Berbagi manfaat

Berbagi manfaat SUKSES
***
membutuhkan
VISI untuk MELIHAT
IMAN untuk PERCAYA
KEBERANIAN untuk MELANGKAH

Ada satu fase dalam mengasuh anak yang diam-diam membuat hati orang tua lebih gelisah daripada tangisan atau amukan.Buka...
04/04/2026

Ada satu fase dalam mengasuh anak yang diam-diam membuat hati orang tua lebih gelisah daripada tangisan atau amukan.

Bukan ketika anak berteriak.
Bukan ketika anak membantah terang-terangan.
Bukan juga ketika anak sulit diatur.

Tapi justru ketika anak mulai terlihat “rapi” di luar, manis saat dilihat orang, pandai bicara, tahu cara mengambil hati… namun di balik itu, pelan-pelan ia mulai belajar mengendalikan orang lain untuk kepentingannya sendiri.

Aku mulai benar-benar menyadarinya di rumah, bukan dari satu kejadian besar, tapi dari banyak hal kecil yang kalau dilihat sepintas terasa sepele.

Aku punya tiga anak.
Dua perempuan, satu laki-laki.
Yang paling besar Aisyah, usianya tujuh tahun.
Di bawahnya Maryam, lima tahun.
Lalu si bungsu Yusuf, baru tiga tahun.

Kalau dilihat sekilas, Aisyah itu anak yang menyenangkan. Bicaranya cepat, tanggap, ekspresif, dan sering terlihat “dewasa” untuk usianya. Ia bisa membantu ambilkan barang, bisa menjawab orang dengan sopan, dan cukup pandai membaca situasi. Banyak orang s**a bilang, “Wah, kakaknya pintar ya.”

Dulu aku juga sering merasa begitu.

Sampai suatu siang, di meja makan, aku melihat sesuatu yang membuatku diam lebih lama dari biasanya.

Hari itu aku memasak ikan goreng, tumis buncis, dan telur balado. Aisyah paling tidak s**a buncis. Dari awal ia memang sudah mengerucutkan bibir. Tapi yang membuatku berhenti bukan ekspresi tidak s**anya. Itu wajar. Yang membuatku berhenti adalah caranya menyikapinya.

Ia menoleh ke Maryam, lalu berkata dengan suara yang sangat lembut,
“Dek, ini buat kamu ya. Kakak kasih hadiah.”

Maryam, yang memang selalu senang diberi sesuatu oleh kakaknya, langsung tersenyum.
“Beneran buat aku?”

“Iya,” kata Aisyah. “Soalnya Kakak sayang.”

Lalu buncis itu berpindah ke piring Maryam.

Sepintas, itu terlihat manis.
Kakak berbagi.
Kakak penyayang.

Tapi aku tahu itu bukan berbagi.

Itu cara halus untuk memindahkan hal yang tidak ia s**a, sambil tetap terlihat baik.

Aku belum bicara apa-apa waktu itu. Hanya memperhatikan.

Maryam yang tadinya makan lahap mulai mengaduk-aduk piring. Yusuf, yang melihat kakak-kakaknya saling pindah lauk, ikut menunjuk piringnya sendiri dan berkata, “Yusuf nggak mau ini, kasih Kakak aja.”

Di situlah aku merasa sesuatu yang kecil sedang menular.

Bukan cuma kebiasaan.
Tapi cara.

Malam harinya aku memikirkan itu cukup lama sambil mencuci piring. Suara air mengalir, bunyi piring yang saling bersentuhan, aroma sabun cuci yang lemon sekali—semuanya terasa biasa, tapi kepalaku penuh. Dalam pengasuhan, ada hal-hal yang berbahaya justru karena tidak kelihatan kasar. Tidak ada rebutan hebat. Tidak ada bentakan. Tidak ada tangisan besar. Tapi ada pola yang, kalau dibiarkan, bisa tumbuh menjadi tabiat.

Beberapa hari kemudian aku melihat pola itu lagi.

Kali ini saat bermain.

Di ruang tengah, ada satu set balok dan beberapa boneka kecil. Yusuf sedang memegang mobil mainan merah kesayangannya. Ia duduk di karpet, asyik mendorong mobil itu maju mundur sambil membuat suara mesin dengan mulutnya. Lalu Aisyah datang, duduk di sebelahnya, dan berkata dengan nada sangat manis,
“Yusuf, Kakak ikut ya. Biar mobilnya nggak kesepian.”

Yusuf mengangguk.

Awalnya mereka benar-benar bermain bersama. Tapi tak lama kemudian, aku mendengar Aisyah berkata,
“Yusuf pegang yang ini aja ya, yang merah buat Kakak dulu. Nanti Kakak ajarin.”

Yusuf ragu.
“Itu punya Yusuf…”

Aisyah cepat menjawab,
“Iya, kan Kakak pinjam. Kalau Yusuf baik, nanti Kakak kasih main yang lebih seru.”

