HerbaLiners Club

HerbaLiners Club Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from HerbaLiners Club, Business service, Jalan Bangka 2G no. 5, Pekanbaru.

29/10/2014

Apakah diterima ibadah wanita yang tidak memakai jilbab?...

Berbagai jenis dan model jilbab saat ini banyak didapati, ada yang sesuai dengan syariat ada juga yang tidak. Bahkan terbilang syubhat jika dipakai, jilbab memang digunakan tapi tidak terhulur sampai ke dada serta bagian kaki malah tampak ketat dan terlihat.

Banyak kaum hawa yang menyangka bahwa tidak memakai jilbab adalah dosa kecil. Yang dapat tertutupi dengan pahala yang banyak dari shalat, puasa, zakat dan haji yang mereka lakukan. Ini adalah cara berpikir yang salah dan harus diluruskan. Kaum wanita yang tidak memakai jilbab, tidak saja telah berdosa besar kepada Allah, tetapi telah hapus seluruh pahala amal ibadahnya.

Seperti yang termaktub dalam firman Allah Swt., “….. Barang siapa yang mengingkari hukum-hukum syariat Islam sesudah beriman, maka hapuslah pahala amalnya bahkan di akhirat dia termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Maidah: 5).

Na’udzubillah. Semoga kita terjauh dari adzab Allah Swt., ada sebuah kisah menggetarkan tentang seorang perempuan yang menganggap bahwa dosa meninggalkan jilbab itu adalah dosa kecil.

Ada seorang wanita yang dikenal taat beribadah. Ia kadang menjalankan ibadah sunnah. Hanya satu kekurangannya, ia tak mau berjilbab. Menutup auratnya. Setiap kali ditanya ia hanya tersenyum dan menjawab ”Insya Allah yang penting hati dulu yang berjilbab,” (jawaban yang sering terdengar dari kaum hawa). Sudah banyak orang menanyakan maupun menasehatinya, tapi jawabannya tetap sama.

Hingga di suatu malam, ia bermimpi sedang di sebuah taman yang sangat indah. Rumputnya sangat hijau, berbagai macam bunga bermekaran. Ia bahkan bisa merasakan segarnya udara dan wanginya bunga. Sebuah sungai yang sangat jernih hingga dasarnya kelihatan, melintas dipinggir taman. Semilir angin pun ia rasakan di sela-sela jarinya.

Ia tak sendiri. Ada beberapa wanita disitu yang terlihat juga menikmati keindahan taman. Ia pun menghampiri salah satu wanita. Wajahnya sangat bersih seakan-akan memancarkan cahaya yang sangat lembut.

“Assalamu’alaikum, saudariku….”

“Wa’alaikum salam. Selamat datang saudariku.”

“Terima kasih. Apakah ini surga?”

Wanita itu tersenyum. “Tentu saja bukan, saudariku. Ini hanyalah tempat menunggu sebelum ke surga.”

“Benarkah? Tak bisa kubayangkan seperti apa indahnya surga jika tempat menunggunya saja sudah seindah ini. ”

Wanita itu tersenyum lagi, ”Amalan apa yang bisa membuatmu kemari, saudariku?”

“Aku selalu menjaga waktu shalat dan aku menambahnya dengan ibadah sunnah.”

“Alhamdulillah…”

Tiba-tiba jauh di ujung taman ia melihat sebuah pintu yang sangat indah. Pintu itu terbuka. Dan ia melihat beberapa wanita yang berada di Taman mulai memasukinya satu-persatu.

“Ayo kita ikuti mereka,” kata wanita itu setengah berlari. “Ada apa di balik pintu itu?” Katanya sambil mengikuti wanita itu.“Tentu saja surga saudariku,” larinya semakin cepat. “Tunggu…tunggu aku…”

Dia berlari namun tetap tertinggal, wanita itu hanya setengah berlari sambil tersenyum kepadanya. Ia tetap tak mampu mengejarnya meski ia sudah berlari. Ia lalu berteriak, “Amalan apa yang telah kau lakukan hingga engkau begitu ringan?” “Sama dengan engkau saudariku,” jawab wanita itu sambil tersenyum

Wanita itu telah mencapai pintu. Sebelah kakinya telah melewati pintu. Sebelum wanita itu melewati pintu sepenuhnya, ia berteriak pada wanita itu. “Amalan apalagi yang kau lakukan yang tidak kulakukan?” Wanita itu menatapnya dan tersenyum. Lalu berkata, “Apakah kau tak memperhatikan dirimu, apa yang membedakan dengan diriku?”

Ia sudah kehabisan napas, tak mampu lagi menjawab.

“Apakah kau mengira Rabbmu akan mengijinkanmu masuk ke Surga-Nya tanpa jilbab menutup auratmu ?”

Tubuh wanita itu telah melewati pintu. Tapi tiba-tiba kepalanya mengintip keluar, memandangnya dan berkata, ”Sungguh sangat disayangkan amalanmu tak mampu membuatmu mengikutiku memasuki surga ini untuk dirimu. Cukuplah surga hanya sampai hatimu karena niatmu adalah menghijabi hati.”

