Munari Lutfi Ofisial

Munari Lutfi Ofisial Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Munari Lutfi Ofisial, Selong.

09/03/2026

Berlebihan Sanjung Banggakan Moyang Keturunan Leluhur, Wajarkah?

Mungkin suatu hal yang wajar saja dan manusiawi jika orang sanjung banggakan keturunan leluhurnya. Saya rasa sah-sah saja, no problem! Apalagi selalu kedepankan pola pikir positif sekaligus disaat bersamaan tanpa memandang rendahan garis keturunan individu yang lainnya--maksudnya, supaya dalam istilah "rasisme" itu tak terjadi pada diri kita sendiri baik dalam kehidupan sosial-agama ditengah masyarakat.

"Rasis" bermacam bentuk dan jenisnya dalam ilmu "Sosiologi" misalnya. Bahkan rasisme itu sendiri bisa saja terjadi kepada siapapun baik oleh masyarakat/individu menyandang status sosial kelas atas maupun menengah kebawah. Oleh karena itu "sosiologi" pun juga mengklaim bahwa pelaku rasis sampai sekarang sebagian juga masih bercokol di beberapa negara maju dunia misalnya seperti pada negara bagian Amerika atau Eropa.

Pengertian Rasisme dalam Sosiologi adalah suatu sistem kepercayaan atau doktrin yang menyatakan bahwa perbedaan biologis yang melekat pada ras manusia menentukan pencapaian budaya atau individu.

Bukan hanya di dalam disiplin ilmu sosiologi saja. Tapi kalau sedikit diperhatikan, jauh dari sebelumnya Islam juga sudah mengingatkan kepada pemeluknya tentang potensi bahaya rasisme atau berlebihan menyombong agung banggakan moyang keturunan leluhur sendiri misalnya--apalagi disaat bersamaan sekaligus juga merendahkan keturunan atau pop**asi individu lainnya--karena dengan merasa dari produk garis keturunan/nasab pilihan terbaik itulah yang kemudian bertransformasi menjadi "rasisme" dalam kehidupan sehari hari. Maka oleh karena itu, Tuhan pun berfirman untuk mengingatkan prihal tersebut dan beberapa sabda Nabi-Nya sseperti yang diikutip di bawah ini diantaranya sbb:

1. Allah SWT berfirman

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekump**an orang laki-laki merendahkan kump**an yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan p**a sekump**an perempuan merendahkan kump**an lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik."
[QS. Al-Hujurat: 11]

2. Rasulullah SAW bersabda seperti beberapa dalam kutipan hadis di bawah ini termasuk berlebihan banggakan keturunan leluhur diantaranya;

Artinya: (a) "ada tiga dari bagian Jahiliyah, membanggakan keturunan, mencela nasab dan meratapi kematian." (HR. Thabrani dari Salman), (b) "dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: β€œEmpat hal yang tidak akan ditinggalkan oleh umatku, bangga dengan keturunan, mencela nasab orang lain dan meratapi kematian." (HR. Al Bazzar, sanadnya Hasan). Saya lebih senang dengan orang yang tidak memiliki nasab keturunan orang besar tapi ilmu dan amalnya berguna bagi banyak orang. Di sini berlaku hadis; (c) "barang siapa yang amalnya telat maka tidak dapat mempercepat kedudukan nasabnya." (HR. Muslim)

3. Ada pun juga pesan ungkapan dari seorang ulama sekaligus Presiden ke-4 RI mengenai prihal tentang kemanusiaan;

"Memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya. Merendahkan dan menistakan manusia berarti merendahkan dan menistakan penciptanya."

Akhirulkalam, selamat menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1445 H sebentar lagi akan tiba. Semoga kita semua sehat selalu dan tetap dalam lindungan Allah Swt serta mendapat syafaatnya baginda Nabi Muhammad Saw kelak di akhirat nanti.

Wallahu a'lam bishawab πŸ™‡β€β™‚οΈ

09/03/2026

Berbaiat Dalam Tasawuf dan Menyikapi Perbedaan Sebagai Anugerah

Menanggapi klaim salah satu tulisan teman netizen di kolom komentar facebook saya, yakni tentang prihal aliran keagamaan-tasawuf. Perasaan jarang sekali bahkan tak pernah membahas apalagi menulis di media sosial facebook tentang "tasawuf/tarekat" atau "ilmu adab" ini pada umumnya dalam aliran teologi dikalangan rumpun Islam-Sunni itu. Meski sudah berbaiat dua kali, termasuk berbaiat pertama kali sejak usia 19 tahun--berbaiat kedua kali jenisnya beda pada selang kurun waktu tahun dan diusia berbeda p**a--oleh seorang sosok dianggap Mursyid yang suluk (sekolah non formal). Menurut Guru Tasawuf saya, tidak semua orang bisa berbaiat tasawuf meski berusia tua atau cukup umur karena faktor kejiwaan, psikologis, intelektualitas maupun intstabilitas rohani.

