08/11/2017
Meningkatkan Kompetensi Diri Sebagai Orang Tua
Oleh : Denni Candra
Ada ungkapan yang mengatakan bahwa keluarga adalah madrasah pertama dalam pendidikan anak-anak dan orang tua yang menjadi guru pertamanya. Menjadi orang tua sekaligus guru bagi anak-anak, bukanlah tugas yang ringan dan sepele. Karena pertanggungjawabannya nanti adalah dengan Sang Khalik yang telah memberikan amanah kepada kita sebagai orang tua. Supaya bisa menjadi guru yang baik bagi anak-anak kita, maka wajib hukumnya bagi orang tua untuk membekali diri dengan ilmu pengetahuan serta keterampilan mendidik.
Dengan demikian, tugas orang tua tidak hanya memberikan pangan (makanan), sandang (pakaian) dan papan (tempat tinggal), tapi juga memberikan asupan gizi untuk pertumbuhan intelektual, hati, dan jiwanya. Singkat kata, kita harus berusaha sepenuh hati agar bisa menjadi orang tua pintar.
Mungkin sebagian dari kita yang mengemban amanah sebagai orang tua akan bertanya tentang bagaimana caranya untuk menjadi orang tua sekaligus guru yang baik bagi sang buah hati? Seiring perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, maka beragam pilihan untuk meningkatkan kompetensi diri sebagai orang tua pun sudah tersedia.
Kalau dulu mungkin referensi dalam mendidik serta membesarkan anak diperoleh dari pengalaman serta contoh dari kedua orang tua kita. Begitu juga dengan kedua orang tua kita, rujukan dan referensinya hanya sebatas dari kakek dan nenek kita. Namun saat ini beragam cara dalam mengasuh dan mendidik anak sudah tersedia, tergantung kepada kita sebagai orang tua untuk selektif dan peka memilih sesuai dengan kebutuhan.
Berikut beberapa alternatif yang bisa digunakan untuk meningkatkan kompetensi diri sebagai orang tua yang saya rangkum dari tips Sahabat Keluarga Kemendikbud :
Pertama, mengikuti seminar. Kesadaran masyarakat semakin meningkat. Banyak lembaga, baik pemerintah maupun swasta yang memiliki kepedulian tinggi pada masa kepengasuhan. Salah satu contoh bentuk kepedulian tersebut berupa sosialisasi dan pemberian edukasi kepada masyarakat melalui seminar, mulai dari seminar menumbuhkan budaya membaca pada anak-anak sampai seminar pengaruh televisi dalam pembetukan emosi anak. Melalui seminar ini, kita kemudian mengetahui beragam informasi terkini tentang perkembangan pendidikan kepengasuhan langsung dari para pakarnya.
Kedua, mengikuti pelatihan. Ada hal-hal teknis dan detail yang perlu kita kuasai untuk menjadi orang tua pintar. Misalnya, bagaimana cara mendongeng sebagai pengantar tidur sekaligus menjadi cara internalisasi nilai-nilai. Jadi jika dalam seminar, kita mendapatkan informasi dan pencerahan atau perubahan cara berpikir, maka di pelatihan, kita akan mendapatkan keterampilan teknis yang bisa langsung dipraktikkan.
Ketiga, bergabung dalam komunitas kepengasuhan (parenting).Perkembangan media sosial banyak melahirkan grup-grup dalam minat tertentu. Satu di antaranya tentang kepengasuhan. Dengan menjadi anggota, kita bisa memperoleh kiat-kiat berharga dari sesama anggota.
Keempat, membaca (buku). Penerbitan buku-buku dari A sampai Z tentang kepengasuhan sekarang ini dengan sangat mudah kita jumpai di toko buku. Kita bisa membeli dan membacanya sesuai kebutuhan. Dan jika ada sesuatu yang belum kita pahami, kita bisa langsung menghubungi penulisnya.
Kelima, silaturahmi ke orang yang kita pandang bisa dicontoh dalam cara mereka mendidik anak. Bukan untuk meniru sepenuhnya, tapi untuk memberikan inspirasi dan masukan tentang cara mendidik anak ...
(Dirangkum dari berbagai sumber dan diedit seperlunya)
Untuk membaca berbagai artikel lainnya seputar kehidupan, keluarga dan inspirasi, silakan klik dan gabung dengan channel telegram : https://telegram.me/dennicandra
www.dennicandra.com
Official Account Denni Candra Rangkaian aksara seputar kehidupan, keluarga, inspirasi dan hal lainnya yang layak untuk dibaca serta direnungkan.