Barokatul Iman

Barokatul Iman لو كان لي أن أكون شيئا لكنت عافية لا تفارق جسد امي

MBAH KYAI DJAZULI, NGAJI DI TENGAH PADANG PASIROleh: Ahmad KaromiMendengar kata Blawong, pikiran kita akan berkelana men...
20/01/2025

MBAH KYAI DJAZULI, NGAJI DI TENGAH PADANG PASIR

Oleh: Ahmad Karomi

Mendengar kata Blawong, pikiran kita akan berkelana mencoba mengilustrasikan Blawong itu apa. Blawong adalah burung perkutut mahal yang bunyinya sangat indah dan merdu, terdapat di istana Kerajaan Brawijaya. Alunan suaranya mengagumkan, semua akan terpana tatkala Blawong sedang berkicau, seolah burung itu punya karisma yang luar biasa.

Julukan Blawong oleh KH. Zainuddin Mojosari disematkan kepada KH. Ahmad Djazuli Utsman bin Sahal, Ploso Mojo Kediri. Sebab menurut Guru KH. Wahab Hasbullah ini, kelak Mas'ud (nama kecil KH. Ahmad Djazuli) akan menjadi ulama besar, yang selanjutnya mencetak generasi-generasi unggul.

Banyak kisah dan kesaksian keluarga, para kyai, santri tentang kecintaan beliau terhadap ngaji, bahkan salah satu prinsip hidup yang ditanamkan adalah "afdholut thuruq ilallah thariqatut ta'lim wat ta'allum" (sebaik-baik tariqah menuju Allah adalah belajar dan mengajar). Bahkan ketika beliau menunaikan rukun Islam kelima, yakni perjalanan menuju Baitullah.

Selama di kapal uap inilah beliau gunakan nderes, ngelalar nadzaman "uqudul juman", kitab Balaghoh (sastra) karya Syekh Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthi. Bagi beliau, tekun atau sungguh-sungguh (mempeng) adalah kunci utama.

Ibadah haji, sejak dari dulu adalah pilihan. Tidak semua orang bisa berangkat haji meskipun dia memiliki bekal yang sangat cukup. Belum lagi ujian tatkala tiba di Makkatul Mukarromah. Dimana, kala itu di tanah Hijaz terjadi perebutan kekuasaan oleh kelompok Wahabi yang diprakarsai Abdul Aziz As-su'ud.

Sesampainya KH. Ahmad Djazuli di Mekkah, beliau pergunakan untuk berguru kepada para ulama tanah hijaz hampir dua tahun. Bahkan beliau juga mengajar di kota suci ini. Akan tetapi kabar memburuknya situasi politik di Tanah Hijaz pada tahun 1922, membuat sedih dan resah KH. Djazuli. Peperangan pun tak terelakkan. Sehingga ada pemberlakuan hukum darurat perang, yakni seluruh warga asing harus menghentikan segala kegiatan, termasuk perjalanan Mekkah Madinah. Karena situasi seperti ini, pihak aparat pemerintah akan memulangkan secara paksa bagi warga asing ke asal negaranya.

KH. Djazuli tidak menyerah begitu saja, beliau bertekad untuk ziarah ke Madinah. Sebab selama beliau di tanah Hijaz belum sempat sowan ke Madinah. Akhirnya, beliau berjalan kaki dari Mekkah ke Madinah bersama 6 temannya. Mereka bertujuh membawa sedikit bekal sambil mengalungkan Guriba (kantong wadah air dari kulit kambing) dilehernya masing-masing.

Berjalanlah rombongan kecil ini melintasi hamparan padang pasir tandus, sejauh mata memandang yang tampak adalah lautan pasir, gunung-gunung batu yang terjal. Tak ada pohon rindang seperti di tepi pantai. Karena terik matahari mencapai 40°-55° C, sementara perbekalan air semakin menipis. Sungguh pemandangan yang sangat memilukan hati, apalagi bagi rombongan kecil yang berasal dari negara yang beriklim sedang.

Ciutkah nyali mereka? Tidak! Sebab tekad mereka untuk bertemu dan pamitan kepada Rasulullah sangat bulat. Meskipun jarak yang ditempuh mencapai 498 Km (hampir sama dengan jarak Surabaya-Tegal) mengakibatkan tubuh, kaki penuh luka. Dengan situasi, kondisi, serta cuaca yang sangat ekstrim.