Beberapa menit kemudian, mobil merah itu sudah pindah ke tangan Aisyah. Yusuf kebagian mobil kecil yang rodanya seret. Ia tidak menangis, hanya tampak bingung. Ia masih duduk di situ, masih merasa “ikut bermain”, padahal yang terjadi sebenarnya: mainannya diambil, hak bermainnya digeser, dan ia dibuat setuju dengan cara yang terasa halus.

Lagi-lagi, kalau dilihat sekilas, tidak ada perebutan.

Tidak ada yang benar-benar tampak jahat.

Tapi ada penguasaan yang dibungkus kelembutan.

Dan yang membuatku lebih khawatir, Maryam memperhatikan semuanya.

Anak tengah selalu punya cara belajar yang sunyi. Ia melihat, menyimpan, lalu meniru saat waktunya tiba.

Benar saja.

Suatu sore, aku sedang melipat baju di kamar ketika kudengar Yusuf menangis kecil di ruang depan. Bukan tangis besar, hanya tangis kecewa. Ketika aku keluar, Maryam sedang memegang buku gambar baru milik Yusuf.

“Kenapa?” tanyaku.

Maryam menjawab cepat, “Yusuf yang kasih.”

Yusuf mengusap mata. “Nggak… Maryam bilang kalau Yusuf sayang, kasih…”

Aku menoleh pada Maryam. Ia tampak gelisah, tapi juga seperti belum merasa salah.

“Maryam bilang apa?”

Maryam menunduk.
“Aku bilang… kalau Yusuf baik sama Kakak, kasih bukunya…”

Aku terdiam.

Kalimat itu terlalu familiar.

Bukan kalimat anak yang benar-benar mengerti berbagi.
Itu kalimat yang menekan dengan bungkus kasih sayang.

Dan aku tahu persis dari mana ia belajar.

Sejak saat itu, aku mulai melihat lebih banyak hal yang sebelumnya nyaris lolos dari perhatian.

Kalau ada camilan favorit, Aisyah akan cepat berkata, “Kalau adek nggak ambil yang ini, nanti Kakak temenin main.”
Kalau Yusuf sedang duduk di dekat Ayah, Aisyah bisa berkata, “Yusuf sini sama Kakak aja, nanti Kakak kasih stiker.”
Kalau Maryam sedang memegang boneka, Aisyah mendekat dan berkata, “Bonekanya bosen sama Maryam, sekarang sama Kakak dulu ya.”

Semua terdengar ringan.
Seperti bercanda.
Seperti anak-anak biasa.

Tapi efeknya nyata.

Yusuf jadi lebih mudah bingung membedakan mana memberi dengan ikhlas, mana memberi karena didorong.
Maryam mulai belajar bahwa cara paling aman mendapatkan sesuatu bukan meminta dengan jujur, tapi memutar kalimat agar orang lain merasa tidak enak menolak.
Dan Aisyah… pelan-pelan terbiasa merasa bahwa selama ia tidak membentak, selama ia masih terdengar manis, maka semua caranya boleh.

Itulah yang membuatku paling takut.

Karena ada anak yang berbuat salah dengan cara yang kasar—itu biasanya cepat terlihat dan mudah dibetulkan.

Tapi ada anak yang mulai salah arah lewat kecerdasan sosial yang tidak diarahkan.
Ia membaca celah.
Ia tahu siapa yang lebih lembut.
Ia tahu kalimat mana yang membuat adik luluh.
Ia tahu cara tampak baik sambil tetap mendapat apa yang ia mau.

Kalau dibiarkan, itu bisa tumbuh menjadi sesuatu yang lebih licin saat besar nanti.

Bukan lagi sekadar “kakak-kakakan”.
Tapi kebiasaan mengendalikan, memanfaatkan, dan mengaburkan kejujuran.

Suatu malam, setelah anak-anak tidur, aku membicarakan ini dengan suamiku di meja makan yang sudah sepi. Tinggal dua gelas teh hangat dan piring kecil bekas pisang goreng. Lampu dapur kuning redup. Dari kamar, kipas angin terdengar mendengung pelan.

“Aku khawatir sama cara Aisyah,” kataku.

Suamiku diam cukup lama.
Lalu mengangguk.

“Aku juga mulai lihat,” katanya. “Dia nggak marah-marah, tapi dia mau semua ikut aturannya.”

Aku menatap permukaan tehku. Uapnya tipis sekali.

Barangkali inilah tantangan mengasuh yang tidak banyak dibahas orang: saat anak terlihat cerdas, orang tua kadang terlambat sadar bahwa kecerdasan itu juga harus dibersihkan niatnya, diluruskan caranya, dan dijaga hatinya. Tidak semua kecakapan sosial berarti kematangan. Tidak semua kepandaian bicara berarti akhlaknya aman.

Besok sorenya, aku sengaja menunggu momen yang tepat.

