16/12/2013
Ly, ada tamu
minta nginap malam
ini bisa nggak ?”
tanya GM melalui hp
pada suatu
sore.”bisa sih tapi
agak maleman,
mungkin setelah jam
9 malam gitu,
gimana ?” jawabku
karena udah ada
bookingan dari GM
lain nanti jam 6 di
Hotel Sahid tapi
nggak nginap.”lebih
sore nggak bisa ?”
jawabnya lagi
dengan nada
memaksa “terlalu
mepet waktunya,
ntar dibilang nggak
bisa on time””lagi
ada orderan yaaaa,
dari siapa sih”
tanyanya
penasaran”ada
deeeeh, di mana
nanti ?””Sheraton,
ntar telpon aku kalo
udah selesai, bikin
lebih cepat ya,
orderan gede
nih””ya bossss”
jawabku mengakhiri
pembicaraan
Setelah melayani
tamuku di Hotel
Sahid (tidak perlu
diceritakan
bagaimana jalannya
permainan karena
biasa biasa saja,
tidak ada yang
istimewa), aku
langsung meluncur
ke Hotel Sheraton,
hanya perlu 10 menit
untuk mencapai
tujuan. Setelah
kuberikan mobil pada
Valet Parking aku
masuk ke lobby
menuju Bongo’s,
tidak banyak tamu
yang ada disitu,
maklum masih
terlalu sore untuk
tempat macam
Bongo’s.
Jarum jam masih
menunjukkan pukul
19:50 saat aku
memesan minuman
kesukaanku, 10
menit kemudian si
GM datang
menghampiriku, tak
lama, lalu kami
menuju ke lantai
8.”Pak Jacky, ini
Lily yang kuceritakan
tempo hari, aku
nggak bohong
kan ?” sapanya
ketika pintu kamar di
buka.Seorang laki
laki menyambut
kedatangan kami di
kamarnya, dia
berbicara sebentar
dengan GM yang
membawaku, tak
lama kemudian
tinggallah kami
berdua di
kamar.”aku mau
kamu temani kami
selama di Surabaya,
mungkin sampai lusa,
nggak apa kan ?”
tanyanya sambil
menyalakan
Marlboro-nya.”k
ami ?” aku sedikit
terkaget, si GM itu
tak
memberitahukann
ya.”ya, aku dan
istriku” jawabnya
sambil mengepulkan
asapnya tinggi
tinggi.”jangan
khawatir, istriku
tidak tahu siapa
kamu, ntar bilang aja
kita teman lama,
beres kan”
lanjutnya seolah
menjawab
keterkejutanku.
”seharian
penuh ?” tanyaku,
kukira cuma nemanin
malam saja.”ya,
siangnya kamu ajak
dia jalan jalan ntar
malamnya temanin
aku di kamar ini,
udah kubooking 2
malam”
Aku yang sudah biasa
menemani tamu
yang agak aneh kali
ini masih juga
terkejut dengan
kenekatan tamuku
ini, sudah diikuti si
istri masih juga
mencari wanita lain.
Dengan booking 24
jam seperti itu
berarti aku tidak
mungkin menerima
tamu lain, berarti
hilanglah orderan
yang rata rata 2-4
kali sehari.”tersera
h BApak saja, aku sih
ngikutin” jawabku
lalu permisi ke kamar
mandi.Di kamar
mandi diam diam
kuhubungi si GM,
menceritakan
rencana tamuku ini.
Dia hanya tertawa
saja ketika
kutanyakan soal
pengaturan
pembayarannya,
tentu dia harus bisa
mengganti
“kerugian” ku
akibat tidak terima
tamu selama
menemani
mereka.”jangan
khawatirkan itu,
yang jelas akan lebih
banyak dibanding
kalo kamu terima
tamu 3 kali sehari,
aku jamin itu”
katanya
menenangkan
hatiku.
Siraman air hangat
yang membasahi
tubuhku sangat
menyegarkan dan
menghilangkan rasa
penat setelah
seharian bekerja
melayani 2 tamu.
Sekeluar dari kamar
mandi dia sudah di
ranjang tertutup
selimut, kulihat
pakaiannya
tergeletak di sofa,
berarti dia tidak
mengenakan
pakaiannya lagi
dibalik selimut
itu.Tanpa banyak
bicara, Pak Jacky
menarikku ke
pelukannya, handuk
yang menutupi
tubuhku melayang
sedetik kemudian
seiring dengan
cumbuan dan
lumatan di bibirku.
