24/12/2019
JANGAN SEDIH DENGAN NILAI YANG RENDAH,
SEDIHLAH JIKA ANAK KITA TAK JUJUR DAN TIDAK DISIPLIN
Beberapa waktu yang lalu saya membaca postingan Abangda Rizal Hamka yang me-repost tulisan dari Prof. Agus Budiyono. Tulisannya berjudul "Mematahkan Mitos NEM, IPK dan Rangking.
Prof Dr Agus Budiyono adalah alumnus ITB dan MIT Amerika Serikat. Dalam tulisannya ia menganggap bahwa menjadikan NEM, IPK, Ranking, termasuklah nilai di raport itu bukanlah indikator terpenting sebagai faktor peneilaian utama yang menentukan kesuksesan adalah sebuah kesalahan. Ia mengatakan bahwa faktor itu berada jauh dibawah faktor-faktor lainnya yang mempengaruhi kesuksesan seseorang.
Untuk memperkuat argumentasinya, Prof Agus Budiyono merilis hasil penelitian dari Thomas J. Stanley yang memetakan 100 faktor yang berpengaruh terhadap tingkat kesuksesan seseorang.
Thomas J Stanley adalah seorang peneliti dan penulis berkebangsaan Amerika. Buku karyanya yang terkenal berjudul The Millionaire Mind. Nah, hasil penelitiannya tentang 100 faktor yang berpengaruh terhadap tingkat kesuksesan seseorang itu, ia muat dalam bukunya.
Hasil survei inilah yang diungkapkan oleh Prof. Agus Budiyono dalam tulisannya. Beliau menyampaikan fakta bahwa ternyata faktor NEM, IPK dan rangking seseorang di sekolah, bukanlah faktor terpenting yang menentukan kesuksesan seseorang. NEM, IPK dan rangking itu justru berada di urutan ke 30 yang menentukan kesuksesan seseorang. Setelah itu Prof Agus menampilkan 10 faktor diantara 100 faktor yang diteliti Thomas J Stanley
Dari 10 faktor sukses itu, kejujuran ditempatkan pada posisi yang pertama. Artinya sikap jujur itu berdasarkan penelitian Thomas J Stanley merupakan modal utama yang sangat penting bagi siapapun yang ingin sukses.
Jadi, bagi orang tua yang baru saja menerima hasil raport anak-anaknya dan mendapati angka-angka di rapor anak kita ternyata rendah, turun, dan tidak memuaskan, jangan bersedih. Karena tingginya nilai rapot dan rangking itu hanya berada di urutan 30 saja dari 100 faktor yang menentukan kesuksesan anak-anak kita. Bahkan faktor itu tidak masuk dalam 10 besar.
Kita justru wajib bersedih, jika anak-anak kita berbohong kepada kita dan kawan-kawannya, termasuklah mencotek, mengambil uang atau barang yang bukan miliknya, dsb. Karena perilaku itu adalah perilaku yang tidak jujur. Padahal kejujuran ini berdasarkan hasil riset adalah faktor utama yang paling menentukan kesusksesan anak-anak kita di masa yang akan datang.
***
Perihal kejujuran ini, saya ingin cerita sedikit.
Faktor kejujuran ini adalah salah satu faktor yang mendorong keputusan saya untuk memasukan anak perempuan saya ke Pondok Modern Darussalam Putri. Tak peduli, bahwa demi keputusan itu saya dan istri harus berpisah dengan putri saya bertahun-tahun lamanya.
Sebelum saya memutuskan untuk menyekolahkan anak saya ke Gontor, saya pernah mendengar dari cerita dari Kyai saya, Ustadz Luqmanulhakim, bahwa Gontor itu tak pernah berkompromi dengan perilaku-perilaku ketidakjujuran. Menurut Ustadz Luqmanulhakim, Gontor tak akan segan-segan mengeluarkan santrinya yang ketahuan mencontek saat ujian, atau terbukti mencuri barang-barang milik temannya. Dan sikap tegas itu telah diterapkan sejak dulu, hingga detk ini.
Selain faktor itu, saya juga melihat bagaimana Gontor sangat menekankan pentingnya kedisiplinan. Sementara faktor kedisiplinan ini adalah faktor kedua yang diletakan Stanley sebagai faktor sukses terpenting.
Di Gontor, Semua aktivitas diatur dengan waktu yang sangat ketat. Mulai bangun tidar hingga tidur lagi. Semua santri wajib mengikuti seluruh jadwal waktu, serta wajib mengikuti berbagai kegiatan yang telah ditetapkan, dengan pengawasan yang extra ketat.
Kedua hal itulah yang mendorong saya menyekolahkan anak ke Gontor. Saya berpikir saat itu, sekolah-sekolah biasa tak mampu mengajarkan persoalan-persoalan itu kepada anak-anak saya. Bahkan dalam beberapa kasus, para siswa ada yang dibiarkan mencontek demi memperoleh NEM yang tinggi. Warrbiyassah.
Dan belakangan saya semakin bersemangat, ketika menganalisis 10 faktor sukses utama yang disampaikan oleh Thomas J Stanley itu, karena sebagaian besar dari faktor sukses itu bisa didapatkan anak saya saat belajar di PM Darussalam Gontor.
Di Gontor, para santri juga diajarka tentang bagaimana cara bergaul dengan sesama. mereka juga dapat dukungan penuh dari pendampingnya, belajar bagaimana kerja keras, serta diajarkan untuk mencintai dengan apa yang dikerjakan, dst.
Namun demikian, bagi orang tua yang menyekolahkan anaknya di sekolah biasa, tak perlu berkecil hati. Kita hanya perlu ekstra keras saja untuk mendidik anak-anak kita agar bisa memiliki berbagai karakter yang akan mempengaruhi kesuksesan mereka di masa depan.
Dan semuanya harus dimulai dari diri kita. Kitalah yang harus terlebih dahulu menjadi orang tua yang jujur dulu agar bisa menularkan kejujuran kepada anak-anak kita, bisa mencegahnya untuk tidak berbohong sama sekali, tidak mencontek, dan tidak mengambil barang-barang yang bukan miliknya. Kita jugaharus terlebih dahulu bisa menerapkan hidup displin, agar bisa menularkan kedisiplinan kepada anak-anak kita.
Bisakah?
Ya harus bisa! Hahaa.
Tapi kalau ragu-ragu dengan kemampuan kita, pindahkan saja anak kita ke Gontor, seperti saya.
"Lho, berarti Anda ragu?"
Hahaa, jujur saja, jawabannya iya!
***
Jelajahliterasi-Djagadkarya, 23.12.2019
Beni Sulastiyo