Ada puding cokelat di kulkas, tiga cup kecil. Aku keluarkan dan kuberikan masing-masing satu. Aisyah mendapat puding rasa vanilla yang memang paling tidak ia s**a, karena cokelat sudah habis. Seperti dugaanku, beberapa menit kemudian ia mulai menoleh ke Maryam.

“Kakak tukar ya? Yang putih ini spesial, lho. Manis banget. Buat Maryam aja.”

Maryam hampir mengangguk.

Aku langsung duduk di antara mereka.

“Kita stop dulu.”

Aisyah menatapku, kaget.

Aku memegang tangannya pelan. “Kalau Kakak nggak s**a, bilang jujur nggak apa-apa. Tapi jangan kasih ke adik sambil dibilang hadiah, padahal Kakak cuma nggak mau.”

Wajahnya berubah. Antara malu dan tidak terima.

“Aku kan cuma mau berbagi…”

“Iya,” kataku lembut, “tapi berbagi itu memberi yang kita rela kasih, bukan memindahkan yang kita tidak s**a supaya terlihat baik.”

Maryam menatap kami bergantian. Yusuf ikut mendekat, membawa sendoknya.

Aisyah mulai menunduk.

Aku tahu ini momen yang rapuh. Kalau aku mempermalukannya, ia akan belajar menutup-nutupi. Kalau aku terlalu lembek, ia akan merasa aman melanjutkan.

Jadi aku bicara pelan, tapi jelas.

“Kakak itu pintar. Kakak cepat ngerti orang. Itu karunia dari Allah. Tapi kalau kepintaran dipakai supaya orang lain ngalah terus, itu bukan kebaikan. Itu bikin hati orang lain capek.”

Aisyah tidak menjawab.

Aku lanjutkan,
“Kalau mau sesuatu, bilang terus terang. Kalau mau pinjam, minta izin. Kalau tidak s**a jatahmu, bilang jujur. Jangan dibungkus seolah-olah kamu paling baik, padahal sebenarnya adik yang dibebani.”

Matanya mulai berkaca-kaca.
“Aku nggak mau dibilang jahat…”

Kalimat itu menusukku juga.

Aku meraih pundaknya.
“Ummi nggak bilang Kakak jahat. Ummi bilang caranya yang harus dibenerin. Karena Kakak anak baik, makanya harus belajar jujur.”

Malam itu aku memeluknya lebih lama dari biasanya.

Sejak hari itu, aku mulai lebih sengaja menata banyak hal kecil di rumah.

Kalau ada makanan, aku bagi jelas.
Kalau ada mainan, aku sebutkan milik siapa dan siapa yang sedang memakai.
Kalau ada yang ingin menukar, harus dengan izin yang terang, bukan dengan bujuk rayu yang menekan.
Kalau ada yang berkata, “Kalau sayang kasih dong,” aku langsung luruskan,
“Sayang itu bukan berarti harus menyerahkan milikmu.”

Kalimat itu sering sekali kuulang.

Karena aku sadar, banyak manipulasi anak lahir dari kalimat-kalimat yang terdengar manis.
Kalau kamu baik, kasih.
Kalau sayang, kasih.
Kalau mau ditemenin, kasih.
Kalau nggak kasih, berarti pelit.
Kalau nggak nurut, nanti Kakak nggak mau main.

Kalimat-kalimat seperti itu mungkin terdengar kecil di telinga orang dewasa. Tapi di hati anak kecil, itu besar. Sangat besar. Mereka belum punya pagar yang kuat. Mereka mudah merasa bersalah. Mudah takut ditinggal. Mudah ingin diterima. Dan anak yang lebih dominan bisa memakai semua itu tanpa sadar.

Aku juga mulai mengawasi diriku sendiri.

Jangan-jangan anak belajar itu dari rumah.
Dari cara kami sebagai orang tua membujuk.
Dari cara kami meminta dengan tekanan halus.
Dari cara kami berkata, “Kalau Mama sedih lho…”
atau “Kalau anak salih harusnya begini…”

Anak-anak belajar bukan hanya dari apa yang kita larang, tapi dari bahasa yang hidup di rumah.

Beberapa minggu kemudian, aku melihat satu perubahan kecil yang membuat hatiku hangat.

Yusuf sedang memegang mobil merahnya lagi. Aisyah datang dan duduk di dekatnya. Aku sudah siap mengamati. Tapi kali ini Aisyah berkata,
“Yusuf, Kakak boleh pinjam sebentar? Habis itu balik lagi.”

Yusuf memeluk mobilnya dulu, berpikir, lalu menyerahkan.
“Sebentar aja ya.”

“Iya.”

Tidak ada janji-janji manis.
Tidak ada tekanan.
Tidak ada kalimat bikin bersalah.

Hanya izin.
Hanya batas.
Hanya kejujuran kecil.

Mungkin bagi orang lain itu tidak berarti apa-apa.

