Simpang Selayang

Simpang Selayang KEDE KOPI HARHAR Simpang Selayang Berada di Jl. Setia Budi 173-175-177-179

09/12/2025
https://www.facebook.com/share/p/19m4FafEnR/
02/07/2025

https://www.facebook.com/share/p/19m4FafEnR/

Pernahkah melihat warung kelontong kecil di sudut kota, dijaga oleh pria tua bersendal jepit, celana pendek, dan kaos lusuh tapi tiap minggu bisa setor puluhan juta ke distributor barang? Atau restoran Chinese food sederhana yang pengunjungnya selalu ramai, dikelola oleh keluarga yang setiap harinya bahu-membahu, dari dapur sampai kasir? Dari luar terlihat biasa, tapi siapa sangka mereka sudah beli dua ruko dan tanah di belakang pasar. Ini bukan cerita fiksi. Ini nyata. Dan inilah salah satu cermin dari filosofi kaya lintas generasi orang-orang China.

Orang China punya prinsip hidup yang kadang berbanding terbalik dengan cara kita menjalani hari. Di saat sebagian besar dari kita baru dapat bonus kerja sudah buka marketplace, mereka justru mencatat hasil penjualan dan menghitung biaya operasional. Bagi mereka, bisnis adalah pondasi, bukan ajang validasi. Ada pepatah Tionghoa kuno berbunyi “Qiong yang shengyi, tu yang jizid”, artinya bisnis dipelihara dalam kesederhanaan, lalu kekayaan pribadi akan datang setelahnya. Maka tak heran bila mereka lebih memilih pakai motor bebek 15 tahun daripada beli mobil baru, selama toko mereka bisa buka cabang.

Perbedaan ini semakin kentara ketika kita melihat bagaimana orang Tionghoa memandang waktu dan kesabaran. Mereka punya filosofi “zuo shi yao changyuan”, yaitu berpikir jangka panjang. Sabar membangun bisnis meski bertahun-tahun belum terlihat hasilnya. Sedangkan kita? Baru sebulan jualan online nggak laku, sudah overthinking, minta ganti nama brand, atau bahkan nyerah total. Mereka siap kerja keras 10 tahun, kita ingin viral 10 hari.

Dalam pengelolaan uang, prinsip “jiejian shi meide” atau hemat adalah kebajikan menjadi gaya hidup turun-temurun. Anak-anak diajari untuk mencatat pengeluaran sejak kecil. Modal bukan untuk dibanggakan, tapi diputar agar makin besar. Mereka tidak pusing harus tampil mewah, karena tujuan utamanya adalah membesarkan bisnis, bukan sekadar memoles citra. Bandingkan dengan kita yang kadang baru gajian langsung update OOTD dan kopi mahal, meskipun cicilan belum lunas.

Lebih jauh, kekuatan orang Tionghoa juga terletak pada keharmonisan keluarga.
“Jia he wan shi xing”, jika keluarga kompak, semua urusan akan lancar. Mereka percaya bahwa rezeki bisa dilipatgandakan lewat sinergi antar anggota keluarga. Banyak bisnis besar yang dibangun mulai dari ayah-ibu dan diteruskan anak-anaknya. Semua ikut kerja, tidak ada yang gengsi. Sementara kita sering kali menghindari kerja sama dengan saudara karena takut ribut, atau malah ribut duluan hanya karena urusan pembagian hasil.

Satu nilai lain yang luar biasa kuat dalam budaya bisnis China adalah guanxi, jaringan relasi. “Guanxi jiu shi caifu”, relasi adalah kekayaan. Mereka membangun hubungan bertahun-tahun, bahkan tanpa kontrak, karena yang dijaga bukan cuma keuntungan, tapi kepercayaan. Kontras dengan kita yang kadang sekali dipercaya, malah jadi kesempatan untuk main curang. Mereka tahu bahwa bisnis yang sehat itu dibangun dari kepercayaan yang dijaga, bukan dari mulut manis saat pitching.

Tentu kita tidak bisa menyamaratakan semua orang Indonesia hidup dengan prinsip instan. Tapi tren dan data menunjukkan bahwa kebiasaan konsumtif masih merajalela. Data dari BPS dan OJK beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa lebih dari 50% anak muda Indonesia tidak punya dana darurat. Bahkan survei Katadata pada 2022 mencatat bahwa 7 dari 10 responden usia 20-35 tahun lebih mementingkan gaya hidup daripada menabung atau investasi. Di sisi lain, keluarga-keluarga China, bahkan dari generasi bawah, memiliki portofolio properti atau usaha sejak muda.