Ia tertegun lalu terbangun, beristighfar lalu mengambil air wudhu. Ia tunaikan shalat malam. Menangis dan menyesali perkataanya dulu. Berjanji pada Allah sejak saat itu ia akan menutup auratnya.

Saudariku, “Sesungguhnya seorang mukmin dosanya itu bagaikan bukit besar yang kuatir jatuh padanya, sedang orang kafir memandang dosanya bagaikan lalat yang hinggap diatas hidungnya.”

Sekarang kaum wanita yang tak mau berjilbab, dapat menanyakannya ke dalam hati nurani mereka masing-masing. Apakah terasa berdosa bagaikan gunung yang sewaktu-waktu jatuh menghimpitnya atau bagaikan lalat yang hinggap dihidung mereka?

Kalau kaum wanita yang tak mau memakai jilbab, menganggap enteng dosa mereka bagaikan lalat yang hinggap dihidungnya, maka tak akan bertobat didalam hidupnya. Atau dalam perkataan lain tidak ada perasaan takut kepada Allah, sebab itu mereka kekal didalam neraka. Dan mereka tak akan mendapatkan syafaat atau pertolongan Nabi Muhammad SAW. nanti di akhirat.

Sesungguhnya banyak kaum wanita yang hapus pahala shalatnya yang hidup di zaman ini dan di zaman yang akan datang. Semata-mata karena mereka tidak memakai jilbab didalam hidup mereka, telah diisyaratkan Nabi Muhammad SAW dikala hidup beliau sebagaimana bunyi hadits dibawah ini yang artinya sbb:

“Ada satu masa yang paling aku takuti, dimana ummatku banyak yang mendirikan shalat, tetapi sebenarnya mereka bukan mendirikan shalat, dan neraka jahanamlah bagi mereka”.

Dari hadits diatas, ada sepenggal kalimat “sebenarnya bukan mendirikan shalat” maksudnya ialah nilai shalat mereka tidak ada disisi Allah. Karena telah hapus pahalanya disebabkan kaum wanita mengingkari ayat tentang perintah jilbab.

Begitulah Nabi Muhammad SAW memberi peringatan kepada kita semua, bahwa banyak ummatnya dari kaum wanita yang masuk neraka biarpun mereka mendirikan shalat, tetapi tidak memakai jilbab semasa hidupnya. Apakah kita yang mengaku mencintai sesama ummat Nabi Muhammad SAW akan diam berpangku tangan membiarkan kaum wanita berada dalam dosa yang bergelimpangan? Tentu tidak. Mari saling mengingatkan.

Wasalam...

28/10/2014

Sahabat Hikmah… Sholat adalah perintah Allah untuk menghamba kepada-Nya Sholat adalah perintah Allah untuk bersyukur kepada-Nya Sholat adalah ukuran hamba yang beriman dan bertakwa

”Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni`mat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah.” (QS Al Kautsar :1-2)

Sholat adalah mengagungkan Allah, diri ini kecil Tidak mau sholat ….? Apakah dia lebih agung dari Allah, yang telah memerintahkan sholat ?

Sholat adalah memuji Allah, diri ini nista Tidak mau sholat ….? Apakah dia lebih terpuji daripada Allah, yang bertasbih dan bertahmid apa yang di langit dan di bumi ?

Sholat memohon petunjuk kepada Allah, diri ini tak tahu arah Tidak mau sholat ….? Apakah dia lebih tahu daripada Allah,

Sholat adalah memohon ampun kepada Allah atas segala dosa Tidak mau sholat ….? Apakah dia bebas dari dosa, sehingga tidak butuh ampunan-Nya ?

Sholat adalah meminta kepada Allah, diri ini fakir Tidak mau sholat ….? Apakah dia lebih kaya daripada Allah, yang memiliki semua yang ada ?

Sholat adalah tunduk dan taat kepada Allah, diri ini tak berkuasa Tidak mau sholat ….? Apakah dia lebih berkuasa daripada Allah, yang semuanya ada di Tangan-Nya?

Sholat adalah ruku’ dan sujud kepada Allah, diri ini hina Tidak mau sholat ….? Apakah dia lebih mulia dari pada Allah, yang bertasbih apa yang di langit dan di bumi?

Sholat adalah bersyukur kepada Allah, diri ini papa Tidak mau sholat ….? Apakah dia telah mencukupi dirinya sendiri, selain pemberian dari Allah ?

Sholat adalah penghormatan kepada Allah Tidak mau sholat….? Apakah dia lebih terhormat daripada Allah, yang kemulian-Nya diakui seluruh makhluk-Nya ?

Sholat adalah perlindungan kepada Allah dari api neraka Tidak mau sholat….? Apakah dia akan aman dari siksa neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, dan penjaganya malaikat-malaikat yang kasar lagi keras ?