Apabila panas telah menyengat, sekitar jam 11.00 siang, mereka istirahat di tempat yang saat itu dijumpai, kadang menemukan timbunan batu dilereng gunung, dan ada mata airnya (wadi). Namun bila tidak menjumpai tempat seperti itu, mereka berhenti dan tidur ditengah padang pasir. Digalinya padang pasir itu, lalu masing-masing memendam badannya sampai batas leher, hanya kepala yang kelihatan. Tujuannya agar tidak terserang Heat Stroke (penyakit akibat sengatan panas padang pasir).

Namun, kejadian yang paling mengagumkan adalah tetap ngaji di tengah kondisi seperti ini. Bila memungkinkan, mereka duduk melingkar dan memulai ngaji kitab Minhatul I'rob, tentang nahwu. Sayangnya, kitab ini rusak, akibat pinggiran kitab disobek untuk membungkus tembakau, sebagai pengganti bekal makanan yang semakin menipis.

Akhirnya, mereka bertemu suku Badui, dan mereka ditolong lalu dipersilahkan singgah di gubuknya. Disinilah, rombongan kecil ini ngisi bekal. Sementara itu, suku badui menyembelihkan kambing untuk menyuguhi KH. Djazuli beserta teman-temannya. Usaikah perjalanan itu?!

Rombongan kecil ini tetap melanjutkan perjalanan, hingga berjumpa dengan suku badui lainnya. Akan tetapi suku badui kali ini memiliki niat jahat, bermaksud merampok. Sebelum insiden terjadi, salah satu rombongan kecil ini berkata: "kami faqir-faqir dari tanah jawa akan berziarah ke makam Rasulullah." Badui-badui itu terketuk hatinya, malahan mempersilahkan istirahat dan memberi makan minum untuk rombongan ini.

Hari demi hari mereka lalui dengan terus berjalan dengan kondisi memprihatinkan, sandal jebol, kaki-kaki membengkak, surban dan celana pun disobek untuk alas kaki. Kini mereka tidak punya apa-apa lagi dibuat makan dan minum, saat itulah KH. Djazuli berkata kepada teman-temannya:" aku akan berdoa, kalian semua mengamini'.

Tak lama berselang, muncullah seorang berbaju putih memanggil dari kejauhan sambil berisyarat dengan tangan, orang itu mempersilahkan rombongan masuk gua. Selanjutnya disuguhi aneka makanan, minuman dan buah-buahan. Peristiwa ini terjadi berulang kali. Anehnya, setelah pamit berangkat melanjutkan perjalanan dan menoleh ke belakang, tempat yang disinggahi tadi hilang.

Tibalah rombongan kecil ini di kota Madinah sekitar jam 16.30, setelah sebulan lebih melewati ganasnya padang pasir. Hampir sebulan p**a mereka tinggal di Madinah, sebelum akhirnya ditangkap pemerintah kerajaan as- Saud dan dip**angkan ke tanah air. Konon setelah penangkapan, KH. Djazuli dipaksa p**ang lewat pengurusan konsulat Belanda. Petugas tidak memberi kesempatan untuk berkemas-kemas, pamitan atau mengurusi barang, dan kitab-kitabnya di Mekkah. Hanya kitab Dalailul Khairat yang terbawa p**ang. KH. Djazuli pun berdoa "saya pasrahkan kitab-kitab ini kepadaMU, Ya, Allah".

Menurut kisah yang saya ingat. Kitab Dalailul Khairat yang dibawa KH. Djazuli adalah kitab pemberian dari orang yang tidak dikenal. Anehnya, setelah di kros cek, orang yang memberikan kitab itu sudah meninggal 100 tahun yang lalu. Dia bernama Habibullah As-syinqithi. Namun menurut buku Sang Blawong Pewaris Keluhuran, dia bernama Ibrahim At-taimiy. Wallahu A'lam.

