27/05/2019
*Renungan Kehidupan*
*JANGAN ABAIKAN AJAKAN MENABUNG*
Kisah seorang kawan yang sudah lama tak jumpa, disela makan siang. Dia bercerita tentang sang Ayah yang kembali harus masuk rumah sakit. Dengan segala diagnosa dari sang dokter yang merawatnya. Memang sudah sering mendengar, semenjak tiga tahun dari pensiun Ayahnya mulai sakit-sakitan.
Kini sang Ayah sudah berusia 66 tahun, bukannya menikmati masa pensiun dengan nyaman setelah tidak menjabat justru sebaliknya semangat bekerja kembali meski serabutan. Namun sayang dengan kondisi usia yang kian menua. Fisik sudah tidak bisa lagi mendukung kegiatannya. Kalah bersaing dengan yang muda usia.
"Kenapa harus bekerja lagi?" tanyaku penasaran. "Karena kebutuhan!". Jawabnya. Aku makin heran, sebab setahuku mereka keluarga yang terbilang berkecukupan, sebab dulu saat masih bekerja Ayahnya memiliki kedudukan yang lumayan tinggi disalah satu BUMN yang ternama.
Bisa dikatakan kehidupannya terlihat mentereng tepatnya mencolok diantara lingkungan sekitar, dan dengan gaya hidup maupun kehidupan sosial yang terkenal royal. Dua buah mobil ber cc besar berjejer manis di garasi rumahnya yang megah bercat merah darah belum aset yang lain.
"Dua adikku masih butuh biaya yang cukup besar untuk menyelesaikan kuliah di kedokteran. Uang pensiun jauh dari kata cukup untuk menopang kebutuhan, sedang aset yang dulu dimiliki nyaris habis dijual untuk memenuhi desakan hidup yang tidak bisa ditunda termasuk untuk pengobatan juga".
"Sedang aku, bekerja semata-mata hanya untuk menghidupi diri sendiri. Hampir tidak ada sisa untuk membantu mereka, dengan kata lain aku sudah tidak merepotkan ortu lah". Katanya terlihat bangga. Sambil mengencangkan ikatan jam tangannya yang bermerk rolex bertahta emas permata. "Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, gumamku dalam hati".
"Coba kalau dulu ortuku menabung sejak muda, tentu tidak seperti ini jalan hidup kami". Katanya kemudian. Mataku pun langsung berbinar mendengar ucapannya. Radar Gerakan Menabung Cerdas yang selama ini genCAR aku tebarkan seperti menemukan sasaran.
Tapi harus bersabar, menjadi pendengar yang baik. Aku biarkan dia menuntaskan segala kisahnya yang terkadang mengharu biru tentang kondisi keuangan keluarganya pasca sang Ayah sudah tidak lagi bekerja seperti ditelan bumi menghilang dengan segala atribut fasilitas yang dulu mengikutinya.
----------------------
Dari kisah di atas semoga kita dapat mengambil hikmahnya. Begitu banyak di luaran sana. Orang-orang yang masih saja mengabaikan bahwa merencanakan masa depan itu sangat penting. Barangkali saat ini anda masih penuh kelimpahan materi sehingga menganggap tidak penting menyimpan uang untuk jangka panjang.
Tak salah memang jika ada yang beranggapan kehidupan di depan masih misteri (gelap) tidak bisa diprediksi meski sudah direncanakan sekalipun. Tapi percayalah setidaknya anda bisa mempersiapkan cahaya penerang mulai sekarang. Sehingga jika waktunya tiba, cahaya yang sudah kita miliki sangat berarti untuk membantu jalan kehidupan anda sekeluarga.
"Menabung jangan ditunda dengan sejuta alasan, waktu tidak pernah mengenal apa itu belas kasihan" kawan.
Ceritakan pada saudara/ temen2 agar mereka segera menghubungi orang yang telah memberikan kisah ini. Agar rencana masa depan bisa direalisasikan dengan s**a cita.
https://sites.google.com/view/mohammad-subkhi