28/09/2020
MOM, BE HAPPY!
By: Sukmadiarti Psikolog
Tantangan pengasuhan di masa pandemi ini, luar biasa, ya. Orangtua, khususnya ibu, mendapatkan tanggung jawab lebih dari sebelumnya dalam pendidikan anak.
Bila sebelum masa pandemi, pendidikan anak banyak terbantu oleh guru di sekolah, berbeda halnya saat pandemi ini. Orangtua berperan penuh dalam mendampingi, mendidik, dan memastikan anak mengikuti pembelajaran daring yang diberikan dari sekolah.
Perubahan pola pendidikan ini tentu saja tidak mudah. Kita sebagai orangtua tentu perlu banyak sekali belajar dan melakukan penyesuaian terkait perubahan ini. Sebab bila kita, para orangtua tidak ikut berubah dan menyesuaikan diri, maka bisa jadi kita akan terus berada pada zona emosi negatif, yakni mengeluh dan menyalahkan keadaan.
Mom, be happy. Kita harus bahagia. Apapun kondisi yang ada saat ini, pandemi, daring, atau bahkan perilaku anak yang belum sesuai harapan kita, semuanya adalah bagian dari proses hidup yang memang harus kita jalani. Mau tidak mau, s**a tidak s**a, harus kita lalui.
Lantas, bagaimana agar kita bisa melalui proses hidup dan masalah yang ada di dalamnya dengan s**a cita dan bahagia?
1. TERIMA MASALAHNYA
Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menerima. Menerima kondisi dan masalah yang ada dengan lapang dada. Toh masalahnya sudah datang, sudah terjadi, dan tidak bisa kita hindari.
Pandemi, daring, karakter anak, tidak bisa kita lari darinya. Nah, kalau kita tidak bisa menghindari maka cara berdamai dengan situasi ini adalah dengan menerimanya. Terima dulu masalahnya. Terima dulu kondisinya. Terima dengan penuh keikhlasan bahwa semua kejadian ini datang dari Allah SWT. Maka bila semua yang terjadi kita imani datang atas ijin-Nya, maka menerima kejadian itu adalah bentuk keimanan kita padaNya. Maka kita pun ikhlas menerima masalah yang ia berikan.
2. PASRAHKAN JALAN KELUARNYA
Untuk mencari solusi dan jalan keluar atas masalah yang sedang dihadapi, kita butuh suasana hati yang tenang. Sebab biasanya, masalah yang datang pastilah membuat perasaan dan suasana hati kita jadi berubah negatif, tak tenang.
Penerimaan atas masalah yang telah kita lalukan di awal akan sangat membantu menenangkan hati kita. Sebab, apa yang kita tolak akan selalu menghantui. Menerima akan membuat hati kita tenang.
Kalau hati kita tenang, kita jadi mudah melihat masalah dari berbagai sudut pandang. Kita jadi mudah mendengarkan petunjuk yang datang, baik lewat hati maupun sekitar. Kita jadi lebih mudah mendengar nasihat ataupun mas**an dari orang lain. Itu bila hati kita sudah tenang. Maka, damaikan hati kita, berdiam sejenak untuk benar-benar mencerna masalahnya.
Pandemi maupun daring dihadirkan Allah bukan hanya pada kita seorang, tapi juga pada banyak orang, bahkan seluruh dunia. Kalau kita pahami bahwa masalah ini datangnya dari Allah, maka solusi dan jalan ke luarnya juga ada pada Allah. Maka pasrah dan berserah padaNya agar kita diberi kemudahan dan pertolongan menjalani tanggung jawab pengasuhan di masa daring ini adalah solusinya.
"Ya Allah, saya terima kondisi pandemi juga pembelajaran daring ini dengan ikhlas dan saya pasrahkan padaMu petunjuk, kemudahan, dan pertolongan dalam saya mendampingi anak-anak belajar di rumah. Saya ikhlas, saya pasrah."
Kondisi pasrah bukan berarti menyerah. Kondisi pasrah membuat kita mengakui bahwa kita lemah di hadapanNya, sehingga kita berserah memohon kekuatan dariNya agar diberi kemudahan dalam menjalani tugas ini.
Sebab seringkali, kita merasa cemas, khawatir, bahkan takut ketika mendapat suatu tugas tambahan karena kita hanya mengandalkan kekuatan pribadi saja. Dengan konsep pasrah ini, kita akan menjadi jauh lebih tenang, sebab kita sadari bahwa kini kita tak sendiri. Ada Allah yang akan mendampingi dan menolong kita. Masya Allah
Orangtua yang tenang, bahagia, dan ceria karena selalu berserah padaNya, akan mampu melewati tantangan pengasuhan dan pendampingan di masa daring ini dengan s**a cita. Anak-anak pun tentu akan bisa menikmati pembelajarannya ketika orangtuanya bisa sabar, lembut dan tenang mendampinginya belajar dengan ceria.
Be Happy, Mom. You are Amazing. Proud of You. Kamu Hebat