Politisi Kedai Kopi

Politisi Kedai Kopi Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Politisi Kedai Kopi, Business service, Provinsi Karo Simalem, Medan.

12/05/2026

Dalam diri masyarakat Suku Karo & Suku Batak terdapat sekitar 15% DNA Dravida.

12/05/2026

SILALAHI BUKAN SEMBIRING & SINAGA BUKAN PERANGIN-ANGIN

Inilah efek Karo itu diBatak-kan dan semua merga² Karo dianggap sama dengan marga² di Batak.

Singaloku lit marga Silalahi, Sinaga, dll.

jadi sudah kubilang beberapa kali kalau Silalahi itu bukan Sembiring dan Sinaga itu bukan Perangin-angin... tapi kade-kadeku yang Batako pempetken bana cari kesempatan terus untuk memBatak....

jadilah sekarang singaloku dilebuhi protokol di kerja² kami jadi Sembiring Silalahi, Perangin-angin Sinaga, dll...

nah... lo... aku kan jadi nggak enak jadinya... karena nggak semua Silalahi itu mau disebut Sembiring ataupun Sembiring Silalahi dan begitu juga nggak semua Sinaga itu mau disebut Perangin-angin ataupun Perangin-angin Sinaga.

inilah salah satu ulah² para Batako... selain memBatakkan Karo mereka juga mengKarokan Batak.... kan mberat jadinya kita Karo dan Batak ini bisa lanai siangkan nanti akibat ulah² para pemBatak ini 😂🤣

sekali lagi kubilang ya nak le... kalau Silalahi itu bukan Sembiring, Sinaga itu bukan Perangin-angin, dsb... ☺

10/03/2026
Berebut taneh Medan!
06/03/2026

Berebut taneh Medan!

05/03/2026

𝗘𝗞𝗦𝗢𝗡𝗜𝗠 "𝗕𝗮𝘁𝗮𝗸" 𝗗𝗜 𝗞𝗔𝗥𝗢
Oleh: Bastanta P. Sembiring....

Mejuah-juah!

Dalam ilmu soaial ada kita kenal istilah eksonim dan endonim ataupun otonim. Namun kali ini kita akan membahas eksonim dalam kaitannya dengan gerakan Karo Bukan Batak (KBB).

Eksonim (dari bahasa Yunani ἔξωὄνομα, exonoma, artinya "nama (pemberian) luar") adalah nama sebutan untuk suatu tempat yang tidak digunakan oleh penduduk lokal tempat tersebut, atau nama sebutan untuk penduduk atau bahasa yang tidak digunakan oleh penduduk atau bahasa yang dimaksudkan tersebut. Contoh: penyematan kata "Batak" bagi identitas Suku Karo.

Bukankah ada juga Orang Karo yang merasa dirinya bagian atau percampuran suku lain termasuk Batak?

Jawabnya, "ya, benar!"

Tapi mari kita lihat apakah itu murni dari dalam diri Orang Karo itu (endonim) atau dari luar (eksonim) yang kemudian mempengaruhi pandangan generasi berikutnya.

Mari kita tinjau dari dialog-dialog yang sering muncul dalam kehidupan Masyarakat Suku Karo tu sendiri yang berkaitan dengan 'batak' baik mengkonotasikan 'batak' itu baik ataupun buruk.

Contoh:

Dalam hal baik:

• Contoh Kalak Batak oh, mepalar jelmana, si kitik e pe terakap iakapna!

• Nehen Kalak Batak oh, kai kin pe pendahinna adi wari Minggu e rajin ku gereja, sikap peruisna e kerina.

Dalam hal buruk:

• Ula kin usih-usihmu bagi Batak oh!

• Seri kel kau kuakap bagi Kalak Batak!

Contoh-contoh kalimat di atas sering dijumpai dalam dialog-dialog Karo, baik oleh yang bersuku Karo (Karo asli) ataupun Orang Karo yang merasa bersuku Batak!

Ini menunjukkan kalau pada dasarnya Orang Karo baik yang merasa Karo asli atau yang sudah merasa bagian atau percampuran dari suku lain termasuk Batak, dalam alam pikirnya (baik sadar atau tidak sadar) sangat tegas membedakan antara Karo dan Batak!

Bahkan Orang Batak sendiri yang berbahasa Karo juga dengan tegas membedakan antara Karo dan Batak.

