maupun di luar SLPTT.

Proses ini dilanjutkan oleh Petugas pertanian lapangan untuk menyampaikan DU-PBB tersebut kepada Kepala Dinas Pertanian Kabupaten/Kota dan selanjutnya dilakukan rekapitulasi di tingkat Kabupaten/Kota yang ditandatangani oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten/Kota. Selanjutnya pembayaran akan dilakukan langsung pada pihak penyedia benih (PSO).

(Rudi Priono, SP - Unit TI Dinas Pertanian Kab. Jombang)

17/10/2013

Pengendalian Penyakit TAURA SYNDROME VIRUS (TSV) pada Budidaya Udang Vaname (Litopenaeus vannamei)
Pengendalian Penyakit TAURA SYNDROME VIRUS (TSV) pada Budidaya Udang Vaname (Litopenaeus vannamei

TSV mempakan virus yang menginfeksi udang vaname dan rostris (L. stylirostris) yang keduanya telah diintroduksi di Indanesia. Serangan TSV pada umumnya terjadi pada umur 14-40 hari setelah penebaran di tambak, dengan tingkat kematian dapat mencapai 95%. Apabila penyakit terjadi pada umur 30 hari pertama, berarti infeksi berasal dari induk (vertikal), jika lebih dari 60 hari berarti infeksi berasal dari lingkungan (horisontal).

Udang vaname dewasa dapat terinfeksi TSV, namun tingkat kematiannya relatif rendah. Infeksi TSV ada 2 (dua) fase, yaitu fase akut dan kronis. Pada fase akut akan terjadi kematian massal. Udang yang bertahan hidup dari serangan penyakit TSV, akan mengalami fase kronis. Pada fase kronis, udang mampu hidup dari tumbuh relatif normal, namun udang tersebut merupakan pembawa (carrier) TSV yang dapat ditularkan ke udang lain yang sehat.

Beberapa gejala berikut ini dapat digunakan sebagai indikator kemungkinan adanya infeksi TSV, antara lain:

• Pada infeksi berat (akut) sering mengakibatkan kematian massal, udang yang mengalami kematim didominasi oleh udang yang sedang/baru selesai proses pergantian kulit (moulting), saluran pencemaan kosong dan warna tubuh kemerahan. Warna merah yang lebih tegas dapat dilihat pada ekor kipas (telson)
• Udang yang selamat dari fase akut, umurnnya mampu hidup dan tumbuh normal dengan tanda bercak hitam (melanisasi) yang tidak beraturan di bawah lapisan kutikula

TEKNIK PENGENDALIAN
Langkah utama pengendalian penyakit TSV harus dimulai dari upaya mencegah masuknya patogen ke dalam sistem budidaya udang melalui regulasi dan teknis yang terintegrasi dan berkesinambungan. Masuknya patogen ini dapat berasal dari induk, benur, air, carrier, pakan, pelaku budidaya, dan seluruh komponen produksi udang.
Rekomendasi strategi pengendalian penyakit TSV adalah memadukan antara aspek teknis dan regulasi secara sinergis yang disepakati oleh seluruh komponen (asosiasi), dilengkapi dengan prosedur operasional baku (Standard Operational Procedure, SOP), disosialisasikan secara rutin, dikawal oleh pemerintah dan dilakukan secara bersama-sama.

Pemahaman yang sama oleh seluruh komponen bahwa penyakit tersebut sangat berbahaya karena masuknya satu virion TSV ke dalam unit budidaya akan menjadi ancaman serius bagi keberhasilan budidaya. Strategi pengendalian penyakit TSV harus didasarkan pada upaya mencegah masuknya virus tersebut melalui berbagai jalur (konsep biosecurity).

Skrining Induk
Induk udang mempakan sumber potensial penularan penyakit TSV. Oleh karena itu, setiap individu induk udang harus bebas dari TSV. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka skrining harus dilakukan dengan metoda standar (c.q. PCR) secara periodik sebelum induk dipijahkan.

Untuk mencegah penyebaran TSV, benur harus diskrining sebelum ditebar meskipun berasal dari induk bebas TSV Oleh karena itu, skrining sebaiknya dilakukan 2-3 hari sebelum benur tersebut ditebar melalui dua tahap :
• Ambil 1-2% dan total pop**asi benur yang berasal dari satu bak/wadah, kemudian lakukan “uji keprimaan” benur secara perendaman dalam larutan formalin 200 ppm atau air tawar bersalinitas 0-5 promil selama 30 menit.
• Benur yang terlihat lemah pads “uji keprimaan”, diambil sebanyak 150 ekor untuk selanjutnya dilakukan diagnosa dengan teknik PCR.
Bila hasil diagnosa tahap 2 diperoleh hasil positif, maka pop**asi benur tersebut harus dimusnahkan.

Eradikasi TSV di Air pada Wadah Budidaya
Virion TSV masih infektif pada udang mati (karkas) sekitar 21 hari. Karkas akan melepaskan jutaan virion ke lingkungan perairan dan bertahan sampai dengan 4 (empat) hari. Oleh karena itu, air budidaya perlu didesinfeksi dengan menggunakan klorin (30 ppm) dan dibiarkan selama 7 (tujuh) hari.

Media Pembawa TSV
Media pembawa TSV (carrier dan vector) antara lain udang vaname yang mengalami infeksi kronis, biota akuatik, hewan dan tumbuhan lain yang membawa TSV harus dimusnahkan.
Peralatan dan personal, dapat membawa dan menyebarkan TSV sehingga harus dilakukan desinfeksi.

