14/06/2021
DUNIA (TIDAK) SEMPURNA MAUDY AYUNDA
Ayunda Faza Maudya, BA., MA., MBA adalah nama lengkap beserta gelar akademik aktris Maudy Ayunda. Beberapa hari lalu, ia baru saja lulus dari Stanford University, Amerika Serikat. Ia menyandang dua gelar sekaligus yaitu Master of Arts dan Master of Business Administration pada usia 26 tahun. Kalau kemarin-kemarin dunia heboh kalau pada usia 25 sebaiknya anak muda punya tabungan Rp 100 juta, maka Maudy telah melampaui itu semua. Pada usia 26 tahun tabungannya pasti milyaran dan ia lulus dari kampus paling bergengsi di jagat raya. Dulu, pas usia 26 tahun aku masih hidup dengan gaji bulanan Rp. 500K. Duniaku dan Maudy beda jauhhh hahaha.
"Maudy keren ya!" begitu tanggapan sebagian besar orang.
"Dia pandai memanfaatkan privilese dalam keluarganya!" ujar sebagian orang yang paham faktor pendorong keberhasilan Maudy.
"Maudy adalah perpaduan kerja keras, kerja cerdas dan semua fasilitas yang disediakan keluarganya," kata yang lain.
Maudy tumbuh dengan privilese alias keistimewaan, yaitu keluarga bahagia yang mendukung tumbuh kembangnya secara penuh. Meski awalnya keluarga Maudy adalah keluarga biasa, namun seiring waktu mereka jadi keluarga berada. Semakin tahun Maudy tumbuh dalam rumah mewah, tidak kekurangan makanan, dan selalu mendapat kasih sayang keluarganya. Ini riwayat pendidikan Maudy Ayunda:
SD: Mentari Intercultural School, Jakarta
SMP: Mentari Intercultural School, Jakarta
SMA: British School Jakarta
S-1: Universitas Oxford, P.P.E (Politics, Philosophy, and Economics) - lulus 2016
S-2: Universitas Stanford, M.B.A. (Master of Business Administration) dan M.A. (Master of Arts) - lulus 2021
Lihat sekolah Maudy dari SD-SMA: itu sekolah mahal. Tanpa setumpuk uang, bagaimana mungkin Maudy bisa menikmati lingkungan sekolah yang membuatnya tumbuh sebagai remaja cerdas, yang kepikiran bulat melanjutkan kuliah ke Universitas Oxford di Inggris. Bagi kebanyakan anak Indonesia, bisa masuk kampus negeri di provinsi tempat tinggal saja sudah sangat bersyukur. Banyak anak negeri yang sudah diterima di kampus bergengsi seperti UI, UGM, ITB aja gugur karena nggak ada uang, dan terlambat mendapatkan beasiswa. Sementara Maudy, saat SMA aja udah kepikiran buat kuliah di luar negeri. Artinya, dia nggak pusing mikirin soal keuangan dan kemampuan bahasa Inggris dia udah tokcer. Ingat, banyak anak Indonesia lain yang susah belajar bahasa Inggris karena nggak punya uang buat bayar kursus. Apalagi di kampung, makin susah.
Saat merencanakan kuliah S2 di Amerika, sesungguhnya Maudy Ayunda merupakan penerima beasiswa LPDP dari Kementerian Keuangan. Pertanyaannya: ngapain sih orang sekaya Maudy kuliahnya harus pake beasiswa LPDP, buat kuliah di kampus paling bergengsi p**a? Nggak mungkin kan Maudy nggak mampu membiayai kuliahnya sampe-sampe harus pake beasiswa LPDP? Jawabannya mungkin LPDP yang butuh nama Maudy masuk ke dalam salah satu fellow-nya. Uang beasiswa LPDP pasti receh banget lah dibandingkan dengan tabungan Maudy. Mungkin juga, dalam konteks kenegaraan, Maudy adalah aset yang sudah lama masuk radar dan sengaja digembleng untuk kelak menjadi entah Menteri atau apa dalam pemerintahan Indonesia.
Maudy Ayunda dan pencapaian hidupnya memang sempurna. Tapi, dia tidak sekeren yang dikira. Mengapa? Sebab, dia berjalan di karpet merah kemudahan dan fasilitas. Dia hanya pandai menempatkan diri dan memanfaatkan segala dukungan yang diberikan padanya. Keberhasilan Maudy adalah perpaduan antara privilese, kerja cerdas dan kerja keras. Jika Maudy anak petani karet di ujung Sumatera, kerja keras dan kerja cerdasnya mungkin hanya membuatnya sampai ke kampus pinggiran Jakarta, bukan Amerika.
