14/09/2020
Meraih Partisipasi Suara Elektoral dalam Network Society
Kita harus betul-betul menyadari, bahwa sejak kehadiran internet dan teknologi komunikasi telah membawa dampak yang begitu besar dalam seluruh lini kehidupan kita. Gagal paham dengan kondisi sosial yang berkembang dimasyarakat digital akan membuat kita tertinggal, termasuk dalam aksi-aksi partisipasi politik.
Digital Branding, Upaya Mobilisasi Suara Electoral
Kenyataan hari ini, network society telah menyentuh seluruh aspek kehidupan, termasuk politik. Mobilisasi massa tak jarang dipicu dari social media. Partisipasi politik dalam politik electoral pun demikian.
Dalam perspektif branding, aplikasi dan media digital lainnya adalah media untuk melakukan Brand Communication. Tentu sebelum itu ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan.
Pertama, "message atau pesan" menjadi sangat penting untuk menarik perhatian maupun membangun interaksi dengan publik. Sehingga narasi menjadi salah satu faktor penting dalam aksi politik. Network society memisahkan orang scara fisik tetapi tetap terkoneksi. Seseorang bisa saja tidak mengenal tokoh politik tertentu, atau tidak berafiliasi kepada salah satu partai politik, tetapi karena prefrensi dan minat terhadap narasi yang sama, maka orang tersebut akan ikut berpartisipasi.
"Message" dalam bentuk narasi politik yang baik, selanjutnya dikomunikasikan dengan baik akan membentuk persepsi publik yang baik. Maka dari itu aspek yang kedua adalah, connected and creativity.
Setiap orang diberi kemudahan akses terhadap media untuk terkoneksi, berinteraksi, dan berkomunikasi. Pada tataran ini tools teknologi digital sangat berperan. Menurut Rhenald Kasali yang dilansir di kompas.com mobilisasi dan orkestrasi merupakan bagian dari interconnected society yang timbul karena ada enam pilar teknologi, yaitu Internet of Things (IoT), Cloud Computing, Big Data Analytics, Artificial Intelligence, Super Apps, dan Broadband Infrastructure.
Pada aspek ini juga tim kreatif menjadi penting untuk menghadirkan konten-konten yang kreatif sesuai target audiens dan juga memiliki potensi viral. Kekuatan baru konten saat ini karena keterlibatan setiap orang untuk terlibat dalam membangikan bahkan mengkreasikan ulang konten begitu terbuka.
Aspek yang ketiga adalah, membangun trust. Brand is a simply trust, kata Steve Jobs. Aspek ini mengharuskan adanya story atau cerita “Brand”. Tentu seorang tokoh yang punya cerita sukses akan lebih mudah untuk mendapatkan loyalitas dibandingkan tokoh yang baru muncul. Dalam konteks pilkada misalnya, incumbent bisa saja diuntungkan jika memiliki cerita sukses. Hal inilah yang membedakan membangun personal brand dengan self promotion.
Sebagai penutup, network society dengan pilar utama adalah internet dan teknologi komunikasi akan banyak mengubah banyak hal dalam interaksi sosial termasuk dalam menggalang partisipasi politik. Terlebih lagi saat ini ada kencerungan terbentuknya habbit baru yang serba digital. Maka membangun basis kekuatan politik baru dengan connective action menjadi penting sembari menguatkan collective action.