Tapi bagiku, itu seperti melihat jendela dibuka sedikit di rumah yang lama pengap.

Tentu belum selesai.
Masih ada hari ketika Aisyah tergelincir lagi.
Masih ada saat Maryam meniru cara-cara lamanya.
Masih ada Yusuf yang terlalu mudah mengalah hanya karena ingin disayang kakaknya.

Pengasuhan memang jarang selesai dalam satu nasihat.

Ia butuh diulang.
Dijaga.
Dibetulkan lagi.
Dan lagi.

Tapi dari semua itu, aku belajar satu hal yang sangat penting:

anak yang tampak “licik” bukan berarti hatinya rusak.
Sering kali ia hanya punya kecerdasan yang tumbuh lebih cepat daripada empatinya.

Dan tugas kitalah sebagai orang tua untuk mengejar bagian yang tertinggal itu.

Bukan mematikan kecerdasannya.
Bukan mempermalukannya sampai ia merasa dirinya buruk.
Tapi mengajari bahwa menjadi pintar tidak cukup.
Harus amanah.
Harus jujur.
Harus punya rasa takut menyakiti orang lain.

Karena anak yang terbiasa menang dengan manipulasi akan sulit menerima batas saat besar nanti.

Ia bisa tumbuh menjadi seseorang yang selalu ingin memegang kendali.
Yang pandai membuat orang lain merasa bersalah.
Yang terlihat baik di luar, tapi menguras orang-orang terdekatnya.

Dan itu bukan masa depan yang ingin kita siapkan untuk anak kita.

Malam ini, kalau kamu mulai melihat pola-pola kecil itu di rumahmu, jangan buru-buru panik.
Tapi juga jangan disepelekan.

Perhatikan cara anak bicara.
Perhatikan cara ia “memberi”.
Perhatikan cara ia “mengajak bermain”.
Perhatikan apakah adik-adiknya benar-benar bahagia… atau hanya terus mengalah.

Karena kadang masalahnya bukan pada perebutan barang.

Tapi pada cara anak belajar memakai orang lain demi keinginannya.

Dan itu, kalau tidak diluruskan sejak dini, bisa terbawa jauh.

Air kencing tikus sangat berbahaya jika terdapat di dalam rumah, karena bisa membawa berbagai penyakit serius yang bisa ...
19/07/2025

Air kencing tikus sangat berbahaya jika terdapat di dalam rumah, karena bisa membawa berbagai penyakit serius yang bisa menular ke manusia, baik melalui kontak langsung maupun tidak langsung. Berikut penjelasannya:

🚫 Risiko Penularan di Rumah
• Menyentuh lantai atau benda yang terkena urin tikus.

• Menghirup udara berdebu dari kotoran atau urin yang mengering.

• Mengonsumsi makanan/minuman yang terkontaminasi.

• Luk4 terbuka terkena permukaan yang tercemar.

⚠️ Penyakit yang Bisa Disebabkan Air Kencing Tikus
1. Leptospirosis (Weil’s disease)
• ✅ Disebabkan oleh bakteri Leptospira dari urin tikus.

• ✅ Menular lewat luka di kulit, selaput lendir, atau makanan/minuman yang terkontaminasi.
• ⚠️ Gejala: demam tinggi, nyeri otot (terutama betis), sakit kepala, mata memerah, mual, muntah, bahkan gagal ginj4l atau hati jika berat.

2. Salmonellosis
• ✅ Bisa terjadi jika makanan tercemar urin atau kotoran tikus.
• ⚠️ Gejala: diare, muntah, demam, sakit perut.

3. Hantavirus
• ✅ Virus yang menyebar melalui urin, feses, atau air liur tikus yang mengering dan menjadi debu.
• ⚠️ Gejala: demam, nyeri otot, sesak napas (bisa fatal bila tidak segera ditangani).

4. Lymphocytic choriomeningitis virus (LCMV)
• ✅ Virus ini berasal dari tikus rumah (house mouse).
• ⚠️ Dapat menyebabkan infeksi sistem saraf pusat.

✅ Langkah Pencegahan
1. Segera bersihkan area yang dicurigai tercemar pakai sarung tangan dan masker. Gunakan disinfektan (bisa pakai pemutih + air).

2. Jangan menyapu atau mengepel kering (karena bisa mengangkat debu mengandung virus/bakteri).

3. Tutup celah masuk tikus di rumah (lubang, p**a, saluran air).

4. Jaga kebersihan dapur dan tempat makanan (jangan biarkan makanan terbuka).

5. Gunakan perangkap atau hubungi pembasmi tikus profesional bila perlu.

NGIDAM ASLI Vs NGIDAM DRAMA...ada kawan yang membuat riset tentang fenomena ngidam. Saat itu aku baru tahu, bahwa ngidam...
27/02/2025

NGIDAM ASLI Vs NGIDAM DRAMA...
ada kawan yang membuat riset tentang fenomena ngidam.