Dari kisah haji diatas, menegaskan bahwa haji bukanlah untuk senang-senang, bukan p**a untuk mengangkat strata sosial, belanja, cari oleh-oleh, ajang pamer. Akan tetapi ibadah haji adalah perjuangan. Ibadah yang menguras lahir batin dengan cucuran keringat seraya bertasbih, bertahmid hanya menggapai Ridlo Allah dan berjumpa Rasulullah. Alangkah malunya, bilamana bangga dengan status haji namun jiwa raga tetap jauh dari Allah dan Rasulullah.

KH. Djazuli p**ang dengan tanpa membawa oleh-oleh layaknya Pak Haji pada umumnya yang berwajah ceria memakai pakaian jubah, serban, bawa kurma dan air zamzam. KH. Djazuli p**ang ke tanah air dalam keadaan sakit, tidak dapat turun sendiri dari kendaraan, dikarenakan kakinya sobek, dan baju yang terkoyak. Beliau berangkat dan p**ang penuh derita. Akan tetapi dibalik itu semua, ayah dari Kyai Din, Kyai Dah, Gus Miek, Kyai Fuad, Kyai Munif dan Bu Nyai Badriyah ini telah meraih "oleh-oleh" yang sangat berguna, bermanfaat bagi keluarga dan masyarakatnya, yakni Haji Mabrur dan Ilmu agama (dari beberapa ulama hijaz) yang diajarkan kepada putra-putri dan santrinya sebagai bekal di dunia dan akhirat.

Khushuson Simbah Kyai Djazuli Utsman bin Sahal. Alfatihah..
(Blitar, Malam Iedul Adha 1438 H)

DOA IBU LEBIH MULIA DARI ULAMA BESAR SEKALIPUNDi Hadromaut (Yaman), Setiap orang yang datang menghadap Habib Salim atau ...
14/01/2025

DOA IBU LEBIH MULIA DARI ULAMA BESAR SEKALIPUN

Di Hadromaut (Yaman), Setiap orang yang datang menghadap Habib Salim atau Habaib Sepuh yang Alim di Tarim untuk minta di doakan, selalu mendapat pertanyaan yang sama :

Apakah kamu masih memiliki permata (Ibu) di rumahmu ?.

Jika jawabannya, masih. Maka beliau dengan halus mengatakan : Tahukah kamu, bahwa doa ibu untukmu, lebih mulia dan Makbul dari pada Doa seorang Wali Besar sekalipun..

Ketika Habib Umar Bin Hafidz dan kakaknya Habib Ali Masyhur Bin Hafidz masih bayi dan sering menangis, Ibunda mereka Hubabah Zahra, akan memeluk dan membelai anak anaknya sambil mengusap kepala mereka.

Kepada Habib Ali Masyhur, beliau sering berbisik "M***i, M***i". dan sekarang Habib Ali Masyhur telah menjadi M***i Yaman.

Kepada Habib Umar sang ibu selalu berdoa "Da'i, Da'i". Dan kini Habib Umar telah menjadi Da'i Islam terkenal di zaman ini.

Rasulullah bersabda: Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah, maka jangan sia-siakan pintu itu atau jagalah ia. (HR. TIRMIDZI).

Ibu adalah pintu Surga bagi anak2-nya, dan Ayah adalah jembatan menuju kepadanya, Karena itu Muliakanlah Mereka.

"tidak perlu keluar rumah untuk mencari wali Allah, wali Allah ada dirumahmu, yaitu "kedua orang tuamu", maka jangan sia siakan mereka"

~Alhabib Salim bin Abdullah Assyatiry~

Al-Imam Al-Habib 'Ali Al-Habsyi berkata:"Bila matamu belum bisa memandang wajah Sayyiduna Muhammad SAW secara langsung, ...
14/01/2025

Al-Imam Al-Habib 'Ali Al-Habsyi berkata:

"Bila matamu belum bisa memandang wajah Sayyiduna Muhammad SAW secara langsung, maka jgn sampai telingamu tdk bisa merasakan nikmat mendengarkan sifat-sifat mulia Beliau SAW dlm Maulid, Burdah, Sholawat, dsb, karena itu adalah satu kenikmatan bagi orang-orang yang cinta kepadanya SAW."

habiby_rasulullah_saw Sayyidah aisyah berkata:إنكم لتغفلون عن أفضل العبادة وهو التواضعSesungguhnya kalian tlah lalai trh...
14/01/2025

habiby_rasulullah_saw Sayyidah aisyah berkata:

إنكم لتغفلون عن أفضل العبادة وهو التواضع

Sesungguhnya kalian tlah lalai trhadap sebaik2nya ibadah, yaitu tawaddu'..

