10/02/2017
Saya yakin Anda pasti pernah mendengar nama Jalur Sutera, atau membacanya di buku sejarah saat sekolah dulu.
Jalur Sutera merupakan nama yang diberikan oleh seorang berkebangsaan Jerman bernama Ferdinand von Richtofen untuk jalur perdagangan darat yang menghubungkan daratan Asia dengan Eropa pada abad ke-3 sebelum masehi.
Pemberian nama Jalur Sutera merujuk pada komoditi yang diperjual belikan di sepanjang jalan penghubung tersebut.
Jalur Sutera menjadi jalur utama dalam pengembangan kebudayaan Asia Selatan, China, Timur Tengah, dan Eropa.
Selain itu juga adanya pertukaran ilmu pengetahuan, Cina mulai mengenal matematika dan tambahan ilmu – ilmu pengobatan bangsa barat sedangkan bangsa barat mempelajari teknik pembuatan kertas serta penggunaan bubuk mesiu dari Cina. Jalur Sutera ini sangat rawan akan perampok dan penyamun.
Jalur Sutera terbagi menjadi dua jalur yaitu jalur utara dan selatan. Jalur utara melewati Bulgar-Kypchak ke Eropa timur dan semenanjung Crimea dan kemudian menuju laut hitam, laut Marmara, serta Balkan ke Venezia. Sedangkan jalur selatan melewati Turkestan - Khorasan menuju Mesopotamia dan Anatolia dilanjutkan ke Anlokla di selatan Anatolia untuk selanjutnya ke Laut Tengah atau melalui Levant ke Mesir dan Afrika Utara.
Komoditi di jalur sutra sendiri selain sutera adalah emas, rempah – rempah, gading, barang – barang kerajinan dari Cina serta dari Timur Tengah. Jalur sutera ini menghubungkan daratan Asia dan Eropa serta menyebarkan barang yang pada saat itu sangat penting dan bahkan merubah sejarah dunia yaitu rempah – rempah. Rempah – rempah yang pada saat itu di produksi oleh India menjadi komoditi penting bagi bangsa eropa, karena rempah – rempah menjadi sumber penghangat tubuh di saat musim dingin bagi bangsa Eropa.
Jalur sutra menjadi penghubung komoditi rempah – rempah dari daratan asia ke Eropa tepatnya di pasar terbesar yaitu Konstantinopel. Keberadaan jalur sutra di latar belakangi adanya saling ketergantungan antara bangsa di daratan Asia dan Eropa. Ketergantungan itulah yang menjadi awal penghubung dunia dan awal dari berkembangnya kebudayaan Eropa dan Asia. Cina memiliki komoditi sutera serta gerabah yang dibutuhkan oleh India, Timur Tengah serta Eropa, sedangkan orang Eropa membutuhkan rempah – rempah dari India. Hal inilah yang menyebabkan Eropa sangat ketergantungan dengan India. Sedangkan Timur Tengah menjadi penghubung sekaligus tempat singgah bagi negara – negara tersebut.
Pada abad ke 15 Konstantinopel ---- saat ini bernama Istanbul, Turki ---- sebagai ibukota kekaisaran Romawi timur sekaligus “pasar” bagi negara – negara di Eropa ditaklukkan oleh Turki Utsmani di bawah Muhammad Al-Fatih.
Ketika penaklukkan tersebut kegiatan jual beli rempah – rempah di matikan dan singkat kata orang Eropa terisolasi oleh perdagangan Eropa. Dan inilah awal dari penjelajahan bangsa Eropa ke Asia untuk mencari sumber rempah – rempah dan awal penjajahan bangsa barat ke asia dan merubah sejarah dari perdagangan darat ke perdagangan laut.
Dari sejarah Jalur Sutera ini ada catatan sejarah menarik untuk kita cermati, terutama dalam kontekstasi zaman ini. Catatan sejarah dimaksud adalah soal kelihaian para saudagar/ pedagang yang beroperasi di Jalur perdagangan internasional ini.
Sebagaimana diketahui di Jalur Sutera ini sepanjang sejarahnya terjadi perebutan dominasi dan akses oleh berbagai dinasti yang ada sepanjang jalur perdagangan bebas zaman itu.
Yang paling lihai mensiasati dinamika politik sepanjang Jalur Sutera itu adalah para saudagar. Untuk keamanan perdagangannya, para saudagar di sepanjang jalur ini senantiasa membangun koneksi dan relasi dengan berbagai penguasa yang ada. Mereka melakukan "gerakan bawah tanah" atau gerakan senyap dalam membangun pertemanan dengan berbagai kekuatanolitik yang ada.
Alhasil, setiap berganti masa, siapapun rezim politik yang yang berkuasa di Jalur Sutera, para saudagar selalu dalam posisi aman dan memiliki akses politik. Karena apapun alasannya, berdagang itu sejak zaman dahulu sangat membutuhkan akses kekuasaan.
Nah, kalau dewasanya ini , di musim Pilkada, Anda melihat ada Saudagar yang menebar jaring kemana mana, membangun koneksi dan relasi ke berbagai kandidat, maka itu merupakan strategi Suadagar di setiap zaman dalam rangka mengamankan posisinya bila terjadi perubahan rezim. Tidak hanya di zaman Jalur Sutera, dewasa ini juga begitu.
Terkait dengan gaya saudagar di kala Pilkada, pada Pilkada beberapa waktu lalu di sebuah Kab/kota di Aceh ada cerita yang menggelikan.
Seorang pedagang terkenal di BANDA Aceh, menjumpai dua kandidat Kepala Daerah yang diyakininya berpotensi menang. Kepada kedua calon kepala daerah itu dia janjikan bantuan. Dia sangat yakin komitmennya kepada salah satu calon itu tidak akan diketahui oleh calon yang satu lagi.
Maka diapun memesan kaos bergambar kandidat kesebuat toko di Medan. Alat peraga kampanye itu dipesannya sekaligus untuk kedua calon kepala daerah itu.
Musibah pun kemudian terjadi. Petugas ekspedisi yang mengantar kaos itu tertukar paket ketika menyerahkannya. Kaos untuk calon A di kasih untuk calon B, sedangkan kaos Calon B di Kasih untuk Calon A. Akhirnya, kedua calon itu marah dan tidak lagi percaya kepada saudagar ini.
Mungkin kasus ini hanya sebuah sial untuk Sang Saudagar, karena di era Jalur Sutera juga tidak semua saudagar berhasil membangun koneksi dengan pengusaha.
Apapun, yang namanya Saudagarar, baik zaman Jalur Sutera maupun hari ini, rumusnya tetap sama: PADUM BATA, PADUM BATEE. [].
Penulis: Usamah Elmadny
SepakatBlog | Situs Berbagi Informasi dan Trik Menarik