Bandingkan dengan tren “gaya dulu, mikir belakangan” yang kini menjamur. Tidak sedikit orang yang memaksakan diri terlihat sukses, padahal baru satu kali menang proyek. Celakanya, validasi semacam ini sering mendapat tepuk tangan, sehingga makin banyak yang tergoda. Kita lupa, kaya itu bukan soal penampilan, tapi soal kemampuan bertahan dan berkembang secara konsisten. Bahkan, ada fenomena orang yang rela berutang hanya demi terlihat punya branding pribadi yang “naik kelas.”

Apakah semua orang China sukses dan tidak punya masalah? Tentu tidak. Tapi apa yang bisa kita pelajari adalah sistem nilai yang mereka jaga secara turun-temurun. Mereka tahu bahwa hidup adalah maraton, bukan sprint. Dan kekayaan sejati bukan untuk dipamerkan, melainkan diwariskan dalam bentuk aset, etos kerja, dan prinsip hidup. Kalau semua ini terasa menampar, mungkin memang kita perlu ditampar. Tapi bukan untuk merendahkan, melainkan untuk membangunkan. Kita masih bisa belajar. Kita masih bisa berubah. Karena pada akhirnya, pilihan ada di tangan kita sendiri, mau terus cari validasi dari lingkungan, atau mulai membangun fondasi untuk masa depan.

Jika kita hari ini masih berjuang, ingatlah bahwa pelan bukan berarti tertinggal. Tapi asal langkahnya konsisten dan fondasinya kuat, maka kita sedang menuju sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekadar pujian singkat. Bangun bisnis itu dari ketekunan, bukan gengsi. Simpan cuanmu untuk ekspansi, bukan eksistensi. Gengsi bisa ditunda, tapi pondasi harus diprioritaskan.

Karena sukses itu bukan soal terlihat, tapi tentang bertahan dan meninggalkan jejak yang bisa diwariskan.
---


Disclaimer:
Tulisan ini merupakan ulasan sederhana terkait fenomena bisnis atau industri untuk digunakan masyarakat umum sebagai bahan pelajaran atau renungan. Walaupun menggunakan berbagai referensi yang dapat dipercaya, tulisan ini bukan naskah akademik maupun karya jurnalistik. Sumber dari ukm_eksporter_indonesia yang telah dikembangkan.

08/06/2021

Kutipan dari Romo Mudji Sutrisno dkk.
@ Diskusi Webinar "Aliansi Kebangsaan."

NEW NORMAL adalah MATINYA HIPEREALITA

Pertama-tama saya akan bilang New Normal ini sebenarnya adalah back to normal.

Justru kehidupan kemarin itu yang abnormal.

Kedua, saya akan cerita apa itu hiperealita?

Sederhananya ketika Anda beli segelas kopi mis. Starbuck seharga 40an ribu. Mengapa segelas kopi bisa begitu mahal?
Anggaplah harga dasar kopi itu 7 ribu, maka 33 ribu sisanya Anda membayar harga sewa sofa outlet hingga membeli simbol starbuck.

Angka 33 ribu itulah hiperealita.

Sebuah kondisi mental yang menganggap sesuatu itu nyata dan kita butuhkan melebihi kebutuhan dasar kita sendiri.

(Fyi. istilah hiperalita diperkenalkan oleh filsuf Prancis bernama Jean Baudrillard dalam bukunya tentang Simulacra).

Kita sesungguhnya tidak akan menemui hiperealita sedahsyat kemarin andai saja tidak ditemukan yang namanya Facebook, Instagram, Twitter, dan teman-temannya.

Tiba-tiba datanglah covid19.
Mendadak kita semua takut keluar rumah, takut berkerumun, aktivitas di luar dibatasi. Apa-apa semua serba dilakukan dari rumah.

Lalu bagaimana nasib para hiperealista? (sebutan saya untuk pelaku hiperealita).

Starbuck sepi, kafe sepi, mall sepi.
Tidak ada orang yang meng-upload imej-imej mereka di outlet-outlet pendongkrak citra diri itu.

Masihkah relevan kebutuhan akan luxury, prestise dan status hari ini?
Masih mungkinkah kita membutuhkan itu?

