09/03/2026
Berbaiat Dalam Tasawuf dan Menyikapi Perbedaan Sebagai Anugerah
Menanggapi klaim salah satu tulisan teman netizen di kolom komentar facebook saya, yakni tentang prihal aliran keagamaan-tasawuf. Perasaan jarang sekali bahkan tak pernah membahas apalagi menulis di media sosial facebook tentang "tasawuf/tarekat" atau "ilmu adab" ini pada umumnya dalam aliran teologi dikalangan rumpun Islam-Sunni itu. Meski sudah berbaiat dua kali, termasuk berbaiat pertama kali sejak usia 19 tahun--berbaiat kedua kali jenisnya beda pada selang kurun waktu tahun dan diusia berbeda p**a--oleh seorang sosok dianggap Mursyid yang suluk (sekolah non formal). Menurut Guru Tasawuf saya, tidak semua orang bisa berbaiat tasawuf meski berusia tua atau cukup umur karena faktor kejiwaan, psikologis, intelektualitas maupun intstabilitas rohani.
Perlu digaris bawahi, "tasawuf/tarekat" juga bermacam jenis aliran, konsep spritualitas, pemikiran, maupun literatur literatur nya.
Kenapa jarang bahkan tidak pernah menulis tentang tasawuf? Karena tidak berani menulis tentang hal ini terlalu jauh, menganggap diri tak pantas dan belum layak dalam pemahaman ilmu adab ini dan malu mungkin juga ada orang yang lebih tinggi ilmu ketasawufannya di pesbuk ini dari saya--yang menurut penulis juga ilmu ini bukan untuk dibawa pamer-pamer publikasikan apalagi merasa pintar dan merasa diri berilmu. Di samping itu takutnya kadang si pembaca salah atau belum memahami terhadap tulisan tentang bahasan tasawuf itu akhirnya menjadi rancu. Misalnya ketika si penulis mengambil tema tentang tasawuf mengandung arti makna tinggi yang tidak bisa dipahami oleh kebanyakan orang dan hanya orang-orang tertentu saja memahaminya.
Jadi seperti kata guru saya, biarlah ilmu tasawuf atau ilmu mengajarkan tentang cara menyucikan jiwa dan menjernihkan akhlak serta membangun lahir dan batin untuk mencapai ketenangan abadi, itu menjadi pribadi yang kukuh dijalan kedamaian yang selalu mengingat-Nya baik disetiap aliran nafas dan detak jantungmu. Kurang lebihnya begitu petuah beliau.
Kemudian, biasanya sering terdengar komunikasi dalam kehidupan sosial-agama ditengah masyarakat--tapi penulis tak pernah menggubris dan menanggapi termasuk mengenai penasaran mereka--rasa ingin tahu bahwa apa, bagaimana, berapa, mengapa dan kenapa harus "berbaiat" di dalam aliran Tasawuf? Nah, inilah sebenarnya poin intisari ajaran tarekat tsb karena tidak boleh dibahas sembarang oleh kalangan Tasawuf (takutnya dia/petasawuf nanti ceplas-ceplos) apa lagi memberitahu-publikasikan kepada orang lain apa yang sudah menjadi rahasia/ilmu di dalam jiwanya akan menjadi fitnah dan kemungkinan dianggap orang gila jadi bahan tertawaan oleh khalayak ramai (π). Itulah sebabnya seorang "guru tasawuf/mursyid" sudah tahu jauh dari sebelumnya dan memilih baik dari segi aspek kejiwaan, maupun watak dan intelektualitas manusia yang pantas berbaiat serta pemberian dalam tingkatan intisari ilmu. Kerena itulah juga sebabnya prihal berbaiat tasawuf tak boleh dibahas sembarangan. Akan tetapi jika ada pengecualian dari Mursyid tentang "berbaiat tasawuf", maka boleh dibahas oleh muridnya apabila dianggap mempunyai kelayakan kepantasan tapi dengan batasan tertentu.
Maka dalam kesempatan ini, apa dari pengertian "berbaiat tasawuf" penulis akan mencoba sedikit paparkan secara umum garis besar saja karena bahasan ini sebenarnya memang bukan konsumsi publik--menulisnya secara terukur supaya anggapan sebagian atau kebanyakan orang mejadi berpikir positif serta tidak menjadi blunder, bumerang, ambigu dsb dalam kehidupan sosial-agama ditengah masyarakat.
