Goldfish BA Aquatic

Goldfish BA Aquatic Mas koki Oranda..rancu, Oranda jambul, mutiara, bubble eyes,

renungan buat kita semua
05/01/2026

renungan buat kita semua

Sentul kini resmi naik kasta. Bukan karena pemerintah yang turun tangan atau warga lokal yang mendadak dapat wangsit membangun kota mandiri, tapi karena suntikan dana Rp 2,05 triliun dari Genting Malaysia yang memutuskan untuk mencicipi pasar properti Indonesia. Perusahaan besar yang dulu identik dengan gemerlap hiburan dan kasino di Genting Highlands ini tiba-tiba melirik sebuah kawasan di Kabupaten Bogor, yang dulu lebih dikenal karena sirkuit motor dan tempat healing dadakan. 152 hektare lahan diambil alih, bukan untuk bikin resor judi, katanya, tapi untuk membangun kawasan hunian dan komersial kelas atas. Bahasa kerennya, lifestyle centre. Bahasa manusianya, mall, apartemen mahal, dan tempat nongkrong premium yang bikin warung kopi ujung gang kelihatan kayak artefak zaman purba.

Langkah Genting ini dilakukan lewat dua entitas anak usahanya, PT Genting Properti Abadi (GPRA) dan PT Sentul City Tbk (BKSL). Dikatakan ini bukan cuma pembelian lahan, tapi komitmen jangka panjang. Istilah yang sering dipakai investor besar untuk bikin semuanya terdengar sah dan menjanjikan. Mereka bilang ini bukan sekadar land bank, tanah yang dibeli buat ditimbun lalu dijual saat harga naik. Nggak, Genting katanya serius. Mereka mau ubah Sentul jadi destinasi gaya hidup premium yang menopang Jakarta. Artinya, mereka tahu Jakarta makin sesak dan penuh stres, maka mereka hadir dengan solusi, pindah ke Sentul, beli hunian mewah, dan hidup dengan kualitas yang katanya lebih baik. Gampang kan? Asal punya uang miliaran rupiah, tentu saja.

Genting bukan pendatang baru. Mereka bukan startup kemarin sore. Ini perusahaan yang sudah sukses membangun Resorts World Genting, kompleks hiburan raksasa di Malaysia, lengkap dengan hotel, taman hiburan, pusat belanja, bahkan kasino legal satu-satunya di negeri jiran. Mereka tahu cara mengubah bukit biasa jadi mesin uang. Dan sekarang mereka akan mencoba resep yang sama, tapi dengan versi yang lebih sopan, tanpa kasino, katanya. Tapi jangan salah, meski tanpa mesin judi, mereka tetap bawa gaya yang sama, pola konsumsi, pusat hiburan, dan properti berharga fantastis yang dibalut dengan narasi keseimbangan hidup dan akses dekat ke alam.

Yang menarik, masuknya Genting ke Sentul ini disambut media dan pejabat dengan tepuk tangan. Sinyal positif untuk investasi asing, katanya. Sentul kini jadi rebutan investor regional, katanya lagi. Kita seolah lupa bahwa tanah itu dulunya lahan tidur, ladang, atau tempat hidup warga lokal. Tapi begitu investor asing masuk, semua berubah, tanah jadi komoditas, warga lokal jadi penonton, dan gaya hidup baru pun dijual dengan cicilan 20 tahun.

Konsep lifestyle centre ini memang terdengar keren. Tempat tinggal yang menyatu dengan pusat belanja, kuliner, dan hiburan. Tapi itu juga berarti harga-harga di sekitar akan ikut naik. Warung pinggir jalan perlahan tergeser oleh coffee shop dengan nama kebarat-baratan. Kontrakan sederhana dianggap kumuh dan pelan-pelan ditekan untuk minggir. Dan tentu saja, penyerapan tenaga kerja lokal akan jadi kalimat pemanis yang tak pernah dijelaskan detailnya, apakah pekerja lokal hanya akan jadi tukang parkir atau benar-benar dapat peran dalam pembangunan kawasan?

Yang paling ironis, kita sebagai warga negara ini, begitu bahagia saat dilirik investor asing. Seolah-olah itu bentuk pengakuan kelas dunia. Kita sering lupa bertanya, bagaimana pengawasan jangka panjangnya? Bagaimana pembagian keuntungannya? Apakah tanah yang dibeli akan digunakan sesuai peruntukannya, atau hanya dijadikan alat spekulasi baru yang makin menjauhkan masyarakat dari kepemilikan rumah?

