26/03/2021
Saudaraku sesama Muslimah, jika hari ini ada diantara Anda yang suami belum mengijinkan untuk Anda memiliki bisnis sendiri, atau belum diijinkan untuk berperan aktif dalam berbagai kegiatan yang positif dan produktif, percayalah suami Anda sejatinya begitu menyayangi Anda.
Saya pun pernah mengalaminya sepuluh tahun yang lalu. Ya, sepuluh tahun yang lalu, suami saya tidak mengijinkan saya untuk aktif di berbagai kegiatan, baik itu kegiatan dakwah, sosial, maupun bisnis dan yang lainnya. Awalnya beliau hanya mengijinkan saya sebagai bidan Klinik dan praktik di rumah saja. Dengan alasan agar ilmu saya tetap bermanfaat.
Dan saya yakin, walaupun beliau tidak menjelaskan secara detil alasan apa sehingga tidak membolehkan saya memiliki aktifitas lain di luar rumah, namun yang jelas satu alasan terkuat adalah ingin membahagiakan dan memberikan yang terbaik untuk istri tercintanya.
Bisa jadi hal ini juga dialami oleh teman-teman semua. Mungkin dengan alasan agar lebih fokus mengurus keluarga, mungkin suami merasa masih bisa memberikan nafkah yang terbaik, dll.
Satu hal yang saya lakukan saat itu adalah negosiasi. Ya, saya berusaha untuk komunikasi dari hati ke hati. Apa yang menjadikan alasan saya ingin tetap diijinkan untuk aktif melakukan aktifitas di luar rumah.
Dan salah satunya saya sampaikan bahwa Allah telah berfirman di dalam Al Qur'an Surat An Nahl Ayat 97:
من عمل صالحا من ذكر او انثى وهو مؤمن فلنحيينه حيوة طيبة ولنجزينهم اجرهم باحسن ما كانوا يعملون
"Barangsiapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."
Tentu saya menyampaikan hal itu dengan nada yang pelan dan memohon penuh kasih sayang.
Hingga tidak tahu kenapa, setelah terdiam sesaat, Alhamdulillah atas pertolongan Allah suami saya mengatakan bahwa beliau ridho atas apa yang saya lakukan selama itu untuk kebaikan yang bermanfaat dan tidak melanggar syari'at.
Masya Allah, bisa teman-teman rasakan ya, bagaimana bahagianya perasan seorang istri yang tadinya hanya terkurung di dalam rumah dan tempat praktik saja, seketika diperbolehkan untuk bisa menjelajah keluar rumah. Hahahahaha, seperti burung yang dilepaskan dari sangkarnya.
Tapi saya paham, bahwa saya harus menjaga amanah dan kepercayaan dari suami. Saya harus pandai membangun track record "kepercayaan" kepada suami, bahwa saya layak untuk mendapatkan kepercayaan darinya.
Dan apa saja yang saya lakukan di luar rumah..???
Saya pastikan hanya melakukan sesuatu hal yang positif, seperti berorganisasi khusus muslimah, edukasi kesehatan, kajian, berbisnis. Ya paling hanya seputar itu, bahkan makan-makan atau sekedar kumpul-kumpul bersama para sesama wanita pun saya tidak pernah jika tanpa satu tujuan yang jelas.
Dan yang jelas suami saya paham betul bahwa salah satu tujuan terbesar saya untuk meminta diijinkan aktifitas di luar rumah adalah untuk mewujudkan Impian. Sehingga seringkali suami rela mendampingi demi membantu mewujudkan Impian istrinya. Hingga sejak lima tahun yang lalu suami pun Alhamdulillah memutuskan untuk selalu mendampingi kemanapun aktifitas saya, karena kami telah memiliki satu visi yang sama.
Saya akui tidak mudah, semua butuh proses. Namun percayalah, selagi kita menunjukkan sedang berada di jalan yang benar, di jalan kebaikan, maka Allah lah yang memudahkan semuanya, membantu dan membimbing di setiap langkah kita.
Menariknya, setelah sepuluh tahun berlalu, saya kembali bertanya kepada suami. Mengapa dulu pernah tidak memberikan ijin bagi istrinya untuk tidak melakukan aktifitas di luar rumah. Itu pun tidak langsung dijawab.
Setelah beberapa hari berlalu, pertanyaan itu pun baru terjawab. Alasannya :
1. Salah satu bentuk tanggung jawab seorang suami terhadap istri adalah menafkahi dan memenuhi semua kebutuhan Istri. Jika suami masih mampu, kenapa harus merepotkan istri.
2. Kadang muncul perasaan khawatir, manakala istri melakukan aktifitas di luar rumah sehingga lebih produktif dan lebih menghasilkan dibandingkan dengan suami, maka khawatir kesetiaan serta kepatuhan seorang istri kepada suami akan berkurang bahkan hilang.
3. Kadang muncul pemikiran suami, jika istri lebih mementingkan aktifitas di luar rumah, maka khawatir menjadikannya lalai dengan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang istri juga seorang ibu jika sudah ada anak-anak.
Namun, itu semua sejatinya kembali kepada diri kita masing-masing, apakah kita sebagai seorang istri mampu membuktikan kepada suami bahwa kita layak dipercaya, sehingga kekhawatiran - kekhawatiran di atas tidaklah benar.
Seorang istri perlu membangun track record yang baik bagi suaminya, sehingga suami percaya dan menyaksikan sendiri akan kesungguhan sang istri.
Namun, kadangkala istri pun perlu cerdas dalam bersikap. Jangan sampai terlalu mandiri, sampai mandirinya istri kebablasan. Hal ini tentu juga kurang baik, karena bisa berakibat melalaikan tugas dan tanggung jawab suami.
Di sinilah pentingnya bermain cantik.
Bagaimana pendapat teman-teman semua....????