Sebegitu tingginya kedudukan org2 yg tawadu'.

Sayyidina Zaid bin Tsabit ialah ulama dari para sahabat dan telah lanjut usia, ketika itu sdg menunggangi kuda di jalan kota madinah. Lalu datang sy Abdullah bin Abbas, beliau sepupu Rasulullah yg masih remaja dan pernah didoakan rasulullah

اللهم فقهه في الدين وعلمه التأويل

Lgsung meraih tali kuda tsb lalu mengendalikannya sbgaimana pelayan trhadap tuannya.

Lalu sy Zaid berkata apa yg kau lakukan wahai sepupu rasulullah? Sy Abdullah menjawab:

Inilah yg harus kmi lakukan terhadap para ulama.

Seketika sy Zaid turun dari kuda lalu mencium tangan sy Abdullah, dan sy Abdullah berkata apa yg kau lakukan wahai sy Zaid?

Beliau menjawab: inilah yg hrs kami lakukan pada ahlubait Rasulullah..

Lihatlah betapa indahnya ilmu tawaddu' yang selalu dicontohkan Rasulullah, sahabatnya, dan keturunannya hingga saat ini juga para pewarisnya..

رب هبلي حكما والحقني الصالحين

Nasihat guru mulia maulana Syeikh Alaa Musthofa Na'imah Al Hasani

BIOGRAFI KH MAIMUN ZUBAIRRIWAYAT HIDUP DAN KELUARGABeliau adalah kyai sepuh karismatik yang sering menjadi tumpuan perma...
13/01/2025

BIOGRAFI KH MAIMUN ZUBAIR

RIWAYAT HIDUP DAN KELUARGA

Beliau adalah kyai sepuh karismatik yang sering menjadi tumpuan permasalahan besar kebangsaan dan dunia internasional. Rakyat, santri, semua lapisan masyarakat, dan tokoh masyarakat, serta pejabat pemerintahan merasa dekat kepada beliau dan selalu memperoleh solusi terbaik. Sesi-sesi penting seperti pemilihan presiden Indonesia tahun 2019 ini menjadi bukti bahwa ulama menjadi tumpuan permasalahan kebangsaan. Para ulama sepuh mendaulat beliau sebagai waliyullah akhir zaman yang menjadi patok penerang batin seluruh umat.

KELAHIRAN BELIAU

Beliau adalah putra pertama dari Kyai Zubair. Dilahirkan di Karang Mangu Sarang hari Kamis Legi bulan Sya'ban tahun 1347 H atau 1348H atau 28 Oktober 1928. Dan siapapun zaman itu tidaklah menyangsikan, bahwa ayahnda Kyai Maimoen, Kyai Zubair, adalah murid pilihan dari Syaikh Sa’id Al-Yamani serta Syaikh Hasan Al-Yamani Al- Makky.

Dua ulama yang kesohor pada saat itu. Seorang Kyai yang tersohor karena kesederhanaan dan sifatnya yang merakyat. Ibundanya adalah putri dari Kyai Ahmad bin Syu’aib, ulama yang kharismatis yang teguh memegang pendirian. Pada umur 25 tahun, beliau menikah dan selanjutnya menjadi kepala pasar Sarang selama 10 tahun. Mbah Moen, begitu orang biasa memanggilnya, adalah insan yang lahir dari gesekan permata dan intan.

Dari ayahnya, beliau meneladani ketegasan dan keteguhan, sementara dari kakeknya beliau meneladani rasa kasih sayang dan kedermawanan. Kasih sayang terkadang merontokkan ketegasan, rendah hati seringkali berseberangan dengan ketegasan. Namun dalam pribadi Mbah Moen, semua itu tersinergi secara padan dan seimbang. Kerasnya kehidupan pesisir tidak membuat sikapnya ikut mengeras.