Atau kita langsung ke puncak pertanyaannya: Masihkah dibutuhkan hal-hal seperti itu hari ini?

Pandemi covid19 ini ibarat tombol reset.

Sekali ditekan langsung semua berbondong-bondong menuju ke titik awal.

Kita sudah merasakan PSBB, di mana pada masa itu kita diarahkan untuk melakukan segala hal yang kita butuhkan saja.

Ini kabar buruk untuk usaha seperti pariwisata, hotel, mall, kafe-kafe dan semua usaha yang menjadikan CITRA, LUXURY atau PRESTISE sebagai core bisnisnya.

Pembatasan sosial itu adalah hantu bagi usaha-usaha tadi.
Di mana letak kesalahannya kalau begitu?

Benarkah kehidupan sosial benar-benar telah dibatasi?

Sebetulnya tidak salah. Karena yang terjadi sesungguhnya bukanlah pembatasan sosial tetapi mengembalikan kehidupan sosial kita ke titik yang wajar ketika kehidupan sosial kita sudah benar-benar OVERDOSIS (40K for a glass of coffee?)

Kesalahannya adalah Starbuck dkk, membasiskan bisnisnya kepada materi yang imajiner (citra, luxury, prestise, status sosial).

Kalau Anda mengira Starbuck dkk itu menjual minuman/makanan, jawabannya TIDAK, karena sebetulnya bisnis mereka adalah menjual dan membeli simbol-simbol.

Simbol akan berubah menjadi status manakala kehidupan sosial manusia didorong sampai puncak di luar kebutuhan wajar manusia, dan ketika ruang manusia untuk saling bertemu hancur lebur seperti hari ini saat itulah simbol-simbol itu runtuh nilai jualnya.

Apakah ini pertanda buruk?
Yup ini pertanda buruk, yang menunjukkan betapa lugunya kita kemarin yang selama ini rutin bekerja 8 jam sehari, 5 hari seminggu hanya untuk mengongkosi kebutuhan imajiner (hiperealita) kita.

Kemarin kita benar-benar dijauhkan dari apa yang benar-benar kita butuhkan.

Kita malah membiayai ilusi.

New Normal, adalah hancurnya sebuah abnormalitas dan kembalinya sebuah kehidupan normal.

Sebelum revolusi industri, kehidupan itu relatif sangat normal.
Manusia setara bekerja untuk kebutuhannya.

Ketika ngopi mereka, ya ngopi untuk menghilangkan penat mereka.

Kedai kopi pun sebagai ruang publik untuk saling guyub berinteraksi, bukan ruang halusinasi atau untuk menyendiri.

Selesai ngopi kembali ke kehidupannya. (bukannya pindah kasta).

Upah yang mereka dapat pun untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Bukan untuk membeli merek.

Ketika kondisi di atas dihantam oleh kejadian luar biasa, dalam hal ini seperti pandemi, kemungkinan tidak akan se-dramatis seperti yang terjadi hari ini.

Hari ini ribuan pekerja menggantungkan hidupnya pada bisnis imajiner seperti mall, Starbuck dkk.

Bisa terbayang efek domino dari kehancurannya... rubuh satu sirna banyak. Ribuan pekerja terancam kehidupannya seiring hilangnya pekerjaan mereka.
Mereka teralienasi dari pekerjaannya sehingga merasa bukan siapa-siapa dan tidak berdaya ketika hilang profesinya.

Sudah waktunya dunia-dunia usaha imajiner itu merombak plan bisnisnya ke usaha-usaha yang lebih nyata (riil) dan beradaptasi bila ingin survive hari ini.

Alih-alih mempertahankan bisnis yang sama seolah-olah kita masih hidup di dunia kemarin. (ini namanya gagal move on)

New Normal adalah sebuah terapi psikis dan efek kejut bagi kita untuk memikirkan ulang, untuk introspeksi betapa rapuhnya kehidupan sosial kita kemarin, bak jaring laba-laba besar. Tertata, tersistem dan terstruktur rapih serta massif tetapi tidak kita sadari begitu rapuh dan labil ketika sebuah batu menimpanya.

New Normal mendorong kita untuk fokus dan mengefisiensikan tenaga dan pikiran kita untuk hal-hal yang kita butuhkan saja.
Dan petunjuk atas matinya kebutuhan-kebutuhan halusinasi kita.
Seolah-olah hidup kita serba dicukupkan.
Kita didorong memikirkan kembali apa yang benar-benar kita butuhkan. Kembali ke jati diri dan fungsi diri kita yang nyata.