Tubuhku segera
mengikutinya masuk
dalam selimut,
dibawah selimut
kami saling
berpelukan dan
berciuman penuh
gairah.
“kamu memang
secantik dan se-sexy
apa yang
diceritakan”
katanya sambil
melumat bibir,
lidahnya menyusuri
leher hingga berhenti
di putingku,
dikulumnya dengan
gigitan gigitan
ringan, akupun mulai
mendesis dan
semakin keras dikala
bibirnya mulai
menyentuh
klitorisku. Aku
sebenarnya agak
risih juga bila
seorang laki laki
dengan gairahnya
mengulum dan
menjilati va**naku
padahal belum satu
jam yang lalu laki laki
lain menumpahkan
spermanya di lubang
yang sama, tapi
kebanyakan mereka
salah mengerti
penolakanku
mengenai hal ini,
tentu saja aku tak
mungkin bicara terus
terang.Justru
semakin aku
menolak kebanyakan
mereka semakin
bergairah
memainkan lidahnya,
akhirnya akupun tak
peduli, toh aku sudah
peringatkan.Cukup
lama juga kepala Pak
Jacky berada di
selangkanganku
sebelum kami
ber-69, p***snya
yang tidak terlalu
besar begitu keras
kurasakan saat mulai
keluar masuk
mulutku, begitu juga
lidahnya semakin liar
menari nari di
bawah.
Beberapa menit
kemudian dia sudah
mengocokku dari
atas, tak ada yang
istimewa darinya,
tapi kulihat Pak
Jacky begitu
bersemangat, tak
lebih 3 menit
keringat sudah
mengucur
mambasahi
tubuhnya. Wajahnya
yang putih tampan
terlihat memerah
terbakar nafsu dan 2
menit kemudian
menyemprotlah
sperma Pak Jacky
menyirami liang
va**naku. Aku
menjerit terkaget
mengiringi
jeritannya, banyak
sekali sperma yang
ditumpahkannya,
lebih dari 10
denyutan kuhitung,
sebelum tubuhnya
lemas menindihku
dengan napas yang
masih menderu.
“kamu memang
menggairahkan”
komentarnya setelah
turun dari tubuhku
dan telentang
disamping.Aku tidak
menanggapi
komentarnya,kuusap
keringat dari
tubuhnya dengan
sprei lalu
kumasukkan
p***snya ke mulutku,
dia terkaget menjerit
namun tak menolak,
hanya desah geli
yang kudengar, tapi
tak berlangsung
lama saat dia minta
berhenti.
“gila, belum pernah
aku dikulum setelah
keluar gitu”
katanya sambil
membelai rambutku
yang tergerai di atas
dadanya.
Kami berpelukan
telanjang,
menurunkan
tegangan yang ada.
Cerita Dewasa-
Setelah beristirahat
hampir satu jam,
babak kedua
berlanjut, kali ini aku
aku diposisi
atas.Perlahan
tubuhku mulai naik
turun dan semakin
cepat, dia mendesah
sambil meremas
remas buah
dadaku.”ooouuuh
hhh…sssssshhhh…
trusss…yaaaa…tr
usss Lita…trusss..ya
gitu Lita” desahnya
menyebut nama
seseorang entah
siapa, tapi aku tak
pedulikan, toh
kuanggap bagian dari
fantasy laki
laki.Dengan posisi di
atas aku memegang
peranan, begitu
kulihat dia sudah
hampir mencapai
puncak, kuhentikan
gerakanku untuk
menurunkan
tegangannya,
untungnya dia
mengikuti
permainanku
sehingga bisa
berlangsung lebih
lama dari tadi,
namun demikian tak
lebih 10 menit diapun
harus menyerah
dalam serbuan
birahinya sendiri.
Orgasme kedua dia
alami, padahal aku
belum apa apa.
Babak ketigapun
kami lalui dengan
tanpa “greget”
bagiku, semua biasa
biasa saja meskipun
aku tahu Pak Jacky
berusaha keras
untuk memuaskanku
tapi dia tidak berhasil
melakukannya.Hi
ngga pukul 12 tengah
malam kami
melakukannya sekali
lagi, 4 babak telah
kami lalui dengan
cepatnya tanpa satu
orgasmepun kuraih,
apalagi babak
terakhir dia minta
orgasme di mulut.