Contoh:
Adi bas Karo enda me sedap, kai kin pe irungguken. Adi bas kami Batak la bage...

Nah. Dari contoh-contoh di atas antara dialog sesana Karo baik yang merasa Karo asli atau merasa bagian dari suku lain, serta Orang Batak yang berbahasa Karo jelas tegas membedakan antara Karo dan Batak. Maka dapat kita simpulkan kalau penyematan kata 'batak' bagi identitas Suku Karo itu bersifat eksonim atau dari luar, bukan dari Karo itu sendiri.

Jadi, 𝘶𝘭𝘢 𝘬𝘢 𝘪𝘢𝘵𝘢𝘬𝘦𝘯𝘮𝘶 𝘯𝘪𝘯𝘪-𝘯𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘯𝘢𝘪 𝘱𝘦 𝘯𝘨𝘨𝘰 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘉𝘢𝘵𝘢𝘬, 𝘵𝘶𝘥𝘶𝘩𝘮𝘶 𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘬𝘶𝘢𝘭𝘢𝘵 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘩𝘢𝘭 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘰 𝘯𝘨𝘦 𝘮𝘦𝘳𝘩𝘢𝘵𝘦𝘯 𝘯𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨𝘪 𝘒𝘢𝘳𝘰 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘦𝘯𝘥𝘢!

Mejuah-juah INDONESIA 🇮🇩






23/02/2026

SIANGKAN NINA SI LA NGANGKA

Bahasa Indonesia dan Bahasa Prancis ataupun Vietnam sama-sama ditulis dalam Aksara/Huruf Latin. Apakah si Indonesia, si Perancis atau si Vietnam bisa langsung SIANGKAN?

Begitu juga kalau kita berbicara soal aksara-aksara di Nusantara khususnya di Sumatera bagian Utara ini. Ada Aksara Kato, Batak, Mandailing, Pakpak, dll sama-sama turunan AKSARA BRAHMI sehingga memiliki karakter yang sama dan, pembeda paling nyatanya adalah bahasa yang digunakan.

Aksara Karo dengan Bahasa Karo. Aksara Batak dengan Bahasa Batak, Aksara Pakpak dengan Bahasa Pakpak, demikian juga dengan Mandailing, Simalungun, dll.

Jadi, menurutndu apakah seorang Guru (Karo) bisa langsung memahami teks pada Pustaha Batak atau Datu (Batak) bisa langsung memahami teks Pustaka Karo?

Jangan nanti paham kam bilang, kam sendiri pun tidak paham nak!

12/02/2026

KARO ADALAH SUKU ASLI YANG MENDIAMI KOTA MEDAN

Oleh: Bastanta P. Sembiring (Medan)

Jauh sebelum Kesultanan Deli berdiri (1632), di Pesisir Timur Sumatera bagian Utara (Sumatera Utara), bahkan sebelum Pendiri Kota Medan Guru Patimpus Sembiring Pelawi membuka kampung Madan (1590) yang diyakini cikal bakal Kota Medan yang sekarang ini, perkampungan dan kerajaan-kerajaan Suku Karo sudah berdiri di wilayah yang kemudian disebut Deli.

Kampung-kampung Suku Karo tersebar luas di daerah-daerah yang sekarang kita kenal dengan Kota Medan, Kota Binjai, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Langkat, Kabupaten Serdang Bedagai, dsb.

Bahkan hingga saat ini banyak perkampungan Suku Karo itu masih dapat kita temui. Bagi kam yang s**a sejarah dengan melakukan peninjauan dan uji lapangan (bukan bergantung pada buku dan internet saja) kam akan terkejut melihat bagaimana perkampungan-perkampungan yang didiami Suku Karo yang dalam catatan penjelajah asing tempo dulu itu, hingga sampai saat ini masih ada.

Salah satunya kampung saya Patumbak yang dulunya adalah bekas ibu negeri dari Kerajaan Urung Senembah.

Perang “Tanduk Benua” atau oleh sejarahwan kenamaan asal Sumut T. Lukman Sinar (yang juga adalah keturunan dari Kesultanan Serdang) sebagai “Perang Sunggal” merupakan perang rakyat Sunggal beserta warga Suku Karo lainnya dari sekitar; baik dari Urung Senembah dan Urung Sukapiring maupun dari Dataran Tinggi Karo. Ini adalah perang melawan kapitalis Belanda.

