03/08/2016
Menguak Rahasia Sukses Berbisnis dari Owner JilbabAfra
Alhamdulillah untuk business trip kampus Umar Usman minggu ini hari Rabu tanggal 16 Maret 2016, kami mahasiswa prodi marketing diberi kesempatan untuk berkunjung ke Pusat Jilbab Afra yang beralamat di perumahan Jatijajar Blok A2 No 29 Simpangan Depok.
Kami disambut dengan hangat oleh sang ownernya langsung yaitu mas Ali Ghuraisah beserta isterinya. Nama jilbab Afra sendiri diambil dari singkatan nama isterinya yaitu mbak Asyyifa Fathi Rabbani yang disingkat menjadi Afra. Jilbab Afra mengambil tema jilbab yang simple dan colorful. Inilah yang menjadi pembeda abadi mereka dengan para kompetitor jilbab lainnya.
Setelah memberi salam sambutan, mas Ali kemudian bercerita awal mula bagaimana jilbab Afra dibangun. Berawal dari kebutuhan hidup ketika berusia 19 tahun yang ingin sukses di usia 26 tahun. Kategori sukses yang dimaksud oleh mas Ali adalah jika beliau sudah menikah, lalu punya anak, lalu punya usaha sendiri yang berpenghasilan minimal ratusan juta perbulan, punya mobil pribadi, dan menaikan haji ibunda tercintanya. Alhamdulillah ternyata sebelum umur 26 tahun, semua kategori sukses sudah diraih, tinggal menaikkan haji ibunda tercintanya yang masih dalam proses, karena masih menunggu jadwal keberangkatan.
Yang luar biasa adalah ketika mas Ali bercerita untuk memutuskan menikah muda dan melamar isterinya di saat masih belum memiliki apapun di usianya yang pada waktu itu baru 21 tahun. Mas Ali percaya bahwa menikah di usia tersebut akan membuka jalan rezekinya untuk sukses di usia 26tahun. Dia bercerita ketika menghadap orang tua sang isteri, mas Ali dengan mantap mengatakan ingin melamar anak gadis mereka dan jujur belum memiliki apa-apa, hanya visii yang kuat yang jadi modalnya. Jadi jika ingin melaksanakan walimahan pun mungkin hanya kecil-kecilan saja ujarnya. Alhamdulillah pinangannya pun diterima, dan acara walimahpun diluar dugaan, Alhamdulillah acara yang sederhana tersebut dihadiri lebih dari 1200 undangan yang datang.
Berlatar belakang seorang ahli desain grafis, mas Ali sempat berbisnis jasa desain. Namun terkadang orderan dari jasa desain tidak bisa terlalu diharapkan. Selain itu mas Ali juga sempat berpartner dengan beberapa orang temannnya berbisnis di bidang kuliner dengan membuka warung ketoprak humor. Dikarenakan banyak kepala dalam menjalankan usaha ketoprak ini, dan juga kebutuhan modal yang sangat besar untuk bisnis kuliner, alhasil usaha ketoprak humor ini pun tidak bertahan lama. Tapi Alhamdulillah baaanyak sekali pelajaran yang didapat dari usaha tersebut.
Setelah mengambil banyak pelajaran dari usaha dan bisnis yang ia lakukan sebelumnya, mas Ali akhirnya belajar untuk fokus di bisnis jilbab bersama istrinya. Sang istri pun menjadi inspirasi untuk memberikan identitas brand, yaitu singkatan dari nama Asysyifa Fathi Rabbani menjadi Afra. Dia mulai membenahi kesalahan yang telah dia lakukan pada bisnis-bisnis sebelumnya. Pada awalnya sang ibu sempat khawatir dengan kondisi keuangan mas Ali, terlebih dia sudah memiliki isteri. Ibunya sempat memintanya untuk bekerja saja agar ada pemasukan untuk biaya hidup. Namun mas Ali tetap semangat dan konsisten menjalankan bisnis jilbabAfra ini dari nol. Awalnya, Mas Ali yang terlibat 100% dalam menjalankan bisnis ini krn Mba Syifa sedang hamil muda, namun seiring berjalannya waktu akhirnya Mba Syifa ikut terjun langsung. Alhamdulillah tidak disangka2 kolaborasi suami istri ini menuai hasil yang sangat baik, buktinya jilbabAfra semakin berkembang pesat hingga hari ini.
Pengusaha yang masih baru berusia 24 tahun ini mengingatkan dalam berbisnis hendaknya kita memegang falsafah pohon kurma. Fokus, tahan banting, dan habiskan jatah kegagalan kita. Biarkan diri kita ditempa dari kegagalan yang kita rasakan. Sama seperti pohon kurma ketika dia baru ditanam maka harus ditindih batu dulu agar nantinya ketika sudah besar memiliki akar yang kuat. Begitulah perumpaan yang mas Ali berikan yang membakar semangat kami.
Dalam berbisnis Mas Ali memegang prinsip untuk tidak berhutang, sebab menurutnya ketika kita berhutang, maka akan menciptakan penyakit "cemas di pagi hari dan gelisah di malam hari." Jika sudah terjadi seperti itu maka produktivitas kerja kita dalam membangun bisnis akan berkurang. Lagipula, berhutang pada saat mendirikan bisnis itu sangat berbahaya. "Bayar hutang itu kepastian, sedangkan berbisnis itu adalah ketidakpastian. Maka membayar kepastian dengan ketidakpastian itu merupakan suatu kebodohan” Pesan mas Ali kepada kami.
Selain itu mas Ali juga berpesan agar sebisa mungkin kita memiliki "sapi perah" untuk memenuhi kebutuhan hidup kita sehari-hari. Selain fokus di bisnis yang akan kita besarkan dalam jangka panjang, ada bisnis penunjang yang keuntungannya kita gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sehingga dengan begitu kita akan bisa memutar keuntungan fokus bisnis besar kita dan menjadikannnya untuk modal kembali.
Alhamdulillah sejak dimulai dua tahun yang lalu tepatnya di bulan 1 Ramadhan 1435, kini jilbab Afra sudah memiliki banyak distributor, agen, dan reseller di seluruh daerah di Indonesia. Bahkan jilbab Afra juga sudah sampai ke negara-negara timur tengah dan Asia seperti Mesir, Arab Saudi, Hongkong, Taiwan, dan negara lainnya.
Terakhir pesan yang sangat mulia dari mas Ali adalah usahakan pada saat kita membangun bisnis agar setiap hari kita meminta restu dari ibu kita agar bisnis kita diberi keberkahan oleh Allah. Sebab menurutnya doa ibu itu sangatlah mujarrab dikabulkan Allah. Begitulah yang mas Ali lakukan pada saat membangun usahanya.
Ada beberapa poin penting yang bisa kita ambil dan praktekkan dari pengalaman Mas Ali dan Mba Syifa:
1. Segerakanlah menikah agar pintu rezekimu semakin disegerakan dibukakan oleh-Nya
2. Jangan pernah takut gagal, habiskan jatah gagalmu
3. Tekun, fokus dan jangan gonta-ganti bisnis
4. Miliki “sapi perah” untuk ongkos biaya hidup sehari-hari
5. Hindari berhutang dalam berbisnis
6. Mintalah doa dan restu kedua orang tua khususnya ibu kita setiap pagi