Perlu digaris bawahi, "tasawuf/tarekat" juga bermacam jenis aliran, konsep spritualitas, pemikiran, maupun literatur literatur nya.

Kenapa jarang bahkan tidak pernah menulis tentang tasawuf? Karena tidak berani menulis tentang hal ini terlalu jauh, menganggap diri tak pantas dan belum layak dalam pemahaman ilmu adab ini dan malu mungkin juga ada orang yang lebih tinggi ilmu ketasawufannya di pesbuk ini dari saya--yang menurut penulis juga ilmu ini bukan untuk dibawa pamer-pamer publikasikan apalagi merasa pintar dan merasa diri berilmu. Di samping itu takutnya kadang si pembaca salah atau belum memahami terhadap tulisan tentang bahasan tasawuf itu akhirnya menjadi rancu. Misalnya ketika si penulis mengambil tema tentang tasawuf mengandung arti makna tinggi yang tidak bisa dipahami oleh kebanyakan orang dan hanya orang-orang tertentu saja memahaminya.

Jadi seperti kata guru saya, biarlah ilmu tasawuf atau ilmu mengajarkan tentang cara menyucikan jiwa dan menjernihkan akhlak serta membangun lahir dan batin untuk mencapai ketenangan abadi, itu menjadi pribadi yang kukuh dijalan kedamaian yang selalu mengingat-Nya baik disetiap aliran nafas dan detak jantungmu. Kurang lebihnya begitu petuah beliau.

Kemudian, biasanya sering terdengar komunikasi dalam kehidupan sosial-agama ditengah masyarakat--tapi penulis tak pernah menggubris dan menanggapi termasuk mengenai penasaran mereka--rasa ingin tahu bahwa apa, bagaimana, berapa, mengapa dan kenapa harus "berbaiat" di dalam aliran Tasawuf? Nah, inilah sebenarnya poin intisari ajaran tarekat tsb karena tidak boleh dibahas sembarang oleh kalangan Tasawuf (takutnya dia/petasawuf nanti ceplas-ceplos) apa lagi memberitahu-publikasikan kepada orang lain apa yang sudah menjadi rahasia/ilmu di dalam jiwanya akan menjadi fitnah dan kemungkinan dianggap orang gila jadi bahan tertawaan oleh khalayak ramai (😁). Itulah sebabnya seorang "guru tasawuf/mursyid" sudah tahu jauh dari sebelumnya dan memilih baik dari segi aspek kejiwaan, maupun watak dan intelektualitas manusia yang pantas berbaiat serta pemberian dalam tingkatan intisari ilmu. Kerena itulah juga sebabnya prihal berbaiat tasawuf tak boleh dibahas sembarangan. Akan tetapi jika ada pengecualian dari Mursyid tentang "berbaiat tasawuf", maka boleh dibahas oleh muridnya apabila dianggap mempunyai kelayakan kepantasan tapi dengan batasan tertentu.

Maka dalam kesempatan ini, apa dari pengertian "berbaiat tasawuf" penulis akan mencoba sedikit paparkan secara umum garis besar saja karena bahasan ini sebenarnya memang bukan konsumsi publik--menulisnya secara terukur supaya anggapan sebagian atau kebanyakan orang mejadi berpikir positif serta tidak menjadi blunder, bumerang, ambigu dsb dalam kehidupan sosial-agama ditengah masyarakat.

Pengertian Berbaiat Tasawuf adalah ketika seorang Mursyid/Guru Tasawuf (berjanji, sumpah, ikrar suci) menurunkan/mentransfer "intisari" dari ilmu ketasawufan itu sendiri kepada muridnya dengan bentuk posisi tubuh tertentu sekaligus dalam sikap dimensi spiritualitas. Intisari dari ilmu tasawuf itulah tidak semua orang memilikinya dan harus menjadi rahasia di dalam jiwa manusia, juga tidak boleh orang lain tahu sekalipun semut kecuali Allah, Muhammad, Mursyid dan Murid. Oleh karena itu, jangan heran jika penulis tahu betul entah dari ciri-ciri gaya bicara, menulis, penyampaian, pemahaman dan tingkah laku orang bahwa ada ilmu tasawuf itu didalam tubuhnya--baik yang "sudah berbaiat" tapi kosong maupun "belum berbaiat"--misalnya ketika sedang berceramah atau membahas karya dari salah satu kitab para ulama tasawuf terdahulu (salaf) dalam forum publik tertentu. Atau hanya sekedar tasawuf tasawufan.