Saat itu aku baru tahu, bahwa ngidam yang 'asli' itu, betul-betul hanya terkait dengan hormon dan kebutuhan nutrisi.

:
- jadi mudah sedih (mellow melulu).
- jadi mudah marah (uring-uringan)
- jadi sangat sensitif pada bau-bauan tertentu.
- nggak doyan makan makanan tertentu. malah muntah kalau menghirup baunya
- jadi lemes, maunya tiduuuur saja
- jadi pinginnya jalan keluar rumah (tanpa sadar ini sebetulnya butuh sinar matahari dan udara segar)

:
- tiba-tiba doyan makanan/minuman yang selama ini dibenci (ini tanda tubuhnya kekurangan vitamin dari makanan tsb)
- pada beberapa orang, jadi 'terasa seperti ingin' minum bensin (ini tanda kurang mineral) atau ingin makan tanah (ini tanda kurang zat besi)
- makan banyaaaaaak

Singkatnya, insting ibu hamil, memang kuat. Mereka terdorong untuk memenuhi kebutuhan gizi janinnya. Sementara, selama ini si ibu mengalami kekurangan gizi tersebut dan tidak menyadarinya. Saat hamil, instingnya membuat tubuhnya NGIDAM makanan/minuman itu.

Nah itu, adalah NGIDAM yang ASLI, ya.

******

Lalu gimana ciri-ciri ngidam yang ngedrama?

1. pingin ngelus kepala botak pak RT.

2. pingin makan mangga muda, tapi mangganya harus dipanjat oleh suami, dipetik dari pohonnya. Nggak mau kalau mangganya beli di pasar.

3. ngidam perhiasan emas komplit.

4. pingin sarapan mewah, di hotel yang ciri-cirinya kayak Ritz Paris, pokoknya musti kayak di fotonya mak Ifani. Versi KW juga nggak papa. Pokoknya semewah itu.

5. dan lain-lain drama, yang sumbernya, ternyata adalah dari KEBUTUHAN PSIKOLOGIS!!!

Lucunya, menurut kawanku yang sedang meneliti itu... fenomena 'Ngidam Drama' ini hanya ada di negara-negara Asia, terutama Asia Tenggara.

Dugaan para ahli: karena bangsa-bangsa di area ini adalah manusia yang 'dijajah' oleh budaya patriarki. Sehingga perempuan HANYA DIHARGAI DAN DIISTIMEWAKAN saat hamil...

Anehnya, pada bangsa-bangsa ini juga ada 'praktek budaya' yang memang memanjakan/mengistimewakan perempuan hamil. Maka pertanyaan 'Kamu ingin apa?' adalah pertanyaan yang banyak ditujukan ke perempuan hamil oleh kerabat dan lingkungannya.

Maka, bagi sebagian individu, sikon hamil lantas dipakai sebagai ajang 'action'. Umumnya untuk konfirmasi atau pembuktian diri:
- apakah aku disayang?
- apakah kehendakku dilaksanakan?
- senang deh melihat diriku dibela-belain
- aku puas, orang orang pada nurut sama aku. Bahkan pak RT yang galak itu saja, mau lho kepala botaknya kuelus hihihi...

Kebutuhan psikologis ini, TIDAK disadari...

Yang menarik, kawanku menunjukkan hasil riset (dari peneliti lain) di Malaysia, di India, di Filipina dll, bahwa yang mengidap Ngidam Drama ini mayoritas adalah perempuan-perempuan yang secara sosial berada di posisi lemah.

Fenomena ini, tidak ditemukan (setidaknya oleh periset-periset ini) pada perempuan karir yang memiliki jabatan, kedudukan, dan uang. Atau pada perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga.

Jadi... postingan ini kubuat, TIDAK untuk menghakimi para pelaku 'ngidam drama' melainkan:

1. Mengajak para suami untuk menyadari bahwa:
ISTRIMU ITU MERASA KURANG DIPERHATIKAN DAN DISAYANG!!! Jadi sekaranglah latihanmu untuk menjadi suami dan bapak yang mampu menyirami keluargamu dengan cinta dan kepedulian. Jangan kayak kambing. Setor sperma doang abis itu melengos.

2. Mengajak para perempuan untuk mengenali dirinya dengan jeli: kelakuanmu itu BUKAN BAWAAN OROK! Stop mencari alasan dan menjadikan anakmu sendiri sebagai kambing hitam. Kalau kamu membutuhkan kasih sayang dan perhatian, utarakan. Komunikasikan dengan suami. Ajak pasangan untuk membangun suasana keluarga yang hangat, penuh cinta dan respek.

3. Bagi yang belum terlanjur menikah: nah cermati baik-baik calon pasanganmu. Apakah mereka adalah orang-orang yang sudah SEMBUH/HEALED dari apa pun masalah mental dan kebutuhan psikologisnya? Apakah mereka mampu menjadi pasangan yang bisa diandalkan? Apakah mereka siap dan layak jadi ibu dan ayah bagi anak-anakmu?