Pengertian Berbaiat Tasawuf adalah ketika seorang Mursyid/Guru Tasawuf (berjanji, sumpah, ikrar suci) menurunkan/mentransfer "intisari" dari ilmu ketasawufan itu sendiri kepada muridnya dengan bentuk posisi tubuh tertentu sekaligus dalam sikap dimensi spiritualitas. Intisari dari ilmu tasawuf itulah tidak semua orang memilikinya dan harus menjadi rahasia di dalam jiwa manusia, juga tidak boleh orang lain tahu sekalipun semut kecuali Allah, Muhammad, Mursyid dan Murid. Oleh karena itu, jangan heran jika penulis tahu betul entah dari ciri-ciri gaya bicara, menulis, penyampaian, pemahaman dan tingkah laku orang bahwa ada ilmu tasawuf itu didalam tubuhnya--baik yang "sudah berbaiat" tapi kosong maupun "belum berbaiat"--misalnya ketika sedang berceramah atau membahas karya dari salah satu kitab para ulama tasawuf terdahulu (salaf) dalam forum publik tertentu. Atau hanya sekedar tasawuf tasawufan.
Sebagai bahan catatan, sebenarnya tindakan yang dikhawatirkan disini adalah yang hanya sekedar tasawuf-tasawufan itu. Apalagi misalnya orang tsb berkali-kali mengklaim diri atau memproklamirkan diri sudah berbaiat padahal sejatinya tak punya pengalaman dimensi spritualitas transendental sama sekalipun. Terlebihnya juga mengaku pernah bertemu Nabi Khidir, lailatul qadar, malaikat, bertemu buraq, bidadari terus terbang lalu bertingkah aneh dan berlagak ab-normal. Tapi jika merasa lapar paling depan perut buncitnya duduk di kursi makan kadang menghabiskan makanan tak menyisakan yang lainnya. Nah, kejiwaan orang seperti itu perlu diteliti dan dipertanyakan (π).
Selanjutnya, adapun ciri-ciri orang dalam membahas atau menulis tentang ketasawufan itu biasanya lebih dominan mengambil dalil dari Hadis Qudsi tentunya juga yang utama Al-Qur'an dan Hadis (ijmak/qias). Wahyu atau "hadis qudsi" ini, oleh Nabi Muhammad juga pilih-pilih memberikan kepada para sahabat tertentu saja hanya yang pintar mempunyai kecerdasan tinggi termasuk Ali bin Abi Thalib dan Abu Hurairah. Karena disamping itu hadis qudsi memang bukan untuk konsumsi publik umum--Hadis Qudsi sebenarnya adalah untuk Muhammad sebagai pribadi Nabi, bukan sebagai Rasul. Serta tinggi kandungan 'isi'-nya itulah sebabnya Nabi memberikannya hanya kepada sahabat terpilih saja.
Jika pun ada seorang sosok sedang membahas atau menulis tentang ilmu ketasawufan dimensi spiritualitas biasanya juga mengambil referensi dari tulisan/kitab karya para ulama klasik (salaf) seperti, Harits al-Muhasibi, Rabi'ah al-Adawiyyah, Junaid al-Baghdadi, Imam Al Gazali, Syekh Abdul Qadir Jaelani, Muhammad Jalaludin Rumi, Ibnu Athaillah dlsb. Sedikit menarik dan perlu diperhatikan, di dalam Islam rumpun Sunni, para ulama itu mempunyai disiplin ilmu masing-masing dan corak aliran keislamannya kadang punya ciri khas tertentu. Serta tak semua ulama (manusia) punya-diberi karomah baik itu ulama dari lintas mazhab. Begitu juga misalnya dari kalangan Salafi, pasti ada sedikit perbedaan corak aliran keislamannya dengan kelompok jamaah Tasawuf. Tapi dikalangan salafi biasanya berafiliasi mengacu kepada Mazhab Hambali (Ahmad bin Hambal w. 855 M) yang biasa tokoh kontemporernya baik dalam menulis atau menyampaikan aliran kepercayaan ajarannya (selain Al-quran & Hadis) jamak juga mengambil pendapat atau rujukan dari tulisan-kitab karya para ulama terdahulu (salaf) seperti Syekh Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim, Muhammad bin Abdul Wahhab, Abdullah bin Baz, Ibnu Katsir (termasuk mufasir terkemuka) dlsb.
