21/04/2026
Hari ini, di momen Hari Kartini, kita tidak hanya mengingat perjuangan tentang pendidikan dan kesetaraan, tapi juga tentang bagaimana perempuan dilihat dan dipahami, termasuk cara mereka merasakan dunia. Masih ada stigma yang bilang perempuan “terlalu emosional”, terlalu perasa, bahkan dianggap kurang rasional saat menghadapi masalah. Padahal, dari sudut pandang psikologi, emosi bukan tanda kelemahan, justru bagian penting dari cara manusia berpikir dan mengambil keputusan.
Emotional intelligence adalah kemampuan memahami, mengelola, dan merespons emosi, ini merupakan skill yang krusial dalam kehidupan. Perempuan seringkali memiliki kepekaan yang lebih dalam terhadap emosi, baik diri sendiri maupun orang lain. Dan itu bukan “berlebihan”, tapi kelebihan. Karena dari situlah lahir empati, ketahanan menghadapi stres, dan kemampuan membangun hubungan yang sehat. Feeling deeply doesn’t mean thinking poorly.
Kartini hari ini bukan hanya tentang suara yang lantang, tapi juga tentang rasa yang utuh. Tentang keberanian untuk tetap peka di dunia yang sering meminta kita untuk “tidak terlalu merasa”. Jadi, mungkin sudah waktunya kita berhenti mempertanyakan rasionalitas perempuan, dan mulai mengakui bahwa kekuatan mereka juga ada pada bagaimana mereka memahami dan mengelola emosi. Karena menjadi kuat, juga berarti berani merasa.