Dan makhluk Allah yang di langit dan bumi, semuanya sholat Mereka bertasbih, bertahmid dan mengangungkan-Nya

”Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya berTASBIH apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) SHOLAT dan TASBIHnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (QS An Nur : 41)

”Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan berTASBIH dengan MEMUJI-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti TASBIH mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Al Isra’:44)

Hanya sebagian jin dan manusia yang ANGKUH dan SOMBONG yang tidak mau melakukan sholat, yang tidak mau mengagungkan Allah, yang tidak mau memuji Allah, yang tidak mau memohon petunjuk kepada Allah, yang tidak mau memohon ampun kepada Allah, yang tidak mau meminta kepada Allah, yang tidak mau tunduk dan taat kepada Allah, yang tidak mau ruku’ dan sujud kepada Allah, yang tidak mau bersyukur kepada Allah, yang tidak mau menghormat kepada Allah, yang tidak mau berrlindung kepada Allah dari api neraka.

Iblis diperintahkan oleh Allah untuk sujud kepada Adam, Dia enggan dan takabur, karena merasa lebih baik dari Adam Manusia diperintahkan oleh Allah untuk sujud kepada Allah Bila dia enggan dan takabur, apakah dia merasa lebih baik dari Allah ?

Firman Allah: ”Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan SOMBONG, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS Al Israa’ :37)

Sabda Rasul :

”Tidak akan masuk surga siapa yang di dalam hatinya ada kesombongan walau seberat debu.” (HR Muslim)

24/10/2014

CERPEN

1 Cinta di Antara 3 Pilihan

Memilih? Memilih adalah salah satu hal yang paling sulit untuk aku lakukan. Aku mencintainya, dia dan dirinya. Aku merasa bahwa aku terlalu serakah apabila aku tidak bisa memilih satu di antara mereka bertiga. “Cukup! Aku tidak bisa jika aku harus selalu seperti ini, aku harus bisa memilih satu di antara mereka bertiga” Suara hatiku terus-menerus menegur dengan kalimat seperti itu.

“Hey babe, How are you today? How was your day? I miss you a lot! Less than one months i will go to there” Pesan text dari Ryan, Ryan adalah pacarku yang saat ini kita menjalani long distance relationship dari Singapore dan Indonesia. Aku merasa bahagia mendapat pesan text seperti itu. Wajar karena selama 5 bulan kita tidak bertemu dan akhirnya dia datang untuk menemuiku.

Tiba-tiba, aku serentak bingung dengan hubunganku yang lain yaitu dengan Roy dan Alex. Roy adalah lelaki Indonesia yang kuliah di Singapore dan Alex adalah lelaki Indonesia rekan kerja di kantorku. Aku tidak peduli dan mengabaikan kekhawatiranku tentang pacarku akan datang ke Indonesia, toh itu masih lama juga.

Saturday Night pun tiba, aku mendapat pesan text dari Roy yang baru p**ang dari Singapore tadi pagi “Ndut, Aku baru p**ang nih tadi pagi, Nanti malem ada acara gak? aku maen ke rumahmu ya :)”. Dia tiba di rumah, kita mengobrol, bercanda dan sampai kita tidak merasakan bahwa jam sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB dan akhirnya dia pun berpamitan untuk p**ang ke rumah. Alex dan Ryan tidak mengetahui tentang hal ini dan begitu juga sebaliknya, semua masih dalam keadaan rahasia.

Pada hari jum’at saat Break Time dari kerja, Alex mengajakku untuk nonton bareng. Aku sangat enjoy melewati hari dengannya, Alex itu adalah orang yang baik, penyayang, perhatian, sabar dan selalu mengerti aku. sedangkan Roy lebih kekanak-kanakan sifatnya. Aku merasa bahwa benih-benih cinta dari Alex mulai tumbuh di hatiku dan itu membuat aku menjadi lebih bimbang dan pikiranku mulai mengacu kepada Roy. Entah mengapa aku tidak pernah memikirkan Ryan meskipun dia adalah pacarku. Semakin hari aku merasa hubunganku dengan Roy dan Alex semakin dekat.

Namun, di lain sisi pada akhirnya pun aku tidak akan bisa memiliki salah satu di antara mereka berdua karena aku telah memiliki Ryan yang saat ini dia adalah real Kekasihku. “Kamu itu PHP banget sih jadi manusia, mending sekarang kamu lebih baik ninggalin mereka berdua, kamu kan sudah punya Ryan! Apa kamu nggak takut sama yang namanya Karma? Ingat hukum karma masih berlaku di hidup ini!” Tegur sahabatku Tama dengan muka yang menatapku dengan serius. “Aku harus bagaimana? Aku sayang mereka berdua dan itu sebabnya aku nggak bisa ninggalin mereka!” jawabku dengan nada sedih. “Tapi kasihan mereka, dan itu sama aja lu nyakitin mereka berdua!” Tegur Tama lagi. Aku hanya bisa terdiam memikirkan ucapan Tama tadi.

