13/11/2017
TEMAN TAPI MUSUH: IRONI PERSAINGAN ERA DIGITAL
Teknologi Digital memang sudah menjungkirbalikkan segalanya. Market bergeser. Perilaku pelanggan berubah. Cara bersaing pun juga demikian. Tulisan kali ini membahas perubahan pola persaingan dari era analog ke era digital dan bagaimana bisnis Anda bisa menang ditengah perubahan tersebut.
Di era analog dulu, semuanya jauh lebih simpel. Kita bersaing di satu kolam yang sama. Kita tahu siapa kompetitor kita. Strategi persaingan pun paling berkutat hanya tentang siapa yang punya produk dengan fitur dan keunikan yang paling bagus, dan cepat-cepatan masuk ke pasar dengan strategi marketing yang paling tepat.
Sekarang tidak lagi.
Di era digital ini, persaingan terjadi antar kolam. Ini yang disebut dengan Asymetric competition. Hotel dulu bersaing dengan sesama hotel. Jelas banget. Sekarang hotel bersaing sama pemilik rumah dan apartemen pribadi, terima kasih kepada platform digital AirBnB.
Dulu yang namanya TV bersaing mencari pengiklan hanya dengan sesama stasiun TV, sekarang mereka bersaing juga dengan media sosial seperti Facebook, Instagram dan Twitter. Bank juga dulu hanya bersaing antar bank. Sekarang dengan lahirnya banyak startup Fintech (Financial Technology) dengan aplikasi seperti Go-Pay, T-Cash, Doku dan lainnya, bank sudah mulai kebakaran jenggot.
Kompetitor Anda seratus persen berbeda dengan Anda. Mereka seperti makhluk asing yang wujudnya, cara beroperasinya, serta startegi perangnya tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
Pada awalnya para pebisnis incumbent menyepelekan kehadiran mereka di muka bumi ini. Mereka dianggap tidak relevan dan tidak mengancam bisnis mereka saat itu. Namun kini keberadaan mereka tidak lagi bisa diabaikan.
Bagaimana perusahaan incumbent itu merespon kehadiran mereka? Lawan! Kalau nggak bisa melawan dengan keunggulan produk, ya lawan pakai jalur politik jika perlu.
Maka pengusaha Telco yang terancam dengan kehadiran VOIP (Voice Over Internet Protocol) seperti Skype atau Whatsapp Calls, melobi pemerintah untuk melarang VOIP di Indonesia. Strategi yang sama juga dilakukan oleh Pengusaha Taksi yang bisnisnya mulai termakan oleh Uber, Grab dan Go-Car.
Hasilnya gagal total. Memang untuk sementara pemerintah sempat membela mereka dengan mengeluarkan aturan yang membatasi pemanfaatan teknologi digital. Tapi gelombang perubahan memang tidak bisa dibendung. Rakyat (baca: pelanggan) lah yang akhirnya menang.
Jadi bagaimana sebaiknya Anda merespon? Cuma dua. Buat lini bisnis digital sendiri atau bekerjasama dengan bisnis digital yang sudah ada. Jika Anda adalah Fashion Retailer, bisa jadi Anda buat online store sendiri. Atau pilihan lainnya adalah bekerjasama dengan online retailer atau marketplace.
Untungnya jika Anda buat sendiri adalah memiliki kontrol penuh terhadap proses dan desain toko, jadi Anda bisa menjaga brand positioning dan standar layanan Anda. Lakukan ini jika Anda sudah punya basis pelanggan yang besar dan kuat, serta memiliki dukungan finansial yang kuat p**a.
Kalau tidak punya syarat diatas. Lebih baik nebeng toko online atau online marketplace yang sudah besar saja. Atau pilihan lainnya. Lakukan kedua-duanya. Semakin banyak jalur menjangkau pelanggan, maka semain baik kan?
Lihat saja chain hotel besar dan maskapai penerbangan. Walaupun mereka punya channel online reservation sendiri, tetap saja masih bekerjasama dengan Booking.com, Traveloka, Agoda, dan lainnya.
Nah dalam hal ini ada yang menarik. Mungkin Anda sudah pernah mendengar istilah coopetition? Coopetition adalah sebuah kondisi dimana dua perusahaan yang bersaing secara bisnis melakukan kerjasama bisnis yang saling menguntungkan.
Misalnya perusahaan taksi Blue Bird yang bekerjasama dengan perusahaan pesaingnya yaitu penyedia jasa transportasi berbasis online, Go-Car. Walaupun mereka 'bermusuhan' namun terpaksa 'berteman' demi kelangsungan bisnis masing-masing. Blue bird mendapatkan akses ke semua pelanggan Go-Jek (Go-Car) dan Go-Car mendapatkan armada tambahan untuk bisa melayani permintaan pelanggannya dengan baik.
Karena sifatnya yang seperti itu maka Coopetiton ini seringkali disebut dengan istilah keren 'frienemies', yang merupakan gabungan dari dua kata, 'friend' dan 'enemy'. Maka kalau diindonesiakan kita terjemahkan menjadi 'teman tapi musuh'.
Di era digital ini, frienemies sudah jadi keniscayaan. Karena tidak ada lagi satu perusahaan yang bisa menguasai segalanya dari A sampai Z. Kalau perusahaan itu benar-benar ingin memuaskan pelanggan yang standar ekspektasinya semakin melangit saat ini, maka perusahaan itu tidak punya pilihan lain selain bekerjasama dengan rival-rivalnya.
Dunia maskapai penerbangan sudah melakukannya dalam beberapa tahun terakhir ini. Sebutlah Star Alliance, Oneworld dan Sky Team, sebagai tiga aliansi maskapai terbesar di dunia. Masing-masing anggota aliansi ini saling bersaing memperebutkan penumpang. Namun mereka sadar bahwa mereka tidak bisa melayani semua rute penerbangan yang dituntut oleh pelanggannya.
Maka daripada pelanggannya lari ke maspakai lain, mereka memilih untuk berbagi pelanggan dan berbagi rute dengan maskapai lainnya. Satu perjalanan pelanggan yang sama dari satu kota ke kota lain di dunia bisa dilayani oleh beberapa maskapai berbeda yang berada dalam satu aliansi.
Nah begitulah ironi persaingan di era digital ini.
Kalau mau tahu lebih lanjut bagaimana perusahaan Anda bisa memenangkan persaingan saat ini dengan memanfaatkan transformasi digital, maka saya sarankan Anda untuk bersama saya hadir di Asia Corporate Innovation Summit (ACIS) 2017 di Jakarta, 29 November 2017.
Disana Anda bisa belajar langsung dari para pembicara kelas dunia sekaligus praktisi strategi digital yang sudah terbukti berhasil membawa perusahaanya menang di era digital saat ini. Informasi dan pendaftaran ACIS 2017 silakan kunjungi www.acisummit.com
Indrawan Nugroho
Business Innovation Consultant
Corporate Innovation Asia
SILAKAN SHARE JIKA BERMANFAAT