********

Kita musti tanamkan di benak kita:
Tujuan menikah itu, memiliki partner yang paling mumpuni, yang bisa kita temukan... untuk diajak berbagi tanggung jawab.

BUKAN UNTUK MEMUNGUT MASALAH.

Jadi, cermati! Apakah orang yang sedang kamu jajagi sekarang ini memiliki potensi masalah??? PASTI SUDAH KELIHATAN KOK RED FLAGSNYA sejak awal. Asal kalian nggak ndableg aja 😒🤪

Haruskah semua terjawab sekarang juga??.Bukankah kita terlalu sibuk melihat langkah orang lain sampai lupa bahwa setiap ...
26/02/2025

Haruskah semua terjawab sekarang juga??.

Bukankah kita terlalu sibuk melihat langkah orang lain sampai lupa bahwa setiap jejak yang kita tinggalkan juga punya arti? Kita terus berlari, seakan tak boleh berhenti. Padahal, bahkan senja pun tahu kapan harus meredup, memberi ruang bagi malam untuk bercerita. Mungkin perjalanan bukan tentang seberapa jauh kita melangkah, tapi tentang bagaimana setiap langkah membuat kita mengerti.

Seringkali, kita ingin semua terasa masuk akal sekarang juga, seolah hidup harus punya jawaban. Tapi seperti sungai yang tak pernah memaksa bebatuan untuk menyingkir, Iya tetap menemukan jalannya sendiri.mungkin bukan Kepastian yang harus kita kejar, melainkan keyakinan bahwa semua akan jelas pada waktunya.jadi, mengapa kita tidak memberi diri sendiri sedikit waktu untuk percaya??..

Isma'ul ahmad
Penulis novel "laki-laki tanpa tanya".

Gambar hanya pemanis

Toxic PeopleApakah kamu kenal dengan seseorang yang mempunyai salah satu dari ciri-ciri di bawah ini?1. S**a mengontrol ...
26/07/2023

Toxic People

Apakah kamu kenal dengan seseorang yang mempunyai salah satu dari ciri-ciri di bawah ini?

1. S**a mengontrol orang lain.
2. S**a mengkritik orang orang lain, tapi enggan dikritik.
3. Selalu merasa benar dan tidak mau disalahkan.
4. Selalu menganggap dirinya lebih hebat dari orang lain.
5. Sering menjelek-jelekkan orang lain.
5. Terlalu sering mengeluh dan merasa jadi korban.
6. Terlalu sering berbohong, bahkan untuk hal-hal kecil.
7. Sering meremehkan atau merendahkan orang lain.
8. Tidak senang melihat pencapaian orang lain atau melihat orang lain bahagia.

Itulah ciri-ciri orang toxic. Tindakan mereka merugikan orang lain, dan membuat mental kita tertekan. Mereka adalah orang-orang yang egois dan minim empati.

Apakah sifat toxic itu menular? Bisa jadi. Orang toxic biasanya dibesarkan oleh orang tua yang toxic juga. Jadi, rantai tersebut harus diputus agar tidak berlanjut pada generasi di bawah kita.

Bagaimana cara menghadapi orang toxic? Dari pada dihadapi, ya mending dijauhi.

Gimana kalau ga bisa menjauh? Kalau versi gue gini :
1. Memaklumi.
2. Menjaga jarak. Dalam artian, cukup berinteraksi dalam hal-hal yang penting saja.
3. Tidak terpancing/terpengaruh.
4. Beri pengertian. Kalau perlu, sarankan mereka untuk konseling ke psikolog.

Gimana kalau ternyata kita yang toxic? Hmm, plot twist yang sangat membagongkan.

19/11/2022

mau berbagi info mungkin berguna

Ketika Suami Melanggar Taklik Talak
Oleh : Drs. H. NUR MUJIB, MH.

(Hakim Pengadilan Agama Jakarta Selatan)
Taklik talak adalah talak suami yang digantungkan pada suatu sifat tertentu, yang apabila sifat tertentu itu terwujud maka jatuhlah talak suami itu. Taklik talak menurut ketentuan pasal 1 huruf (e) Kompilasi Hukum Islam (KHI) adalah “perjanjian yang diucapkan calon mempelai pria setelah akad nikah yang dicantumkan dalam akta nikah berupa janji talak yang digantungkan kepada suatu keadaan tertentu yang mungkin terjadi pada masa yang akan datang”. Perjanjian taklik talak ini sebenarnya bukan suatu perjanjian yang wajib diadakan dalam setiap perkawinan, akan tetapi sekali taklik talak sudah diperjanjikan maka tidak dapat dicabut kembali. Jadi sighat taklik talak itu tidak harus dibaca dalam setiap kali perkawinan, tetapi kalau pihak isteri meminta pihak suami untuk membaca taklik talak maka suami harus membaca taklik talak.