Hari demi hari aku terus memikirkan hal itu, aku tidak tau apa yang seharusnya aku perbuat. Aku tidak ingin menyakiti hati mereka berdua, namun aku juga tidak mau kehilangan mereka. Dengan perlahan apa yang aku pikirkan pun mulai menghilang dengan sendirinya dan aku masih tetap berhubungan dengan Roy dan Alex. Sekarang Roy sudah kembali ke Singapore untuk melanjutkan kuliahnya dan hanya tinggalah aku dan Alex disini. Aku merasa semakin dekat dengan alex bahkan kita sering untuk keluar bareng.

Di Saturday night ini kita berencana untuk pergi ke suatu mall untuk dinner bersama. Rasanya sangat bahagia menjalani hari bersamanya dan itu membuat aku untuk semakin susah melepasnya. Akan tetapi, aku harus jujur dengannya tentang semua ini, karena aku tak ingin menyakitinnya lebih dalam lagi. “Alex, sorry ya sebelumnya aku bingung harus memulai omongan ini darimana? Aku takut ini menjadi salah paham dan ini membuatmu kecewa” ucapku kepada Alex. “Ngomong aja sayang, aku tidak apa-apa. Aku nggak bakalan marah atau kecewa sekalipun. Aku sudah terlanjur sayang banget sama kamu” jawab Alex dengan nada halus dan penyayang itu. Aku tertegun mendengar perkataannya dan mulai memberanikan diriku untuk lebih jujur. “Maaf ya sayang, sebenernya aku nggak bisa ngelanjutin hubungan ini terlalu jauh, aku sayang banget sama kamu tapi aku sudah punya pacar dan aku nggak bisa ninggalin dia juga”. Dengan nada yang halus Alex pun menjawab “Jadi selama ini kamu PHPin aku d**g, hmm ya sudah kamu jangan sedih ya ini bukan salahmu kok ini salahku kenapa aku nggak pernah nanyain kamu apakah kamu punya pacar apa belum? Dan sekarang mending kita jadi Sahabat aja ya! Aku nggak mau jadi orang yang perusak hubungan orang lain tapi aku percaya kok, kalau kita memang jodoh kita akan balik lagi. Aku sayang kamu”. Tanpa sadar aku meneteskan air mataku saat aku mendengar ucapan Alex. “Mengapa aku bisa menyakiti orang sebaik dia, Mengapa aku tega melakukan semua ini” Kata hatiku kembali menggumam kalimat seperti itu. Namun semua tidak berakhir, Alex masih keep contact denganku walaupun dia sudah mengetahui semuanya. Aku merasa sangat bersalah kepadanya, Aku begitu kejam telah menyia-nyiakannya. Aku ingin dia bisa meninggalkanku dan cepat move on sehingga aku mulai membatasi apabila dia terlalu sering mengontakku.

Sedikit lebih lega rasanya setelah berkata jujur kepada Alex. Dan sekarang yang menjadi beban di pikiranku adalah Roy. Aku kesulitan untuk berkata yang sejujurnya karena aku tau dia bukan orang yang dewasa dan susah untuk menerima pendapat dari orang lain. Dan akhirnya, aku tetap menjalani hubunganku dengan Roy. Hari pun cepat berlalu kurang dari seminggu lagi Ryan akan datang ke Indonesia untuk menemuiku. “Baby, I’m really happy. Less than one week i will meet you” Pesan text dari Ryan. Aku semakin bingung dengan keadaanku yang terjepit ini, aku tetap menjalani ini semua dengan hati yang tidak tenang.

Hari demi hari berlalu, dan akhirnya tiba pada deadlinenya. Hari Sabtu pukul 14.00 WIB Ryan pun tiba di Indonesia. Aku menjemputnya di Airport dan segera membawanya ke rumah untuk bertemu dengan mamaku. Kita bersantai bersama di rumah, bercerita dan becanda. Tak kusangka tiba-tiba datang sebuah mobil dia adalah Roy dengan membawa serangkaian bunga mawar yang indah hendak diberikannya untukku. Lalu keadaan berubah menjadi canggung karena disitu juga ada Ryan. “Jadi selama ini kamu telah dengannya, mengapa kamu tidak pernah memberitahuku tentang hal ini? Kamu jahat banget. Sorry sudah ganggu waktu kalian. Have Fun!!” Kata Roy dengan nada marah dan membuang serangkain bunga mawar yang indah itu. Aku kelagapan dengan situasi ini, Tiba-tiba Ryan mendatangiku dan berkata “Who is he? Is he your second boyfriend? What the hell with this, I think you are nice girl but i was closed! You are a Liar!”. Hancur sudah semua kisah cintaku.

Aku menyesal dengan perbuatanku yang bodoh ini, aku sangat menyesal. Berawal karena aku mengharapkan yang terbaik tetapi semua malah berbalik sehingga aku harus kehilangan semua orang yang aku sayangi. Inilah hidup, apabila ada orang yang sangat mencintaimu sayangilah dia, hargai cinta yang telah dia berikan untukmu. Janganlah kau sia-siakan selagi dia masih ada di sampingmu. The End.