Sebagai bahan catatan, sebenarnya tindakan yang dikhawatirkan disini adalah yang hanya sekedar tasawuf-tasawufan itu. Apalagi misalnya orang tsb berkali-kali mengklaim diri atau memproklamirkan diri sudah berbaiat padahal sejatinya tak punya pengalaman dimensi spritualitas transendental sama sekalipun. Terlebihnya juga mengaku pernah bertemu Nabi Khidir, lailatul qadar, malaikat, bertemu buraq, bidadari terus terbang lalu bertingkah aneh dan berlagak ab-normal. Tapi jika merasa lapar paling depan perut buncitnya duduk di kursi makan kadang menghabiskan makanan tak menyisakan yang lainnya. Nah, kejiwaan orang seperti itu perlu diteliti dan dipertanyakan (πŸ˜„).

Selanjutnya, adapun ciri-ciri orang dalam membahas atau menulis tentang ketasawufan itu biasanya lebih dominan mengambil dalil dari Hadis Qudsi tentunya juga yang utama Al-Qur'an dan Hadis (ijmak/qias). Wahyu atau "hadis qudsi" ini, oleh Nabi Muhammad juga pilih-pilih memberikan kepada para sahabat tertentu saja hanya yang pintar mempunyai kecerdasan tinggi termasuk Ali bin Abi Thalib dan Abu Hurairah. Karena disamping itu hadis qudsi memang bukan untuk konsumsi publik umum--Hadis Qudsi sebenarnya adalah untuk Muhammad sebagai pribadi Nabi, bukan sebagai Rasul. Serta tinggi kandungan 'isi'-nya itulah sebabnya Nabi memberikannya hanya kepada sahabat terpilih saja.

Jika pun ada seorang sosok sedang membahas atau menulis tentang ilmu ketasawufan dimensi spiritualitas biasanya juga mengambil referensi dari tulisan/kitab karya para ulama klasik (salaf) seperti, Harits al-Muhasibi, Rabi'ah al-Adawiyyah, Junaid al-Baghdadi, Imam Al Gazali, Syekh Abdul Qadir Jaelani, Muhammad Jalaludin Rumi, Ibnu Athaillah dlsb. Sedikit menarik dan perlu diperhatikan, di dalam Islam rumpun Sunni, para ulama itu mempunyai disiplin ilmu masing-masing dan corak aliran keislamannya kadang punya ciri khas tertentu. Serta tak semua ulama (manusia) punya-diberi karomah baik itu ulama dari lintas mazhab. Begitu juga misalnya dari kalangan Salafi, pasti ada sedikit perbedaan corak aliran keislamannya dengan kelompok jamaah Tasawuf. Tapi dikalangan salafi biasanya berafiliasi mengacu kepada Mazhab Hambali (Ahmad bin Hambal w. 855 M) yang biasa tokoh kontemporernya baik dalam menulis atau menyampaikan aliran kepercayaan ajarannya (selain Al-quran & Hadis) jamak juga mengambil pendapat atau rujukan dari tulisan-kitab karya para ulama terdahulu (salaf) seperti Syekh Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim, Muhammad bin Abdul Wahhab, Abdullah bin Baz, Ibnu Katsir (termasuk mufasir terkemuka) dlsb.

Dilain sisi, kadang juga tiba-tiba timbul pertanyaan dari aneka macam bentuk aliran mazhab dalam Islam, seperti: aliran mazhab apakah paling bagus dan paling sempurna ajarannya yang harus kita ikuti? Kalau jawaban menurut penulis dan kebanyakan yaitu, (1) aliran-mazhab paling bagus yakni selama "Rukun Islam" dan "Rukun Iman" harus sama pada setiap aliran mazhab, tentunya juga dalam tiap tubuh aliran atau mazhab masing-masing mengklaim diri sebagai Ahlussunnah wal Jama'ah--terpenting dalam beragama itu membuat hati tenang dan damai serta bertingkah laku baik dalam kehidupan sosial-agama bermasyarakat sehari-hari apapun bentuk aliran mazhab keislamannya (kalau tidak begitu nanti beliau Pak Manto ngamuk marah ☺️😱) yang dipegangi--apalagi sikap "humanisme universal" ada di dalam tubuh aliran mazhab, penulis juga anggap paling bagus ideal. Yang kurang bagus ndobos koplak itu adalah menganggap diri, kelompok, aliran, mazhab, dogma, perspektif, pemikiran, teologi kebenaran tunggal, maupun praktik keagamaan dll adalah paling relevan valid dan di luar dari itu tidak benar valid bahkan titik terendah mengklaim kelompok lain kafir masuk neraka. P**a, tak menerima perbedaan itu sebagai anugerah atau rahmat serta benci kepada orang lain yang berbeda. (2) adakah aliran atau mazhab sempurna? Tidak ada yang sempurna, murni, autentik di dunia ini apalagi hanya sekelas bentuk aliran dan mazhab. Tapi kesempurnaan itu adalah hanya dimiliki oleh Zat Yang Maha Mandiri.