Beberapa menit
kemudian dia
meninggalkanku
sendirian di kamar
itu, untuk kembali ke
pelukan istrinya yang
tinggal satu lantai di
atas kamar ini. Laki
laki, kalau sudah
dilanda birahi,
nalarpun terabaikan,
begitu nekat dia
melakukan hal
seperti ini, belum
pernah aku menemui
tamu yang senekat
ini.
Akupun karena
kelelahan kurang
tidur sejak kemarin,
tertidur p**as tak
lama sepeninggal
Pak Jacky, bekas
sperma masih tersisa
di va**naku tanpa
sempat
membersihkannya.
Keesokan paginya
aku terbangun bunyi
telepon, hanya Pak
Jacky dan si GM yang
tahu aku dikamar ini,
pasti salah satu dari
mereka.
“Pagi sayang”
sapa suara yang tak
kukenal yang aku
yakin suara Pak
Jacky
“pagi juga
sayang” jawabku
tak kalah mesra
meski kubuat buat.
“gimana tidurnya ?
nyenyak ? kalau
kamarnya kurang
enak upgrade aja
kamarnya ntar
siang” lanjutnya
“kok pagi pagi udah
bangun Pak”
tanyaku kembali ke
kebiasaanku yang
hampir selalu
memanggil Pak pada
tamu yang baru
kukenal.
“sekarang udah
jam 8 sayang, udah
waktunya kerja cari
duit” jawabnya,
aku hanya
tersenyum karena
memang jam segini
bagiku masih sangat
terlalu pagi untuk
cari duit.
“gimana tidurnya ?
nyenyak ? atau
malah belum tidur
ngelanjutin sama
ibu ?” godaku
dengan nada canda
“mana bisa lagi,
kamu habisin
semuanya, udah
nggak ada tenaga
lagi, habis bis bis
bissssss”
Akhirnya dia
memberi tahu
skenarionya dan
acaranya selama di
Surabaya.Dia
berusaha
menjelaskan tentang
masa lalunya dan
akupun berusaha
mengingatnya
supaya tidak
canggung saat
berhadapan dengan
si istri, tak lupa dia
berpesan supaya aku
mengaku seorang
bisnis
woman,terserah apa
saja asal bukan
wanita panggilan
seperti ini.
“oke, ntar makan
siang aku kenalkan
istriku, jangan bilang
kalo kamu nginap
disini dan jangan lupa
pakai pakaian
kantoran
sewajarnya, kita
ketemu di lobby jam
12 nanti” pesannya
mengakhiri briefing.
Aku sama sekali tak
mempersiapkan
pakaian ganti apalagi
pakaian kantoran,
jadi terpaksa harus
p**ang dulu.Meskipun
tempat kost-ku tidak
jauh tapi aku tak
mau terlambat
janjian ntar siang,
segera aku mandi
dan bersiap
p**ang.Tepat pukul
9:30 pagi aku sudah
berada di lobby,
kulirik sekitar, tak
terlihat Pak Jacky
disekitar situ.
Ketika aku sedang
menunggu mobil
yang diambil petugas
valet, hp-ku
berbunyi.
“sombong ya nggak
mau nyapa” kata
suara dari seberang
tanpa basa basi,
kulihat dilayar hp
tertulis nama Dodi,
salah seorang tamu
langganan favoritku.
“eh dimana
kamu ?” tanyaku
kaget, tumben
sepagi ini sudah
telepon
“ada disekitar
kamu yang memakai
kaos pink dengan
celana jeans street,
tampak sexy deh
kamu kalau begitu”
godanya, aku
membalikkan
badanku dan kembali
ke lobby mencari cari
sosok Dodi berada,
namun tak
kutemukan.
“nggak usah
celingukan gitu, ntar
dikira anak
kehilangan
bapaknya” katanya
dari telepon, berarti
dia memang di
daerah lobby.
Kusapukan mataku
ke pelosok lobby,
namun tak kulihat
juga tampangnya,
hingga kurasakan
colekan di pundakku
dari belakang.
“sialan kamu”
kataku sambil
mematikan hp,
kulihat panther-ku
sudah siap di depan.
“habis kerja ya, kok
tumben pagi pagi gini
sudah beredar”
godanya.
Hampir 1 bulan Dodi
tak mem-booking-
ku, terlihat
wajahnya tambah
segar dan ganteng,
ingin rasanya
kupeluk dan
kurasakan kerinduan
akan cumbuan serta
permainan
ranjangnya.