23/10/2014

CERPEN

Gadis Berjilbab Pilihan

Gadis Berjilbab Pilihan
Cantik nian akhlak gadis berjilbab, mengajar anak di gubuk yang tua
Daerah gubuk tempat si miskin, baca dan tulis huruf Al-Qur’an
Berbagi kasih pada putra harapan…
Diterik mentari si gadis cantik berbagi kasih
Kerja tanpa pamrih dengan hati bersih
Dan ikhlaas hati…

Sepenggal lagu lawas dari grup musik qosidah Nasidaria, mengingatkanku pada sahabat karibku. Jilbab yang pernah diberikannya, masih aku simpan dengan baik, dan sering aku kenakan. Lama aku tak berjumpa dengannya. Aku rindu akan kebersamaan dengannya, canda tawa yang menghiasi kebersamaan kami, susah senang kami hadapi dengan hati yang lapang. Tapi, kini ia telah pergi jauh. Aku sangat merindukannya. ’Obi, dimana persahabatan kita yang dulu?’ tanyaku dalam hati.

Aku beranjak dari tempat tidurku, dan berdiri mendekati almari bajuku. Aku mengambil jilbab yang pernah Obi berikan padaku. Aku dekap dalam pelukanku, sebagaimana aku melepaskan rinduku pada Obi. “Obi, kau adalah sahabatku yang terbaik. Apa yang kau berikan padaku begitu berharga. Aku tak sanggup untuk menandingi kebaikanmu. Pulanglah Obi, aku menunggumu” kata Nayla, yang masih mendekap jilbab itu dalam pelukannya. Kenangan Nayla dengan Obi beberapa tahun lalupun hinggap dalam pikirannya. Nayla masih ingat saat Obi memberikan jilbab itu.

***

Usai p**ang sekolah aku berpisah dengan Obi di perempatan jalan. Sebenarnya, namanya, bukan Obi. Melainkan Riana Febrina. Aku lebih senang memanggilnya dengan sebutan Obi. Dia sendiri juga tidak keberatan. “Nay, aku ke rumah bu Ana dulu ya..” kata Obi sebelum kami berpisah. “Bi, kenapa kamu tidak p**ang dulu? Kamu kan capek, baru p**ang sekolah.” Kataku pada Obi. “Nay, anak-anak TPA di tempatnya bu Ana sudah menunggu. Aku kemarin sudah dapat uang dari bu Ana. Aku memintanya terlebih dahulu untuk membayar buku.” Obi menjelaskan. “Baiklah, kamu hati-hati ya..!” kata Nayla. “Iya Nay, makasih ya, makan siangnya tadi. Aku jadi ngerepotin kamu.” Kata Obi. “Sudahlah Bi, kan kamu juga yang sering bantu aku belajar. Les privat, gratis lagi.” kata Nayla dengan senyum manjanya, hingga lesung pipinya semakin dalam laksana pusaran air.

Di perempatan itulah, aku sering berpisah dengan Obi. Aku langsung p**ang, tapi Obi terus melangkahkan kakinya untuk menunaikan tugas mulia. Ia ikut mengajar anak-anak mengaji di rumah bu Ana. Beliau adalah salah satu guru di SMK kami. Dan beliau juga yang menawari Obi untuk mengajar anak-anak mengaji, beserta guru mengaji yang lain.

Kali ini, aku ikut dengan Obi ke rumah bu Ana. Aku ingin melihat seperti apa cara Obi mengajar anak-anak. Aku sering mendengar komentar bahwa cara Obi mengajar sangatlah menyenangkan. Terkadang, saat aku pergi ke perpustakaan umum daerah, aku sering melihat murid Obi yang begitu akrab dengannya. Mereka sangat senang dengan Obi. Aku sengaja ikut dengan Obi, karena aku ingin mengamati kegiatan Obi. Aku merekomendasikan ia sebagai murid teladan. Aku pernah membaca dari sebuah majah islam. Aku ingin menuliskan kegiatan Obi, yang nantinya akan aku kirimkan ke majalah itu. Tapi, aku tidak mengatakannya kepada Obi. Meskipun ia tadi sempat curiga, karena tidak seperti biasanya. Aku begitu ngotot untuk ikut. Wajahku masih kusam dengan paikaian seragam lengkap. Begitu juga dengan Obi.Tapi, bekas air wudhu sholat dzuhur masuh terasa segar di wajah kami.

“Sekarang, kita nyanyi dulu ya, sebelum p**ang. Satu, dua, tiga” Obi memandu anak-anak menyanyi. Kamudian anak-anak secara serentak mulai menyanyi. “Tuhanku hanya satu. Tiada bersekutu. Dia tidak berputra, tidak p**a berbapa. Siapa bilang tiga, hai… Itu musyrik namanya. Orang seperti dia nerakalah tempatnya. (lagu balonku ada lima)” anak-anak menyanyi dengan antusias. Aku hanya tersenyum mendengar nyanyian itu. Karena, aku tahu persis lagu itu. Itu lagu yang pernah aku dan Obi dapatkan saat diklat di kantor desa. Saat itu ada mahasiswa dari IAIN sunan ampel Surabaya yang sedang melaksanakan KKN di desa kami. Kemudian mereka mengadakan diklat, memberikan pengajaran tentang pendidikan agama, pelajaran mengenai tajwid, nyanyian, qiroah, dan lain-lain.