Beliau adalah gambaran sempurna dari pribadi yang santun dan matang. Semua itu bukanlah kebetulan, sebab sejak dini beliau yang hidup dalam tradisi pesantren diasuh langsung oleh ayah dan kakeknya sendiri. Beliau membuktikan bahwa ilmu tidak harus menyulap pemiliknya menjadi tinggi hati ataupun ekslusif dibanding yang lainnya. Kesehariannya adalah aktualisasi dari semua itu.

Walau banyak dikenal dan mengenal erat tokoh-tokoh nasional, tapi itu tidak menjadikannya tercerabut dari basis tradisinya semula. Sementara walau sering kali menjadi peraduan bagi keluh kesah masyarakat, tapi semua itu tetap tidak menghalanginya untuk menyelami dunia luar, tepatnya yang tidak berhubungan dengan kebiasaan di pesantren sekalipun.

WAFAT BELIAU

Beliau wafat pada hari Selasa, 6 Agustus 2019 pagi di Mekkah dalam rangka merayakan ibadah haji.

PENDIDIKAN

Kematangan ilmunya tidak ada satupun yang meragukan. Sebab sedari balita ia sudah dibesarkan dengan ilmu-ilmu agama. Sebelum menginjak remaja, beliau diasuh langsung oleh ayahnya untuk menghafal dan memahami ilmu Shorof, Nahwu, Fiqih, Manthiq, Balaghah dan bermacam Ilmu Syara’ yang lain. Kecemerlangan demi kecermelangan tidak heran menghiasi langkahnya menuju dewasa.

Pada usia yang masih muda, kira-kira 17 tahun, Beliau sudah hafal diluar kepala kiab-kitab nadzam, diantaranya Al-Jurumiyyah, Imrithi, Alfiyyah Ibnu Malik, Matan Jauharotut Tauhid, Sullamul Munauroq serta Rohabiyyah fil Faroidl. Seiring p**a dengan kepiawaiannya melahap kitab-kitab fiqh madzhab Asy-Syafi’I, semisal Fathul Qorib, Fathul Mu’in, Fathul Wahhab dan lain sebagainya.

SILSILAH KEILMUAN

Pendidikan Awal di Lirboyo
Pada tahun kemerdekaan, Beliau memulai pengembaraannya guna ngangsu kaweruh kePondok Lirboyo Kediri, dibawah bimbingan KH. Abdul Karim yang terkenal dengan Mbah Manaf. Selain kepada Mbah Manaf, Beliau juga menimba ilmu agama dari KH. Mahrus Ali juga KH. Marzuqi. Di pondok Lirboyo, pribadi yang sudah cemerlang ini masih diasah p**a selama kurang lebih lima tahun. Waktu yang melelahkan bagi orang kebanyakan, tapi tentu masih belum cukup untuk menegak habis ilmu pengetahuan.

MENUNTUT ILMU DI MAKKAH

Tanpa kenal batas, beliau tetap menceburkan dirinya dalam samudra ilmu-ilmu agama. Sampai pada akhirnya, saat menginjak usia 21 tahun, beliau menuruti panggilan jiwanya untuk mengembara ke Makkah Al-Mukarromah. Perjalanan ini diiringi oleh kakeknya sendiri, yakni KH. Ahmad bin Syu’aib. Tidak hanya satu, semua mata air ilmu agama dihampirinya. Beliau menerima ilmu dari sekian banyak orang ternama dibidangnya, antara lain:
- Sayyid Alawi bin Abbas Al Maliki
- Syekh Al-Imam Hasan Al-Masysyath
- Sayyid Amin Al-Quthbi
- Syekh Yasin bin Isa Al- Fadani
- Syekh Abdul Qodir Almandily

MENUNTUT ILMU DI ULAMA BESAR JAWA

Dua tahun lebih Beliau menetap di Makkah Al- Mukarromah. Sekembalinya dari Tanah suci, Beliau masih melanjutkan semangatnya untuk “ngangsu kaweruh” yang tak pernah surut. Walau sudah dari Arab, beliau masih meluangkan waktu untuk memperkaya pengetahuannya dengan belajar kepada Ulama-ulama’ besar tanah Jawa saat itu.