“kamu sombong
sekarang nggak mau
telepon aku lagi,
terakhir kan saat di
tretes itu, lama
banget” sapaku,
petugas valet
mendatangi dan
memberitahu kalau
mobilnya sudah siap,
aku suruh pinggirin
dulu karena ingin
ngobrol lebih lama
dengan Dodi.
“kapan d**g kita
ulangi lagi” tanyaku
merajuk
“sekarang juga
boleh” jawabnya
sambil menatapku
tajam, kalau saja aku
tidak sedang “on
book” tentu
kesempatan ini tak
kusia siakan, apalagi
semalam aku sama
sekali tak mengalami
orgasme meskipun
main 4 babak.
Cerita Dewasa –
Aku terdiam
mempertimbangkan
ajakannya sambil
melihat jam tangan
yang sudah
menunjukkan pukul
10, berarti hanya
tersisa 2 jam,
padahal aku harus
p**ang mengambil
pakaian dulu, terlalu
buru buru.
“gimana, kalo oke
mumpung aku lagi
buka kamar untuk
tamuku nanti siang,
jadi bisa kita pake
dulu” desaknya.
Aku bingung, di satu
sisi aku harus
menghormati Pak
Jacky yang telah
mem-booking penuh
namun di sisi lain
akupun ingin
mereguk kenikmatan
bersama Dodi, yang
mana tidak kudapat
dari Pak Jacky dan
bakalan tak akan
kudapatkan dalam 2
hari kedepan.
“jangan sekarang
Dod, lusa aja ya, aku
lagi banyak kerjaan
nih” bujukku, tapi
Dodi sepertinya tahu
isi hatiku yang
tengah haus akan
kenikmatan birahi,
dia maunya sekarang
atau nggak.
“janji deh, lusa aku
milikmu, seharian
atau sehari semalam
juga nggak apa”
kataku sudah mulai
lemah posisiku, tapi
dia tetap bersikeras.
Karena sama sama
bersikeras, akhirnya
sama sama gagal,
kulihat tatap
kekecewaan
dimatanya begitu
juga aku, harus
memendam
ked**gkolan, dasar
laki laki tak mau
mengalah
sedikitpun.Awas
kalau lusa jadi, akan
kukerjain kamu,
janjiku dalam hati.
Setelah menyelipkan
20 ribuan pada
petugas valet yang
sudah kukenal,
kupacu mobilku
menuju tempat kost.
Sepanjang jalan aku
menggerutu
mengumpat Dodi
yang keras kepala,
padahal kalau dipikir
tentu tak ada yang
salah, toh lusa aku
bisa menghubungi
dia lagi dan dengan
bujuk rayu seperti
biasa hampir
dipastikan aku dapat
menggiring dia ke
tempat tidur. Tapi itu
masih 2 hari lagi,
padahal aku perlu
pelampiasan
sekarang.
Sesampai di tempat
kos, segera kupilih
pakaian yang hendak
kubawa, baik itu
pakaian resmi,
maupun santai
termasuk pakaian
dalam sexy dan
lingerie.
Kukenakan rok biru
tua selutut berpadu
dengan blazer
menutupi kaos putih
yang ketat
membalut tubuhku.
Kuamati
penampilanku di
kaca, tampak seperti
layaknya orang
kantoran, rambutku
kukuncir kebelakang
dan kusapu wajahku
dengan make up tipis
untuk lebih
memberikan kesan
wanita kantoran.
Kupacu kembali
mobilku menuju ke
hotel, lebih baik aku
menunggu di kamar
daripada terlambat,
pikirku.Tak lebih 30
menit kemudian aku
sudah kembali
berada di lobby hotel,
dengan langkah kaki
cepat seolah seorang
bisnis woman sedang
dikejar waktu,
kulalui lobby hotel
tanpa melihat
sekeliling, langsung
menuju Lift.Ketika
aku sedang
menunggu lift,
kurasakan seseorang
menggamit
pundakku, ketika
kutoleh ke belakang,
ternyata berdiri di
Dody dengan
senyumannya yang
masih menawan.
“eh kok kamu
masih disini”
tanyaku terkaget
polos tak menyangka
dia masih berada di
situ.
Sebelum dia
menjawab, pintu lift
terbuka.”sorry aku
duluan yaa”
pamitku tanpa
menunggu jawaban
darinya, namun
tanpa kuduga diapun
ikutan masuk lift.Di
dalam Lift, kebetulan
hanya kami berdua,
Dody langsung
memelukku dari
belakang, aku
terkaget dan panik
tapi dekapannya
begitu kuat disusul
remasan tangannya
pada buah dadaku,
bersamaan dengan
itu dia menciumi
tengkukku.