“Nay, kamu melamun apa?” suara Obi memgagetkanku, dan menyadarkanku dari lamunan. “Aa,” aku tergagap dan kaget, karena Obi ada di sampingku. “Kamu kenapa Nay?” tanya obi tersenyum melihat mukaku yang aneh. “Aku ingat dulu Bi, saat kita diklat di desa. Waktu ada KKN dari IAIN sunan ampel Surabaya. Lagu itu mengingatkanku Bi.” kataku menjelaskannya pada Obi. Obipun tersenyum mendengar ceritaku. “Oleh karena itu, apa yang sudah kita dapatkan saat diklat itu aku amalkan Nay. Apa yang sudah diajarkan oleh kakak-kakak mahasiswa dari IAIN sunan ampel Surabaya sangat bermanfaat.” kata Obi. “Iya ya Bi,” jawabku dengan menganggukkan kepala.

“Kamu ingatkan, dulu kamu susah belajar tajwid. Masih ingat lagu potong bebek angsa kan?” Obi tersenyum menggoda, dia ingin mengetes ingatanku. “Ok..” jawabku dengan tersenyum. “Macam-macam idghom itu ada dua. Idghom bilagunnah dan idghom bigunnah. Idghom bugunnah ya’ nun mim wawu. Idghom bilagunnah lam ra’ hurufnya. Idghom bigunnah ya’ nun mim wawu. Idghom bilagunnah lam ra’ hurufnya…” aku dan Obi tersenyum bersama, usai menyanyikan lagu itu bersama-sama.

***

“Obi, Obi…” Aku berlari usai memarkir sepeda di depan pagar rumah bu Ana. Obipun tergejut denganku yang berlari terengah-engah dengan majalah di tangan kananku. “Obi, hah..hah..hh..” aku berusaha menarik nafas dalam-dalam, nafasku masih tersengal-sengal juga. Tapi, aku harus menyampaikan kabar gembira ini. “Kamu menang lomba di majalah Bi..!” kataku sangat gembira, aku langsung memeluk Obi. “Nay, aku menang apa? Aku tidak pernah ikut acara di majalah Nay..” Obi sangat kebingungan, ia tidak mengerti dengan sikapku.

“Aku menulis artikel tentang kamu Nay, aku merekomendasikan kamu sebagai murid teladan. Semua kegiatanmu mulai dari memimpin organisasi osis di sekolah, mengajar mengaji, dan membantu teman-teman belajar. Pokoknya aku ceritakan semua Bi. Dan kamu menang Bi. Kamu dapat juara pertama.” Aku sangat antusias menceritakannya. “Apa itu benar Nay?” Obi masih tidak percaya. “Benar Bi, kamu jadi gadis berjilbab pilihan. Kamu baca saja di majalah ini. Kemudian, Obi membacanya. Raut wajah Obi sangat terkejut, ada perasaan senang yang merona di wajahnya. Iapun langsung memelukmu. “Makasih Nay..” kata Obi sambil memelukku.

***

“Nay, ini untuk kamu.” Obi memberikan sesuatu yang dibalut kertas berwarna coklat. “Obi, inikan hadiah dari majalah itu. Kenapa kamu berikan padaku?” tanyaku. “Nay, aku ingin kamu memakainya.” Obi memberikan bungkusan itu padaku. “Ini apa Bi?” tanyaku. “Bukalah..!” pinta Obi. “Jilbab?” kataku saat mengetahui isi dari hadiah itu. “Iya, aku ingin kamu memakainya Nay. Tapi, aku ingin juga, niat itu benar-benar ada dalam hatimu Nay. Aku tidak ingin kamu memakainya karena aku sahabatmu. Karena kamu tidak enak menolaknya. Aku ingin niat itu datang dari hatimu Nay. “Obi menjelaskannya padaku. Aku hanya terdiam, merenung. Sesekali melihat raut wajah Obi, dan melihat jilbab yang sekarang ada di gengamanku. Aku berusaha menata hati, untuk menata niat yang tulus.

Dengan sigap aku memakainya. Sebuah jilbab berwarna salem. Aku sangat menyukainya. “Sepertinya, gadis berjilbab pilihan itu adalah kamu Nay. Kamu menjadi orang pilihan karena, kamu adalah gadis yang Allah pilih agar berjilbab. “Kata Obi sangat menyentuh hatiku. Aku lantas memeluknya.

***

“Nay, lagunya jangan keras-keras..!” teriak ibuku dari luar kamarku. Aku langsung terbangun dari lamunanku. “Iya bu..” Jawabku. Aku sudah melamun lama tentang Obi dan aku dulu. “Bi, lagu dari Nasidaria ini mengingatkanku padamu. Obi, aku sangat rindu denganmu. Semoga kuliahmu di semarang berjalan dengan lancar. “Kataku yang ingat dengan Obi, sahabat karibku.

