09/09/2022
MINDSET SOCIAL MEDIA MARKETING
Di suatu sore seperti biasa, saya bersama istri dalam perjalanan pulang ke rumah. Saat tiba di sebuah persimpangan jalan, lampu merah menyala terang, tandanya kami harus berhenti. Tiba² pandangan saya tertuju ke sebuah baliho figur politisi pendatang baru (mungkin caleg atau mungkin calon kepala daerah). Baliho perkenalan diri itu berukuran sangat besar, sangat mencolok, fotonya gagah, desainnya keren berdiri tegak di sudut perempatan sana. Namun, sore itu ada pemandangan yang berbeda dari baliho tersebut. Mungkin karena angin kencang atau entah karena sebab apa, tulisan nama figur di bagian bawah baliho, hilang (robek). Nah, saya pun iseng bertanya pada istri yang sedang bermain hp di samping saya. Istri selama ini termasuk orang yang "buta politik".
S : "Mama, besarnya itu baliho di'? (Sambil menunjuk ke baliho yg saya maksud di cerita di atas)".
I : "Iya".
S : "Keren desainnya di'?"
I : "Iya".
S : "Seringki' lihat itu?"
I : "Iya, setiap hari lewat siniki."
Baliho tersebut sudah mejeng di sana kira² 1-2 mingguan.
S : "Siapa pale' namanya itu di baliho?"
I : (tatapan setengah kosong) "Nda tau, kulupai 😁".
Ternyata, baliho yang berukuran besar, foto gagah, desain keren belum tentu membawa dampak seperti yang diharapkan.
Kenapa istri tidak ingat nama orang di baliho yang hampir setiap hari dia lihat? (dia mungkin memperhatikan karena desainnya keren, namun sulit mengingat) Karena tidak ada sesuatu dari baliho (yang foto & namanya masih asing) itu yang relate dengan dia. Sehingga baginya, baliho tersebut tidak ada nilainya. Desain baliho tersebut hanya memuat nilai si figur (gagah, keren, elegan, dll).
Sayapun lanjut bertanya pada istri.
S : "Jadi, baliho manaji yang kita ingat namanya?"
I : "Itue H*** " (menyebut nama figur yang balihonya sangat massif di hampir tiap tikungan ada 😁).
Nah, akibatnya apa ketika sebuah desain tidak relate dengan audiens? Distribusinya harus sangat massif, jadinya boros.
Dalam konteks pemasaran media sosial sendiri, algoritma medsos khususnya Facebook, tidak menyukai model konten yang seperti ini. Facebook tidak mengizinkan sebuah konten ditampilkan berulang-ulang ke timeline penggunanya, sebab ini dianggap menganggu kenyamanan pengguna. Konten akan memperoleh peringkat kualitas yang rendah dan akun akan diberi reputasi buruk oleh platform. Akibatnya, jangkauan organiknya akan terus dibatasi, kalaupun beriklan, biaya iklannya akan dibuat sangat mahal.
Nah, jika marketing social media masih menggunakan mindset media konvensional, maka akan mahal dan tidak efektif juga. Padahal, marketing social media seharusnya bisa jauh lebih efisien dibandingkan marketing media konvensional, karena sifatnya yang tertarget dan terukur.
Oleh sebab itu, alih2 memajang foto gagah, sebuah baliho perkenalan diri sebaiknya cukup memuat pesan/kutipan yang inspiratif, lucu atau aktual saja disertai nama si figur. Pesan/kutipan yang pas, akan membuat orang "lebih mungkin" mengingat nama figur. Setelah ingat nama, barulah masuk ke tahap yang lebih dalam (menjual value), dan seterusnya.
Marketing politik seharusnya dilakukan dengan sangat soft, karena se-resisten²nya orang terhadap produk MLM, paling resisten orang terhadap jualan politik ini.
Nah, ketika mulai banyak figur politisi yang melirik kampanye media sosial ini, semoga bisa jadi permulaan terwujudnya politik berbiaya "wajar" yang semoga saja bisa jadi jembatan lahirnya pemimpin² & wakil² rakyat yang lebih kompeten dan lebih amanah 🤯
#