Oleh karena itu misalnya kalau belum bisa "berbaiat tasawuf" sedikit tidaknya ber literasi ketasawufan. Maka jangan heran siapapun itu (termasuk penulis) misalnya pengikut salah satu mazhab hanafi, maliki, syafi'i, hambali dlsb apabila terlalu berkecimpung dengan dunia "fiqih-syariat" saja, akan membuat hati menjadi keras tanpa ilmu 'batin-tasawuf" dalam dirinya. Begitu juga bertasawuf tanpa fiqih kurang bagus. Bahkan para Imam pendiri Mazhab jauh dari sebelumnya sudah mengomentari bagaimana "relasi antara tasawuf dan fiqih" baik oleh Malik bin Anas maupun Abu Hanifah.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, adapun pesan nasihat para imam pendiri mazhab keislaman atau ulama pada masa tabi'in mengenai "relasi tasawuf dan fiqih" termasuk Imam Syafi' (Muhammad bin Idris asy-Syafi'i w. 820 M) atau pendiri Mazhab Syafi'i seperti dalam manaqib Imam As-Syafii karya Imam Al-Baihaqi, "Jadilah kamu seorang ahli fiqih yang bertasawuf jangan jadi salah satunya, sungguh dengan haq Allah aku menasihatimu. Jika kamu menjadi ahli fiqih saja, maka hatimu akan keras tak akan merasakan nikmatnya taqwa. Dan jka kamu menjadi yang kedua saja, maka sungguh dia orang teramat bodoh, maka orang bodoh tak akan menjadi baik". Begitu juga dengan Imam Ahmad bin Hanbal atau pendiri Mazhab Hanbali ketika berpesan kepada "anaknya" tentunya juga kepada kita semua terkait tasawuf, "Anakku, kamu harus duduk bersama orang-orang tasawuf, karena mereka adalah mata air ilmu dan mereka selalu mengingat Allah dalam hati mereka. Mereka adalah orang-orang zuhud yang memiliki kekuatan spiritual yang tertinggi. Aku tidak melihat orang yang lebih baik dari mereka", (Ghiza al Albab, juz. 1, hal. 120 ; Tanwir al Qulub, hal. 405, Syaikh Amin al Kurdi).

Perlu juga diketahui bahwa perkawinan beda mazhab dalam Islam itu tak dilarang dan tidak ada dalil yang melarangnya kecuali dalil fanatik buta (πŸ€­πŸ˜€). Kalau perkawinan beda agama dalam Islam baru dilarang, dan itu pun ada pengecualiannya.

Nah, tapi kalau penulis analogikan diri sendiri dalam aliran mazhab kegamaan termasuk masih sebagai golongan bintara kelas bawah, jadi biarlah sedikit membahas atau menulis bab fiqih atau aqidah-akhlak saja. Itu pun dalam mencantumkan dalil baik dari sumber Al-Qur'an dan Hadis asal comot dan hanya paham terjemahannya saja disertasi kurang begitu mengerti tafsir dan konteksnya (πŸ™ˆ). Dan biarlah saya analogikan mereka termasuk sebagai golongan perwira--baik itu "perwira tinggi" dalam kepangkatan TNI-Polri yang membahas lebih jauh dan mendalam tentang ilmu Tasawuf-Tarekat itu.

Catt: foto di bawah ini hanya sebagai pemanis saja supaya dianggap sok intelek, talenta nulis dan minat baca 🀭. Bagaimana Almukarrom, bukankah salah satu sifat Allah itu ada juga humoris? πŸ™πŸ˜Š

28/10/2025

Perbedaan Perspektif Setiap Anak Kepada Orang Tua: Ayah Tidak Baik dan Ayah Terbaik Penuh Tanggung Jawab

Sebenarnya agak sulit (mudah bagi orang terbiasa) menurut sebagian penulis atas apa fenomena seperti bahasan dari judul tema dimaksud. Karena termasuk belum pernah meneliti atau sebagian mengalami saja untuk dijadikan bahan tulisan. Tapi saya sedikit mencoba menulisnya dengan melihat atas apa kejadian sehari-hari baik dalam kehidupan sosial-agama di tengah masyarakat.