“gila kamu Dod,
nekat” kataku
disela kepanikan
tanpa ada niatan
untuk meronta,
malah mulai
menggelinjang
ketika bibirnya
menyentuh
telinga.Aku yang
sedari tadi memang
“kehausan”, tak
menyia nyiakan
kesempatan ini,
tanganku segera
menggapai
diselangkangannya,
begitu kudapati yang
kutuju dan sudah
mengeras segera
kuremas remas.Lift
berhenti di lantai 5,
seorang bapak bapak
masuk, sesaat dia
menatapku tajam
lalu berbalik
membelakangi, tentu
saja kami tak bisa
melanjutkan lagi.
“ketempatku aja
dulu” bisik Dody,
aku menatapnya
berusaha menolak
tapi dia memegang
tanganku erat.
Lantai 8 tempatku
sudah berlalu dan
ketika sampai di
lantai 11 pintu lift
terbuka, Dody
memberiku isyarat
untuk keluar, akupun
hanya nurut saja tak
mau terdengar ribut
di depan bapak itu.
“Dod, aku nggak
bisa sekarang, ada
janjian jam 12
nanti” kataku terus
terang sambil
berjalan menuju
kamarnya.
“sebentar aja kok,
kita qu**ky deh”
katanya sesampai
didepan kamarnya.
Aku tak bisa mundur
lagi saat dia
menarikku masuk
dan memang tak ada
niatan mundur,
masih ada waktu
paling tidak 30 menit.
“oke tapi sebentar
aja, swear ?”
kataku karena aku
tahu tidaklah
mungkin bagi dia
hanya menikmati
diriku selama itu,
jauh dari cukup.
“swear, bahkan
sebelum kamu
melepas pakaianpun
aku udah selesai”
katanya sambil
mengacungkan dua
jarinya seperti orang
bersumpah.Sebelum
sempat aku melepas
baju, Dody sudah
menubrukku hingga
tersandar di meja
kerja.
“Dod, ntar bajuku
kusut nih” kataku
ditengah sergapan
penuh nafsu bibirnya
yang menghunjam di
bibirku, tapi dia tak
peduli malahan
semakin liar
meremas remas
buah dadaku
menambah kusut
baju katun yang
memang mudah
kusut itu.
“kamu terlihat lain
dengan pakaian
seperti ini, makin
sexy dan
menggemaskan”
bisiknya sambil
menciumi leherku,
tangannya tak
pernah beranjak dari
dadaku.
Aku menyerah
pasrah saat 2
kancing atas terlepas
dan kepala Dody
menyusup diantara
kedua bukitku, desah
perlahan mulai
meluncur dari bibirku
ketika putingku
tersentuh lidah dan
bibirnya. Kuremas
remas kepalanya dan
kulebarkan kakiku
saat jari jemari Dody
berada
diselangkangan.
Semenit kemudian,
aku sudah telentang
di atas meja dengan
kaki terpentang
lebar dan kepala
Dody berada di
antaranya. Desah
kenikmatan semakin
lancar meluncur dari
bibirku karena jilatan
Dody pada va**na,
sesekali kujepit
kepala itu dengan
kedua pahaku.
Celana dalam yang
super mini tidaklah
terlalu mengganggu
meski tak dilepas
dan memang tak
terlihat ada niatan
Dody untuk
melepasnya. Bibir
dan lidah itu dengan
liar menari nari,
menyusuri daerah
selangkangan
membuatku semakin
menggelinjang dalam
nikmat.Aku tak mau
terlalu terhanyut
dalam buaian birahi
Dody, waktu semakin
pendek sebelum
pukul 12 siang, tak
sempat lagi untuk
foreplay yang lama
seperti biasanya.
“ugh..masukin
Dod” pintaku, tapi
dia masih juga asik
menikmati
selangkanganku,
maka kutarik
kepalanya
naik.”nggak ada
waktu lagi” bisikku
manja, untung dia
mengerti dan
membalas dengan
tersenyum nakal.
Tanpa melepas
celana dalamku dan
hanya mengeluarkan
p***s dari lubang
resliting celananya,
dia menyapukan
p***snya ke bibir
va**naku yang sudah
basah
kuyup.Bersamaan
dengan melesaknya
p***s yang besar itu
mengisi va**naku,
hp-ku berbunyi, aku
yakin betul bahwa
itu Pak Jacky.