Aku punya seorang teman: dia sulung dari 8 bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai penarik becak dan ibunya ibu rumah tangga. Bisakah membayangkan bagaimana sulung dari 8 bersaudara, dari keluarga miskin bisa menyelesaikan S3 dan sekaligus membuat ke-7 adiknya berhasil jadi sarjana? Ya, dia berhasil melakukannya. Dia hemat bukan main, pekerja sangat keras, pembelajar sangat tekun, dan membagi uangnya untuk semua adiknya agar bisa melanjutkan pendidikan tinggi.
Saat kuliah S1 dia mendapat beasiswa dari kampus, lantas bekerja serabutan sebagai tukang jahit pesanan, plus menjadi guru privat. Saat S2, ia bekerja serabutan demi membiayai kuliahnya dan tinggal di asrama mahasiswa agar nggak bayar uang kos. Saat S3, dia mendapat beasiswa Dikti dan menerima jahitan, juga menjual kain kiloan dengan suaminya. Selama masa kuliah dari S1-S3, dia selalu menyisihkan sebagian pendapatannya untuk membiaya ke 7 adiknya dari sekolah hingga kuliah. Alhasil, temanku si sulung dari 8 bersaudara ini berhasil menyandang gelar S3 dari IPB disertai peluk bangga kedua orangtuanya dan ke 7 adiknya yang telah dia sekolahkan dengan susah payah.
Lihat: temanku ini kuliah di kampus dalam negeri dan beasiswa yang dia terima pun nominalnya kecil. Tetapi, saat dia melaju tinggi dalam pendidikan, dia turut membawa serta ke-7 adiknya. Jika dulu keluarganya selalu direndahkan karena masalah kemiskinan, kini tatapan orang mulai berubah. Di kampungnya: ia perempuan pertama dan satu-satunya yang berhasil kuliah S3. Ia telah terbukti mampu tumbuh dalam kepungan hinaan dan rintangan, bukan hanya untuk dirinya sendiri melainkan bersama ke-7 adiknya. Maka bagiku, jika dibandingkan dengan temanku ini, pencapaian Maudy Ayunda sangat biasa.
Atau ada juga seorang perempuan muda yang saat remaja dipaksa orangtuanya untuk menjalani Perkawinan Usia Anak (PUA). Orangtuanya yang miskin hendak 'membuangnya' dan menghancurkan mimpi-mimpinya. Dua kali ia dipaksa orangtuanya sendiri untuk menikah usia anak aih-alih melanjutkan sekolah. Perempuan muda itu menolak takluk. Berpendidikan adalah haknya sebagai manusia dan ia memilih bekerja serabutan demi melanjutkan sekolah, dan membuktikan bahwa ia bisa melepaskan diri dari menjadi beban kedua orangtuanya. Tahun-tahun berlalu, ia bukan saja berhasil terhindar dari Perkawinan Usia Anak, namun juga telah menyandang gelar Sarjana, bekerja di lembaga internasional untuk hak anak dan kini menjadi pekerja kantoran di Jakarta. Karpet hidupnya mungkin bolong-bolong dan kusam, tak secemerlang Maudy, tapi ia berhasil menyelamatkan hidupnya dan menjadi inspirasi banyak remaja perempuan Indonesia untuk melanjutkan pendidikan alih-alih menyerah pada Perkawinan Usia Anak.
"Hah, masa iya kamu mengatakan pencapaian Maudy sangat bisa? Dia lulusan Stanford lho!" Kamu mungkin nggak terima.
"Lha, banyak orang di dunia ini lulusan Stanford bahkan Harvard. Bagi orang kaya, bagi anak-anak kalangan atas lulus dari kampus bergengsi di luar negeri ya biasa aja. Apa istimewanya?" Demikian pembelaanku.
"Tapi kan masuk Stanford itu susah!?" Belamu lagi.
"Susah bagi orang miskin dan bodoh. Ingat, pendidikan itu bukan hanya soal otak, tapi akses. Maudy udah dapat akses dan jaringan ke dunia pendidikan internasional sejak SD. Lha, kamu kalau sekolah di SD negeri ujung berung gimana ceritanya dapat jaringan dan pengetahuan internasional?" Pembelaanku yang lain.
"Sebagai sesama perempuan kok kamu nggak bangga sih sama Maudy?" mungkin kamu berpikir demikian.