Awal perang ini meletus akibat klaim sepihak oleh Kesultanan Deli terhadap tanah-tanah ulayat Suku Karo, khusunya di wilayah Urung Sunggal (Serbanaman) yang rajanya Suku Karo dari merga Karo-karo Surbakti.

Kesultanan Deli yang dalam tradisi Karo adalah Anak Beru dari Sunggal merasa berhak atas tanah-tanah itu yang disebut Dusun (Karo Jahé). Padahal, dalam tradisi Karo, Sultan Deli adalah Anak Beru atau bisa kita katakan pelaksana tugas, bukan penguasa seperti gelar-gelar sultan di daerah lainnya. Tradisi demikian bukan hanya terjadi di Karo, tetapi tersebar luas di Asia Tenggara.

Tidak senang dengan persengkongkolan antara Sultan Deli dengan Belanda, maka Datuk Sunggal Surbakti Mergana pun kemudian melakukan perlawanan yang mengakibatkan meletusnya Perang Sunggal yang oleh warga Suku Karo dikenal dengan “Perang Tanduk Benua” (1872 – 1895). Perang ini menelan banyak korban nyawa dan kerugian materi dari kedua belah pihak (lihat DI SINI --> https://karosiadi.blogspot.com/2011/12/perang-sunggal-perang-terlama-di.html?m=1 ).

Pihak Belanda pun 3 kali harus memobilisasi kekuatan militer dari Batavia dan mengeluarkan medali khusus untuk menghadapi perlawanan para pendikar-pendikar Suku Karo. Hingga akhirnya, dengan kelicikannya, dengan dalin perdamaian, Belanda berhasil menawan Datuk Sunggal Badiuzzaman Surbakti dan saudaranya Datuk Alang Muhammad Bahar. Belanda membuang mereka masing-masing ke Cianjur dan Banyumas (lihat DI SINI --> https://historia.id/politik/articles/raja-yang-diasingkan-vXjxm ).

Akan tetapi, walau merasa dihianati oleh Anak Berunya, Datuk Sunggal dan masyarakat Karo tidak pernah memerangi Deli. Padahal, adik Sultan Deli memimpin ekspedisi militer membantu tentara Belanda yang didatangkan dari Siak untuk menghadapi Sunggal.

Inilah bentuk kesetiaan sumpah Karo dan keleng até dari seorang Kalimbubu kepada Anak Berunya, walau turang, silih dan beberénya kemudian menghianati. Dan, hingga saat ini, warga Suku Karo masih setia pada sumpah itu.

Mari kita renungkan sejenak apa yang dikatakan oleh Juara R. Ginting dalam sebuah tulisannya mengenai Perang Sunggal ini:

“Perlu kita renungkan, begitu lamanya Perang Sunggal, adakah orang-orang Karo menyerang Sultan Deli maupun orang-orang Melayu? Tidak ada. Perang Sunggal itu jelas sekali menyerang kapital asing di tanah ulayat Karo. Adakah Sultan atau orang-orangnya menyerang Datuk Sunggal atau pas**an yang membela Datuk Sunggal? Ada. Adik Sultan Deli memimpin sebuah pas**an membantu tentara Belanda dari Siak menyerang pas**an Nabung Surbakti di Tandak Benua. Renungkan apa yang terjadi. Menurut tafsir saya, Datuk Sunggal tetap setia pada Sumpah Karo, menyayangi anak beru. Meki marah pada anak beru yang mengkhianatinya (Sultan Deli) kemarahannya ditumpahkan kepada Belanda keparat. ITULAH KARAKTER KARO. Harap mengerti dan sampai sekarang itu masih berlaku” (Juara R. Ginting.

Perang dasyat ini kemudian merubah segalanya di Sumatera Timur. Trauma akan perang saudara yang berkepanjangan dan tekanan dari pihak Belanda diyakini menjadi sebab masyarakat Karo semakin terasingkan.

Terutama di kancah politik Sumatera Timur hingga Sumatera Utara saat ini (khususnya di Medan, Binjai, Langkat, Deli Serdang dan Serdang Bedagai). Membuat Suku Karo yang nota bene penduduk asli sekarang ini malah dianggap sebagai tamu/ pendatang di tanah leluhurnya.

Jadi, kinikaron (kekaroan) (sebutan untuk segala hal yang berkaitan dengan Suku Karo) di Medan sekitarnya bukanlah hal yang baru, karena Suku Karolah suku asli yang mendiami Medan dan juga yang membuka/ mendirikan Kota Medan (Guru Patimpus Sembiring Pelawi).