Kuminta Dody
mengambilkan tas
Eigner-ku, tanpa
menghentikan
sodokannya dia
meraihnya dan
memberikan padaku,
segera kuambil hp,
ternyata benar
dugaanku, Pak
Jacky.
“halo sayang”
sapanya dari
seberang sana
“ya sayang…..”
jawabku karena dia
juga memulai dengan
kata yang sama.
“udah sampai
mana ?” tanyanya
“…..aku udah
dijalan kok,macet
nih…..tapi udah
dekat, paling 15
menit lagi nyampe”
jawabku sambil
merasakan
nikmatnya kocokan
Dody dengan
p***snya yang
semakin keras
menghunjam diiringi
remasan kuat di
buah dadaku.
Pak Jacky kembali
mengingatkan
skenarionya tapi aku
tak bisa sepenuhnya
konsen pada
ceritanya karena
perhatianku terbagi
dengan Dody yang
semakin nakal
mempermainkan
emosiku.
“ya..ya…mengert
i..trus…apa ?
yaa….beres Pak…”
hanya itulah kata
kata yang bisa
kuucapkan, antara
menanggapi ucapan
Pak Jacky dan
sodokan Dody.
“….siap Boss, ntar
aku kabari begitu
sampai….daaaag
sayang” kataku
mengakhiri
pembicaraan, takut
aku tak tahan lagi
menahan
kenikmatan yang
tengah melanda.
Meja itu bergoyang
keras seirama
gerakan Dody
terhadapku,di
atasnya kami masih
bersetubuh dengan
pakaian lengkap
meski pakaianku
sendiri sudah
berantakan tak
karuan, antara pakai
atau tidak sepertinya
tak ada bedanya,
dengan bebasnya dia
mengacak acak
penampilan dan
make up yang
sebenarnya untuk
Pak Jacky. Dan
dengan bebas p**a
dia mengaduk aduk
va**naku yang
seharusnya masih
“jatah” Pak Jacky.
Akhirnya akupun tak
peduli, siapa yang
membayarku dialah
yang berhak
mendapatkannya,
money is money and
fun is fun.
Kegairahan Dody ikut
memacuku dan
serasa menantang
untuk segera
menyelesaikannya
tidak lebih dari 15
menit seperti janjiku
pada Pak Jacky,
biasanya kami
melakukan lebih dari
30 menit dan
sekarang harus
dipercepat. Aku lebih
nyaman kalau
bercinta dalam
keadaan telanjang
tapi dia tak
mengijinkanku
melepas
pakaian.Dengan
pakaian berantakan,
akupun mengimbangi
permainannya, kami
berdua bergerak liar
seakan berkejaran
dengan setan birahi.
Dari posisi telentang,
Dodi membalik
tubuhku hingga
tengkurap di atas
meja, dalam posisi
tak berdaya seperti
itu dia menyodokkan
p***snya semakin
keras dan cepat, tak
dihiraukan desah dan
jerit kenikmatan
yang meluncur dari
mulutku.
“rasakan ini
Pelacur !!!!”
hardiknya sambil
menghentak keras,
aku menggeliat,
sudah menjadi
kesenangannya
untuk selalu
mengumpat dengan
kata kata kotor saat
kami bercinta, dan
itu membuatnya
semakin bergairah.
Tak jarang dia
meludahi tubuh dan
wajahku ketika
bersetubuh, bagiku
semua itu adalah
bagian dari fantasy
laki laki yang merasa
superior di atas
wanita, meski itu
tidaklah selalu benar
dan selama tidak ada
kekerasan fisik aku
masih bisa menerima
segala macam
penghinaan seperti
itu, toh itu hanyalah
sesaat dan dia pasti
minta maaf setelah
kami selesai
melakukan
persetubuhan.Be
ragam kata kata hina
dan melecehkan
terus meluncur deras
dari mulutnya
selama kami
bersetubuh, dan
selalu dibarengi
dengan sodokan
keras yang
membuatku
menggeliat.
Dua kali kudapatkan
orgasme darinya
ketika akhirnya Dody
menumpahkan
spermanya
memenuhi va**naku,
entah berapa
denyutan kurasakan
melanda kuat
didalam, hanya
kenikmatan dan
kenikmatan yang
kurasa.Tanpa
mempedulikan aku
yang tengah
mengerang dalam
lautan kenikmatan,
dengan kasarnya dia
menarik keluar
p***snya, bergeser
ke arah kepala lalu
menyapukannya ke
wajahku. Make up
yang sudah awut
awutan semakin
berantakan
bercampur cairan
sperma, terakhir
yang dia lakukan
adalam memasukkan
p***s itu ke mulutku
dan mengocoknya,
semakin
berantakanlah lipstik
yang menghiasi bibir
merahku.