Dalam membangun sebuah rumah tangga tentunya diawali dengan berbagai proses termasuk, mulai dari perkawinan dalam ikatan pernikahan yang sah biasanya apa disebut dengan jodoh. Si jodoh ini pun kadang-kadang biasanya sering jadi bahan pembicaraan yang katanya ada di Tangan Tuhan itu melalui ikhtiar Insan. Tak jarang yang belum bahkan sudah punya pasangan hidup biasanya ditanya: kapan kawin, kapan nikah, kapan berjodoh, kapan kawin-nikah lagi (poligini/poligami) dlsb. Sebenarnya pertanyaan seperti ini menurut kalangan tertentu (kalau keseringan) bisa disebut pertanyaan orang gila (😁). Tentunya kita percaya maksud si penanya bertujuan baik nan agung tapi kadang sesak dan jadi beban kepada yang ditanya meski berusaha tersenyum (☺️). Apalagi pertanyaan seperti itu ditujukan kepada perempuan sudah berumur tak kunjung kawin karena faktor biologis.

Kita kembali ke bahasan topik di atas, dalam perjalanan sebuah rumah tangga atau perkawinan di antara salah satu tujuan utamanya adalah membuahkan keturunan alias Anak baik lelaki maupun perempuan, susah-senang itu pasti ada maupun cobaan dalam mengarungi ikatan pernikahan suci tsb. Bahkan sering juga kita lihat fenomena dalam kehidupan sosial masyarakat perkawinan hanya seumur jagung, kadang setelah punya anak satu, atau dua, tiga dst perceraian itu terjadi. Meski sebagian besar semua orang tidak menginginkan perceraian itu. Termasuk pelaku cerai. Tapi banyak juga di tengah-tengah kehidupan masyarak perkawinan pasangan suami-istri setia bertahan sampai akhir usia. Biasanya perkawinan seperti ini patut dicontoh oleh kebanyakan orang (termasuk saiyah 😊).

Umpama kita ambil contoh dalam kejadian di tengah masyarakat, ketika perceraian suami-istri terjadi pada saat membuahkan keturunan satu anak berjenis kelamin perempuan misalnya. Dalam babak baru sebuah perceraian siapa pun itu, tidak lepas dari pembenaran diri masing-masiang atau "perang dingin" antara kedua belah pihak baik itu dari sisi pihak Lelaki (mantan istri) maupun Perempuan (mantan suami) pasti bahkan wajib ada dan valid akan terjadi. Pembenaran atas diri masing-masing inilah tentunya tidak lepas kaitannya dengan "hak asuh anak", apalagi anak dari hasil perkawinan itu adalah berjenis kelamin perempuan biasanya hak asuh terpilih kepada orang tua perempuan yang melahirkan dia atau biasanya disebut Ibu. Misalnya kalau anak itu laki-laki kadang hak asuh jatuh kepada Ayah kecuali masih "balita/menyusui" hak asuh tetap jatuh kepada Ibu. Tapi kalau kita lihat dalam kehidupan sosial masyarakat terutama di tempat tinggal saya yaitu Desa Suralaga dan sekitarnya biasanya hak asuh anak, baik anak itu berjenis kelamin perempuan maupun lelaki terpilih-jatuh kebanyakan kepada Ibu, sakalipun sang anak sampai "dedara/gadis" maupun "bajang/bujang".

Tentang hal-ikhwal hak asuh anak ini juga sudah diatur dalam Hukum Islam maupun KUHP/KUHPer Pemerintah RI, tapi untuk perkara "hak asuh anak" ini biasanya masuk dia dalam ranah KUHPer (Kitab Undang-Undang Hukum Perdata).