It's all done. We are shifting.
Change or we die. Get real!

Dunia kita yang kemarin sudah mati.

Dunia hari ini ibarat sebuah rumah sakit yang besar. Kita tergeletak di dalamnya dan hanya berpikir untuk tetap sehat dan tetap hidup.

Pernahkah kita melihat orang selfie saat tergeletak sekarat di rumah sakit?
Itulah matinya hiperealita!

Jika Baudrillard di tahun 80an lalu sudah memikirkan kondisi hiperealita, sesungguhnya saat itu dia sudah melihat bahaya dan sedang menyalakan simbol SOS (save our soul) itu kepada kita agar kita lekas sadar dan menyelamatkan diri bahwa kita berdiri di atas bom waktu yang siap meledak dan menghancurkan kita.

New Normal?
Welcome normal life, keep alive!

Disadur juga dari pemikiran-pemikiran Filsafat Jean Baudrillard (seorang Filsuf Kontemporer, komentator politik & sosiolog, yang juga berprofesi sebagai fotografer Perancis).

21/05/2021

Kede Kopi HARHAR

Kede Kopi HarharJl. Setia Budi No.12a, Simpang Selayang, Kec. Medan Tuntungan, Kota Medan, Sumatera Utara 201350812-6534...
21/01/2021

Kede Kopi Harhar
Jl. Setia Budi No.12a, Simpang Selayang, Kec. Medan Tuntungan, Kota Medan, Sumatera Utara 20135
0812-6534-404

★★★★★ · Coffee shop · Jl. Setia Budi No.12a

24/11/2020

Berdasarkan pengalaman hari ini:

Makan siang hari ini saya bersama teman singgah di Rumah Makan Sop Ikan Mas Agus (tepat dibelakang kantor Pertamina) Jakarta Pusat.

Rumah makan ini sering saya kunjungi dahulu sewaktu diperusahaan lama, akan tetapi pada saat mampir, ada yg sedikit membuatku tercengang. Saya bertanya knp kok sepi mas? Bukannya jam segini harusnya rame ya? Pemilik berkata, iya mas selama covid pendapatan saya turun drastis.

Yg biasanya saya menghasilkan omset 5-7 Juta/hari, sekarang dalam depalan bulan terakhir saya hanya dapat rata-rata omset 500rb/hari. Bahkan awalnya karyawan saya 7 orang, saya kurangin menjadi 2 orang dan sekarang saya tiadakan, hanya tinggal saya sendiri. Ditambah lagi terakhir di warung ini saya hanya sampai tanggal 15 Desember’20, dikarenakan saya tidak sanggup bayar sewa warungnya. Padahal saya usaha rumah makan ini sudah 8 Tahun, baru kali ini saya merasakan yg seperti ini. Hancur dalam waktu 8 bulan.

Dari situ saya berpikir bahwa Covid-19 benar2 merusak sendi kehidupan masyarakat kita.

Jika ada yang merasa tidak peduli dengan Covid-19, minimal jangan menyusahkan orang lain. Kasihan orang lain & pemerintah yg sudah habis-habisan menahan ini semua.

Jangan merasa paling benar sehingga mengabaikan ini semua.

Memang periuk nasimu tidak terganggu secara langsung dengan ulah-ulah masa bodohmu thdp peraturan yg ada. Melanggar peraturan dengan dalil agama, sehinga berimbas makin banyaknya org yg tertular. Merasa paling hebat jika banyak yg mengarak-arak, meyemburkan dusta & kebohongan, menghasut orang lain.

Sadar atau tidak ada istilah “kebohongan yg disampaikan berulang-ulang, bisa seakan-akan menjadi kebenaran”.

Itulah yg terjadi di Indonesia sekarang.