Oh, tidak. Aku bangga sama Maudy. Tapi, kebanggaanku bukan kebanggaan berlebihan. Biasa aja. Aku juga bisa masuk Stanford University klo aku mau dan berusaha. Btw, aku penerima beasiswa International Fellowship Program (IFP) salah satu beasiswa paling bergengsi di dunia pada 2010 lalu: aku adalah satu dari 50 fellow yang berhasil melibas lebih dari 6000an pelamar lain dari seluruh Indonesia. Beasiswa itu yang bikin aku bisa kuliah di UI dan merasakan beberapa bulan short course di Amerika Serikat. Kenapa kuliah di UI? Karena aku gagal kuliah di Belanda gara-gara nilai IELTSku rendah. Mau tahu alasannya kenapa? Selama 6 bulan kursus bahasa Inggris di LBBI UI, kami diajari TOEFL setiap hari, tapi pas tes malah IELTS, ya mabok lah. Apalagi aku tipikal yang super-lelet dalam belajar bahasa. Alhasil, meski aku sudah menerima LoA dari 3 kampus di Belanda, aku harus gigit jari dan berpuas diri kuliah di UI. Gitu ceritanya.
Terkait kisah Maudy yang sempurna dan temanku yang jungkir balik, kukira merupakan gambaran nyata tentang kesenjangan di masyarakat kita. Belum lagi jika dibandingkan dengan mereka yang terancam putus sekolah dan dipaksa menikah usia anak oleh orangtuanya, tapi jungkir balik kerja serabutan biar tetap bisa sekolah. Oh, Maudy tidak merasakan itu semua! Belum lagi mereka yang menahan lapar saat mengerjakan tugas sekolah, atau menahan malu karena seragam yang butut, atau dihina dina guru karena nggak bisa bahasa Inggris, atau ngantuk di sekolah karena harus nyambi nyantri di Pesantren, atau yang nyambi memikirkan hutang orangtuanya, atau yang belajar di pengungsian karena terusir dari kampung halaman, atau yang mengalami bencana.
Apakah aku dan kamu bisa kuliah di Stanford University seperti Maudy? Kuliah di kampus manapun yang kita inginkan di dunia ini adalah BISA. Mau pakai uang sendiri atau beasiswa, BISA. Hanya saja, ada proses yang harus dilalui dengan sabar, disiplin, dan cerdas. Aku berproses selama 1 tahun untuk mendapatkan beasiswa IFP pada 2010 lalu. Ada hal-hal tentang administrasi yang harus diisi; tentang rencana studi, termasuk penelitian; dan yang terpenting tentang peran kepemimpinan dalam masyarakat. Para pemberi beasiswa hanya akan memberikan beasiswa kepada pribadi-pribadi dengan rencana-rencana strategis terkait hubungan antara kepemimpinan dan pendidikan tinggi. Kalau sekolah cuma buat dapat gelar doang, aplikasi beasiswa yang diajukan pasti dibuang ke kotak sampah.
Setelah mendapatkan beasiswa, kita juga harus mengisi berbagai dokumen untuk mendapatkan Letter of Acceptance (loA) dari kampus tujuan, termasuk surat rekomendasi dari satu atau dua orang profesor di kampus tujuan. Semua ditulis dalam bahasa Inggris akademik dengan tata bahasa sempurna. Bayangkanlah, jika kamu anak ndeso di pinggiran Indonesia mau kuliah di Stanford University, proposal seperti apa yang bakal kamu tulis dan siapa profesor yang bakal kamu kontak untuk diajak berkomunikasi?
Maudy yang sudah terbiasa berbahasa Inggris sejak SD. Sejak SMA bacaannya aja majalah The Economist, nggak akan kesulitan bikin proposal atau rencana studi atau berkomunikasi ia email dengan profesor di kampus tujuan. Mendapat pendidikan dasar hingga menengah di lembaga-lembaga pendidikan yang membawa isu global dengan bahasa Internasional, adalah modal dasar Maudy untuk punya pemikiran kritis level global. Jaringan Maudy adalah kalangan elit, lintas negara, ragam bahasa dan budaya. Nah, kamu gimana?
Hanya sedikit warga negara ini yang punya keistimewaan seperti yang dimiliki Maudy. Sisanya, adalah warga negara yang jungkir balik, seperti temanku itu. Tapi, lihatlah, yang jungkir balik itulah yang paling banyak di mengisi pembangunan di negeri ini. Jadi, sudahilah memuji Maudy secara berlebihan dan saatnya memperjuangkan mimpimu sendiri. Kamu dan kita bisa mencapai lebih dari Maudy meski dikepung aneka kesulitan.
Sumber Wijnatika Ika