24/08/2022
Salah satu makanan unik nusantara asal Jawa Tengah adalah Sate Kere. Dari sejarahnya, kuliner khas Solo ini lahir dari situasi kemiskinan.
Dikutip dari artikel “Culinary Tourism Development Model in Surakarta, Indonesia” dalam Jurnal KnE Social Sciences, pembuatan sate kere berawal pada zaman dahulu saat daging dianggap sebagai makanan mewah yang hanya dikonsumsi oleh masyarakat menengah ke atas.
Penamaan "kere" (miskin dalam Bahasa Jawa) digunakan karena masyarakat kelas bawah berkreasi untuk membuat sate dengan bahan yang lebih terjangkau, yakni dari tempe gembus. Tempe gembus adalah tempe yang dibuat dari ampas tahu. Meskipun masih jarang dikenal di daerah lain, tempe gembus sejak lama dikonsumsi oleh masyarakat Jawa Tengah dan Yogyakarta.
Meskipun dianggap sebagai makanan “rendahan”, bukan berarti sate kere sama sekali tidak bergizi. Tidak hanya itu, makanan tempe pun sebenarnya merupakan makanan pengganti daging di zaman kolonial penjajahan Belanda dan Jepang. Tempe gembus yang digunakan sebagai bahan utama sate kere mengandung zat gizi yang layak konsumsi, seperti serat, antioksidan yang tinggi, protein, karbohidrat, dan isoflavon, demikian dikutip dari buku Tempe Gembus: Pengolahan dan Potensi Gizi (2021) yang ditulis Muflihah Isnawati, Wiwik Wijaningsih, dan Susi Tursilowati.
Tidak seperti namanya, sate kere justru sangat kaya rasa. Potongan tempe gembus ditusuk dan dibakar layaknya sate, memberikan sensasi empuk yang unik di mulut. Cita rasa gurih, pedas, dan segarnya datang dari bumbu kacang yang dituang di atas sate kere. Sate kere dapat dengan mudah ditemui di pasar-pasar tradisional Solo.