Realitasnya, banyak investor lokal yang ingin main di sektor properti, tapi terhambat birokrasi dan modal. Sementara investor asing datang dengan koper berisi triliunan rupiah, disambut karpet merah, dan langsung bisa eksekusi. Dan lucunya, kita justru bangga, seolah Indonesia makin dilirik dunia, begitu katanya. Padahal yang dilirik itu tanah kita. Yang digarap itu masa depan kita. Yang berubah itu tatanan sosial kita. Tapi tak apa, yang penting headline-nya keren.

Masuknya Genting juga harusnya bikin kita berpikir ulang, apakah pembangunan ini inklusif? Apakah kawasan baru itu bisa diakses semua kalangan atau hanya jadi ruang bermain orang-orang elite? Kalau jawabannya adalah yang kedua, maka investasi ini mungkin memang menguntungkan secara ekonomi, tapi menyisakan luka sosial yang pelan-pelan membesar.

Akhirnya, kita cuma bisa tertawa getir. Tanah kita makin mahal, tapi makin sulit dimiliki. Ruang publik makin dipoles, tapi makin eksklusif. Dan investor asing makin banyak datang, sementara anak muda lokal masih menunggu nasib dari proyek-proyek perumahan subsidi yang entah jadi entah tidak.

Tapi tenang saja, semua ini dibungkus dengan istilah keren, pembangunan berkelanjutan, pengembangan kawasan strategis, investasi jangka panjang. Kita tinggal nikmati saja prosesnya, selama masih bisa numpang foto di depan lifestyle centre nanti, itu sudah cukup buat konten Instagram. Toh kita tidak benar-benar diminta beli rumah di sana, cukup beli ilusi bahwa kita ikut jadi bagian dari kemajuan. Dan begitu Rp 2 triliun disuntikkan ke Sentul, kita pun menatap masa depan dari jauh, sambil mengisi saldo e-wallet yang cukup buat bayar parkir.
---


Disclaimer:
Tulisan ini merupakan ulasan sederhana terkait fenomena bisnis atau industri untuk digunakan masyarakat umum sebagai bahan pelajaran atau renungan. Walaupun menggunakan berbagai referensi yang dapat dipercaya, tulisan ini bukan naskah akademik maupun karya jurnalistik.

 #
23/12/2025

#

20/12/2025

Di sebuah desa di China, para petani tidak lagi hanya menanam padi lalu menunggu musim panen sambil berharap hujan turun pada waktu yang tepat. Mereka menebarkan kepiting kecil jenis Eriocheir sinensis ke petakan sawah, membiarkan hewan-hewan itu berjalan, menyaring air, memangsa hama, dan menyuburkan tanah secara alami. Model ini bukan eksperimen unik, melainkan bagian dari program agroekologi besar yang kini didorong pemerintah Tiongkok, sistem pertanian polikultur yang menggabungkan padi, kepiting, ikan, atau bahkan bebek. Sementara di sisi lain Indonesia negara agraris dengan 7,46 juta hektar lahan sawah menurut BPS masih berkutat pada masalah klasik harga pupuk, tanah jenuh kimia, saluran irigasi rusak, dan produksi stagnan. Kalau mau jujur, kita ini seperti murid lama yang terus mengulang kelas, sementara negara lain sudah masuk bab baru.

Metode sawah kepiting di China bukan sekadar gimmick. Penelitian dari Chinese Academy of Agricultural Sciences (CAAS) menunjukkan bahwa kepiting membantu meningkatkan kadar nitrogen tanah, memangkas populasi hama, mengurangi kebutuhan pestisida hingga 50 persen, sekaligus memberi pendapatan tambahan melalui panen kepiting. Para petani menanam padi sambil beternak, menciptakan sistem pertanian dua keuntungan. Bahkan menurut laporan South China Morning Post, beberapa daerah mengalami lonjakan pendapatan hingga 3-4 kali lipat karena sistem ini. Bandingkan dengan Indonesia, di mana petani harus membeli pupuk mahal lalu menjual gabah dengan harga rendah, persis seperti usaha yang rugi sejak awal tetapi tetap dipaksa berjalan demi ketahanan pangan nasional.