SILSILAH NASAB

DARI JALUR NENEK IBU NYAI HASANAH, YAITU:

Mbah Kyai Maulana (Mbah Lanah), bangsawan Madura yang bergabung dengan pasukan Pangeran DiponegoroMbah Kyai Ghozali bin Mbah Kyai MaulanaHajjah Sa’idah binti Mbah Kyai Ghozali yang menikah dengan Kyai Syu’aib, kyai Syu’aib adalah penerus perkembangan pesantren yang dirintih mbah Maulana dan Mbah GhozaliNyai Hasanah binti Kyai Syu’aibNyai Hasanah menikah dengan Kyai DahlanKyai Zubair bin Kyai DahlanKyai Maimun Zubair

DARI JALUR KAKEK SAMPAI DENGAN SUNAN GIRI, YAITU:

Mbah Maimun binkyai Zubair binkyai Dahlan binmbah Carik Waridjo binmbah Munandar binkyai Puteh Podang (desa Lajo Singgahan Tuban) binkyai Imam Qomaruddin (dari Blongsong Baureno Bojonegoro) binkyai Muhammad (Macan Putih Gresik) binkyai Ali binkyai Husen (desa Mentaras Dukun Gresik) binkyai Abdulloh (desa Karang Jarak Gresik) binpangeran Pakabunan binpanembahan Kulon binsunan Giri

PENERUS BELIAU

Putra putra beliau antara lain:
1. KH Abdullah Ubab
2. KH Gus Najih
3. KH Majid Kamil
4. Gus Abd. Ghofur
5. Gus Abd. Rouf
6. Gus M. Wafi
7 . Gus Yasin
8. Gus Idror
dan dua putri, yaitu:
1. Sobihah (mustofa aqil)
2. Rodhiyah (Gus Anam)

JASA DAN KARYA BELIAU

Pesantren Al Anwar, Sarang
Pada tahun 1965 beliau mengabdikan diri untuk berkhidmat pada ilmu-ilmu agama. Hal itu diiringi dengan berdirinya Pondok Pesantren yang berada disisi kediaman Beliau. Pesantren yang sekarang dikenal dengan nama Al-Anwar. Satu dari sekian pesantren yang ada di Sarang. Keharuman nama dan kebesaran Beliau sudah tidak bisa dibatasi lagi dengan peta geografis. Banyak sudah ulama-ulama dan santri yang berhasil “jadi orang” karena ikut di-gulo wentah dalam pesantren Beliau.

Sudah terbukti bahwa ilmu-ilmu yang Belaiu miliki tidak cuma membesarkan jiwa Beliau secara pribadi, tapi juga membesarkan setiap santri yang bersungguh-sungguh mengecap tetesan ilmu dari Beliau. Kemudian sekitar tahun 2008 beliau kembali mengibarkan sayapnya dengan mendirikan Pondok Pesantren Al-Anwar 2 di Gondan Sarang Rembang, yang kemudian oleh beliau dipasrahkan pengasuhannya kepada putranya KH. Ubab Maimun PP Al-Anwar yang berada di kampung Karangmangu Sarang Rembang Jawa Tengah didirikan oleh KH. Maimun Zubair pada tahun 1967.

Pondok ini pada mulanya adalah sebuah kelompok pengajian yang dirintis oleh KH. Ahmad Syuaib dan KH. Zubair Dahlan. Kelompok pengajian tersebut pada awalnya dilaksanakan di mushalla. Pada perkembangan selanjutnya kedua perintis tersebut mendirikan tiga komplek bangunan, yaitu komplek A, B dan C. Komplek B dikembangkan oleh KH. Abdul Rochim Ahmad menjadi PP Ma’hadul Ulumis Syar’iyah.

Sedang komplek A dikembangkan menjadi PP Al-Anwar oleh KH. Maimun Zubair, putra KH. Zubair Dahlan. Latar belakang pendirian pondok di samping untuk melanjutkan kegiatan pengajian, juga dilatarbelakangi oleh keinginan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar yang umumnya berpenghasilan rendah sebagai nelayan. Perkembangan jumlah santri PP. Al-Anwar yang cukup pesat, menuntut adanya pembangunan di bidang fisik.