Dalam versi fikih Indonesia, kalau keadaan tertentu yang disyaratkan dalam taklik talak itu betul-betul terjadi, maka supaya talak itu sungguh-sungguh jatuh, isteri harus mengajukan persoalannya ke Pengadilan Agama (PA). Kalau tidak mengadukan persoalannya ke PA, maka talak suami itu selamanya tidak akan jatuh.

Selengkapnya bunyi taklik talak ala fikih Indonesia adalah sebagai berikut:
“Sesudah akad nikah saya (pengantin laki-laki) berjanji dengan sesungguh hati, bahwa saya akan mempergauli isteri saya bernama (pengantin perempuan) dengan baik (mu’asyarah bil ma’ruf) menurut ajaran Islam. Kepada isteri saya tersebut saya menyatakan sighat taklik sebagai berikut:

Apabila saya:
Meninggalkan isteri saya 2 (dua) tahun berturut-turut;
Tidak memberi nafkah wajib kepadanya 3 (tiga) bulan lamanya;
Menyakiti badan/jasmani isteri saya, atau
Membiarkan (tidak memperdulikan) isteri saya 6 (enam) bulan atau lebih;
dan karena perbuatan saya tersebut isteri saya tidak ridho dan mengajukan gugatan kepada Pengadilan Agama, maka apabila gugatannya diterima oleh Pengadilan tersebut, kemudian isteri saya membayar Rp.10.000,- (sepuluh ribu rupiah) sebagai iwadh (pengganti) kepada saya, jatuhlah talak saya satu kepadanya. Kepada Pengadilan tersebut saya memberi kuasa untuk menerima uang iwadh tersebut dan menyerahkannya kepada Badan Amil Zakat Nasional setempat untuk keperluan ibadah sosial”

Jika suami melanggar taklid talak dan istri tidak ridho maka istri harus mengajukan gugatan taklik talak ke Pengadilan Agama . Kalau gugatannya dikabulkan dan si isteri membayar iwadh, barulah kemudian Pengadilan akan menyatakan syarat taklik telah terpenuhi dan jatuhlah talak suami. Kalau proses ke PA ini tidak ditempuh, maka selamanya talak suami itu tidak akan jatuh.

Dalam kajian fikih Indonesia, cerai karena pelanggaran taklik talak termasuk dalam kategori talak ba’in sughra (cerai gugat), walaupun yang jatuh itu adalah talak suami. Talak bain sughra adalah talak yang tidak boleh dirujuk tetapi boleh akad nikah baru dengan bekas suaminya meskipun dalam iddah. Mengapa cerai taklik talak termasuk dalam talak bain sughra, karena untuk jatuhnya talak suami itu isteri harus mengajukan gugatan pelanggaran taklik talak ke PA dan harus membayar iwadh. Untuk jatuhnya talak suami itu tergantung pada inisiatif isteri. Jatuhnya talak suami yang melanggar taklik talak adalah oleh Pengadilan.

Jadi karena perceraian disebabkan pelanggaran taklik talak itu yang menjatuhkan adalah PA, maka jenis talaknya adalah ba’in sughra, sehingga suami tidak mempunyai hak rujuk terhadap isterinya. Kalau terjadi kesepakatan untuk menbangun rumah tangga lagi maka harus dengan akad nikah yang baru.

Semoga bermanfaat

18/11/2022

Terikatnya jalinan cinta dua orang insan dalam sebuah pernikahan adalah perkara yg sangat diperhatikan dalam syariat Islam.

Sebab mengikat seseorang untuk menjadi teman hidup tidak hanya untuk satu-dua hari saja bahkan seumur hidup, karena itu merupakan salah satu kemuliaan syariat Islam bahwa orang yg hendak menikah diperintahkan untuk berhati-hati, teliti dan penuh pertimbangan dalam memilih pasangan idaman.

Namun sayang sekali, anjuran ini sudah semakin diabaikan oleh kebanyakan kaum muslimin. Sebagian mereka terjerumus dalam perbuatan maksiat seperti pacaran dan semacamnya, sehingga mereka pun akhirnya menikah dengan kekasih mereka tanpa memperhatikan bagaimana keadaan agamanya. Sebagian lagi memilih pasangan idaman hanya dengan pertimbangan fisik dan materi saja. Mereka berlomba mencari wanita cantik untuk dipinang tanpa peduli bagaimana kondisi agamanya. Sebagian lagi mau menikah karena ia tampan dan terlihat mapan, Maka jangan heran jika rumah tangga mereka pada akhirnya sangat rapuh, kosong, sering terjatuh dalam perkara dosa, dan hanya fokus pada dunia.

Padahal yg terbaik tentu adalah apa yg dianjurkan oleh syariat, yaitu berhati-hati, teliti dan penuh pertimbangan dalam memilih pasangan hidup serta menimbang anjuran-anjuran agama dalam memilih pasangan idaman.