Maka sudah sangat sepatutnya Pemerintah Kota Medan dalam perancanaan tata kota memperhatikan dan membangun berdasarkan corak kekaroan. Agar kota ini dan penduduknya tidak kehilangan dan lupa sejarah panjangnya.

Mejuah-juah Kuta Medan Simalem!

* Sumber: http://kahekolu.com/archives/10522








📸 Karo Architecture - Medan, Sumatra 1948. This WWII era photo was taken by Capt. George S. White. Source : Flickr.com | Karo Siadi

https://www.facebook.com/100079418138786/posts/1204908139716071/?mibextid=rS40aB7S9Ucbxw6v
12/02/2026

https://www.facebook.com/100079418138786/posts/1204908139716071/?mibextid=rS40aB7S9Ucbxw6v

KARO ADALAH SUKU ASLI YANG MENDIAMI KOTA MEDAN

Oleh: Bastanta P. Sembiring (Medan)

Jauh sebelum Kesultanan Deli berdiri (1632), di Pesisir Timur Sumatera bagian Utara (Sumatera Utara), bahkan sebelum Pendiri Kota Medan Guru Patimpus Sembiring Pelawi membuka kampung Madan (1590) yang diyakini cikal bakal Kota Medan yang sekarang ini, perkampungan dan kerajaan-kerajaan Suku Karo sudah berdiri di wilayah yang kemudian disebut Deli.

Kampung-kampung Suku Karo tersebar luas di daerah-daerah yang sekarang kita kenal dengan Kota Medan, Kota Binjai, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Langkat, Kabupaten Serdang Bedagai, dsb.

Bahkan hingga saat ini banyak perkampungan Suku Karo itu masih dapat kita temui. Bagi kam yang s**a sejarah dengan melakukan peninjauan dan uji lapangan (bukan bergantung pada buku dan internet saja) kam akan terkejut melihat bagaimana perkampungan-perkampungan yang didiami Suku Karo yang dalam catatan penjelajah asing tempo dulu itu, hingga sampai saat ini masih ada.

Salah satunya kampung saya Patumbak yang dulunya adalah bekas ibu negeri dari Kerajaan Urung Senembah.

Perang “Tanduk Benua” atau oleh sejarahwan kenamaan asal Sumut T. Lukman Sinar (yang juga adalah keturunan dari Kesultanan Serdang) sebagai “Perang Sunggal” merupakan perang rakyat Sunggal beserta warga Suku Karo lainnya dari sekitar; baik dari Urung Senembah dan Urung Sukapiring maupun dari Dataran Tinggi Karo. Ini adalah perang melawan kapitalis Belanda.

Awal perang ini meletus akibat klaim sepihak oleh Kesultanan Deli terhadap tanah-tanah ulayat Suku Karo, khusunya di wilayah Urung Sunggal (Serbanaman) yang rajanya Suku Karo dari merga Karo-karo Surbakti.

Kesultanan Deli yang dalam tradisi Karo adalah Anak Beru dari Sunggal merasa berhak atas tanah-tanah itu yang disebut Dusun (Karo Jahé). Padahal, dalam tradisi Karo, Sultan Deli adalah Anak Beru atau bisa kita katakan pelaksana tugas, bukan penguasa seperti gelar-gelar sultan di daerah lainnya. Tradisi demikian bukan hanya terjadi di Karo, tetapi tersebar luas di Asia Tenggara.

Tidak senang dengan persengkongkolan antara Sultan Deli dengan Belanda, maka Datuk Sunggal Surbakti Mergana pun kemudian melakukan perlawanan yang mengakibatkan meletusnya Perang Sunggal yang oleh warga Suku Karo dikenal dengan “Perang Tanduk Benua” (1872 – 1895). Perang ini menelan banyak korban nyawa dan kerugian materi dari kedua belah pihak (lihat DI SINI --> https://karosiadi.blogspot.com/2011/12/perang-sunggal-perang-terlama-di.html?m=1 ).

Pihak Belanda pun 3 kali harus memobilisasi kekuatan militer dari Batavia dan mengeluarkan medali khusus untuk menghadapi perlawanan para pendikar-pendikar Suku Karo. Hingga akhirnya, dengan kelicikannya, dengan dalin perdamaian, Belanda berhasil menawan Datuk Sunggal Badiuzzaman Surbakti dan saudaranya Datuk Alang Muhammad Bahar. Belanda membuang mereka masing-masing ke Cianjur dan Banyumas (lihat DI SINI --> https://historia.id/politik/articles/raja-yang-diasingkan-vXjxm ).