Jadi jangan heran, dalam babak baru sebuah perceraian rasa marah, benci, jengkel dlsb pada mantan pasti ada apalagi ketika Ibu sedang menyusui anak masih kategori balita. Kadang sebagian perempuan yang sudah menjadi Ibu/Inaq dengan hak asuh anak dan perasaan masih marah, benci, kesal itulah menghalangi atau menjegal seorang Ayah apabila ingin menjenguk untuk melepaskan rindu melihat anaknya juga yang masih kecil (mek pelot berangen tini yak mek gitak-gitak anak mekno/geto wh kira-kira ngkat da sang Ibu 😊). Hal yang wajar jika seorang ibu menyikapi sang Ayah seperti itu, tapi dampak kedepannya mungkin belum terpikir, bisa jadi sang Anak jika sudah tumbuh dewasa nanti akan memberontak kepada Ayahnya, atau apakah anak itu memang sengaja dibentuk diproduk kalau sudah besar nanti dijadikan sebagai alat bom waktu untuk melawan, membenci, dan memberontak kepada Ayah kandungnya? (I don't know & it's up to mom). Apalagi misalnya anak perempuan itu disisipi dogma maupun doktrin tertentu oleh sang Ibu sbagai pemilik hak asuh anak. Oleh karena itu, bahkan untuk membesuk melihat anak perempuannya yang masih balita mungkin sering berkali-kali hal itu dilakukan oleh seorang Ayah tapi hasilnya tetap sama saja nihil. Hingga pada akhirnya apalagi seorang Ayah memilih untuk kawin lagi meski masih dalam masa "iddah" belum selesai. Tentunya perasaan Ibu semakin hancur dan berdampak kepada anak perempuan karena ibu sebagai pemilik hak asuh anak--antara ya dan tidak--semakin renggang hubungan komunikasi jarak Anak Perempuan dan Ayah bahkan dalam batas tertentu seperti apa yang kita katakan di atas itu dihalangi/dijegal misalnya bila Ayah rindu ingin bertemu membesuk dan melihat anaknya juga.

Jika perasan sang Ibu hancur--berbanding terbalik dengan persaan sang Ayah berbunga-bunga, tentunya yang sudah kawin lagi bersama dengan istri barunya apalagi "misalnya andaikata umpama" tidak lama kemudian membuahkan hasil keturunan anak justru berjenis kelamin laki-laki, jadi tidak bisa dipungkiri mungkin siapapun itu mengalaminya pasti akan berpindah kasih sayang dan perhatiannya juga menjadi berbalik 180 derajat kepada anak yang baru lahir dari hasil buah perkawinan dengan istri baru Ayah itu (bi bagin ka anakbi ni yakku melet arak anakku lain gagahan wah/geto wah kira-kira ngkatda sang Ayah 😊) anak perempuan itu pun sedikit tidak sudah bisa agak terabaikan baik dari segi kasih sayang maupun perhatian Ayah termasuk sudah bertransformasi terhadap keluarga baru apalagi kepada si anak yang baru lahir begitu gagah meski masih dalam kategori misal oleh penulis. Ada pun kata seorang Ayah: "tidak ada manusia atau seorang Ayah yang tidak sayang kepada anaknya selama manusia itu normal atau punya hati dan pikiran. Jangankan anak sendiri, anak orang lain yang kita rawat, sekolahkan, didik, ajar supaya tidak jadi kurang ajar sedari kecil dan sampai besar hidup bersama kita anggap bahkan jadikan dia anak kandung".

Nah kelak, kemudian seorang Balita atau Anak berjenis kelamin perempuan itu dirawat oleh sang Ibu sebagai pemilik hak asuh anak ini pun sudah tumbuh besar dan dewasa sejak perceraian terjadi. Dalam proses perawatan anak perempuan ini sedari kecil hingga sampai dewasa tidak mungkin tidak didoktrin atau dipengaruhi terutama "otak" dan "hati" maupun lainnya seperti didikan, akhlak, berbahasa, adab, sopan santun, tata krama, moralitas dlsb yang tentunya baik itu dipengaruhi terutama oleh Ibu, keluarga, dan lingkungannya. Karena apa dari hasil mempengaruhi buah didikan anak adalah bentuk dari tingkah laku dan ucapan sehari-hari dalam kehidupan sosial bermasyarakat maupun bersosial media--yang termasuk anak perempuan ini kurang mendapat perhatian dan kasih sayang dari seorang Ayah apa lagi mendapat didikan, karena penyebabnya diantara salah satu seperti yang kita sebut di atas itu. Wajar jika anak perempuan yang tumbuh dewasa ini misalnya berkata, Ayah tidak baik, aku tidak pernah dapat kasih sayang, tidak pernah dapat perhatian, aku tidak pernah diberi uang, tak pernah minta uang, tidak pernah dididik, dlsb bahkan mungkin ada juga dalam bentuk sindiran-perkataan yang paling kurang berkenan untuk memojokkan Ayah Kandungnya Sendiri. Apa yang dikatakan atas semua itu memang benar adanya dan kita tidak bisa menyalahkan dia (terlalu menjustifikasi salah obyek di sini sebenarnya kurang etis) meski setiap anak pada umumnya punya persoalan-perspektif berbeda terhadap orang tua. Mungkin hal seperti itu (menurutnya pantas), bukan hanya sekali dua kali tapi sejak dulu berulang kali oleh anak perempuan itu proklamirkan kekurangan-aib Ayahnya sendiri termasuk kemarin dua hari yang lalu di salah satu media sosial (facebook) telah mereproduksi dan publikasikan hal yang sama--sekaligus membuat hari ini tulisan tercipta.