Di Indonesia, bicara inovasi pertanian sering mentok pada seminar, bukan penerapan. Pemerintah mendorong mekanisasi, tapi irigasi kita bocor di mana-mana. Pemerintah bicara swasembada, tetapi BPS melaporkan impor beras kita pada 2023 mencapai lebih dari 3 juta ton, angka tertinggi sepanjang sejarah. Para ahli sudah lama menyarankan pendekatan agroekologi seperti integrasi ikan di sawah, tapi yang terjadi justru ketergantungan semakin besar pada pupuk kimia. Tanah yang dulunya subur kini semakin keras, keanekaragaman hayati menghilang, dan biaya produksi terus naik. Tanpa teknologi baru dan keberanian meniru yang berhasil dari negara lain, pertanian kita akan terus berjalan seperti roda pedati, bergerak, tapi lambat dan penuh beban.

Apa yang dilakukan China sebenarnya tidak rumit. Mereka mengamati ekosistem, melihat peran hewan-hewan kecil dalam menjaga keseimbangan, lalu menjadikannya bagian dari model pertanian massal. Mereka memodernisasi sambil menghormati mekanisme alam. Sementara kita, sering kali melakukan hal sebaliknya, memaksa alam mengikuti pola industri tanpa melihat konsekuensi jangka panjang. Saat pupuk subsidi berkurang, petani panik. Saat hama meningkat, solusi yang dipilih adalah obat kimia yang semakin memperparah kondisi tanah. Padahal di banyak wilayah Nusantara seperti Bali, Jawa tengah, dan Sumatera Barat sudah ada kearifan lokal integrasi ikan dengan padi yang sejak dulu menjaga ekosistem sawah tetap stabil. Ironis bahwa negara sebesar China mengadopsi prinsip itu secara ilmiah, sementara kita malah melupakannya demi pertanian modern versi brosur.

Di sisi lain, kebijakan pertanian Indonesia sering kali penuh retorika tetapi minim pengamanan lapangan. Saat gagal panen terjadi, petani disalahkan. Saat impor naik, alasan cuaca dijadikan tameng. Tapi tidak ada mekanisme serius yang mendorong diversifikasi metode bertani seperti model padi, ikan, dan kepiting. Bahkan ketika beberapa universitas seperti IPB dan UGM sudah membuktikan bahwa integrasi hewan di sawah meningkatkan hasil hingga 20 hingga 30 persen, kebijakannya tetap jalan di tempat. Kita selalu terpikat proyek besar lumbung pangan, food estate, dan segala jargon megah tetapi lupa bahwa masa depan pertanian berdiri di atas eksperimen kecil yang berdampak nyata, bukan diatas proposal raksasa yang gagal dipanen.

Jika kita mau jujur, pelajaran dari China sebetulnya sederhana, keberlanjutan tidak harus mahal, inovasi tidak harus rumit, dan modernisasi tidak harus meninggalkan alam. Kepiting-kepiting itu bekerja tanpa gaji, tanpa rapat, tanpa anggaran evaluasi. Mereka mengembalikan kesuburan tanah sambil menjaga ekologi. Model ini menunjukkan bahwa solusi pangan dunia mungkin justru berada di dasar sawah, bukan di ruang rapat kementerian. Tapi untuk mengadopsinya, kita harus mengubah cara berpikir, dari pertanian berbasis input mahal ke pertanian berbasis ekosistem. Dari pola memaksa ke pola merawat. Dari ketergantungan ke keberlanjutan.

Pada akhirnya pertanyaan besarnya bukanlah apakah Indonesia mampu meniru China, tetapi apakah kita bersedia. China memulai inovasi karena melihat bahwa masa depan tidak bisa lagi bergantung pada kimia dan subsidi tanpa batas. Kita pun seharusnya memahami hal yang sama. Petani kita sudah terlalu lama bekerja keras tanpa dihargai. Tanah kita terlalu lama dipaksa hingga kehilangan napas. Jika kepiting di China bisa membantu menyuburkan sawah, memperbaiki ekosistem, dan menambah pendapatan petani, mungkin sudah waktunya kita berhenti menganggap ide sederhana sebagai sesuatu yang mustahil. Karena bangsa yang besar tidak hanya yang banyak bicara, tetapi yang berani belajar bahkan dari kepiting.
---


Disclaimer:
Tulisan ini merupakan ulasan sederhana terkait fenomena bisnis atau industri untuk digunakan masyarakat umum sebagai bahan pelajaran atau renungan. Walaupun menggunakan berbagai referensi yang dapat dipercaya, tulisan ini bukan naskah akademik maupun karya jurnalistik.

keadilan akan menemukan jalanya .... jangan putus asa dek...
20/12/2025

keadilan akan menemukan jalanya ....
jangan putus asa dek...