Pada tahun 1971 musholla direnovasi dengan menambahkan bangunan diatasnya yang kemudian disebut dengan Khos Darussalam, juga dibangun sebuah kantor yang berada sebelah Selatan ndalem syaikhina. Seiring dengan bertambahnya santri maka pembangunan secara fisik pun terus dilakukan. Tercatat pada tahun 1973 dibangun Khos Darunna’im, tahun 1975 Khos Nurul Huda, tahun 1980 Khos AF, dan masih banyak lagi pembangunan fisik yang yang lain. terakhir dibangunnya gedung serbaguna PP. Al-Anwar berlantai lima pada tahun 2004 dan juga pada tahun 2005 dibangun Ruwaq Daruttauhid PP. Al-Anwar yang setelah selesai pengerjaannya digunakan sebagai tempat pertemuan (Multaqo) alumni Sayyid Muhammad Alawy al Maliki Makkah al Mukarromah.

TOKOH NASIONAL TRADISIONAL

Mbah Moen, begitu orang biasa memanggilnya, banyak dikenal dan mengenal erat tokoh-tokoh nasional, tapi itu tidak menjadikannya tercerabut dari basis tradisinya semula. Sementara walau sering kali menjadi peraduan bagi keluh kesah masyarakat, tapi semua itu tetap tidak menghalanginya untuk menyelami dunia luar, tepatnya yang tidak berhubungan dengan kebiasaan di pesantren sekalipun. Beliau juga pernah menjadi anggota DPRD kabupaten Rembang selama 7 tahun. Setelah berakhirnya masa tugas, beliau mulai berkonsentrasi mengurus pondoknya yang baru berdiri selama sekitar 7 atau 8 tahun.

Tapi rupanya tenaga dan pikiran beliau masih dibutuhkan oleh negara sehingga beliau diangkat menjadi anggota MPR RI utusan Jateng selama tiga periode. Dalam dunia politik beliau tergolong kiyai yang adem-ayem. Di saat NU sedang ramai mendirkan PKB (1998) mbah Moen lebih memilih diam dan istiqomah di PPP, partai dengan gambar Ka’bah. Pada tahun 1977, KH. Maimun Zubair mengembangkan pesantren dengan mendirikan PP putri Al-Anwar. berawal dari sebidang tanah yang dimiliki dan hasil pembelian tanah milik tetangga, beliau termotivasi akan kondisi masyarakat sekitar pada saat itu yang belum rutin mengerjakan sholat 5 waktu serta minimnya kemampuan mereka dalam membaca Al Qur’an. Sebagai langkah awal, lalu dibangunlah sebuah musholla di belakang rumah yang semula berdindingkan anyaman bambu.

KISAH TELADAN BELIAU

Antara Beliau dan Gus Dur
“Aku ini tidak pernah setuju dengan Gus Dur”, kata Kyai Maimun Zubair. “Yah... namanya manusia. Tapi aku tidak berani membenci, apalagi memusuhinya. Takut kuwalat!” Kenyataannya, tidak seratus persen Mbah Maimun berseberangan dengan Gus Dur. Ketika suatu kali seorang tokoh intelektual datang jauh-jauh dari Jakarta untuk mengajak beliau masuk ICMI, Mbah Maimun menolak. “Pak Kiyai ini intelektual yang mumpuni lho”, kata si tokoh, “cocok sekali kalau masuk ICMI!.” “Ah, saya cukup Nahdlatul Ulama saja, gabung rombongannya pewaris nabi.” kata mbah Mun “Memangnya di ICMI nggak bisa?” “Kan nggak ada hadits Al-ICMI warotsatul anbiyaa’? Kalau Al-Ulamaa' ada!”kata mbah Mun.

Sumber: Dari Berbagai Sumber, Sejarah Pondok Pesantren Sarang Rembang, Yusuf Futuwwah Al Idrisi Al Hasani
Diedit ulang pada 6 Agustus 2019.

TIPS SHOLAT KHUSYUK DARI HABIB UMAR BIN HAFIDZSeseorang di katakan khusyu’ jika memenuhi 6 kriteria, yaitu:1. (Hudurul Q...
12/01/2025

TIPS SHOLAT KHUSYUK DARI HABIB UMAR BIN HAFIDZ

Seseorang di katakan khusyu’ jika memenuhi 6 kriteria, yaitu:

1. (Hudurul Qolb) Hadirnya hati. hadirnya hati harus di latih terus-menerus, bila hati kemana-mana paksa untuk kembali lagi, Insya Allah, hati akan terbiasa hudhur.

