28/06/2017
Ippho Santosa - ipphoright:
Panglima, adakah yang lebih ditakuti daripada dia?
Begini. Hari itu saya bukber di rumah Pak (CT), Muslim terkaya di Indonesia. Alhamdulillah saya bisa semeja dengan beliau dan Ketua MUI, KH Ma'ruf Amin. Ya, mereka berdua duduk tepat di hadapan saya.
Di sebelah kiri saya, ada Dr Aries Muftie, anggota Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) yang dipilih dan dilantik oleh Presiden Jokowi. Beliau juga pernah menjadi Ketua Umum untuk Masyarakat Ekonomi Syariah (MES).
Di sebelahnya lagi, ada Prof Mohammad Nuh, Menteri Pendidikan 2009-2014.
Di sebelah kanan saya, ada Ustadz Bachtiar Nasir. Tentunya, masih banyak tokoh-tokoh lain yang tak bisa saya sebutkan satu per satu.
Saat itu, percakapan mengarah dan menyebutkan bahwa Pak CT sebagai triliuner nggak pernah takut sama apapun dan siapapun. Kemudian ada yang nyeletuk, "Kalau sama istri, takut nggak?" Hahaha, kontan semua pada tertawa!
Pak CT langsung menerangkan, istri itu bukan lagi pangdam atau panglima, tapi sudah pangenam! Mendengar gurauan itu, semua kembali tertawa! Maksudnya, bukannya suami itu takut atau penakut, melainkan respect sama istri dan berharap ridhanya istri.
Soal ini, saya menyebutnya Sepasang Bidadari.
Impian pribadi, target di kantor, dan visi di organisasi, hendaknya diselaraskan dengan semua orang. Tapi, yang pertama dan paling utama adalah dengan ibu dan istri. Ya, ibu dan istri. Mereka inilah yang disebut Sepasang Bidadari.
Menariknya, mutu seorang pria dapat diketahui oleh dua wanita terdekatnya, yaitu ibu dan istri. Jangan heran, mereka yang belum menikah atau tidak selaras dengan ibunya dan istrinya, agak terbatas pencapaiannya. Jangan heran, mereka yang durhaka dengan orangtuanya, sering terjungkal dalam hidupnya.
Syukurnya, Ramadhan adalah momentum emas untuk memperbaiki semuanya. Baik hubungan dengan ibu maupun dengan istri. Insya Allah. Kalaupun selama ini hubungan kita sudah baik, tak ada salahnya jika ditingkatkan lagi. Bukan apa-apa, ini adalah penentu kesuksesan.
Itu dulu ya. Kapan-kapan kita sambung lagi. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Mohon maaf lahir dan batin. Smber Telegram