Saya yang Dit^brak, Saya yang Masuk Penj^ra': Curahan Hati seorang Pemuda yang Merasa kalah sejak Aaal di hadapan Hukum

Seorang pemuda viral setelah menangis sambil memegang poster bertuliskan "orang miskin dilarang berurusan dengan hukum", mengaku dirinya adalah korban tabrakan namun justru ditetapkan sebagai tersangka karena lawannya disebut berduit dan berpangkat.
Source Of : FB/ Noken Reborn


kurang keten apa lagi konoha ini... 👍🏻👍🏻👍🏻bantuan aja ditolak.....
18/12/2025

kurang keten apa lagi konoha ini... 👍🏻👍🏻👍🏻
bantuan aja ditolak.....

(Berita selengkapnya cek IG Stories )

Bantuan beras sebanyak 30 ton dari Uni Emirat Arab (UEA) untuk korban banjir di Kota Medan dikembalikan.

“Kami kembalikan kepada Uni Emirat Arab,” kata Rico, Kamis (18/12/2025).

Dia menjelaskan bahwa langkah pengembalian dilakukan karena Pemerintah Pusat belum membuat keputusan untuk menerima bantuan dari pihak luar atau asing.

Pengembalian itu disebut karena adanya teguran dari Pemerintah Pusat dan Gubernur Sumatera Utara.

Namun, Rico Waas tidak menjelaskan lebih lanjut dan ia hanya menyampaikan bahwa bantuan itu tidak diterima.

“Intinya adalah memang kami sudah cek tentang regulasi dan penyampaian, kami ke BNPB, Kementerian Pertahanan, memang melalui koordinasi kami semua, ini tidak diterima,” tambahnya.

Penulis: Cristison Sondang Pane
Editor: Eris Eka Jaya

+

aku yang sedih...
17/12/2025

aku yang sedih...

19/08/2025

INDONESIA Corruption Watch (ICW) mengkritik pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR RI pada Jumat, 15 Agustus lalu, yang menyinggung soal komitmen memberantas korupsi. Dalam pidato kenegaraan itu, Prabowo mengklaim komitmen pemerintahannya dalam memberantas mafia sumber daya alam dan korupsi. Ia juga menjanjikan penegakan hukum yang tidak pandang bulu terhadap pejabat korup.

Prabowo menyampaikan bahwa harus berani melihat penyakit-penyakit yang ada di tubuh kita. Ia pun menuturkan bahwa akan menyelamatkan rakyat, membela kepentingan rakyat dan memastikan rakyat tidak menjadi korban serakah-nomic.

Koordinator Divisi Edukasi Publik ICW Nisa Zonzoa, menyebut isi pidato Prabowo justru bertolak belakang dengan situasi nyata. “Hingga hari ini, koruptor masih menguasai negara, masyarakat kian terpinggirkan, kebijakan semakin tak berpihak pada rakyat, dan penegakan hukum dipertaruhkan demi kepentingan elite politik yang akhirnya menggerus nilai keadilan,” kata Nisa dalam siaran pers Ahad, 17 Agustus 2025.

ICW menyoroti langkah pemerintah yang justru melemahkan upaya pemberantasan korupsi. Salah satunya pemberian abolisi dan amnesti kepada terdakwa korupsi Hasto Kristiyanto dan Tom Lembong pada 31 Juli lalu.

“Pemberian amnesti dan abolisi sebelum proses hukum inkracht dapat dilihat sebagai intervensi politik yang berbahaya dalam penegakan hukum antikorupsi dan menimbulkan kesan sewenang-wenang,” kata Staf Divisi Edukasi Publik ICW, Eva Nurcahyani.
ICW juga mencatat, vonis pengadilan terhadap koruptor selama sembilan tahun terakhir rata-rata hanya 3 tahun 7 bulan. Dari 2015 hingga 2023, ada 682 terdakwa yang divonis bebas atau lepas, dengan total kerugian negara mencapai Rp 92 triliun.

“Mandeknya pembahasan dan pengesahan RUU Perampasan Aset menjadi sinyal kuat pemerintah juga tidak berpihak pada kepentingan rakyat,” tulis ICW.

ICW menutup pernyataannya dengan mengingatkan pesan Tan Malaka bahwa kemerdekaan bukan hadiah, melainkan hasil perjuangan. “Kemerdekaan sejati hanya ada bila rakyat berani berpikir, bersuara, dan melawan segala bentuk penindasan.”

Sumber: Tempo

Address

Jalan Lintas Palembang Betung Km. 37 Pangkalan Panji Banyuasin III
Pangkalanbalai

Telephone

+6281250022781

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Goldfish BA Aquatic posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Goldfish BA Aquatic:

Share