2. (Tafahhumul Ma’ani) Memahami arti atas apa yang kita katakan dan kita sedang lakukan.

3. (Al ijlal watta’dzhim ) Adanya rasa mengagungkan dan memulyakan kepada Allah SWT. Terkadang kita hadir hati, mengetahui arti,tapi tanpa pengagungan hal ini seperti seseorang yang memahami perkataan anak kecil yaitu tidak terlalu menghiraukannya.

4. (Al ijlal watta’dzhim ma’al Haibah) Hendaknya rasa memulyakan dan pengagungan tadi di iringi dengan rasa haibah (kewibawaan). Haibah: Rasa takut yang timbul karena rasa mengagungkan. Takut sholat kita tidak di terima oleh Allah.

5. (ar-Roja’) Kuatnya harapan bahwa sholat kita di terima oleh Allah juga menjadi sebab dekatnya kita pada Allah serta mengharapkan mendapat balasan yang agung.

6. (Haya’) Adanya rasa malu bahwasannya kita tidak menunaikan hak Allah dengan semestinya.

Kemudian Habib Umar mengatakan:
“Jika enam kriteria ini terdapat padamu, maka sholatmu bisa di katakan sholat yang khusyu’.” Mudah-mudahan Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikan kita termasuk orang-orang yang khusyu’ dalam sholat. Aamiin yaa Allah.

Belajar..belajar dan belajar
11/01/2025

Belajar..belajar dan belajar

Ketika sholatmu baik maka kamu akan ditolong oleh Allah, sholat itu bisa di rumah atau di musholla, orang akan merasa te...
10/01/2025

Ketika sholatmu baik maka kamu akan ditolong oleh Allah, sholat itu bisa di rumah atau di musholla, orang akan merasa tenang ketika rumahnya terang, rumah bisa terang itu ketika dibuat sholat.

KH. Maimoen Zubair

أنيسُك اليوم هو أنيسك غداً في قبرك، وعملُك اليوم هو عملك غداً؛ فانظر من أنيسك وما عملكSahabatmu hari ini adalah sahabatm...
10/01/2025

أنيسُك اليوم هو أنيسك غداً في قبرك، وعملُك اليوم هو عملك غداً؛ فانظر من أنيسك وما عملك

Sahabatmu hari ini adalah sahabatmu esok di alam kubur, dan amalmu hari ini adalah amalmu hari esok. Jadi, lihatlah siapa sahabatmu dan apa amalanmu.

Abu Harits Al-Muhasibi

📷 Syaikhina KH. Muhammad Idror Maimoen

10/01/2025

من عادة الكريم اذا قدر غفر وإذا رأى زلة ستر

Termasuk kebiasaan orang mulia adalah saat ia mampu untuk membalas maka ia akan memaafkan, dan saat ia melihat kesalahan maka ia akan merahasiakan.

📚 المنتقى من مواعظ السلف




Abah Guru SekumpulAbah Guru Sekumpul adalah tokoh ulama terkenal yang berasal dari Kalimantan Selatan. Nama aslinya adal...
09/01/2025

Abah Guru Sekumpul

Abah Guru Sekumpul adalah tokoh ulama terkenal yang berasal dari Kalimantan Selatan. Nama aslinya adalah Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Al-Banjari. Beliau lahir pada 1942 dan wafat pada 2005.
Semasa hidupnya, Abah Guru Sekumpul aktif dalam mendakwahkan agama Islam di Kalimantan. Beliau turut mengajarkan berbagai ilmu keislaman dari kitab-kitab kuning karya para ulama kepada jemaahnya. Di sisi lain, kegiatan pengajian lain juga dilaksanakan.

Pengajian yang Abah Guru Sekumpul gelar senantiasa dipadati banyak orang. Jemaahnya bahkan datang dari berbagai kalangan dan wilayah.

Address

Jalan Bader 3 Rt04/08 Kelurahan Bandarharjo Kecamatan Semarang Utara
Semarang

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Barokatul Iman posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share