Selesai

23/10/2014

CERPEN

(Serigala Putih) Daun Dari Angin

Kalau aku mengikuti angin, mungkinkah bisa bertemu. Aku mengharapkannya. Sudah berhari-hari aku menelusuri sungai ini, tapi yang aku lihat masih belum berubah. Hari sudah semakin terik, sejenak istirahat untuk memulihkan staminaku.

Tak ada yang bisa kulakukan selain menikmati indahnya susunan pepohonan dan semak-semak. Berhari-hari, aku tak bisa bilang bosan. Saat malam tiba pun pepohonan yang pekat itu berubah warna menjadi lebih gelap. Sinar kunang-kunang membuat mereka terlihat lebih ceria.

Dingin sekali malam ini, lebih dingin dari malam-malam sebelumnya. Aku putuskan untuk berhenti dulu agar stamina dan suhu tubuhku tidak termakan oleh angin malam yang mencekam ini. Kuselimuti diriku dengan bulu tebal yang ada di seluruh tubuhku.

*SREK*

Tiba-tiba aku terbangun karena telingaku menangkap sesuatu yang harus membuatku siaga. Dari kegelapan malam di antara pepohonan itu, aku melihat sesuatu. Mata yang mirip denganku.

“Hm, aneh sekali bisa menemukan makhluk sepertimu di sini,” gerammya sambil sedikit mengintimidasi.

“Apa maksudmu?” Jawabku.

“Kami tinggal di daratan tinggi di sana dan coba lihat, bagaimana mungkin aku menemukanmu? Sepertinya kau berjalan dari tempat yang jauh,” Curiganya.

“Ya, aku berjalan cukup jauh,” jawabku membuatnya lebih heran.

Dia terlihat sedikit kesal dan bingung. Dia terlihat berbeda dariku. Bulunya berwarna coklat keemasan dan putih di bawahnya. Pejantan yang sudah cukup dewasa menurutku.

Sepertinya dia tak ingin berlama-lama di sini. Setidaknya aku juga perlu istirahat sebentar lagi. Dia pun berbalik dan memasuki hutan malam itu lagi. Sampai akhirnya si kuning bulat panas yang agung kembali ke tahtanya.

Sebenarnya aku tidak tahu harus kemana. Aku hanya mengharapkan sesuatu dari sungai yang aku ikuti ini. Ternyata harapanku lumayan terjawab, buktinya aku telah menemukan sebangsaku yang mengatakan kalau kawanannya ada di dataran tinggi di sana. Mungkinkah aku mengikuti angin saja.

Tak berapa lama kemudian, aku mendengar lagi langkah kaki yang sama dengan langkah yang membangunkanku kemarin.

“Hei, si bulu aneh!” Sapanya, “Bagaimana kalau ku antar kau ke kawananku, aku sudah selesai dengan urusanku, nih.”

“Ya, boleh saja,” ujarku sedikit senang.

Jalurnya tidak cukup berubah, tinggal menyusuri aliran sungai ini, kemudian nanti terlihat jalur-jalur telapak kaki yang perlu diikuti sampai masuk kembali ke dalam hutan.

Perjalanan masih cukup jauh, katanya. Semua berjalan dengan tenang dan damai sampai instingku membisikkan sesuatu. Hidungkupun merasakannya, mungkin dia juga. Baunya tidak asing bagiku. Entah mengapa aku langsung berlari ke arah bau itu. Teman seperjalananku mengikuti gerakkanku.

Ya, tidak salah lagi, tubuh dingin itu cukup sering ku lihat, orang mati. Seram sekali musuh orang ini, tubuhnya di robek-robek sampai terlihat organ dalamnya, tangannya tak bisa kutemukan, wajahnya juga banyak bekas cakaran. Selain itu di sekitar mayat itu berbaring, terlihat banyak bekas goresan. Dari bekas cakar yang bisa di pohon, mungkin lawannya adalah beruang. Satu lagi, aku pernah melihat benda lonjong yang berserakan di samping mayat itu, kalau tidak salah dapat membunuh hewan dari jarak yang cukup jauh. Mungkin itu alasan si beruang menyerang.

Aku mengikuti bau beruang yang samar-samar, temanku juga mengikuti. Tidak jauh, aku melihat bayangan hitam besar, tentu saja, itu si beruang. Ternyata tidak cuma seekor bayangan, dua bayangan kecil nampak p**a.

*DEG*

Sial! Tekanan ini, beruang besar itu mengetahui keberadaan kami. Entah kenapa keempat kakiku terasa berat sementara beruang itu melompat ganas ke arah kami.

*DOR*

Apa? Apa itu? Beruang yang hampir menerkam kami tiba-tiba terkapar. Terkanan tadi tiba-tiba hilang. Aku memperhatikan. Keadaan dua bayangan beruang kecil tadi dalam kondisi yang sama dengan bayangan besar yang ada di hadapan kami. Tidak, bayangan kecil di sana sudah lama di sana..