Marcus Cicero Filsuf Romawi (43 BC) pernah berpendapat:

1. The Poor-Work & Work (Si Miskin - Kerja & Kerja)

2. The Rich-Exploit the Poor (Si Kaya – mengekspoitasi si miskin)

3. The Solider-Protects Both (Si Angkatan Bersenjata – Melindungi keduanya)

4. The Taxpayer-Pays for all three (Si Wajib Pajak – membayar ketiganya)

5. The Banker-Robs all Four (Si Bankir – Merampok keempatnya)

6. The Lawyer-Misleads all Five (Si Pengacara – Menyesatkan kelimanya)

7. The Doctor-Bills all Six (Si Dokter-Menagih keenemnya)

8. The Goon-Scare all of seven (Si Preman/Orang Jahat-Menakuti ketujuhnya)

9. Politician-Lives Happily on account of all eight (Politisi-Hidup bahagia diatas kedepalannya).

Artinya apa?? jangan main-main dgn profesi preman karena mereka mempunyai level teratas kedua. Apalagi preman berjubah agama. Dan diatas semua itu, mereka dikendalikan oleh politisi busuk yg menghidupi mereka.
Selamat menikmati tulisan saya, semoga menjadi inspirasi..

Copy From FB (Simon Fratello)

18/06/2020

Penyebab: GANGGUAN MENTAL DI USIA KETIGA
Oleh: Arnaldo Liechtenstein, dokter.

Setiap kali saya mengajar kedokteran klinis kepada mahasiswa di tahun keempat kedokteran, saya mengajukan pertanyaan berikut:

Apa penyebab kebingungan mental pada lansia?

Beberapa menjawab: "Tumor di kepala". Saya bilang : Tidak!

Lainnya mengatakan: "Gejala awal *Alzheimer*. Saya jawab lagi: Tidak!

Atas setiap penolakan terhadap jawaban mereka, respons mereka berkurang.

Bahkan mereka ramai ketika saya katakan ada tiga penyebab paling umum:

- gula tidak terkendali
diabetes;
- infeksi saluran kencing;
- dehidrasi

Memang ini mungkin seperti lelucon, tetapi tidak. Orang berusia di atas 60 terus-menerus berhenti merasa haus dan akibatnya berhenti minum cairan.

Ketika tidak ada orang di sekitar untuk mengingatkan mereka untuk minum cairan, mereka dengan cepat mengalami dehidrasi. Dehidrasi parah dan mempengaruhi seluruh tubuh. Ini dapat menyebabkan kebingungan mental yang tiba-tiba, penurunan tekanan darah, jantung berdebar,
angina (nyeri dada), koma dan bahkan kematian.

Kebiasaan "lupa" minum cairan ini dimulai pada usia 60, ketika itu hanya memiliki sekitar dari 50% air yang seharusnya di miliki dalam tubuh.
Orang di atas 60 memiliki cadangan air yang lebih rendah. Ini adalah bagian dari proses penuaan alami.

Tetapi ada lebih banyak komplikasi. Meskipun mereka mengalami dehidrasi, mereka tidak merasa butuh air minum, karena mekanisme keseimbangan internal mereka tidak berfungsi dengan baik.

*Kesimpulan:*
Orang yang berusia di atas 60 tahun mudah mengalami dehidrasi, bukan hanya karena memiliki persediaan air yang lebih kecil, tetapi juga karena mereka tidak merasakan kekurangan air dalam tubuh.

Meskipun orang di atas 60 tahun terlihat sehat, kinerja reaksi dan fungsi kimia dapat merusak seluruh tubuh mereka.

Jadi, inilah dua peringatan:
1) * Biasakan minum cairan *. Cairan meliputi air, jus, teh, air kelapa, susu, sup, dan buah-buahan yang kaya air, seperti semangka, melon, persik, dan nanas, jeruk atau timun juga berfungsi.

Yang penting adalah, setiap dua jam, Anda harus minum cairan. Ingat ini !

2) Peringatan untuk anggota keluarga: terus-menerus menawarkan cairan kepada orang usia di atas 60. Pada saat yang sama, amati mereka.

Jika Anda menyadari bahwa mereka menolak cairan, dan dari satu hari ke hari berikutnya, mereka mudah tersinggung, terengah-engah atau kurang perhatian, ini hampir pasti merupakan gejala dehidrasi berulang.👍👍

Arnaldo Liechtenstein (46), dokter, adalah seorang dokter umum di Rumah Sakit das Clínicas dan seorang profesor yang bekerja sama di Departemen Kedokteran Klinik di Fakultas Kedokteran Universitas São Paulo (USP).

Bila anda s**a tulisan ini, sebarkan !!

Teman dan keluarga Anda perlu tahu hal ini.

Senang berbagi untuk mereka usia di atas 60 tahun

Salam sehat dan jangan lupa bahagia 🌹

Address

Jalan Setia Budi
Medan
20135

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Simpang Selayang posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Simpang Selayang:

Share