Pengelolaan Kesehatan Lingkungan Budidaya
A. Lokasi
Lokasi pertambakan yang baik sangat mendukung kehidupan udang budidaya sehingga mampu bertahan terhadap infeksi patogen. Persyaratan lokasi yang baik antara lain bebas dari cemaran karena akan berakibat pada rendahnya kualitas air. Tarnbak yang sudah terlanjur dibangun di area tercemar harus dilengkapi dengan fasilitas perbaikan kualitas air.

B. Disain dan Konstruksi
Disain dan konstmksi tambak dibuat untuk memberikan lingkungan yang baik bagi kehidupan udang dan mampu mencegah masuknya patogen dari luar serta mudah dilakukan pengendalian penyakit. Disamping petakan budidaya juga harus disiapkan petakan tandon sebagai sumber air laut bebas virus. Petakan tandon juga dilengkapi dengan petak pengendapan.

C. Kawasan Budidaya Bebas Penyakit
Keberhasilan produksi dalam satu kawasan pertambakan ditemukan oleh kesadaran, disiplin, dan kerjasama par petambak. Penerapan cara berbudidaya yang benar yang dilakukan oleh sebagian petambak pada kawasan budidaya belum menjamin keberhasilan produksi secara berkelanjutan.

D. Sistem Budidaya
Sistem pertambakan yang baik untuk pengendalian penyakit TSV adalah sistem semi tertutup (semi closed system) dan tertutup (closed system), sehingga disain dan konstruksi harus disesuaikan. Tambak yang ideal terdiri dari petakan pemeliharaan dan petakan tandon, serta dilengkapi dengan saluran inlet dan outlet yang terpisah. Hal ini perlu dilakukan untuk menjaga sistem pertambakan dari kemungkinan masuknya patogen dari luar dan keluamya patogen dari dalam ke luar sistem.
Cara lain untuk menghindari resiko infeksi virus dapat dilakukan dengan pergiliran pola tanam atau mengistirahtkan tambak untuk jangka waktu tertentu.

E. Pengelolaan Kualitas Air
Pasokan air dapat dimasukkan ke dalam tandon menggunakam p***a atau tenaga pasang surut. Air yang akan digunakan untuk budidaya udang harus bebas dari virus. Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain:
• Gunakan saringan halus berlapis pada setiap pipa/pintu pasok air untuk mencegah masuknya karier ke dalam petak tandon.
• Gunakan petak tandon (reservoir) sebagai sumber pasokan air budidaya.
• Air di petak tandon dapat didesinfeksi, biofiltrasi, dan bioremidiasi.
• Air di petak tandon setelah dilakukan proses : point (1) sampai (3) dibiarkan selama 4 (empat) hari baru dapat digunakan di petak budidaya.

Pengelolaan Pakan
Pakan yang diberikan (segar dan alami) harus bebas dari TSV. Pakan segar dapat dibebaskan dari TSV melalui pemasakan terlebih dahulu. Sedangkan untuk pakan alami harus diskrining terlebih dahulu, jika mengandung TSV harus dimusnahkan.
Penambahan pakan suplemen (feed additive) seperti vitamin, immumostimulan, mineral, HUFA, Carotenoid, astaxanthin dapat dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan daya tahan tubuh udang yang dibudidaya. Vitamin C dapat diberikan dengan dosis 3 gram per kg pakan. Betaglucan dapat diberikan 0,1 g per kg pakan, sedangkan fucoidan dengan dosis 60-100 mg per kg berat udang per hari.

Monitoring Kesehatan Udang
Pemantauan kesehatan udang harus dilakukan secara periodik bersamaan dengan saat pemberian pakan dengan cara mengamati kondisi udang. Apabila terjadi kondisi abnormal perlu pengamatan lebih rinci. Abnormalitas udang merupakan peringatan dini (early warning) bagi pengelola akan adanya bahaya penyakit.

Keberadaan burung yang aktif memangsa udang di pematang tambak juga merupakan salah satu indikator awal keadaan udang sakit.
Pengecekan TSV harus dilakukan dengan PCR pada 25 (dua puluh lima) hari pertama setelah penebaran, selanjutnya secara berkala setiap 30 (tiga puluh) hari sampai panen.

Tindakan Darurat
Beberapa tindakan harus dilakukan segera apabila terjadi tanda-tanda wabah dengan cara sebagai berikut:
• Menutup aliran air masuk maupun keluar (isolasi).
• Melaporkan sesegera mungkin ke petugas dinas perikanan atau instansi terkait setempat/terdekat.
• Memperbaiki kualitas air dengan penambahan aerasi.
• Memberi pakan yang mengandung imunostimulan atau vitamin C dosis tinggi.
• Menyebarluaskan informasi kejadian wabah ke petani atau kelompok tani lainnya.
• Apabila tidak dapat dikendalikan, petak tambak segera didesinfeksi, dibiarkan selama 1 minggu, selanjutnya dikeringkan minimal selama 1minggu. Bangkai udang segera diangkat dan dimusnahkan dengan dibakar.
• Tidak menggunakan air, peralatan dan sarana lain yang berasal dan lokasi wabah.
• Membatasi lalu lintas orang dari dan ke lokasi wabah dalam rangka mengisolasi daerah wabah.

Semoga tulisan diatas bermanfaat bagi kita semua... Thx

Address

Lamongan
62275

Telephone

+6282233115110

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when pupuk organik & makanan kesehatan posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to pupuk organik & makanan kesehatan:

Share