“Kenapa kau tidak langsung lari mendengar sesuatu yang berbahaya seperti itu? Entah kenapa aku terbawa dengan aksimu,” kata temanku bingung.

“Aku tidak begitu merasa terancam,” tenangku.

“Benarkah?” Herannya.

*DOR*

Sesuatu baru saja lewat di depan mataku. Aku bisa melihat benda itu berasal jauh sekali dari arah kiriku. Kemudian aku lari ke balik pohon untuk berlindung dari benda yang sama.

Saat aku sudah di balik pohon, ternyata aku melewatkan sesuatu. Aku ceroboh. Tidak ada yang bisa kulakukan lagi. Benda yang merobohkan beruang dan melewati mataku itu mengenai teman seperjalananku. Sial.

Apa yang harus kulakukan. Darahku tiba-tiba meluap, tapi kemudian tenang kembali. Perjalananku harus kulanjutkan. Aku tak ingin meninggalkan teman seperjalananku. Kupikir di sana ada teman-temannya yang sedang menunggu.

Aku kembali menyusuri jejak yang kami tinggalkan. Jalan sudah mulai menanjak. Mungkin hampir sampai, hidung dan instingku berkata begitu. Cukup lelah karena aku juga membawa temanku. Dari balik pohon dan beberapa tanah yang cembung keluar makhluk yang warnanya mirip dengan temanku. Semuanya terlihat terkejut melihatku, tapi kebingungan dengan temanku yang masih kuseret. Satu dari mereka, sepertinya pemimpin mereka, mendekatiku. Dia lalu menendus-endus temanku yang kuletakkan di depannya. Tiba-tiba raut wajahnya berubah, marah dan takut, sepertinya aku mengerti emosi itu. Tentu saja, yang bisa kubawa hanya tubuh dan darah ini saja. Mungkin yang kuperbuat salah. Mungkin aku dapat melihat pemandangan yang di lihat beruang tadi. Cuma mungkin, semua kemungkinan itu kubuat agar aku lebih tenang menghadapi keadaan ini.

Sepertinya sekarang aku cukup memutar badanku kemudian melangkahkan kakiku. Kembali mengikuti angin. Ya, itu membuatku sedikit lebih tenang. Aku menyusuri pepohonan lagi kembali ke alur sungai yang sudah menemaniku beberapa hari ini.

Aku pun sudah berada di daerah aliran sungai dan sepertinya aku bukan yang pertama. Aku melihat beberapa orang sedang beristirahat di pinggir sungai. Saat menyadari jarakku yang tidak begitu jauh dari mereka, tiba-tiba benda lonjong yang berlubang di tengahnya langsung mereka pegang dan mengarahkannya kepadaku. Aku sudah bersiaga dari tadi.

Beberapa saat kami terdiam mencari waktu yang tepat untuk menyerang. Salah satu dari mereka bergerak, sedikit maju kemudian menggerakkan jari telunjuk seperti menekan sesuatu..

*DOR*

Cih, sesuatu yang keluar dari benda panjang itu menyerempet salah satu mataku. Aku langsung melompat dan berusaha menggapai salah satu dari mereka, sialnya gerakkanku tak secepat benda panjang itu.

*DOR DOR DOR*

Untunglah tidak ada yang melukaiku cukup serius. Aku masih bisa berdiri sementara mereka memasukkan sesuatu ke benda panjang itu. Aku langsung menerkan salah satu dari mereka. Aku ternyata tidak begitu cepat sampai ada yang memukulku, cukup untuk membuatku terlempar ke sungai. Sudah kuduga, aku ikuti angin saja. Arus sungainya cukup deras untuk menyeretku kabur dari mereka. Aku, tak bisa lagi menahan kelelahanku, mataku sudah bosan melihat sungai ini, kemudian tertutup

*JDUG*

Ah! Benturan itu membuatku terbangun. Entah sudah berapa lama mataku tertutup.

“Hei, Eric! Bagaimana perjalananmu?” Tiba-tiba seekor makhluk yang mirip denganku menyapaku.

“Oh! Kau, tidak seberapa, ku pikir aku melakukan kesalahan,” Jawabku, “Bagaimana kau bisa ada di sini?”

“Aha, tidak-tidak, aku tidak ada di sini.”

“Oh… ya, tentu saja, sudahlah, aku belum bisa bertemu denganmu.”

“Aku tahu, sudah ya!” Bayangan makhluk itu pun pelan-pelan menghilang dan memperlihatkan pemandangan yang begitu asing bagiku. Tentu saja, aku terdampar setelah di seret aliran sungai beberapa waktu yang lalu.

Aah, aku tak ingin menyesal. Sekarang aku bisa kembali mengikuti angin. Menuju ke sebuah tempat yang kuinginkan. Ya, tempat dimana aku bisa duduk bersantai dahulu, tolonglah, aku sudah lelah.

“Ah, sudahlah, mengikuti angin ternyata tidak seburuk pikiranku,” tenangku dalam senyap.

Address

Jalan Bangka 2G No. 5
Pekanbaru

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when HerbaLiners Club posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share