Sebagai bahan catatan, ketika Anak sudah dewasa dirawat dan dibesarkan dalam sebuah perpisahan-perceraian orang tua. Sewajarnya Anaklah yang mencari orang tua. Bukan orang tua yang mencari anak sebagai pengemis. Baik anak itu laki-laki maupun perempuan jika merasa mendapat kurang perhatian. Dan ini realitas saya lihat kebanyakan dalam kehidupan sosial masyarakat sehari-hari.

Perlu juga untuk diperhatikan, kalau anak perempuan itu sedikit saja dia "berpikir dewasa dan bijak" sebenarnya tidak perlu menyebut hal negatif kepada Ayahnya atas apa sikap, ungkapan, maupun memojokkan dan membicarakan 'Ayahnya Tidak Baik" pada tempat umum apalagi di khalayak ramai maupun estafet dari mulut ke mulut meski semua perkataannya itu benar--adalah sejatinya dia membicarakan atau menyebut beberapa kebobrokan dan keburukannya seperti, (1) terutama keburukan atas diri sendiri si anak perempuan, (2) keburukan orang yang telah membesarkan dan mendidik dia terutama sang Ibu sebagai pemilik hak asuh anak, (3) tentunya juga keburukan keluarga dari Ibunya maupun dari keluarga Ayahnya. Mungkin ada misalnya di antara salah satu kita berkata seandainya dia mendapat kasih sayang dan didikan dari seorang Ayah pasti ada harapan dia tidak bersikap maupun berkata seperti itu? (penulis pun demikian). Seperti yang kita sebut di atas itu adalah salah satu dari aspek faktor "hak asuh anak" kepada Ibu meski sudah pisah-bercerai seharusnya komunikasi tetap berjalan terutama dengan si Anak perempuan yang termasuk anaknya juga. Mungkin juga karena sikap sang Ibu seharusnya mengizinkan sang Ayah melihat atau bertemu dengan anaknya walau sampai dewasa dalam babak baru perceraian itu--agar sedikit tidaknya ada disisipkan pesan baik, nasihat, didikan, serta mendapat kasih sayang Ayah. Jadi, penulis di sini tidak bisa menyalahkan salah satu dari kedua pihak baik Ibu maupun Ayah.

***

Di sisi lain, kala itu seorang Ayah yang sudah bercerai masih dalam masa iddah (ketika anak perempuannya berusia sekitar 2 tahun atas hak asuh anak oleh janda/mantannya) kawin lagi dengan wanita pilihannya lalu ijab-kabul menikah dan disahkan oleh menurut fiqih-syariat Islam. Tidak lama kemudian dalam perkawinan itu dengan istri baru sang Ayah membuahkan hasil keturunan kelahiran anak pertama berjenis kelamin laki-laki. Jadi, apa yang katakan oleh penulis sebelumnya seperti di atas dalam kategori "andaikata umpama misal" sebuah perkawinan melahirkan anak pertama laki-laki itu kini menjadi kenyataan. Dan ini termasuk perkawinan Ayah yang kedua kalinya sampai sekarang.

Kelak, anak lelaki ini juga sejak kecil dirawat hidup bersama dengan kedua orang tuanya hingga tumbuh besar dan dewasa sampai sekarang dalam keluarga yang harmonis dan ideal. Sejak masa kanak-kanak, anak lelaki kelahiran pertama dari hasil buah perkawinan Ayah dengan Istri Baru itu konon katanya otaknya cukup lumayan berfungsi atau cukup lumayan pintar. Hingga sedari kecil atau Sekolah Dasar (SD) dia tak jarang mendapat juara atau berprestasi (meski anak lelaki itu tak pernah menganggap dirinya pintar). Karena lazimnya orang pintar atau orang cepat mengerti/menangkap tentang suatu perihal atau persoalan maka siapapun itu biasanya disayang oleh guru dan mendapat perhatian tertentu. Apa lagi dikalangan keluarga terutama Ibu dan Ayahnya sangat menyayangi dia, jika apapun kemauan atau keinginannya biasanya pasti dituruti dan diikuti misalkan selama kalau bisa terpenuhi oleh kedua orang tuanya.

