25/03/2019
Kenapa, Sih, Wanita Itu Harus Mandiri, Tangguh, dan Kuat?
Menjadi Wanita kuat nggak mesti lantas mengerjakan segala sesuatunya sendiri. Nggak harus dianggap plek ketiplek bisa mengangkat kasur ukuran king sendirian buat dijemur. Kuat bukan berarti lantas wanita nggak punya empati, dan menganggap remeh pasangan hidupnya.
Menjadi mandiri juga bukan lantas jadi sok merasa nggak butuh bantuan orang lain. Karena, toh, memang manusia nggak mungkin hidup sendiri.
Lebih kepada mandiri karena ada hal-hal yang memang harus dilakukan oleh diri sendiri, kalau tunggu dibantu, nggak kelar-kelar urusannya.
Buat saya, jadi wanita tangguh, kuat, dan mandiri itu bukan pilihan. Tapi suatu keharusan. Berikut alasan saya.
1.Kuat itu adalah tentang hati, pikiran, dan iman
Seperti yang saya sebutkan di atas, wanita kuat itu jangan diterjemahkan seliteral ia mampu melakukan apa yang pria juga lakukan. Tentu saja jadi keliatan menyeramkan. Tapi menurut saya, lebih kepada wanita itu harus kuat hatinya. Kenapa? Iya, biar nggak gampang terluka, nggak gampang nangis, dan nggak gampang menye-menye ketika tersakiti hatinya.
Jangan, jangan melulu dikaitkan sakit hati dengan suami selingkuh atau tiba-tiba hilang nggak kasih nafkah. Tapi terluka mungkin karena sesuatu yang terjadi pada anak, karena suaminya sakit, karena keluarganya, atau apa pun itu. Wanita juga harus kuat pikirannya. Kuat pikiran berarti selalu berpikir positif tentang segala hal. Ini tentu membantu pasangan hidup juga, biar pernikahannya lebih solid lagi. Yang terakhir tentu saja harus kuat iman. Yakin, deh wanita yang kuat iman akan selalu melibatkan ALLAH di setiap tingkah laku dan tujuan hidupnya.
2. Nggak selamanya pasangan hidup mendampingi
Nggak, saya nggak ingin membicarakan bahwa ada suami-suami yang selingkuh lantas istri ditinggal begitu saja tanpa memenuhi kewajibannya menafkahi anak istri (walau itu banyak sekali terjadi, ya). Itu terlalu klise. Sadar diri aja, deh, suami-suami yang selingkuh itu. Saya bicara yang lebih getir lagi, ketika suami meninggal dunia. Bayangin, deh, kalau istrinya nggak kuat, nggak mandiri, dan nggak tangguh. Bagaimana dengan masa depan dirinya, terutama anak-anaknya? Percayalah, cuma wanita kuat, tangguh, dan mandiri yang lebih berdaya untuk menghadapi segala ketidak pastian di depan, terutama ketika kepergian pasangan hidupnya terhitung sangat mendadak. Memangnya orang yang ngomong kalau perempuan itu nggak boleh kuat dan mandiri, mau disuruh bayar segala tagihan listrik, biaya hidup, uang sekolah, tagihan air, dan sejuta pengeluaran lainnya? Weโre living the real life, man.
3. Anak butuh lihat ibunya kuat, tangguh, dan mandiri
Semua orang (termasuk pria) tahu kalau ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Ibu termasuk manusia pertama yang ditiru si kecil. Ingin anak-anak kuat, mandiri, tangguh (tanpa membedakan gender)? Bukan cuma ayah, ibu pun harus memberikan contoh yang sama. Apalagi kalau ibunya seorang single parent. Ya, sih, tetap butuh bantuan orang lain. Tapi hal-hal utama, seperti pendidikan kepribadian, pola asuh, dan pembentukan karakter tetap saja tugas utama si ibu juga, kan? Familiar dengan ucapan, โEmangnya nggak diajarin ibunya di rumah?โ ketika melihat seorang anak berlaku tidak sesuai kaidah atau norma.
Berarti setuju kan, apa yang ibu berikan saat ini akan menentukan jadi manusia macam apa si anak kelak? Nah, buat saya, kuat, tangguh dan mandiri harus dimiliki orang seorang WANITA, termasuk ibu.
Ada yang sepaham dengan saya kah?๐
http://wu.to/DwkIjg