18/11/2023
Terdampar Di Dunia Kepelatihan
Oleh: Masmulyadi (Direktur Prakarsa Cipta)
Permasalahan yang kerap kali dihinggapi oleh seorang trainer - terutama trainer pemula - so pasti soal bagaimana mengelola mental. Tampil dihadapan publik tentulah bukan persoalan yang mudah bagi sebagian orang. Tapi persoalan-persoalan tersebut (misalnya takut, canggung, nervous, dan tidak percaya diri atau terkait substansi; materi) sesungguhnya bisa dengan mudah beradaptasi kalau sudah dibiasakan.
Soal-soal itu yang dihadapi oleh Coach Deddy Hermania Iskandar yang ia ceritakan dalam bukunya, Dari Pemalu Menjadi Trainer; Tips Menjadi Trainer yang Atraktif, Inspiratif dan Menghibur (PT. Elex Media Komputindo, Jakarta: 2018).
Saya beli buku ini sudah cukup lama, awal Juli 2018 saat purna tugas sebagai Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kep**auan Selayar. Niatannya sederhana, saya mau menghidupkan kembali aktivitas yang sejak lama pernah saya tekuni; dunia fasilitator. Ya, dunia yang saya tekuni dengan semangat. Dan betul-betul serius.
Apa yang dialami pak Deddy, persis saya pernah rasakan. Saat itu tahun 1998, saya masih sekolah di SMA Negeri I Selayar. Mengutarakan pendapat saat diskusi kelas pada mata pelajaran PPKN saja canggungnya luar biasa. Itu sebabnya, Ibu Haerani, guru yang mengajar saya soal-soal kewarganegaraan menggar saya dengan nilai 6 (enam). Nilai yang buruk bukan? Hampir tidak lulus.
Sejak saat itu saya ingin keluar dari persoalan yang saya hadapi. Saya tanyalah jago-jago diskusi dikelas kami.
"Saya aktif Pramuka" jawab teman saya.
"Saya aktif di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM)" jelas kawan lainnya.
Singkat cerita, saya akhirnya mencari rekruitmen anggota IPM. Hal itu saya lakukan untuk mengejar ketertinggalan saya. Secara sadar saya datang ke pelatihan kader IPM, ketika itu namanya Training Center Taruna Melati (TC TM) I. Dari situ saya mulai paham bagaimana bersidang, bagaimana memimpin group, manajemen organisasi, latihan kuliah tujuh menit (Kultum) didepan peserta, historitas Islam, gerakan Persyarikatan Muhammadiyah dan ke-Indonesia-an.
Seluruh training penjenjangan formal saya ikuti, termasuk pelatihan instruktur I (sistem perkaderan lama) dan Pelatihan Fasilitator dan Pendampingan (PFP) II (setelah sistem perkaderan berubah). Dari situ saya mengalami pembiasaan. Itu p**a yang menjadi modal saya dalam sejumlah aktivitas saya dikemudian hari.
Kembali ke karya Pak Deddy, buku ini sangat teknis. Sangat tepat bagi mereka yang ingin memulai karir sebagai trainer/coach. Saya membaginya kedalam tiga bagian yaitu persiapan training, pelaksanaan training (delivery) dan prospek bisnis training.
Pertama, persiapan training memang jadi hal yang sangat krusial ketika seorang menggeluti dunia kepelatihan. Pak Deddy bicara tentang slide presentasi secara cukup panjang. Juga tentang persiapan modul. Kedua aspek itu ia jelaskan dengan cukup baik. Tapi ada satu hal yang menurut saya penting dalam sebuah pelatihan yaitu bagaimana membuat training need analysis. Ini kunci yang penting, terkait dengan ekspektasi, harapan dan sebagainya dari perserta training. Ada disinggung sedikit. Padahal inilah yang pokok dari sebuah pelatihan. Kebutuhan pelatihanlah yang memandu kita merancang alur proses dan modul.
Kedua, pelaksanaan training (bab III dan IV). Dibagian ini, Pak Deddy cukup kaya dan runtut dalam menjelaskan pelaksanaan suatu pelatihan beserta tips-tips ketika sedang berada di kelas dan menghadapi dinamika kelompok. Termasuk bagaimana memimpin diskusi, penugasan dan presentasi peserta.
Ketiga, bisnis pelatihan. Saya kira ini hal yang menarik, dan sekaligus jadi peluang bagi mereka yang ingin serius menekuni bisnis ini. Ada banyak peluang yang tersedia untuk menekuni dunia bisnis kepelatihan. Disini anda bisa berkeliling ke berbagai kota di Indonesia tanpa harus keluar duit. Karena anda datang ke suatu pelatihan dan dibayar. Saya teringat ketika pertama kali jadi konsultan muda di Yogyakarta pada 2007 yang lalu. Saya melakukan perjalanan - 2 hari 3 malam - ke Soroako dari Jogja untuk mentraining warga sekitar PT Inco. Pulang-p**ang dapat sangu (bayaran) yang dalam ukuran mahasiswa, saat itu cukup besar.
Saat ini bisnis kepelatihan sangat berkembang, apalagi ketika pandemi covid. Penyedia platfrom pelatihan berbasis digital cukup digemari oleh khalayak. Itu sebabnya perusahaan seperti ruang guru, kelas, kelas pintar dan lainnya memperoleh benafit yang cukup besar. Banyak star up yang masuk ke sektor ini.
Dibisnis kepelatihan Anda hanya perlu keahlian dan tentu pengalaman. Modalnya kecil sekali. Hanya desain pamflet dan sebar ke group-group. Tapi mulailah dari yang kecil-kecil untuk membangun reputasi. Dari kecil perlahan jadi menengah dan besar.
Saya termasuk orang yang dipengaruhi oleh filsafat Freire-an dalam pendidikan. Karenanya, istilah trainer itu tidak pas dalam pengalaman saya. Trainer bermakna lebih jago, lebih pintar dan dalam taraf tertentu subordinat dari peserta training. Itu sebabnya saya lebih senang menggunakan istilah fasilitator. Mengapa? Karena bagi saya itu lebih egaliter, emansipatoris dan mencerminkan semangat tumbuh dan belajar bersama.
Karena itu, fasilitator bisa masuk pada banyak tema training tanpa harus dibebani dengan aspek substansi yang praktis. Perannya adalah how to facilitating process? Jadi ya begitulah.
Terlepas kita setuju atau tidak dengan perkembangan pelatihan yang cukup komersial. Buku ini menawarkan kepada Anda hal-hal yang sangat praktis dalam pelatihan, seperti juga anak judulnya.
Akhirnya, apabila Anda memang mau menekuni dunia kepelatihan, saya sarankan membaca buku ini.
Makassar, selepas tarwih 13/04/2022