10/12/2015
Rasa Takut Para
Sahabat kepada Allah
Kami meriwayatkan
dari Abu Bakar
ash-Shiddiq bahwa
beliau memegang lidah
beliau dan berkata,”Ini
yang menjerumuskanku
ke dalam neraka.”
Beliau berkata,”Aduhai
gerangan, andai saja
aku adalah pohon yang
ditebang lalu dimakan.”
Hal ini juga diucapkan
oleh Thalhah, Abu ad-Darda
dan Abu Dzar.
Umar bin al-Khaththab
pernah mendengar ayat
dan sesudahnya beliau
sakit beberapa hari
sampai dijenguk.
Suatu hari beliau
mengambil segenggam
tanah dari bumi dan
berkata,”Seandainya aku
adalah tanah ini, seandainya
aku bukan “Sesuatu yang
dapat disebut? (Al-Insan:1),
seandanya ibuku tidak
pernah melahirkanku.”
Di p**i Umar terdapat dua
garis hitam karena
seringnya beliau menangis.
Ustman bin Affan berkata,
”Seandainya bila
aku mati, aku tidak
dibangkitkan kembali.”
Abu Ubaidah bin al-Jarrah
berkata, “Seandanya aku
adalah domba yang
disembelih oleh keluargaku,
mereka makan dagingku
dan minum kuahku.”
Imran bin al-Husain
berkata,” Seandainya aku
adalah abu, “yang
diterbangkan oleh angin.”
(Al-Kahfi:45).
Di p**i Ibnu Abbas
tercetak seperti tali sandal
karena air mata.
Aisyah berkata,”Seandainya
aku, “menjadi sesuatu yang
tidak berarti, lagi dilupakan.”
(Maryam;23)
Ali bin Abu Thalib
berkata,”Demi Allah, sungguh
aku melihat sahabat-sahabat
nabi Muhammad, aku tidak
melihat hari ini sesuatu
yang sama dengan mereka,
mereka mendapatkan pagi
dalam keadaan kusut yang
berdebu, di antara mata
mereka seperti lutut kambing,
mereka melewati malam hari
“dengan bersujud dan
berdiri (untuk Tuhan mereka),”
(al-Furqan:64), membaca kitab
Allah, mereka menggunakan
kening dan kaki mereka secara
bergantian, bila pagi tiba lalu
mereka mengingat Allah,
maka mereka miring seperti
pohon ditiup angin kencang,
air mata mereka menetes
sehingga ia membasahi baju
mereka. Demi Allah, seolah-
olah mereka bermalam dalam
keadaan lalai.”
Di kutip dari buku
Mukhtashar Minhajul Qashidin
Penerbit Darul Haq