12/02/2026
https://www.facebook.com/100079418138786/posts/1204908139716071/?mibextid=rS40aB7S9Ucbxw6v
KARO ADALAH SUKU ASLI YANG MENDIAMI KOTA MEDAN
Oleh: Bastanta P. Sembiring (Medan)
Jauh sebelum Kesultanan Deli berdiri (1632), di Pesisir Timur Sumatera bagian Utara (Sumatera Utara), bahkan sebelum Pendiri Kota Medan Guru Patimpus Sembiring Pelawi membuka kampung Madan (1590) yang diyakini cikal bakal Kota Medan yang sekarang ini, perkampungan dan kerajaan-kerajaan Suku Karo sudah berdiri di wilayah yang kemudian disebut Deli.
Kampung-kampung Suku Karo tersebar luas di daerah-daerah yang sekarang kita kenal dengan Kota Medan, Kota Binjai, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Langkat, Kabupaten Serdang Bedagai, dsb.
Bahkan hingga saat ini banyak perkampungan Suku Karo itu masih dapat kita temui. Bagi kam yang s**a sejarah dengan melakukan peninjauan dan uji lapangan (bukan bergantung pada buku dan internet saja) kam akan terkejut melihat bagaimana perkampungan-perkampungan yang didiami Suku Karo yang dalam catatan penjelajah asing tempo dulu itu, hingga sampai saat ini masih ada.
Salah satunya kampung saya Patumbak yang dulunya adalah bekas ibu negeri dari Kerajaan Urung Senembah.
Perang “Tanduk Benua” atau oleh sejarahwan kenamaan asal Sumut T. Lukman Sinar (yang juga adalah keturunan dari Kesultanan Serdang) sebagai “Perang Sunggal” merupakan perang rakyat Sunggal beserta warga Suku Karo lainnya dari sekitar; baik dari Urung Senembah dan Urung Sukapiring maupun dari Dataran Tinggi Karo. Ini adalah perang melawan kapitalis Belanda.
Awal perang ini meletus akibat klaim sepihak oleh Kesultanan Deli terhadap tanah-tanah ulayat Suku Karo, khusunya di wilayah Urung Sunggal (Serbanaman) yang rajanya Suku Karo dari merga Karo-karo Surbakti.
Kesultanan Deli yang dalam tradisi Karo adalah Anak Beru dari Sunggal merasa berhak atas tanah-tanah itu yang disebut Dusun (Karo Jahé). Padahal, dalam tradisi Karo, Sultan Deli adalah Anak Beru atau bisa kita katakan pelaksana tugas, bukan penguasa seperti gelar-gelar sultan di daerah lainnya. Tradisi demikian bukan hanya terjadi di Karo, tetapi tersebar luas di Asia Tenggara.
Tidak senang dengan persengkongkolan antara Sultan Deli dengan Belanda, maka Datuk Sunggal Surbakti Mergana pun kemudian melakukan perlawanan yang mengakibatkan meletusnya Perang Sunggal yang oleh warga Suku Karo dikenal dengan “Perang Tanduk Benua” (1872 – 1895). Perang ini menelan banyak korban nyawa dan kerugian materi dari kedua belah pihak (lihat DI SINI --> https://karosiadi.blogspot.com/2011/12/perang-sunggal-perang-terlama-di.html?m=1 ).
Pihak Belanda pun 3 kali harus memobilisasi kekuatan militer dari Batavia dan mengeluarkan medali khusus untuk menghadapi perlawanan para pendikar-pendikar Suku Karo. Hingga akhirnya, dengan kelicikannya, dengan dalin perdamaian, Belanda berhasil menawan Datuk Sunggal Badiuzzaman Surbakti dan saudaranya Datuk Alang Muhammad Bahar. Belanda membuang mereka masing-masing ke Cianjur dan Banyumas (lihat DI SINI --> https://historia.id/politik/articles/raja-yang-diasingkan-vXjxm ).
Akan tetapi, walau merasa dihianati oleh Anak Berunya, Datuk Sunggal dan masyarakat Karo tidak pernah memerangi Deli. Padahal, adik Sultan Deli memimpin ekspedisi militer membantu tentara Belanda yang didatangkan dari Siak untuk menghadapi Sunggal.
Inilah bentuk kesetiaan sumpah Karo dan keleng até dari seorang Kalimbubu kepada Anak Berunya, walau turang, silih dan beberénya kemudian menghianati. Dan, hingga saat ini, warga Suku Karo masih setia pada sumpah itu.
Mari kita renungkan sejenak apa yang dikatakan oleh Juara R. Ginting dalam sebuah tulisannya mengenai Perang Sunggal ini:
“Perlu kita renungkan, begitu lamanya Perang Sunggal, adakah orang-orang Karo menyerang Sultan Deli maupun orang-orang Melayu? Tidak ada. Perang Sunggal itu jelas sekali menyerang kapital asing di tanah ulayat Karo. Adakah Sultan atau orang-orangnya menyerang Datuk Sunggal atau pas**an yang membela Datuk Sunggal? Ada. Adik Sultan Deli memimpin sebuah pas**an membantu tentara Belanda dari Siak menyerang pas**an Nabung Surbakti di Tandak Benua. Renungkan apa yang terjadi. Menurut tafsir saya, Datuk Sunggal tetap setia pada Sumpah Karo, menyayangi anak beru. Meki marah pada anak beru yang mengkhianatinya (Sultan Deli) kemarahannya ditumpahkan kepada Belanda keparat. ITULAH KARAKTER KARO. Harap mengerti dan sampai sekarang itu masih berlaku” (Juara R. Ginting.
Perang dasyat ini kemudian merubah segalanya di Sumatera Timur. Trauma akan perang saudara yang berkepanjangan dan tekanan dari pihak Belanda diyakini menjadi sebab masyarakat Karo semakin terasingkan.
Terutama di kancah politik Sumatera Timur hingga Sumatera Utara saat ini (khususnya di Medan, Binjai, Langkat, Deli Serdang dan Serdang Bedagai). Membuat Suku Karo yang nota bene penduduk asli sekarang ini malah dianggap sebagai tamu/ pendatang di tanah leluhurnya.
Jadi, kinikaron (kekaroan) (sebutan untuk segala hal yang berkaitan dengan Suku Karo) di Medan sekitarnya bukanlah hal yang baru, karena Suku Karolah suku asli yang mendiami Medan dan juga yang membuka/ mendirikan Kota Medan (Guru Patimpus Sembiring Pelawi).
Maka sudah sangat sepatutnya Pemerintah Kota Medan dalam perancanaan tata kota memperhatikan dan membangun berdasarkan corak kekaroan. Agar kota ini dan penduduknya tidak kehilangan dan lupa sejarah panjangnya.
Mejuah-juah Kuta Medan Simalem!
* Sumber: http://kahekolu.com/archives/10522
📸 Karo Architecture - Medan, Sumatra 1948. This WWII era photo was taken by Capt. George S. White. Source : Flickr.com | Karo Siadi