Oleh karena itu setiap muslim yg ingin beruntung dunia akhirat hendaknya mengidam-idamkan sosok suami dan istri dengan kriteria yg baik sesuai syariat, yaitu orang yg bertaqwa serta baik agamanya.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertaqwa.” (QS. Al Hujurat: 13)

Mengapa harus memilih orang yg bertaqwa ? Karena taqwa adalah menjaga diri dari adzab Allah Ta’ala dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Maka hendaknya seorang muslim berjuang untuk mendapatkan calon pasangan idaman yg paling mulia di sisi Allah, yaitu seorang yg taat kepada aturan agama.

Kemudian selanjutnya pilihlah pasangan yg baik agamanya. Sebagaimana hal ini Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menganjurkan agar memilih istri yg baik agamanya. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تُنْكَحُ المَرْأَةُ لأرْبَعٍ: لِمالِها ولِحَسَبِها وجَمالِها ولِدِينِها، فاظْفَرْ بذاتِ الدِّينِ، تَرِبَتْ يَداكَ

“Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi.” (HR. Bukhari no.5090, Muslim no.1466).

Dari Abu Hatim Al Muzanni radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

إذا جاءَكم مَن ترضَونَ دينَه وخُلقَه فأنكِحوهُ ، إلَّا تفعلوا تَكن فتنةٌ في الأرضِ وفسادٌ

“Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah dan kerusakan di muka bumi” (HR. Tirmidzi no.1085. Al Albani berkata dalam Shahih At Tirmidzi bahwa hadits ini hasan lighairihi).

Taqwa kepada Allah adalah sumber kebahagiaan dunia dan akhirat, sedang dengan pemahaman agama yg baik sebagai petunjuk dan bekal untuk mendidik serta menjalani kehidupan rumah tangga.

Karena bagaimana mungkin seseorang dapat menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, padahal dia tidak tahu apa saja yang diperintahkan oleh Allah dan apa saja yang dilarang oleh-Nya? Dan disinilah diperlukan ilmu agama untuk mengetahuinya.

Maka pilihlah calon pasangan hidup yg memiliki pemahaman yang baik tentang agama. Karena salah satu tanda orang yg diberi kebaikan oleh Allah adalah memiliki pemahaman agama yang baik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

“Orang yang dikehendaki oleh Allah untuk mendapat kebaikan akan dipahamkan terhadap ilmu agama.” (HR. Bukhari-Muslim)

Oleh Ustadz Yulian Purnama,

31/08/2022

Respect..
Seribu satu pria bsa brpikir sprti ini

Masih sering mendengar perkataan seperti ini : "Maklumlah namanya juga anak-anak" ?Misalnya melihat anak laki laki yang ...
04/08/2022

Masih sering mendengar perkataan seperti ini : "Maklumlah namanya juga anak-anak" ?
Misalnya melihat anak laki laki yang s**a usil, nakal banget dan s**a ngacak, orang tuanya cenderung mengatakan, “Yah… anak cowo Emang begitu s**a usil”

Atau bahkan ketika si anak memukul temannya, orang tua masih juga sempat berkelit dengan mengatakan “ya begitu deh, maklumlah namanya juga anak anak. Nggak sengaja…”

Atau ketika ada anak merebut mainan milik temannya, lalu ibu nya berkata “maklum anak2 s**a rebutan” 😛

atau ketika anak bertamu ke rumah orang, langsung buka2 kulkas, lemari atau main mainan anak pemilik rumah tanpa izin, lalu berkata “maklum anak-anak s**a penasaran” 😅

Atau ketika anak tantrum dan merengek di tempat umum dengan suara kencang, lalu ortu berkata “maklum anak-anak, kalau ga diturutin s**a gitu”

satu hal yang harusnya kita ingat adalah memaklumi boleh saja, tapi kita juga harus mengarahkan agar anak tidak lagi menganggap hal yang salah sebagai sesuatu yang wajar.

Kita harus percaya, mereka itu pintar kok. Memang agak melelahkan memberitahu hal yang sama berulang-ulang. Namun, hal ini terjadi karena anak belum kecil belum mengenal konsep benar dan salah. Itulah tugas kita sebagai orang tua untuk mengarahkan anak tentang ilmu sosial. Ajarkan mereka "tiga kata ajaib" tolong, maaf, terimakasih.

Jangan terus kalah dengan dalih “namanya juga masih anak-anak”. Sebab jika kita terus berdalih seperti itu, kita baru akan sadar ketika kita sudah terlambat mengarahkannya. Bisa jadi, ketika bukan anak-anak lagi, hal salah yang sering kita maklumi sudah terlanjur menjadi kebiasannya.

Address

Jalan Lestari Gang Abu Bakar Moncok Telaga Mas Ampenan
Mataram

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Berbagi manfaat posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share