Kemudian Anak lelaki ini menurutnya bahwa Ayahnya adalah sosok terbaik dalam hidupnya (berbanding terbalik dengan anak perempuan itu)--serta penuh tanggung jawab sebagai pejuang tulang punggung dalam pemimpin keluarga. Bahkan anak lelaki ini merasa diri bahwa kasih sayang Ayahanya begitu besar dan tinggi kepadanya sejak kecil apalagi kasih sayang sorang Ibu melahirkannya. Juga saking bangga melihat prinsip, pemikiran, didikan dan kegigihan perjuangan orang tuanya dalam kehidupan sehari-hari menganggap sang Ayah sebagai pahlawan dalam hidupnya--meski tak sama dengan tokoh pahlawan Indonesia atau pemikir bangsa mapun dunia seperti: B**g Karno, B**g Hatta, Ki. Hajar Dewantara, RA. Kartini, Al-Biruni, Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, Albert Einstein, Plato, Socrates, Aristoteles dlsb (😊).

Bahkan Anak Lelaki itu menyatakan, dia bisa berdiri pada salah satu sebuah tempat seperti terlihat penampakan dalam foto di bawah ini adalah karena tak lepas dari sosok seorang Ayah ada di belakangnya.

Oleh karena itu, anak lelaki tsb tidak terima melihat Ayahnya jika misalnya ada orang lain mengatakan orang tuanya tak penyayang dan menuduhkan seperti: ortu tak tanggung jawab, bicarakan aib keburukan, rendahkan, menghina, terlebih pencemaran nama baik dan lainnya. Meski misal pelaku itu saudara/i kandungnya sendiri jika melebihi batas kewajaran tertentu serta bukti sudah ada dan lengkap bila perlu akan dibawa keranah hukum dan "diadili" oleh sebab, karena Indonesia Negara Hukum punya aturan tata tertib, tapi bukan seenak udel bertingkah polah dan berucap--apalagi pelaku hanya sekedar saudara/i dari lain Ibu. Aturan tetap berlaku!--sampai kebiasaan buruk amoral itu berubah menjadi kelakuan beradab, berwibawa dan bermutu.

Semoga sedikit tulisan ini bisa menjadi sebagai bahan pertimbangan baik bagi yang belum, sedang atau sudah mengalami dalam kehidupan "sosial-agama-budaya" di tengah masyarakat yang majemuk.

Suralaga, 19 Februari 2023
28 Rajab 1444

Oleh para Iilmuwan Alam sejak sebelum masehi (SM) dengan prediksi atau astronom kuno sudah mengetahui kapan gerhana akan...
14/09/2025

Oleh para Iilmuwan Alam sejak sebelum masehi (SM) dengan prediksi atau astronom kuno sudah mengetahui kapan gerhana akan terjadi. Dalam sejarahnya, oleh para ahli tak jarang terjadi perdebatan baik tentang menyikapi penomena alam.

Oleh para ilmuwan alam juga, tak jarang terjadi pertentangan dengan "iman" karena dianggap melanggar hukum agama termasuk oleh akal pikiran atau ilmu pengetahuan berkesimp**an bahwa matahari adalah pusat tata surya tetapi bukan bumi (yang dipercaya sebelumnya).

Bahkan oleh ilmuwan NASA (didukung kecanggihan teknologi) 100 tahun yang akan datang sudah bisa diprediksi/mengetahui kapan waktu dan saat gerhana itu akan terjadi.

Pun tak kalah menarik juga, oleh ilmuwan Islam modern seperti Bapak Al-Biruni sebagai "astronom" sekaligus juga "antropologi" (kalau tak salah, prihal ini pernah juga disinggung oleh Bapak Sumanto Al Qurtuby sekaligus direktur Nusantara Institute itu dalam tulisan beliau sebagai antropologi πŸ™‡β€). Bahwa Al-Biruni (w.1048 M) sbg astronom memaparkan yakni, gerhana terjadi karena posisi sejajar antara matahari, bumi, dan bulan, serta berhasil memprediksi gerhana dimasa depan.

Singkat saja, terlepas dari semua itu entah ilmuwan alam baik ilmuwan sosial tentunya mempunyai kekurangan dan kelebihan seperti kata para pakar itu. Serta tak lupa bersyukur dalam sejarah keagungan bulan ini (tahun Hijriyah) bahwa dipercaya telah dilahirkan kedunia sosok manusia suci sebagai rahmat bagi semesta alam━yang kemudian menjadi utusan (messenger) oleh daripada Tuhan.

Semoga alam semesta baik-baik selalu sekaligus dalam sedikit doaku: "Segala puji bagi Allah, pujian murni, baik, dan diberkati-Nya. Yang memenuhi langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya. Dialah yang paling berhak dipuji oleh hamba, dan kami adalah hamba-Nya. πŸ™‡β€β™‚οΈπŸ€²

Wallahu a'lam bishawab.

Sumber foto πŸ“·: .bmkg.go.id

Address

Selong

Telephone

+6281997683512

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Munari Lutfi Ofisial posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share