24/08/2026
Jispro – TAHUN 1607, pagi di Monza terasa lebih kelam dari biasanya. Lonceng Biara Santa Margherita berdentang dengan irama yang lambat dan berat, seolah beban dosa dunia sedang digantungkan pada setiap getaran logamnya. Di dalam ruang bawah tanah yang dingin, di atas hamparan batu pualam yang kini bernoda merah pekat, terbaring tubuh seorang novis bernama Caterina. Matanya yang dulu bening seperti air mata kini membulat kosong, menatap langit-langit yang retak, seolah masih menyimpan ketakutan yang tak terucapkan dari detik-detik terakhir hidupnya.
Di sudut ruangan, berdiri seorang wanita dengan jubah biarawati yang lusuh. Suster Virginia—atau yang dulu dikenal dunia sebagai Mariana de Leiva—menatap mayat itu tanpa berkedip. Di wajahnya tergores campuran perasaan yang aneh dan mengerikan: kepuasan yang dingin bercampur dengan teror yang merayap di tulang belakangnya.
“Ini bukan pertama kalinya kematian datang mengetuk pintu biara ini karena ulahku,” bisiknya pelan, suaranya terdengar serak di ruangan yang sunyi. “Tapi kali ini… kali ini rasanya berbeda. Darah ini seolah menuntut balas, menembus pori-pori batu yang selama ini menjadi saksi bisu kebohongan suci kita.”
Mengungkap skandal kelam Suster Virginia di Biara Santa Margherita Monza: cinta terlarang, kehamilan rahasia, dan pembunuhan.