Akan tetapi, walau merasa dihianati oleh Anak Berunya, Datuk Sunggal dan masyarakat Karo tidak pernah memerangi Deli. Padahal, adik Sultan Deli memimpin ekspedisi militer membantu tentara Belanda yang didatangkan dari Siak untuk menghadapi Sunggal.

Inilah bentuk kesetiaan sumpah Karo dan keleng até dari seorang Kalimbubu kepada Anak Berunya, walau turang, silih dan beberénya kemudian menghianati. Dan, hingga saat ini, warga Suku Karo masih setia pada sumpah itu.

Mari kita renungkan sejenak apa yang dikatakan oleh Juara R. Ginting dalam sebuah tulisannya mengenai Perang Sunggal ini:

“Perlu kita renungkan, begitu lamanya Perang Sunggal, adakah orang-orang Karo menyerang Sultan Deli maupun orang-orang Melayu? Tidak ada. Perang Sunggal itu jelas sekali menyerang kapital asing di tanah ulayat Karo. Adakah Sultan atau orang-orangnya menyerang Datuk Sunggal atau pas**an yang membela Datuk Sunggal? Ada. Adik Sultan Deli memimpin sebuah pas**an membantu tentara Belanda dari Siak menyerang pas**an Nabung Surbakti di Tandak Benua. Renungkan apa yang terjadi. Menurut tafsir saya, Datuk Sunggal tetap setia pada Sumpah Karo, menyayangi anak beru. Meki marah pada anak beru yang mengkhianatinya (Sultan Deli) kemarahannya ditumpahkan kepada Belanda keparat. ITULAH KARAKTER KARO. Harap mengerti dan sampai sekarang itu masih berlaku” (Juara R. Ginting.

Perang dasyat ini kemudian merubah segalanya di Sumatera Timur. Trauma akan perang saudara yang berkepanjangan dan tekanan dari pihak Belanda diyakini menjadi sebab masyarakat Karo semakin terasingkan.

Terutama di kancah politik Sumatera Timur hingga Sumatera Utara saat ini (khususnya di Medan, Binjai, Langkat, Deli Serdang dan Serdang Bedagai). Membuat Suku Karo yang nota bene penduduk asli sekarang ini malah dianggap sebagai tamu/ pendatang di tanah leluhurnya.

Jadi, kinikaron (kekaroan) (sebutan untuk segala hal yang berkaitan dengan Suku Karo) di Medan sekitarnya bukanlah hal yang baru, karena Suku Karolah suku asli yang mendiami Medan dan juga yang membuka/ mendirikan Kota Medan (Guru Patimpus Sembiring Pelawi).

Maka sudah sangat sepatutnya Pemerintah Kota Medan dalam perancanaan tata kota memperhatikan dan membangun berdasarkan corak kekaroan. Agar kota ini dan penduduknya tidak kehilangan dan lupa sejarah panjangnya.

Mejuah-juah Kuta Medan Simalem!

* Sumber: http://kahekolu.com/archives/10522








📸 Karo Architecture - Medan, Sumatra 1948. This WWII era photo was taken by Capt. George S. White. Source : Flickr.com | Karo Siadi

11/02/2026

TEBA

Dalam beberapa mangmang Karo atau catatan di Pustaka Karo disebutkan, "natap ia ku Timur, ku Jawi, ku Barat, ku Teba... "

Ada perkampungan asli Suku Karo bernama Paribun Teba yang dijaman sekarang sering disebut oleh orang sekarang dengan Paribuan Toba.

Samakah Teba dengan Toba?

Apakah sebutan Kalak Teba oleh Orang Karo itu untuk Orang Toba (Batak) secara khusus?

Pernahkah kam berpikir atau mencoba berpikir ulang dan atau ingin mencari arti makna sebenarnya kata Teba dalam khasanah Budaya Suku Karo?

Ula kari bagi Gula Batak si Kalak Batak asli pe labo tehna kai e 😁 jadi sara kami mari cari tau mengapa demikian!

Mejuah-juah!

Address

Provinsi Karo Simalem
Medan

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Politisi Kedai Kopi posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share