Vaginaku masih
terasa panas agak
pedih saat Dody
memasukkan p***s
kembali ke
sarangnya, tanpa
dibersihkan, mungkin
dianggap sudah
bersih dengan
mulutku.Beberapa
saat aku masih tetap
tengkurap di atas
meja sampai nafasku
normal kembali, Dodi
sudah merapikan
pakaiannya yang
memang tidak terlalu
acak acakan.
“kalau udah selesai,
tutup pintunya”
katanya sambil
melemparkan
beberapa lembar 50-
ribuan, lalu diapun
meninggalkanku
seorang diri dikamar,
tak ada sama sekali
romantisme darinya
seperti biasanya,
mungkin dia cemburu
atau entahlah.
Kupunguti satu demi
satu lembaran uang
yang berserakan
dikamar, tak
kuhitung lagi lalu
kumasukkan ke
dalam tas eigner
yang selalu setia
menemani.Pakaian
yang menempel di
tubuhku benar benar
acak acakan, tak
tampak lagi
keanggunan yang
kuperlihatkan 15
menit yang lalu, aku
berusaha merapikan
tapi kusut sekali dan
tak mungkin
dirapikan begitu saja.
Akhirnya kuputuskan
untuk berganti
pakaian, kucari
pakaian yang sesuai
dari dalam tas
pakaian yang
kubawa tadi.
Setelah
membersihkan diri
tanpa mandi, ber-
make up dan ganti
pakaian, aku keluar
kamar itu. HP
berbunyi saat aku
menuju didepan lift
hendak turun.
“ya Pak, udah
sampai sih, ini mau
turun kok” jawabku
tanpa sadar kalau
sebenarnya aku
harus naik dan bukan
turun.Lift terbuka,
ada 2 orang laki laki
di dalam, mereka
menyambutku
dengan senyum
ramah cenderung
nakal, apalagi sorot
mata yang genit
melototi lekuk
tubuhku. Dengan
mengenakan rok
agak mini, sejengkal
di atas lutut dan tank
top yang ditutupi
blazer biru, tentu tak
bisa
menyembunyikan
lekuk dan
kemontokan
tubuhku.Aku tak risih
dipolototi seperti itu,
tapi tetap diam saja
acuh, kalau saja
mereka tahu siapa
diriku, aku sangat
yakin mereka akan
tertarik untuk mem-
booking. Tatapan
mata itu harus
berakhir saat lift
berhenti di lantai 8,
dan aku keluar.
Ketika kuhubungi hp
Pak Jacky, ternyata
yang menerima
seorang wanita, aku
langsung berpikir
cepat bahwa itu
adalah istrinya.
“mbak Lita Ya ?
Jacky ada mbak ?”
tanyaku sok akrab
dengan memanggil
Jacky tanpa Pak,
supaya dia tidak
curiga”oh, mbak
Lily ya, dia lagi mandi
tuh, naik aja deh
kesini aku juga baru
bangun kok, nggak
tahu tumben dia
mandi lagi setelah
dari luar tadi”
ajaknya akrab sambil
menyebut nomer
kamarnya.Aku
terdiam, sejenak
mulai curiga jangan
jangan mereka
termasuk pasangan
suami istri yang
nyeleneh yang harus
kulayani berdua
seperti yang kualami
sebelumnya.
“mbak mau naik
atau nunggu di
lobby ?” sambung
Lita, tentu saja dia
tidak tahu kalau aku
lagi di kamar yang
semalam kupakai
memacu nafsu
dengan suaminya.
“em, kalau nggak
ngganggu sih, lagian
nggak enak bengong
sendirian disini”
kataku”ya udah,
naik aja” katanya
sambil mengakhiri
pembicaraan, akupun
segera beranjak
menuju kamar yang
disebutkan.
Begitu pintu kamar
itu dibuka,
tampaklah sosok
wanita cantik
dengan wajah polos
tanpa make up,
masih mengenakan
gaun tidur yang sexy,
aku tertegun dengan
kecantikannya.