Dilain sisi, kadang juga tiba-tiba timbul pertanyaan dari aneka macam bentuk aliran mazhab dalam Islam, seperti: aliran mazhab apakah paling bagus dan paling sempurna ajarannya yang harus kita ikuti? Kalau jawaban menurut penulis dan kebanyakan yaitu, (1) aliran-mazhab paling bagus yakni selama "Rukun Islam" dan "Rukun Iman" harus sama pada setiap aliran mazhab, tentunya juga dalam tiap tubuh aliran atau mazhab masing-masing mengklaim diri sebagai Ahlussunnah wal Jama'ah--terpenting dalam beragama itu membuat hati tenang dan damai serta bertingkah laku baik dalam kehidupan sosial-agama bermasyarakat sehari-hari apapun bentuk aliran mazhab keislamannya (kalau tidak begitu nanti beliau Pak Manto ngamuk marah βΊοΈπ±) yang dipegangi--apalagi sikap "humanisme universal" ada di dalam tubuh aliran mazhab, penulis juga anggap paling bagus ideal. Yang kurang bagus ndobos koplak itu adalah menganggap diri, kelompok, aliran, mazhab, dogma, perspektif, pemikiran, teologi kebenaran tunggal, maupun praktik keagamaan dll adalah paling relevan valid dan di luar dari itu tidak benar valid bahkan titik terendah mengklaim kelompok lain kafir masuk neraka. P**a, tak menerima perbedaan itu sebagai anugerah atau rahmat serta benci kepada orang lain yang berbeda. (2) adakah aliran atau mazhab sempurna? Tidak ada yang sempurna, murni, autentik di dunia ini apalagi hanya sekelas bentuk aliran dan mazhab. Tapi kesempurnaan itu adalah hanya dimiliki oleh Zat Yang Maha Mandiri.
Oleh karena itu misalnya kalau belum bisa "berbaiat tasawuf" sedikit tidaknya ber literasi ketasawufan. Maka jangan heran siapapun itu (termasuk penulis) misalnya pengikut salah satu mazhab hanafi, maliki, syafi'i, hambali dlsb apabila terlalu berkecimpung dengan dunia "fiqih-syariat" saja, akan membuat hati menjadi keras tanpa ilmu 'batin-tasawuf" dalam dirinya. Begitu juga bertasawuf tanpa fiqih kurang bagus. Bahkan para Imam pendiri Mazhab jauh dari sebelumnya sudah mengomentari bagaimana "relasi antara tasawuf dan fiqih" baik oleh Malik bin Anas maupun Abu Hanifah.
Sebelum mengakhiri tulisan ini, adapun pesan nasihat para imam pendiri mazhab keislaman atau ulama pada masa tabi'in mengenai "relasi tasawuf dan fiqih" termasuk Imam Syafi' (Muhammad bin Idris asy-Syafi'i w. 820 M) atau pendiri Mazhab Syafi'i seperti dalam manaqib Imam As-Syafii karya Imam Al-Baihaqi, "Jadilah kamu seorang ahli fiqih yang bertasawuf jangan jadi salah satunya, sungguh dengan haq Allah aku menasihatimu. Jika kamu menjadi ahli fiqih saja, maka hatimu akan keras tak akan merasakan nikmatnya taqwa. Dan jka kamu menjadi yang kedua saja, maka sungguh dia orang teramat bodoh, maka orang bodoh tak akan menjadi baik". Begitu juga dengan Imam Ahmad bin Hanbal atau pendiri Mazhab Hanbali ketika berpesan kepada "anaknya" tentunya juga kepada kita semua terkait tasawuf, "Anakku, kamu harus duduk bersama orang-orang tasawuf, karena mereka adalah mata air ilmu dan mereka selalu mengingat Allah dalam hati mereka. Mereka adalah orang-orang zuhud yang memiliki kekuatan spiritual yang tertinggi. Aku tidak melihat orang yang lebih baik dari mereka", (Ghiza al Albab, juz. 1, hal. 120 ; Tanwir al Qulub, hal. 405, Syaikh Amin al Kurdi).
Perlu juga diketahui bahwa perkawinan beda mazhab dalam Islam itu tak dilarang dan tidak ada dalil yang melarangnya kecuali dalil fanatik buta (π€π). Kalau perkawinan beda agama dalam Islam baru dilarang, dan itu pun ada pengecualiannya.
Nah, tapi kalau penulis analogikan diri sendiri dalam aliran mazhab kegamaan termasuk masih sebagai golongan bintara kelas bawah, jadi biarlah sedikit membahas atau menulis bab fiqih atau aqidah-akhlak saja. Itu pun dalam mencantumkan dalil baik dari sumber Al-Qur'an dan Hadis asal comot dan hanya paham terjemahannya saja disertasi kurang begitu mengerti tafsir dan konteksnya (π). Dan biarlah saya analogikan mereka termasuk sebagai golongan perwira--baik itu "perwira tinggi" dalam kepangkatan TNI-Polri yang membahas lebih jauh dan mendalam tentang ilmu Tasawuf-Tarekat itu.
Catt: foto di bawah ini hanya sebagai pemanis saja supaya dianggap sok intelek, talenta nulis dan minat baca π€. Bagaimana Almukarrom, bukankah salah satu sifat Allah itu ada juga humoris? ππ