Wajah itu serasa
begitu kukenal tapi
aku agak samar
samar
dimana.”Dasar laki
laki, udah punya istri
cantik masih juga
cari sampingan”
umpatku tentu saja
dalam hati.
“Lily ya, masuk dulu
mbak, dia mandinya
lama biasanya, oh ya
aku Lita istrinya”
sapanya sambil
mempersilahkan
masuk dan kamipun
berciuman p**i.
“sorry berantakan
nih, habis tadi aku
masih tidur hingga
tak sempat nyuruh
room boy untuk
ngeberesin”
katanya sambil
membereskan
beberapa baju yang
berserakan dan
dimasukkan ke
lemari, sepintas ada
juga pakaian dalam
sexy
diantaranya,akupun
berprasangka kalau
mereka barusan
bercinta.Aroma asap
rokok masih kuat
tercium di kamar,
kulihat setengah
rokok seperti baru
saja dimatikan
karena masih ada
sedikit asap yang
mengepul,
sepertinya Lita yang
barusan
merokok.Beberapa
majalah tertumpuk
di meja, barulah aku
menyadari kalau Lita
adalah salah seorang
peragawati yang
menghiasi salah satu
sampul majalah itu,
pantesan tak asing
lagi wajah cantiknya.
“itu memang aku,
tapi sudah 2 tahun
yang lalu sih”
rupanya Lita
menangkap
kekagumanku saat
melihat foto di cover
yang cantik itu
sambil menyalakan
sebatang rokok
putih.
“mbak cantik,
malahan lebih cantik
aslinya lho” kataku
ikutan menyalakan
rokok saat dia
menghembuskan
asap pertamanya.
“kamu juga,
pantesan Jacky
sejak kemarin
banyak cerita
tentang kamu,
bahkan dia
mempromosikan
kamu untuk jadi
peragawati atau
model paling tidak”
“aku cuma orang
udik, mana pantes
berlenggak lenggok
di atas catwalk
kayak mbak Lita
ini”
“betul lho mbak,
postur dan wajah
mbak Lily udah
memenuhi syarat
kalau menurutku”
“aku nggak mau
bermimpi mbak,
bisnis gini aja udah
kewalahan kok,
bahkan sepertinya
nggak sempat untuk
bernapas aja”
jawabku jujur, tapi
pasti dia mempunyai
persepsi lain tentang
usaha bisnisku.
“ya kalau udah
ngetop bisnis ini kan
bisa ditinggalkan
atau diserahkan ke
anak buah”
Selama pembicaraan
kami sama sama
mengepulkan asap
rokok, ruangan jadi
terasa pengap,
apalagi tak ada
ventilasi untuk
ruangan ber-AC
seperti ini.
“kalau mbak
memang berminat,
aku bantu deh,
jangan khawatir”
Pembicaraan
terpotong saat Pak
Jacky keluar kamar
mandi dengan tubuh
berbalut handuk.
“eh kamu udah
datang rupanya”
katanya kaget, aku
yakin dia pura pura
karena rasanya
nggak mungkin dia
tak tahu.
“ih kamu jorok deh,
masak ada tamu kok
pake gituan aja, kan
ada piyama di
dalam” hardik Lita
pada suaminya.
“aku tunggu di loby
aja deh” potongku,
nggak enak rasanya
dalam suasana
seperti ini, tapi Lita
mencegahnya.
“nggak usah,
wanita secantik
kamu sendirian di
lobby bisa
berbahaya,
mengundang para
hidung belang, disini
aja dan anggap
rumah sendiri”
cegahnya sambil
menggandeng
suaminya ke kamar
mandi.
Tak lama kemudian
mereka keluar,
Jacky sudah
mengenakan piyama.
“oke kamu temenin
dia dulu, ganti aku
yang mandi” kata
Lita lalu menghilang
dibalik pintu kamar
mandi, membiarkan
aku dan suaminya
berdua.
Kami saling terdiam
sesaat, hanya sorot
mata penuh arti yang
berbicara.Begitu
terdengar suara
gemericik air shower
yang sudah
dinyalakan, serta
merta Pak Jacky
menarikku dalam
pangkuannya.
“Gila, kamu nekat,
ada istrimu tuh”
bisikku saat bibirnya
mulai menyentuh
leherku.
“anggap saja
rumah sendiri”
bisiknya p**a
Kembali kualami
ketegangan kedua
hari itu setelah tadi
di lift sama Dody, kini
dengan Pak Jacky di
kamar sementara
istrinya berada di
kamar mandi.